Menyorot Pengaruh ‘Nama Besar’ DL Sitorus dalam Pemilukada Tobasa (2)

Ndang Piga Na Burju Marinong Songon Anakki, Aha Hudokkon i Oloi

Umurnya sudah 96 tahun. Dan ia tak ingat tanggal, bulan, dan tahun lahirnya. Meski penglihatan dan pendengarannya sudah mulai memudar, analisisnya masih tajam. Bicaranya terkadang terkesan membentak, tetapi ia kerap pula bercanda hingga lawan bicaranya tertawa terbahak-bahak. Dialah Theresia br Panjaitan alias Op Sabar Boru Panjaitan, ibunda DL Sitorus. Perempuan yang dianggap tokoh kunci seorang DL.

Dame Ambarita, Tobasa

Rumah DL Sitorus terletak di Desa Parsambilan, Kecamatan Silaen, Tobasa. Jaraknya sekitar 8 km arah timur dari Simpang Silaen, jalinsum Parapat-Tarutung. Saat METRO menyambangi rumah itu Jumat siang pekan lalu, METRO diterima dengan ramah oleh Op Sabar, meski METRO hanya mengenalkan diri sekilas. Op Sabar didampingi br Sitorus (50), yang selama ini menjaganya. Bincang-bincang berlangsung di teras rumahnya, berhadapan langsung dengan halaman luas rumah DL Sitorus, dengan Ruma Parsaktian di sebelah kanan teras. Sawah menghijau di depan rumah menjadi pemandangan yang menyegarkan mata, dengan hamparan pebukitan Bukit Barisan di kejauhan.

“Siapapun tamu yang ingin berkunjung ke rumah ini, saya terima dengan baik asalkan dia tak bermaksud jahat. Aku sayang sama semua orang kecuali sibolis,” kata si ompung soal alasannya menerima tamu yang baru dikenal.

Mengenakan kebaya warga biru dan celana panjang warna senada, ibunda DL Sitorus ini menyuruh METRO duduk di dekatnya dan bicara keras-keras, karena pendengarannya sudah berkurang. “Tapi aku tidak pikun seperti dibilang orang loh. Otakku masih tajam. Siapapun yang bilang aku pikun, gatal mulutnya itu,” terangnya dengan nada agak tajam.

Mengenakan kalung emas dan dua cincin di jari tangan kirinya, perempuan yang sudah memutih rambutnya ini menjawab sejumlah pertanyaan METRO (dalam bahasa Batak, Red), dengan tipikal khas wanita Batak. Kadang terkesan membentak, tetapi sebentar kemudian sudah bercanda lagi.

Misalnya, saat METRO bertanya kapan tanggal lahirnya, dengan nada tajam ia menjawab: Tu aha sungkun-sungkunonmu i?” (Untuk apa kau tanya-tanya itu?”). Tapi untuk pertanyaan lainnya, ia menjawab dengan lancar. Ia juga menolak menjawab pertanyaan tertentu dengan alasan: “Ndang naoto au paboa-boaonku i (aku bukan orang bodoh memberitahu hal-hal seperti itu!”).

Saat METRO memulai pertanyaan soal konflik terbuka antara kelompok Tim Sukses pasangan Obama (Ompu Birong-Asmadi) dengan Monas (Monang-Mangatas), seputar kehadiran Op Sabar di sejumlah kegiatan yang digelar Monang Sitorus, Op Sabar kontan ‘mengamuk’. “Angka na dila sude i. Gatal babana. Ba holan au dipanotnoti. Tu aha sai attoanna au? Lomongku manang tu dia au lao. Ndang adong na boi mangatur au (Mereka semua banyak bicara. Mulutnya gatal. Aku selalu saja diamat-amati. Untuk apa aku terus dicampuri? Terserahku ke mana aku pergi. Tak ada yang bisa mengaturku),” jawabnya sambil mengangkat kepala seakan menantang.

