Melongok Kehidupan Warga Transmigran di Rawa Kolang, Tapteng (1)

8 Tahun Bertahan di Lahan Bekas Rawa, Ubi pun Ogah Berbuah

 

 

Jalan berlumpur menuju ke Rawa Kolang
Jalan berlumpur menuju ke Rawa Kolang

 

Sudah 8 tahun lebih lamanya, ratusan warga transmigran mencoba bertahan hidup di Rawa Kolang, Tapanuli Tengah. Tahun-tahun pertama, semangat ‘bertarung’ melawan kerasnya alam di atas lahan gambut itu masih membuncah. Tahun kedua, puluhan keluarga menyerah dan memilih hengkang. Awal 2009, tinggal 40-an KK yang bertahan. Itupun karena tak punya pilihan yang lebih baik.

 

Dame Ambarita, Rawa Kolang

 

Rawa Kolang! Dari namanya yang mengandung kata rawa, bisa ditebak kalau daerah itu dulunya bekas rawa. Tebakan itu benar. Dulu kawasan seluas 300 hektare yang oleh Negara dikeringkan menjadi lahan transmigrasi, memanglah bekas rawa. Jaraknya dari Kota Sibolga sekitar 30 km. Dari jalan besar Kecamatan Kolang (pertengahan Sibolga-Sorkam), sekitar 5 km masuk ke pedalaman. Kawasan ini dibuka tahun 2000 sebagai lahan transmigrasi.

 

METRO didampingi Edy Saputra, seniman sekaligus Bapak Pembina Anak Sekolah Lokal Jauh di Rawa Kolang, Kamis (22/1) empat hari lalu sekira pukul 10.00 WIB, mendatangi warga transmigran di daerah itu, naik sepeda motor. Dari Kota Sibolga ke Kolang, jalan beraspal relatif cukup baik dilalui sepeda motor, meski ada kupak-kapik di sini dan di sana. Tetapi sekitar 2 km mulai dari jalan besar menuju ke Rawa Kolang, kondisi jalanan mulai berat, dengan batu-batu kasar yang menutupi jalan, serta kerikil-kerikil yang berlepasan dari ikatan aspal hitam yang aus dihantam alam. Meski demikian, kendaraan roda dua yang dikendarai METRO masih mampu melaju cukup lancar. Di tengah perjalanan, METRO melalui sebuah jembatan papan yang di bawahnya mengalir air berwarna kehitaman. Hitam bak parit busuk!

 

Usai jalan yang ditutupi batu-batu kasar, rute mulai berat. Jalan tanah menanti untuk dilalui. Kebetulan saat METRO bersama Pak Edy berkunjung, hujan baru saja turun semalaman. Alhasil, jalan tanah yang bergelombang-gelombang di sana-sini dipenuhi air. Tak terhindarkan, roda motor terkadang nyungsep ke kolam kecil di jalan, dan harus didorong agar bisa keluar. Celana jeans yang dikenakan pun berhias cipratan lumpur merah. “Hahahaha… berat ya? Pertama kali aku ke mari, aku pun pernah berpikir, parsahalian ma on (cukup sekali ini saja, red) aku datang ke sini,” celoteh Pak Edy sambil ngakak, dan lalu menjelaskan, sebenarnya kalau hari sedang tidak hujan, perjalanan tidaklah separah itu. METRO hanya bisa ikut tertawa miris.

 

Jalanan sepi. Maklum, sudah jauh dari kota. Desa terdekat, yakni Aek Badan sudah 2 km di belakang. Pohon pinang mendominasi areal pinggir jalan. Matahari terik. Udara terasa panas menyengat. Semakin memasuki kawasan lahan transmigrasi UPT (Unit Pemukiman Transmigrasi) SP 3 Rawa Kolang, cuaca semakin panas. Saluran-saluran irigasi tampak berisi air berwarna coklat kehitaman.

 

Setelah sekitar 1 jam lebih berjuang di atas sepeda motor, akhirnya perjalanan tiba juga di areal pemukiman transmigran, persisnya SP 3 Rawa Kolang. Rumah-rumah transmigran berukuran 5 x 6 mulai terlihat satu-satu, dengan jarak sekitar 50 meter tiap rumah. Di suatu lokasi yang terlihat ada sejumlah bangunan dari kayu yang sebagian sudah miring, Pak Edy berhenti. METRO ikut berhenti. Di tempat itu, sejumlah laki-laki tampak duduk-duduk di sebuah rumah semacam kedai. Di depan kedai itu, dipisahkan oleh jalan tanah, berdiri sebuah bangunan sekolah. Ke salahsatu ruang kelas di gedung sekolah itulah kami datang, disambut dua orang guru yakni Bu Lestari dan Pak Tosari, didampingi Kepala Sekolah AR Silalahi, dan Kepala UPT SP 3, Safari.

