Catatan Kaki

Menilik Geliat Gadis Malam Impor di Kota Medan (1)

Biaya Didahulukan Agen,

Dihitung Utang

Kehadiran cewek ‘peneman’ impor di lokasi hiburan malam Kota Medan, terorganisir lewat agen. Seluruh biaya sejak berangkat dari negaranya sampai biaya hidup di Indonesia, didahulukan agen. Pembayaran dipotong dari penghasilan.

Dame & Maria

Mencari akses untuk wawancara langsung dengan cewek-cewek cantik impor di dunia gemerlap malam Kota Medan, sebenarnya tidak semudah membalik telapak tangan. Kru POSMETRO yang melakukan sejumlah percakapan telepon dengan beberapa narasumber, baru berhasil memperoleh akses setelah mengontak sejumlah nama. Dan teman yang akhirnya berhasil menghubungkan, pun harus melakukan beberapa percakapan telepon sebelum akhirnya dapat nomor telepon seorang ‘mami’.

Untunglah, teman yang berhasil itu, kebetulan mengerti bahasa yang digunakan para cewek-cewek impor tersebut. Dialah yang berperan sebagai ‘pembooking’ sekaligus penerjemah.

Pertengahan pekan lalu, pertemuan disepakati di sebuah KTV sebuah karaoke di pusat kota Medan. Pertemuan yang dijanjikan pukul 21.00 Wib, molor hingga pukul 21.45 Wib, karena si mami butuh mengecek siapa pemesan ‘gadisnya’.

Usai mengecek ke KTV, akhirnya pukul 21.45 Wib, si mami, wanita setengah baya yang saat itu mengenakan celana jeans dan blus, mengantar seorang gadis tinggi langsing ke kamar karaoke. Tingginya sekira 165 cm. Si gadis mengenakan baju terusan mini warna hitam. Punggung dan bahunya telanjang. Sepatu hitam hak tinggi melekat di kakinya.

Si gadis cukup ramah. Meski mungkin heran melihat ada 2 gadis di ruangan bersama pembookingnya, ia tetap tersenyum ramah. Oleh si teman yang berperan menerjemahkan, kru POSMETRO dikenalkan sebagai wartawan media lokal. Si gadis dengan ramah berdiri dan menyebut namanya Susana alias Ling Ling (keduanya nama samaran, Red).

Bersamaan dengan saat perkenalan, waitress hadir di KTV. Ling Ling memesan juice wortel. “Tanpa es,” katanya dengan nada celat.

“Bisa berbahasa Indonesia?” tanya POSMETRO.

“Sedikit,” jawabnya sambil tersenyum.

Ia mengaku hanya bisa berbahasa Mandarin dan Hokkien. Tak bisa berbahasa Inggris. Tetapi sudah belajar sedikit bahasa Indonesia. “Terima kasih…maaf,” katanya sambil tertawa lebar.

Suasana menjadi cair. Lewat penerjemah, ia mengaku belajar bahasa Indonesia lewat buku. Tanya punya tanya, Ling Ling mengaku berasal dari daerah Hainan, daratan Tiongkok. Anak pertama dari dua bersaudara. Umurnya 25 tahun (lahir April 1986).

“Kenapa memilih bekerja sebagai gadis karaoke di Medan?”

“Ada teman saya yang pernah bekerja di Medan, sebagai gadis ‘peneman’ di tempat karaoke. Dia bilang, pria-pria di Medan cukup royal dengan uang,” tuturnya dengan bahasa Mandarin yang diterjemahkan rekan POSMETRO.

Entah benar atau tidak, namun Ling Ling beralasan terjun menjadi ‘peneman’ karaoke karena usaha salon yang dikelolanya bangkrut. Tawaran seorang teman membuatnya tergiur bekerja di Medan. Apalagi, menurut temannya, akan ada agen yang ‘mengurus’ mereka di Medan. “Agen yang menghubungi kami mengatakan, seluruh biaya tiket, penginapan, dan biaya yang dikeluarkan selama perjalanan, akan dikembalikan setelah kami tiba di Medan. Kami boleh meminjam uang untuk biaya perjalanan, dan nantinya akan dikembalikan,” cetusnya.

