Menilik Geliat Gadis Malam Impor di Kota Medan (2)

Sistem Bagi Hasil, Berharap Tip Tamu

 

Saban memesan gadis ‘impor’ untuk teman nyanyi di ruang karaoke, setiap tamu dibandrol tarif Rp600 ribu. Dari nominal itu, si gadis hanya menerima imbalan tak sampai 45 %, persisnya hanya Rp250 ribu. Karena kurang memadai, cewek-cewek itu banyak berharap pada keroyalan tamu memberi tip.

 

 

Laporan: Dame & Maria

 

Ling Ling dan temannya tiba di Bandara Polonia, mid Februari 2010. Dari bandara, mereka dijemput pihak agency lalu diboyong ke mess di kawasan Medan Baru. Di mess itu, sudah ada 7 gadis lain yang juga berasal dari daratan Tiongkok.

Tak menunggu lama, besok malamnya Ling Ling dan temannya sudah diangkut ke lokasi karaoke yang ‘diasuh’ pihak agencynya, untuk bekerja. “Resminya kami bekerja mulai pukul 20.00 Wib sampai pukul 02.00 Wib (sekira 6 jam, red),” jelasnya. Tapi bisa saja belum ada tamu yang booking sampai jam 22.00 Wib. Dan terkadang juga, ada tamu yang meminta mereka tetap menemani hingga lewat pukul 02.00 Wib.

Soal tarif booking di KTV (ruang karaoke, red), tamu dikenakan Rp100 ribu/jam. Dengan jam kerja saban malam sekitar 6 jam, seorang tamu akan dikenakan biaya Rp600 ribu per gadis, meski jam bookingnya kurang atau lebih dari 6 jam. Tarif mereka dicharge langsung ke bon si tamu.

Dari jumlah itu, setiap gadis menerima Rp250 ribu. Sementara sisanya yang Rp350 ribu untuk pihak agen. Tapi pemotongan itu sudah termasuk cicilan utang setiap gadis soal mendatangkannya dari negeri seberang, juga pengurusan izin kerja dan biaya makan sehari-hari di mess.

Dengan jatah Rp250 ribu/tamu yang full time (6 jam) membokingnya di KTV,

dalam sebulan Ling Ling hanya mendapat penghasilan sekitar Rp7,5 juta. Itu kalau saban malam ada saja tamu yang membookingnya. Sementara pengakuannya, tak ada tamu yang membokingnya selama 10 hari terakhir ini. Artinya, Ling Ling tidak ada penghasilan.

Aturan yang merugikan finansial para cewek asing ini juga terjadi ketika mereka off  bekerja tanpa alasan yang kuat. Kalau itu terjadi, penghasilan mereka langsung. ‘’Satu hari tak kerja, (setiap dari kami) diharuskan bayar Rp600 ribu,’’ kata Ling Ling.

Karena penghasilan resmi dari jasa menemani tamu di KTV tidak terlalu besar, para gadis impor ini berharap banyak dari uang tip. “Tiplah yang membantu kami membiayai keperluan sendiri. Soalnya, bagi hasil yang Rp250 ribu itu disimpan Mami, dan baru akan dikasih nanti kalau kami sudah berhenti kerja,” katanya.

Adapun tip terendah yang pernah diperolehnya sekitar Rp600 ribu. Paling tinggi Rp5 juta. Dari uang tip itulah dia, misalnya, dapat membiayai pulsa teleponnya sekitar Rp1 juta per bulan, kebanyakan untuk menelepon keluarganya di Cina. Tip itu juga yang digunakannya untuk biaya belanja kebutuhan pribadi. “Untuk keperluan pribadi, saya menghabiskan sekitar Rp7 juta per bulan,” cetusnya sambil tersenyum.

Karena termasuk royal menggunakan uang, Ling Ling mengaku kerap ditegur sang mami. “Mami bilang, saya datang ke sini ‘kan untuk mencari uang. Seharusnya saya rajin menyimpan uang,” sebutnya sembari terkekeh geli.

Dari 9 gadis asal Tiongkok yang tinggal di mess itu, Ling Ling mengaku ada beberapa g yang mengaku ditipu pihak agen. Katanya, awalnya mereka ditawari kerja kantoran di Medan, eh ternyata bekerja sebagai gadis karaoke. Tetapi Ling Ling mengaku sejak awal tahu dirinya akan dipekerjakan di tempat karaoke. “Tidak ada paksaan. Yang penting cari uang yang banyak. Kalau saya tidak suka, saya boleh meninggalkan pekerjaan ini,” jelasnya.

Usia para gadis impor yang tinggal di mess itu bervariasi. Paling muda usia 23 tahun, tertua berumur 32 tahun. Aktivitas mereka, asal malam bekerja, pagi tidur, lalu siang sampai sore terkadang dimanfaatkan untuk shooping di mall. Di mess itu ada pembantu yang mencuci dan menyetrika pakaian mereka. Namun untuk memasak dan mencuci piring, mereka melakukannya gotong royong. “Pembantu yang berbelanja bahan makanan, kami yang memasak,” katanya.

Sembilan gadis yang tinggal di mess ini diketahui baru beberapa bulan tinggal di Medan atau di Indonesia. Belum ada yang bermukim di sini hingga tahunan. “Gadis-gadisnya memang silih berganti. Selalu ada yang pulang dan pergi. Jadi agen tidak terlalu keberatan kalau ada yang ingin pulang ke negaranya,” kata dia. (*/bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s