Ia mengatakan, takkan memberitahu siapapun calon bupati yang akan dipilihnya pada Hari H Pemilukada Tobasa Mei mendatang. “Cukuplah aku yang tau!” katanya. Tetapi apapun kata orang, si ompung mengaku takkan terpisahkan dengan Monang Sitorus. “Monang itu anak siampudanku (anak bungsu, Red). Ndang adong na boi mamola au siani. Ibarat mamola boras sian mual do i! (Tidak ada yang bisa memisahkan aku dari dia. Itu ibarat memisahkan beras dari air (untuk menanak nasi, Red),” cetusnya sambil menatap dengan tajam.

Sejurus kemudian, ia melembutkan suaranya, dan berkata, selama ini dirinyalah yang memutuskan untuk mendatangi Monang atau menghadiri acara-acaranya. “Aku bilang sama dia (Monang, Red), kalau dia rindu samaku, biarlah aku yang mengunjungi dia. Karena banyak sibolis (iblis) di tengah jalan,” lanjutnya.

Saat ditanya, apakah Pak DL ada mengarahkan sang ibu untuk mendukung balon tertentu di Pilkada Tobasa, Op Sabar mengatakan, dirinya tidak mencampuri pilihan DL. Dan putra satu-satunya itu juga tidak pernah mencampuri pilihannya.

Soal dirinya menjadi rebutan dua kubu balon, Op Sabar menolak menjawab. “Ndang huattusi-attusi i. Unang sungkun songoni tu au… Angka na dila jolma. Ula ma nian ulaonna, unang sai ulaonku dibereng-bereng. So hea hususai nasida (Aku nggak ngerti-ngerti itu. Jangan tanya yang begituan samaku. Orang-orang aja yang banyak cakap. Biarlah mereka mengerjakan pekerjaannya, jangan kerjaanku yang dicampuri. Aku kan tak pernah menyusahkan mereka),” cetusnya.

Op Sabar yang sudah ditinggal mati sang suami, Samuel Sitorus, saat putranya DL Sitorus masih berusia 8 tahun ini menjelaskan, baginya Monang adalah putra bungsu. Meski baru dikenalnya saat pencalonan bupati tahun 2005 lalu, tetapi Monang sudah seperti anak sendiri. “Orangnya baik, percaya sama Tuhan,” lirihnya.

Keterangan lain dihimpun METRO, Monanglah yang mengurus Op Sabar bahkan membawanya ke rumahnya sendiri untuk dirawat, saat DL Sitorus sibuk dengan urusan persidangan hingga dihukum penjara.

Bagaimana perasaan Op Sabar dengan calon bupati lain yang juga sama-sama marga Sitorus? Op Sabar menjawab, semua orang dia sayangi. Dan dia takkan menolak siapapun yang berkunjung pada dirinya. Tetapi soal pilihan, dia takkan memberitahu siapapun. “Au ma mambotoi! (akulah yang tau itu!” katanya.

Ditanya tentang kedekatannya dengan anaknya, DL Sitorus, Op Sabar kontan memuji sang anak. “Ndang adong piga na burju marinong songon anakku si DL. Tiap kali memberikan uang padaku, selalu dengan hormat. Tak pernah mencampakkan atau meletakkan uang begitu saja. Tetapi selalu dengan santun menyampaikan ke tanganku,” katanya.

Dan kalau uang dikirim lewat bank, selalu diberitahukan lewat telepon dengan kalimat yang penuh hormat. “Ia juga tak pernah hitung-hitungan samaku. Bisa saja hari ini dia mengirim uang, tiga hari kemudian dikirimkan lagi jika DL punya uang. Selain itu, dia tidak pernah bertanya ke mana kugunakan uang itu. Tidak pernah!!! Dia hanya menyuruhku untuk membeli makanan yang enak-enak,” tutur Op Sabar dalam bahasa Batak.

Selain soal uang, apa saja kebaikan DL? “Dia sering menyuapiku dengan makanan enak bersama lauknya, dengan tangannya sendiri. Ia sangat hormat pada ibunya,” jelas Op Sabar sarat rasa bangga.