Maka Februari baru lalu, dari Hainan, dirinya dan seorang gadis lainnya naik bus ke Shenzhen. Dan sana, mereka naik pesawat ke Hongkong, dari Hongkong ke Jakarta. Menginap sehari di Jakarta, terbang ke Medan. Di airport, mereka sudah dijemput agen yang menanggungjawabi.

“Seluruh biaya yang kami keluarkan dalam perjalanan sekitar Rp6 juta. Sedangkan izin kerja kami selama setahun, yang diurus oleh agen biayanya Rp18 juta. Jadi kami memiliki utang kepada agen sekitar Rp24 juta,” katanya. (*/bersambung)

Menilik Geliat Gadis Malam Impor di Kota Medan (2)

Tarif Boking Rp100.000 per Jam

Makhluk-makhluk cantik itu khusus didatangkan dari daratan Tiongkok. Saban malam mereka dipekerjakan di sebuah karaoke di Medan. POSMETRO menemukan mess khusus mereka di Medan.

Dame & Maria

Ling Ling dan temannya tiba di Bandara Polonia, mid Februari 2010. Dari bandara, mereka dijemput pihak agency lalu diboyong ke mess di kawasan Medan Baru. Di mess itu, sudah ada 7 gadis lain yang juga berasal dari daratan Tiongkok.

Tak menunggu lama, besok malamnya Ling Ling dan temannya sudah diangkut ke lokasi karaoke yang ‘diasuh’ pihak agencynya, untuk bekerja. “Resminya kami bekerja mulai pukul 20.00 Wib sampai pukul 02.00 Wib (sekira 6 jam, red),” jelasnya. Tapi bisa saja belum ada tamu yang booking sampai jam 22.00 Wib. Dan terkadang juga, ada tamu yang meminta mereka tetap menemani hingga lewat pukul 02.00 Wib.

Soal tarif booking di KTV (ruang karaoke, red), tamu dikenakan Rp100 ribu/jam. Dengan jam kerja saban malam sekitar 6 jam, seorang tamu akan dikenakan biaya Rp600 ribu per gadis, meski jam bookingnya kurang atau lebih dari 6 jam. Tarif mereka dicharge langsung ke bon si tamu.

Dari Rp600 ribu itu, si gadis hanya menerima imbalan tak sampai 45 %, persisnya cuma Rp250 ribu. Sementara sisanya yang Rp350 ribu untuk pihak agen. Tapi menurut Ling Ling, pemotongan itu sudah termasuk cicilan utang setiap gadis yang didatangkan dengan budget tak sedikit. Pemotongan itu untuk item utang biaya mendatangkan mereka dari negeri seberang, pengurusan izin kerja, plus biaya makan sehari-hari di mess.

Dengan jatah honor Rp250 ribu/tamu yang full time (6 jam) membokingnya di KTV, Ling Ling misalnya, praktis dalam sebulan hanya mendapat penghasilan sekitar Rp7,5 juta. Itu kalau saban malam ada saja tamu yang membookingnya. Sementara pengakuannya, tak ada tamu yang membokingnya selama 10 hari terakhir ini. Artinya, Ling Ling tidak ada penghasilan.

Aturan lain yang merugikan finansial para cewek asing ini juga terjadi ketika mereka off  bekerja tanpa alasan yang kuat. Kalau itu terjadi, penghasilan mereka langsung dipotong. ‘’Satu hari tak kerja, (setiap dari kami) diharuskan bayar Rp600 ribu,’’ kata Ling Ling.

