Ekspedisi Jalan Kaki 180 Km Medan-Parapat (2/Habis)

Teriakan di Parapat: Yes Yes Yes… , Akhirnya Kita Melakukannya!

 

Tiba di Parapat, Yessss!!
Tiba di Parapat, Yessss!!

Aksi jingkrak, lompat, teriak, sambil mengepalkan tinju ke udara, menjadi hal pertama yang dilakukan keenam peserta ekspedisi Jalan Kaki Medan-Parapat sejauh 180 km, setiba di kota turis Parapat, Minggu (22/3) sore sekira pukul 18.00 WIB. “Yes, yes, yes… akhirnya kita melakukannya! Itulah teriakan mereka dengan semangat berapi-api.

 

Dame Ambarita, Siantar

 

Jarak Kota Pematangsiantar-Parapat sekira 45 menit, biasanya cukup ditempuh sekira 45 menit sampai 1 jam lebih, naik bus umum. Dengan jalan kaki, ternyata waktu yang dibutuhkan memerlukan waktu sekira 12 jam. Tentu, waktu selama ini hanya bagi mereka yang melakukannya tanpa merasa perlu terburu-buru. Prinsipnya, biar lambat, asal terus melangkah ke arah yang benar, pasti sampai di tujuan.

 

Dan jalan kaki sekitar 12 jam dari Kota Pematangsiantar ke Parapat inilah yang dilakukan peserta ekspedisi Jalan Kaki Medan-Parapat, yakni Nugroho MM, Direktur Perguruan Cendana Medan yang memimpin ekspedisi, beserta lima orang mahasiswanya, masing-masing Samsudin (21) dan Felick (20), keduanya mahasiswa jurusan Managemen Pemasaran, serta Tommy Wahyudi (21), Jimmy Wahyudi (21), dan Darmadi (20), ketiganya mahasiswa jurusan Managemen Perkantoran Perguruan Tinggi Cendana Medan.

 

Usai berjalan kaki sekira 135 km Medan-Siantar, dengan start keberangkatan Jumat (20/3) lalu, Minggu (22/3) kemarin, mereka kembali start berangkat dari Kota Siantar setelah menginap semalam di Siantar, menuju Kota Siantar. Kali ini, mereka tak lagi ngoyo melakukan perjalanan seperti dua hari sebelumnya, yang menempuh waktu sekitar 65 km lebih per hari. Apalagi, medan perjalanan ke Parapat agak lebih berat, ada mendaki di sana dan menurun di sini.

 

“Kita santai saja. Kalau mau istirahat… kita istirahat. Tak perlu buru-buru. Karena kita juga ingin menikmati proses perjalanan itu sendiri,” kata Nugroho, saat berkunjung ke Kantor METRO, Senin (23/3) pagi.

 

Selama dalam perjalanan yang sudah semakin berat, karena stamina mereka relative sudah menurun, mereka saling memotivasi satu sama lain. Untuk memompa semangat agar terus berkobar, mereka terkadang bernyanyi bersama dengan musik yang diputar lewat handphone.

 

Apa saja kesan-kesan selama perjalanan?

“Wah, banyak. Antara lain, kita menemukan bahwa selain kaya sumber daya alam, bangsa kita juga sangat ramah. Memang keramahan bangsa kita ini sudah menjadi pengetahuan umum, tapi dalam perjalanan ini, kita sekali lagi membuktikannya,” kata Nugroho.

 

Ia mencontohkan, saat mereka singgah di kedai yang sebenarnya tidak buka karena sedang ada kampanye partai di daerah mereka, pemilik kedai menolak menerima bayaran untuk jasanya mengupas dan menghidangkan salad apel kepada anggota ekspedisi jalan kaki ini. “Mereka benar-benar menolak lo,” kata Nugroho.

 

Ada juga pemilik warung yang menolak menerima bayaran, untuk peniti yang mereka butuhkan. “Wah, pokoknya keramahan itu sangat terasa. Kalau di kota, itu sudah sulit ditemukan,” katanya dengan sorot mata berbinar.

 

Saat mobil yang membawa perlengkapan mereka terperosok ke lubang, sekitar 14 kilometer menjelang Parapat, warga setempat suka rela membantu mengeluarkannya.

