Ekspedisi Jalan Kaki 180 Km Medan-Parapat (1)

“Asalkan Kami Terus Berjalan ke Arah yang Tepat, Kami akan Tiba di Tujuan”

 

Foto di Lubuk Pakam, pada hari pertama jalan kaki menempuh rute Medan-Parapat.
Foto di Lubuk Pakam, pada hari pertama jalan kaki menempuh rute Medan-Parapat.

“Tidak masalah seberapa lambat kami berjalan kaki, asalkan kami terus berjalan dan berjalan ke arah yang tepat, kami akan tiba di tujuan.” Prinsip yang sama, jika diterapkan di dunia pendidikan kita, menurut Nugroho MM, Direktur Perguruan Cendana Medan –yang memimpin ekspedisi–, pasti akan berhasil memajukan bangsa ini.

 

Dame Ambarita, Siantar

 

“Jalan kaki dari Medan-Parapat sejauh 180 kilometer? Gila apa?” Itulah komentar sekian orang yang mendengar rencana Nugroho MM, Direktur Perguruan Cendana Medan, beserta lima orang mahasiswanya, yang akan berjalan kaki dari Kota Medan ke Parapat. Kelima mahasiswa itu masing-masing Samsudin (21) dan Felick (20), keduanya mahasiswa jurusan Managemen Pemasaran, serta Tommy Wahyudi (21), Jimmy Wahyudi (21), dan Darmadi (20), ketiganya mahasiswa jurusan Managemen Perkantoran Perguruan Tinggi Cendana Medan.

 

Tapi keenamnya pantang surut. Dengan tekad, ‘segalanya mungkin dilakukan’, Jumat (20/3) baru lalu start pukul 07.00 WIB, mereka memulai perjalanan jalan kaki dari depan Perguruan Cendana Medan, Pusat Niaga Asia Mega Mas Medan tujuan ke kota turis Parapat.

 

“Prinsipnya, biar lambat tapi terus melangkah,” kata Samsudin, salahsatu peserta ekspedisi jalan kaki, saat ditemui METRO di Siantar, Sabtu (21/3). Keenamnya pun berjalan penuh semangat dan penuh vitalitas.

 

Nugroho menjelaskan, niat melakukan perjalanan jalan kaki ke Parapat sudah muncul sejak dua tahun lalu. Namun karena sejumlah kesibukan, baru terwujud Maret 2009.

 

Apa yang ingin dicapainya dengan melakukan perjalanan melelahkan itu? “Saya ingin menginspirasi lebih banyak lagi komponen bangsa ini dalam membangun pendidikan di negara ini. Prinsip berjalan kaki ini, biar kita lambat, asalkan kita terus berjalan dan berjalan ke arah yang tepat, kita akan sampai ke tujuan. Demikian juga dengan pendidikan, tidak peduli seberapa lambat kita membangun, asalkan kita terus membangun dan membangun ke arah yang tepat, bangsa ini akan maju. Untuk itu, kita harus membangun dunia pendidikan. Karena jika pendidikan gagal, jangan harap Indonesia akan maju dan kuat. Kita memang bangsa yang besar, tapi belum kuat,” cetusnya.

 

Untuk memilih mahasiswa yang ikut ekspedisi, pihaknya mengumumkan rencana itu ke setiap kelas. Siapa yang ingin ikut, silahkan mendaftar. “Ternyata peminatnya cukup banyak, ada sekitar 50-an orang,” cetusnya.

 

Maka, dilakukanlah seleksi dengan sejumlah tes fisik. Antara lain push up, skuad jump, berdiri dengan satu kaki, dan lainnya. Yang lulus ketahanan fisik ada 7 orang. Tetapi saat keberangkatan, dua orang batal ikut karena urusan keluarga. “Jadilah kami berenam,” tuturnya seraya tersenyum.

 

Jalan kaki menempuh Kota Medan-Tebing, membutuhkan waktu sekitar 14 jam. Tempo itu sudah termasuk istirahat, makan minum, dan pertemuan dengan Bupati Serdang Bedagai, Nuriadi.

 

Usai bermalam di Kota Tebing, Sabtu (20/3) pagi mereka kembali berangkat menuju Kota Siantar. Dan Sabtu malam menginap di salahsatu hotel di Siantar.

 

“Hari pertama, rasanya sangat melelahkan. Kaki lecet-lecet. Saya terpaksa mencopot sepatu dan menggantinya dengan sandal. Belum panas terik, lalu lintas yang cukup padat, dan lainnya. Untunglah di hari kedua ini, sudah agak mendingan,” kekeh Nugroho.

