Menyorot Pengaruh ‘Nama Besar’ DL Sitorus dalam Pemilukada Tobasa (3/Habis)

Pemilih Belum Memutuskan, Cabup Bermarga Sama Belum Tentu Dicoblos

Pemilukada Tobasa tinggal 40 hari. Lima pasangan calon bupati sudah ditetapkan, nomor urut sudah dicabut. Meski jadwal kampanye versi KPU belum dimulai, tetapi sejak jauh-jauh hari para calon sudah bertarung ‘menggarap pemilih’. Punguan marga jadi andalan. Meski demikian, masih banyak warga yang belum memutuskan nomor yang dicoblos! Peta masih berpeluang berubah.

Dame Ambarita, Tobasa

Lima calon Bupati Tobasa, saat ini tengah jor-joran mencoba memikat para calon pemberi suara. Baliho-baliho bertaburan, spanduk, poster, mobil-mobil yang ditempeli poster calon, berseliweran di mana-mana.

Perkiraan peta politik sementara versi sejumlah warga Tobasa, pasangan MONAS (Drs Monang Sitorus SH MBA-Mangatas Silaen) unggul sebagai pasangan yang berpeluang menang, disusul pasangan KALIBER (Pandapotan Kasmin Simanjuntak-Liberty Pasaribu SH MSi), OBAMA (Cand DR dr FLP Sitorus MKes-Asmadi Lubis MKn), (MONAS), TREN (Drs Tonggo Maruhum Napitupulu MSi-Ir Reinward Simanjuntak MM), dan terakhir DONGAN (Ir Mindo Tua Siagian MSc-Drs Ervan Gani Parlindungan Siahaan).

Keunggulan MONAS, menurut Efendy Nainggolan (47), warga Kelurahan Napitupulu Bagasan, Kecamatan Balige, Tobasa, kepada METRO, antara lain terkait posisi mereka sebagai calon incumbent. Monang Sitorus saat ini masih aktif sebagai Bupati Tobasa., Sementara Mangatas Silaen dua kali menjabat sebagai Ketua DPRD Tobasa. “Peluang calon incumbent dalam mendekati pemilih jelas lebih tinggi,” kata Effendy. Pasangan Monang-Mangatas juga dinilai saling melengkapi. “Kekurangan yang satu bisa ditutupi pasangannya,” katanya.

Sedangkan keunggulan pasangan KALIBER, menurut mantan politikus di salahsatu parpol ini, Tim Suksesnya cukup solid. “TS-nya cukup militan. Pendekatannya ke kelompok marga juga cukup kencang. Kami dengar, kelompok marga tertentu cukup bersemangat menggolkan pasangan ini, dengan maksud agar wakil marga mereka mendapat kesempatan memimpin Tobasa,” jelasnya.

Sementara OBAMA, memiliki kelebihan dengan adanya ‘dukungan’ dari keluarga DL Sitorus. Terlihat dari kehadiran DL Sitorus, istrinya, dan anak-anaknya dalam kegiatan-kegiatan sosialisasi OBAMA. Meski dukungan ini masih menjadi pertanyaan bagi publik Tobasa, mengingat ibunda DL Sitorus, Op Sabar br Panjaitan (96), yang ternyata justru tampil mesra dengan pasangan MONAS. Karakter calon ini yang dinilai cenderung emosional, juga dinilai akan mempengaruhi penilaian pemilih.

Pasangan TREN, meski bermarga dari kelompok Sonak Malela yang mayoritas di Tobasa, namun karena dinilai jarang berkipirah di Tobasa sebelum momen Pilkada, dianggap belum terlalu membumi di Tobasa. Maklum, meski Tonggo Napitupulu pernah menjadi Sekda di Tobasa, namun selanjutnya ia berkiprah di Tapteng. Sementara Reinward berkarir di Pematangsiantar.

Terakhir, DONGAN, meski Mindo adalah mantan Wakil Bupati Tobasa, namun juga belum bisa mengalahkan popularitas mantan pasangannya, Monang Sitorus. Walaupun ada juga isu soal adanya dukungan dari tokoh parpol di Jakarta untuk pasangan ini.

“Karena sekarang kampanye resmi belum berlangsung, kebanyakan warga –kecuali TS, keluarga, dan kader militan parpol pendukung para balon–, belum memutuskan untuk memilih siapa. Semua masih bisa berubah,” jelas Effendy.