 

“Selain sumber daya alam yang kita miliki, bangsa kita nyata-nyata memiliki hati. Kualitas ini patut didukung dengan pendidikan yang baik, sehingga bangsa kita memiliki ini (sambil menunjuk ke otak) dan ini (sambil menunjuk ke dada). Kalau keduanya sudah dimiliki, bangsa kita pasti akan maju,” kata Nugroho.

 

Anggota tim ekspedisi Jalan Kaki Medan-Parapat, Samsudin (21) yang ditanya soal kesan-kesannya, mengatakan sangat bersemangat menyelesaikan misinya, khususnya menempuh rute Siantar-Parapat. Apalagi rute ini relatif lebih sejuk dibanding rute-rute sebelumnya. “Khusus saat melewati hutan (Harangan Ganjang, Red) menuju Parapat, kami semua mampu berjalan kaki tanpa berhenti sepanjang 5 km, karena segarnya udara. Kami semua sangat bersemangat,” katanya. Dan yang pasti, ia langsung menari setibanya di Kota Parapat.

 

Darmadi, peserta lainnya, juga mengaku sangat senang berhasil menyelesaikan misi, mampu menaklukkan rasa capek, panas, polusi, kaki kram, dan sebagainya. Apalagi, ini kali pertama dirinya ikut event jalan kaki smapai 180 km.

 

Hanya saja, Darmadi memiliki pengalaman yang membuatnya sedikit sedih. Ia kehilangan handphone miliknya, di suatu tempat yang tak diketahui. “Mungkin tinggal di kedai, atau jatuh dari kantong saat berlari. Rasanya waktu itu benar-benar sedih,” tuturnya.

 

Untungnya, tentornya, Nugroho, menghiburnya dengan kata-kata bijak, yang membuatnya akhirnya merelakan hp-nya. “Masak barang seharga Rp2 juta menghilangkan kebahagiaanmu? Seharusnya, harga kebahagiaanmu itu senilai Rp2 miliar,” cetus Nugroho menyemangatinya.

 

Setelah merenungkan kata-kata bijak itu, Darmadi akhirnya memilih ‘keep smile’, tetap tersenyum. Bahkan, ia akhirnya mampu mengiklaskan handphonenya, dan mengharapkan orang yang menemukannya dapat menggunakannya dengan sebaik-baiknya.

 

Si kembar Tommy Wahyudi dan Jimmy Wahyudi sama-sama mengaku bersemangat. Dengan wajah berbinar ceria dan kulit wajah yang kemerahan kena papar matahari, keduanya mengaku belajar saling memotivasi, agar tetap semangat menyelesaikan perjalanan. Tommy bahkan langsung telepon orangtua dan teman, kasih kabar bahwa mereka selamat sampai tujuan. “Dan tak lupa, langsung foto-foto,” kekehnya dengan senyum dikulum.

 

Sedangkan Felick, mengaku bangga pada diri sendiri karena berhasil membuktikan pada teman-teman bahwa mereka berhasil menyelesaikan misi. “Awalnya, ortu dan teman-teman kan ragu kami, terutama saya, apakah akan mampu berjalan kaki Medan-Parapat. Apalagi dengan tubuh saya yang besar ini (posturnya lebih menonjol dibanding teman-temannya). Setelah tiba di Parapat, mereka tanya, ‘Kamu sudah kurus? Turun berapa kilo?’ Hehehehe….! Tapi bagi saya, ini pencapaian yang luar biasa dalam hidup saya, dan pasti juga bagi teman-teman lainnya. Jadi, saya sangat senang telah melakukan dan menyelesaikannya,” cetusnya bersemangat.

 

Yang pasti, keenamnya penuh sukacita setiba di Parapat, sambil berteriak: “Yes yes yes, akhirnya kita melakukannya!” Ada yang jingkrak-jingkrak kayak monyet Sibaganding, ada yang berteriak, ada yang lompat, menari, dan sebagainya. Semua penuh semangat karena telah berhasil menyelesaikan tantangan.

 

Di akhir pertemuan, Nugroho mengatakan, ada nilai lain yang diperolehnya dalam perjalanan itu. Saat itu, setelah mereka berada di Parapat, dirinya melihat pool bus Sejahtera, dan melihat bus-bus sedang diservis, di-tune up. Dan ia mendapat pelajaran, hidup pun perlu diservis usai melakukan sejumlah kegiatan. Hal itu agar kita mengalami peningkatan ke arah yang lebih baik ke masa mendatang. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s