Karena penghasilan resmi dari jasa menemani tamu di KTV tidak terlalu besar, para gadis impor ini berharap banyak dari uang tip para tamu. “Tiplah yang membantu kami membiayai keperluan sendiri. Soalnya, bagi hasil yang Rp250 ribu itu disimpan Mami, dan baru akan dikasih nanti kalau kami sudah berhenti kerja,” katanya.

Adapun tip terendah yang pernah diperolehnya sekitar Rp600 ribu. Paling tinggi Rp5 juta. Dari uang tip itulah dia, misalnya, mereka dapat membiayai biaya pulsa HP per bulan sekitar Rp1 juta -kebanyakan untuk menelepon keluarga di Cina. Uang tip itu juga yang digunakannya untuk biaya kebutuhan pribadi. “Untuk keperluan pribadi, saya menghabiskan sekitar Rp7 juta per bulan,” cetusnya sambil tersenyum.

Karena termasuk royal menggunakan uang, Ling Ling mengaku kerap ditegur sang mami. “Mami bilang, saya datang ke sini ‘kan untuk mencari uang. Seharusnya saya rajin menyimpan uang,” sebutnya sembari terkekeh geli.

Dari 9 gadis asal Tiongkok yang tinggal di mess itu, Ling Ling mengaku ada beberapa cewek yang mengaku ditipu pihak agen. Awalnya ditawari kerja kantoran di Medan, eh ternyata bekerja sebagai gadis karaoke. Tetapi Ling Ling mengaku sejak awal tahu dirinya akan dipekerjakan di tempat karaoke. “Tidak ada paksaan. Yang penting cari uang yang banyak. Kalau saya tidak suka, saya boleh meninggalkan pekerjaan ini,” jelasnya.

Usia para gadis impor yang tinggal di mess itu bervariasi. Paling muda usia 23 tahun, tertua berumur 32 tahun. Aktivitas mereka, asal malam bekerja, pagi tidur, lalu siang sampai sore terkadang dimanfaatkan untuk shooping di mall. Di mess itu ada pembantu yang mencuci dan menyetrika pakaian mereka. Namun untuk memasak dan mencuci piring, mereka melakukannya gotong royong. “Pembantu yang berbelanja bahan makanan, kami yang memasak,” katanya.

Sembilan gadis yang tinggal di mess itu diketahui baru beberapa bulan tinggal di Medan atau Indonesia. Belum ada yang bermukim hingga tahunan. “Gadis-gadisnya memang silih berganti. Selalu ada yang pulang dan pergi. Jadi agen tidak terlalu keberatan kalau ada yang ingin pulang ke negaranya,” kata dia. Seperti apa servive mereka agar tamu royal mengeluarkan uang tip? (bersambung)

Menilik Geliat Gadis Malam Impor di Kota Medan (3)

No Love, No Sex

Tak seperti stereotip gadis-gadis karaoke yang terkesan ‘bisa dipakai’ untuk tarif tertentu, Ling Ling menolak disebut PSK (pekerja seks komersial). Menurutnya, mereka hanya ‘gadis peneman’. Tanpa cinta, mereka tak ingin memberi layanan seks. No love no sex.

Dame & Maria

“No, no….!” tolaknya dengan ekspresi ngeri, saat ditanya apakah dia menerima sebutan sebagai PSK.

Ling Ling mengklaim, mereka tak menawarkan seks dalam pekerjaan mereka sebagai ‘peneman’ di tempat karaoke. Mereka juga tak mau melakukan tari telanjang, seperti yang disangka sejumlah orang.

“Kalau saya dibooking, sejak awal saya sudah memberitahu tamu saya bahwa saya hanya sebagai ‘peneman di karaoke. Jadi, mereka tidak meminta macam-macam,” tegasnya.

Yang membooking dirinya umumnya juga pria etnis yang sama dengan dirinya, Meski demikian, ada juga pria Indonesia yang ditemaninya, karena dikenalkan temannya dari etnis Tionghoa.