Menurutnya, politik uang bisa saja mempengaruhi keputusan memilih, meski tidak pasti. “Sekarang warga masih melihat-lihat. Nama seorang DL Sitorus mungkin bisa mempengaruhi keputusan warga memilih. Tetapi umumnya tetap karena mengharapkan uang. Orang sekarang sudah pintar, tak lagi mengultuskan individu. Pengaruh nama seorang tokoh seperti DL Sitorus hanya ilusi. Kalau tidak ada ekornya (uang, Red), tidak akan mempengaruhi keputusan warga memilih. Sedangkan kelompok marga, bisa saja militan mendukung balon dari kelompok marganya dengan alasan klasik, kekerabatan,” jelasnya.

Namun pastinya, lanjut dia, bisa saja warga menerima uang dari semua balon. Dalam hal ini, ditengarai, warga akan memilih siapa yang memberi dengan jumlah paling besar.

“Ada empat faktor yang mempengaruhi kemenangan dalam berpolitik, yakni sosial politik, finansial politik, etika politik, dan psikologi politik. Keempatnya adalah mata rantai yang saling terkait,” kata Effendy.

Hal senada juga diakui M Hutabarat (42) bersama istrinya S Napitupulu (40), warga Perumahan Korpri, Desa Sibarani Nasappulu, Kecamatan Laguboti Tobasa. Kepada METRO ia mengatakan, nama seorang tokoh seperti DL Sitorus tidak terlalu mempengaruhi keputusan warga Tobasa memilih. “Kalau warga Silaen mungkin bisa terpengaruh, atau kelompok Marga Nairasaon. Tetapi kalau kami di sini, kami tidak terlalu terpengaruh. Kami umumnya belum memutuskan akan memilih siapa,” jelasnya.

Sementara istrinya, S Br Napitupulu, mengatakan, jalur marga belum tentu membuat orang memilih calon bupati dari marga yang sama. “Aku dan suamiku pun, berbeda yang dijagokan. Suami menjagokan si A, aku si B. Tetapi pada hari H nanti, belum tentu si A atau si B yang akan kami coblos. Pilihan masih bisa berubah,” katanya.

“Sekarang orang cenderung bertanya: Adong uang na (ada uangnya, Red)?” kata M Hutabarat. Artinya, warga bisa dipengaruhi uang bahkan cenderung ‘sangat bersedia menjual’ suaranya. Jika semua calon siap membeli, calon yang berani membeli dengan harga paling tinggi, dialah yang berpeluang besar akan dicoblos di bilik TPS.

“Tetapi, ada kecenderungan warga berpikir tidak ingin pembangunan dimulai dari bawah lagi. Artinya, kalau Bupati berganti, program pembangunan kan bisa saja berubah dan diawali dari nol. Akhirnya, banyak yang berpikir sederhana: Teruskan!” katanya, terkesan mempromosikan pasangan calon tertentu.

Sementara Rosma Adelina Simangunsong (40), istri Calon Wakil Bupati Tobasa Mangatas Silaen pasangan Monang Sitorus, saat ditemui METRO di Balige, akhir pekan lalu, mengatakan, kelompok Marga Nairasaon yang diketuai Dl Sitorus, bisa saja terpengaruh dengan pilihan DL Sitorus terhadap calon bupati tertentu. Apalagi jika politik uang diberlakukan.

“Begitupun, kami tetap berusaha menggarap pemilih dengan segala kerendahan hati. Asalkan Pak DL tidak mendukung balon lain dengan kekuatan uang, kami siap bertarung secara sportif,” katanya.

Rosma sendiri setengah berharap, DL Sitorus akan bersikap netral dalam Pemilukada Tobasa. Hal itu sesuai pernyataan-pernyataan DL Sitorus di depan publik, yang mengatakan akan bersikap adil. “Pak DL pernah bilang di depan Punguan Nairasaon, kalau tak bisa mangurupi, unang ma di taba. Jadi saya tetap percaya, beliau akan bersikap netral,” jelasnya.

Tentang pendekatan ke kelompok marga, Rosma mengatakan, tetap dilakukan, meski calon lain lain juga mendekati. “Misalnya, Punguan Marga Sonak Malela adalah yang terbesar di Tobasa. Meski ada calon bupati lain yang masuk kelompok marga itu, saya sebagai boru, tetap berusaha mendekati. Tentunya dengan segala kerendahan hati,” cetusnya. Pergaulan dan pendekatan, menjadi langkah utama.

Tentang dua Sitorus yang bertarung di Pemilukada Tobasa, Rosma menegaskan, selama DL Sitorus benar-benar bersikap netral dan tidak menunjukkan keberpihakan ke salahsatu Sitorus, pihaknya siap bersaing. “Mari bermain fair,” pintanya. (habis/data tulisan ini dibantu Eva dan Jess)!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s