 

Meski lelah, belum ada anggota tim yang menyerah. Mereka belajar kegigihan, kesabaran, dan kejujuran dari ekspedisi tersebut. “Kalau kita sudah berhasil menaklukkan rute Medan-Parapat dengan berjalan kaki berikut segala tantangannya, saya percaya kita akan mampu menghadapi rintangan yang akan muncul di kehidupan kita ini,” kata Samsudin dengan nada optimis.

 

Felick menimpali, dirinya belajar soal kejujuran dalam perjalanan itu. “Kita belajar jujur, yakni benar-benar berjalan kaki, meski ada mobil yang siap sedia di belakang kita menjaga kalau-kalau ada yang menyerah. Jujur itu sebuah tantangan tersendiri,” katanya.

 

Pelajaran ‘segalanya mungkin dilakukan asalkan ada kemauan’ juga mereka pelajari dari ekspedisi ini. Dengan benar-benar berjalan kaki, mereka menepis komentar sejumlah orang dekat mereka, yang berkata ekspedisi itu tak mungkin dilakukan. “Ada yang bilang, bisa mati kalau jalan kaki Medan-Parapat. Ternyata sampai saat ini, kami baik-baik saja. Bahkan rasanya bersemangat, karena kami sudah benar-benar melakukannya,” kata Darmadi bersemangat.

 

Si kembar Tommy Wahyudi dan Jimmy Wahyudi juga mengatakan hal senada. Kata mereka, rintangan yang dihadapi sepanjang perjalanan, seperti capek, kaki lecet, dan lainnya, membuat mereka belajar untuk tidak cepat menyerah. “Kesabaran dan kegigihan kita benar-benar diuji,” cetus mereka sambil senyum manis.

 

Kelimanya sepakat, perjalanan ini membuat mereka lebih berpikiran positif, bahwa mereka mampu melakukan pekerjaan yang nampaknya mustahil dilakukan.

 

Lalu, kenapa Nugroho memilih jalur Medan-Parapat, dan bukan rute lainnya dalam misi menginspirasi komponen bangsa ini memajukan pendidikan? “Parapat itu sebuah daerah tujuan wisata yang belakangan ini kurang terekspos. Kita mau, agar ekspedisi ini juga mampu mengingatkan orang-orang akan indahnya Kota Parapat dan Danau Toba,” katanya.

 

Dalam memajukan dunia pendidikan, Nugroho tak hanya tinggal diam dengan konsep. Dia telah berbuat. Awalnya dengan membuka Sekolah Sempoa, cara berhitung dengan menggunakan sempoa, yang muridnya saat ini sudah mencapai 3.000 orang tersebar di seluruh Sumatera Utara dan Aceh. Dan 2003 lalu, ia mengambil alih Perguruan Tinggi Cendana Medan, Akademi Sekretari dan Manajemen. Membangun sistem pendidikan yang lebih baik dari yang lain.

 

Dalam mendidik ‘anak-anaknya’ (istilah untuk mahasiswanya), Nugroho mendidik dengan fokus ilmu terapan, membangun rasa percaya diri mahasiswa dalam berkomunikasi dan mengutarakan pemikirannya, dan sebagainya. “Keunggulan pendidikan di Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Cina adalah mereka lebih fokus ke keahlian dan aplikasi nyata di lapangan. Sementara di negara kita, kebanyakan sistem pendidikan adalah menjejali murid dengan teori. Akibatnya, setamat kuliah, banyak sarjana kita yang tak tau harus berbuat apa, makanya banyak pengangguran. Ini yang kita hindari di Perguruan Tinggi Cendana. Di sini, kita mengasah anak-anak agar memiliki keahlian dan mampu mengaplikasikannya di lapangan. Kita didik anak-anak membangun jaringan, dan membangun percaya diri mahasiswa dengan melatih mereka presentasi setiap minggu,” katanya.

 

Untuk memajukan anak-anak didiknya, Nugroho menggandeng Olympia College Malaysia menjadi sister College PT Cendana, lalu Toastmasters Leadership Institute yang berpusat di Amerika dalam mengembangkan ketrampilan kepemimpinan para mahasiseanya, St Clements University Inggris. Dan Singapore Education Consultant. Juga kerap membawa anak-anak didiknya study tour ke sejumlah institusi pendidikan di sejumlah negara, membawa hiking alam untuk melatih keberanian. Salahsatunya, dengan membawa lima mahasiswanya dalam ekspedisi jalan kaki Medan-Parapat.

 

Minggu (22/3) pukul 06.00 WIB, mereka kembali jalan kaki dari Siantar menuju Parapat, menikmati alam Danau Toba, dan rencana kembali ke Kota Medan naik kendaraan pada Senin (23/3). Selamat! (*)

Satu tanggapan untuk “Ekspedisi Jalan Kaki 180 Km Medan-Parapat (1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s