Untungnya, kata dia, pria Medan umumnya cukup sopan. Apalagi, kalau yang membookingnya pejabat. “Pernah ada pejabat tinggi di kepolisian yang membooking saya. Dan beliau sangat sopan,” katanya.

Sayangnya, karena saling tidak mengerti bahasa masing-masing, akhirnya mereka hanya sekedar tertawa dan bernyanyi.

Ia menegaskan, tanpa cinta, dirinya tak bisa dibawa lebih jauh dari sekedar ‘peneman’ di tempat karaoke. Memang, katanya, diriya sudah tidak perawan lagi. Ketidakperawanan itu terkait budaya di negerinya yang memang tidak terlalu mengagungkan keperawanan. “Bahkan anak SD di sana pun sudah pacaran. Dan kalau di usia saya yang sudah 25 tahun ini saya masih perawan, saya malah akan dianggap ada yang tidak beres,” katanya sambil tertawa cekikikan.

Apakah selama 2 bulan lebih di kota Medan, pernah ada pria Medan yang menarik hatinya? Ling Ling menggeleng. “Belum,” katanya. Ia tak menjelaskan alasannya. Soal pria Medan cukup royal, ia setuju, meski tak bisa membandingkan dengan pria-pria di negaranya karena ia belum pernah bekerja serupa di negaranya.

Ia menilai, gadis-gadis lokal di Kota Medan cantik-cantik. Tetapi justru lebih berani dari mereka, para gadis impor. “Yang sering bersedia untuk tari telanjang itu justru kebanyakan gadis lokal. Kalau gadis seperti kami, masih ada harga diri,” katanya.

Batasan paling jauh yan diizinkannya untuk tamunya, hanya ciuman di pipi dan pelukan di pinggang.

Tentang beda antara tarif cewek lokal dengan cewek impor, ia mengaku tidak tahu menahu. “Kami di sini kurang berkomunikasi. Mungkin karena terhalang bahasa,” katanya.

Soal persaingan dengan cewek lokal, ia mengatakan masing-masing punya segmen tamu sendiri. Peminat cewek impor tersendiri, peminat cewek lokal tersendiri lagi.

Ling Ling yang hanya tamatan SMA ini mengaku masih single. Dan ia bisa bernyanyi dengan baik. Untuk membuktikannya, ia pun menyanyikan beberapa lagu berbahasa Mandarin dan berbahasa Hokkien. Suaranya memang lumayan empuk.

Saat dipuji, ia menangkupkan kedua tangannya dan berseru dalam bahasa Indonesia: “Terima kasih… terima kasih…!” lagi-lagi tersenyum lebar.

Ia juga berhasil menyanyikan satu lagu berbahasa Indonesia berjudul ‘Aku Sayang Padamu’ yang dinyanyikan Atiek. (*/bersambung)

Menilik Geliat Gadis Malam Impor di Kota Medan (4/Habis)

‘Pria Medan Kejam,

Suka Pura-pura tak Kenal’

Mengaku uang yang diperolehnya selama di Medan tak sebanyak yang diharapkan, Ling Ling berencana kembali ke negaranya bulan depan. Apalagi, ia merasa Kota Medan kurang menyenangkan. Prianya kejam, suka pura-pura tak kenal saat ketemu di jalan.

Laporan: Dame & Maria

Dua bulan tinggal di Kota Medan, Ling Ling mengaku tidak terlalu kerasan. Alasan utamanya, uang yang diperolehnya tidak sebanyak yang diharapkannya. Utang yang ditinggalkannya di Hainan belum terbayar, sementara penghasilannya habis untuk membayar cicilan utang ke agen. Belum lagi gaya belanjanya yang cenderung royal.

“Sampai saat ini, saya belum pernah kirim uang untuk keluarga di Cina,” akunya.