Apakah sebagai Ibu, Op Sabar pernah mengarahkan Dl Sitorus untuk mendukung calon tertentu, si ompung dengan santai menjawab: “Si DL anakku! Dohononku do attong ise pillitonku. Olo ninna. Alai ndang paboaonku tu umum ise pillitonki, ndang si oto au (Tentu saja aku bilang siapa yang akan kupilih. Iya, katanya. Tetapi aku takkan memberitahu ke umum siapa yang akan kupilih. Aku bukan orang bodoh),” tegasnya.

Keterangan lain ditelusuri METRO di internet, ayah DL meninggal dalam sebuah kecelakaan kereta api tahun 1946, saat pulang jualan dari Medan. Saat itu, usia DL Sitorus masih 8 tahun, dan sang ibu diperkirakan berusia 32 tahun (saat ini sang ibu 96 tahun, DL 72 tahun). DL Sitorus pernah punya dua adik perempuan, tetapi meninggal karena sakit. Jadi DL adalah satu-satunya anak ibunya yang masih hidup. Disebutkan juga, Ibu DL berjuang cukup keras untuk menghidupi dirinya dan sang anak.

DL Sitorus dalam beberapa kesempatan pernah menceritakan perjalanan hidupnya semasa kecil yang penuh kesukaran dan penderitaan. Dia hanya anak petani di Desa Parsambilan, yang sudah harus bangun pukul 4 subuh untuk mengalihkan tali air ke sawah orangtuanya. Dia pernah sakit parah semasa kecil, lalu dijemur di panas terik matahari beralaskan daun pisang. Karena itulah, setelah menjadi pengusaha sukses, dia mendirikan beberapa rumah sakit di Jawa.

Dia kerap menawarkan untuk mempekerjakan putra Tobasa di berbagai perusahaannya. Untuk itu diminta supaya kepala desa mendata warganya yang bertitel sarjana tapi belum memiliki pekerjaan.

Op Sabar sendiri mengaku bersyukur dengan segala berkat yang diterimanya dari Tuhan saat ini. “Banyak berkat Tuhan samaku. Sawitku berbuah lebat. Banyak uangku, bisa aku makan yang enak dan kusuka. Aku selalu berdoa agar aku senantiasa bisa memberi, dan bukan meminta. Itu semua adalah berkat dari Tuhan,” katanya.

Ia berkali-kali menegaskan, sama sekali belum pikun. “Ingatanku sangat kuat, bahkan perkataan orang puluhan tahun lalu pun masih bisa kuingat. Kubilang sama orang-orang, perkataanmu bertahun-tahun lalu masih melekat di sini,” sambil menunjuk dahinya.

Tentang fisiknya, ia juga mengaku masih kuat. Kalau dirinya ingin berjalan-jalan, ia memang sering ditemani. “Tetapi tanpa ditemani pun, aku sanggup sendirian. Apa rupanya masalah? Ada mobil!” tantangnya. Meskipun demikian, ia mengaku lebih sering duduk-duduk saja di rumah, sambil menerima tamu-tamu yang datang berkunjung.

Ia menegaskan, dirinya tidak pernah dilarang DL Sitorus untuk bepergian, termasuk pergi ke acara-acara Monang Sitorus. “Anakku tak pernah melarangku. Jadi apa urusan orang-orang untuk sewot?” cetusnya.

Saat METRO masih bincang-bincang dengan Op Sabar, calon Bupati Tobasa, Oppu Birong tiba-tiba datang berkunjung. Menyalami si ompung, menyebut-nyebut tentang kunjungan ke Sibisa. Di belakangnya menyusul seorang fotografer, yang segera menjepret foto Oppu Birong sedang merangkul Op Sabar dengan mesra.

Tak berapa lama, Ompu Birong menyelipkan segenggam uang ke tangan Ompu Sabar. “Untuk beli lappet-mu,” katanya, seraya permisi untuk pergi ke Sibisa. (Data tulisan ini dibantu Eva dan Jess)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s