Menilik Geliat Gadis Malam Impor di Kota Medan (3)

Menolak Disebut PSK, Hanya ‘Peneman’

Tak seperti stereotip gadis-gadis karaoke yang terkesan ‘bisa dipakai’ untuk tarif tertentu, Ling Ling menolak disebut PSK (pekerja seks komersial). Menurutnya, mereka hanya ‘gadis peneman’. Tanpa cinta, mereka tak ingin memberi layanan seks.

Laporan: Dame & Maria

“No, no….!” tolaknya dengan ekspresi ngeri, saat ditanya apakah dia menerima sebutan sebagai PSK.

Ling Ling mengklaim, mereka tak menawarkan seks dalam pekerjaan mereka sebagai ‘peneman’ di tempat karaoke. Mereka juga tak mau melakukan tari telanjang, seperti yang disangka sejumlah orang.

“Kalau saya dibooking, sejak awal saya sudah memberitahu tamu saya bahwa saya hanya sebagai ‘peneman di karaoke. Jadi, mereka tidak meminta macam-macam,” tegasnya.

Yang membooking dirinya umumnya juga pria etnis yang sama dengan dirinya, Meski demikian, ada juga pria Indonesia yang ditemaninya, karena dikenalkan temannya dari etnis Tionghoa.

Untungnya, kata dia, pria Medan umumnya cukup sopan. Apalagi, kalau yang membookingnya pejabat. “Pernah ada pejabat tinggi di kepolisian yang membooking saya. Dan beliau sangat sopan,” katanya.

Sayangnya, karena saling tidak mengerti bahasa masing-masing, akhirnya mereka hanya sekedar tertawa dan bernyanyi.

Ia menegaskan, tanpa cinta, dirinya tak bisa dibawa lebih jauh dari sekedar ‘peneman’ di tempat karaoke. Memang, katanya, diriya sudah tidak perawan lagi. Ketidakperawanan itu terkait budaya di negerinya yang memang tidak terlalu mengagungkan keperawanan. “Bahkan anak SD di sana pun sudah pacaran. Dan kalau di usia saya yang sudah 25 tahun ini saya masih perawan, saya malah akan dianggap ada yang tidak beres,” katanya sambil tertawa cekikikan.

Apakah selama 2 bulan lebih di kota Medan, pernah ada pria Medan yang menarik hatinya? Ling Ling menggeleng. “Belum,” katanya. Ia tak menjelaskan alasannya. Soal pria Medan cukup royal, ia setuju, meski tak bisa membandingkan dengan pria-pria di negaranya karena ia belum pernah bekerja serupa di negaranya.

Ia menilai, gadis-gadis lokal di Kota Medan cantik-cantik. Tetapi justru lebih berani dari mereka, para gadis impor. “Yang sering bersedia untuk tari telanjang itu justru kebanyakan gadis lokal. Kalau gadis seperti kami, masih ada harga diri,” katanya.

Batasan paling jauh yan diizinkannya untuk tamunya, hanya ciuman di pipi dan pelukan di pinggang.

Tentang beda antara tarif cewek lokal dengan cewek impor, ia mengaku tidak tahu menahu. “Kami di sini kurang berkomunikasi. Mungkin karena terhalang bahasa,” katanya.

Soal persaingan dengan cewek lokal, ia mengatakan masing-masing punya segmen tamu sendiri. Peminat cewek impor tersendiri, peminat cewek lokal tersendiri lagi.

Ling Ling yang hanya tamatan SMA ini mengaku masih single. Dan ia bisa bernyanyi dengan baik. Untuk membuktikannya, ia pun menyanyikan beberapa lagu berbahasa Mandarin dan berbahasa Hokkien. Suaranya memang lumayan empuk.

Saat dipuji, ia menangkupkan kedua tangannya dan berseru dalam bahasa Indonesia: “Terima kasih… terima kasih…!” lagi-lagi tersenyum lebar.

Ia juga berhasil menyanyikan satu lagu berbahasa Indonesia berjudul ‘Aku Sayang Padamu’ yang dinyanyikan Atiek. (*/bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s