Soal makanan, ia juga mengaku kurang suka makanan Indonesia yang banyak bersantan. “Tapi saya suka mietiaw dan bakmi,” senyumnya. Dia juga menyebutkan, menyukai masakan di restoran Chinese Taipan. ‘’Makanannya enak, ‘’pujinya sembari mengacungkan jempol.

Satu lagi yang menurutnya kurang menyenangkan di Medan, adalah karakter pria langganannya. “Meski kita sudah sering ketemu dan akrab saat di ruang karaoke, tapi kalau ketemu di jalan mereka suka pura-pura tidak kenal. Padahal saya sudah pasang senyum ramah,” katanya.

Ia mengaku tidak dapat mengerti kebiasaan seperti itu, karena menurutnya mereka toh tidak melakukan hal-hal yang tidak pantas selama di ruang karaoke. “Menurut saya itu kejam dan tidak menyenangkan,” katanya sambil mengelus-elus rambutnya.

Selain itu, ia mengaku heran karena dirinya agak kurang laku di Kota Medan. Padahal dirinya cukup cantik, ramah, pintar bernyanyi, dan tinggi langsing. “Teman saya yang berusia 32 tahun itu, sudahlah paling tua, agak gemuk, tapi paling laku. Hampir setiap malam ada yang membookingnya. Heran saya,” katanya sambil terkekeh.

Mungkin temanmu bersedia memberikan pelayanan lebih? “Saya tidak tahulah. Kami tidak saling mencampuri. Ngurus diri masing-masing aja,” elaknya.

Karena semua alasan itulah, ia berencana pulang ke negaranya. Dan itu bisa dilakukannya tanpa banyak masalah. Karena meski izin kerjanya 1 tahun, pihak agen toh tidak memiliki piutang terhadap dirinya. Semua telah dibayarnya lewat penghasilannya sebagai gadis peneman di karaoke.

Ia juga mengaku tidak terlalu memikirkan soal perkawinan. Karena menikah belum tentu bahagia. Yang penting baginya adalah mencari uang sebanyak-banyaknya. Dengan uang, ia bisa bahagia dan melakukan banyak hal.

Meski demikian, ia mengaku kalau ada pria Medan yang dapat membuatnya jatuh cinta dan bersedia menikahinya, ia bersedia tinggal di Kota Medan. “Cuma, belum ada yang kena,” kikihnya.

Apa rencananya di Hainan jika nanti kembali? “Kalau sudah bisa bayar utang, aku ingin buka salon lagi. Aku sendiri sebenarnya terkadang bertanya ada diri sendiri, kok bisa ya aku kerja sebagai gadis peneman di karaoke? Dulu saat punya usaha salon sendiri, rasanya masih ada harga diri meski ada utang. Tapi sekarang, rasanya kehilangan harga diri, minder, dan sebagainya. Saya harus selalu menjaga perasaan tamu, takut dia tersinggung, dan sebagainya. Sudah makan perasaan Makanya, saya ingin kembali buka salon kalau nanti kembali ke Hainan,” cetusnya.

Ditanya apakah ada niat untuk menjalani pekerjaan sebagai gadis peneman karaoke di negaranya atau di negara lain, Ling Ling kontan menggeleng. “Nggak mau lagi pekerjaan ini,” gelengnya keras-keras.

Ia mengaku belum pernah ke mana-mana di Indonesia selain Medan. Dan Medanlah kota pertama dirinya ke luar negeri. Tetapi sebelum pulang ke negaranya, ia berencana berkunjung ke Bali. “Kata teman-teman, rugi nggak ke Bali kalau sudah ada di Indonesia,” katanya sumringah. (*/Habis)

Satu tanggapan untuk “Catatan Kaki

  1. Hey very nice blog!! Man .. Beautiful .. Amazing .. I’ll bookmark your website and take the feeds alsoI am happy to find a lot of useful info here in the post, we need work out more techniques in this regard, thanks for sharing. . . . . . aedfafekacdg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s