 

“Inilah Sekolah Lokal Jauh yang ada di wilayah trans ini,” jelas Pak Edy kepada METRO, lantas menyapa murid-murid dengan nada akrab. ”Apa kabar?” tanyanya.

 

Anak-anak kelas I SD di kelas itu berdiri dan mengucapkan salam.

 

”Salam Pak Edyyy…,” sapa anak-anak manis.

 

Tak berapa lama, sejumlah bapak-bapak dari kedai itu pun ikut masuk ke ruang kelas. Waktu menunjukkan pukul 10.30 WIB.

 

Dalam pertemuan yang berlangsung informal itu, terungkap kalau warga transmigran di Rawa Kolang khususnya di SP 3 (SP 1 dan SP 2 tidak dikunjungi METRO, Red), awalnya berjumlah 150 KK. Sekitar 100 KK adalah translok (transmigran lokal) yang terdiri dari warga suku Batak dan Nias sekitar Kolang. Sekitar 35 KK transmigran dari Jawa Timur. Dan 15 KK pengungsi asal Aceh.

 

Awalnya, setiap KK mendapat 2 hektare tanah yang terletak terpisah di tiga lokasi, yakni ½ hektare di lahan I (kebun), ½ hektare di lahan II (pemukiman), dan 1 hektare di lahan III (perkebunan). Selain mendapat lahan 2 hektare, masing-masing KK juga mendapat rumah papan ukuran 6 x 6. Selain itu, masih di tahun pertama, kebutuhan pangan mereka ditanggung pemerintah, seperti beras, ikan asin, minyak goreng, kecap, garam, sabun, dan lainnya.

 

”Awalnya, kami dijanjikan pemerintah lahan siap tanam. Namun saat kami datang, lahan memang sudah dibuka tetapi batang-batang kayu masih malang melintang di atas lahan. Kami yang harus membersihkan,” jelas Handar Sitompul (60).

 

Meski lahan tak sesiap yang dijanjikan, warga tetap bersemangat memulai hidup baru di lahan trans. Tanah-tanah pun digarap. Diawali dengan lahan sekitar pemukiman. Handar Sitompul misalnya, mengaku mencoba menanam 700 pokok pisang. Eh, ternyata semua mati karena tergenang air coklat kehitaman. ”Apapun ditanam pasti gagal, baik itu cabe, pisang, pepaya, dan lainnya. Kencur ditanam 1 hektare, busuk semua,” terangnya.

 

Menimpali Sitompul, rekannya Kasman Laoly mengatakan, ubi pun ditanam tak berbuah. ”Konon lagi berbuah, berdaun pun tidak,” katanya.

 

Ia menjelaskan, pertanian umumnya gagal di Rawa Kolang, selain karena pH (derajat keasaman) tanahnya yang terlalu asam, juga karena sistem irigasi yang tidak lancar, menyebabkan air tergenang di parit-parit. Jika hujan turun deras, air meluap dan menggenangi lahan-lahan kebun warga, hingga tanaman rusak dan busuk semua. ”Tahun pertama, masih banyak yang bertahan tinggal di lahan transmigrasi ini, karena kebutuhan kami masih ditanggung pemerintah. Tetapi tahun kedua, kebutuhan kami tak lagi ditanggung, sementara pertanian gagal terus. Mau makan apa? Tak heran banyak yang pilih keluar dari sini,” cetusnya.

 

Ditengarai pafa tahun kedua, keluarga yang pindah sudah mencapai 80-an KK. Jumlah itu terus bertambah secara bergelombang. Apalagi, sejumlah sarana dan prasarana di lokasi sama sekali tak memadai. ”Sekolah tak ada, Puskesmas tidak ada, sarana transportasi tak ada, air bersih tak ada, listrik tak ada. Dan banyak lagi,” cetusnya getir.

 

Memang, terangnya lagi, pemerintah melalui Kanwil Transmigrasi, ada memberikan bantuan berupa bibit kelapa, sawit, pupuk, bahkan bibit ternak berupa ayam, dan lainnya. Namun bantuan itu hasilnya bersifat jangka panjang, sementara perut harus diisi tiap hari. ”Sekarang ini, kami kebanyakan hidup dengan menjadi buruh lepas di sekitar Kecamatan Kolang bahkan sampai Sibolga. Ada juga yang menjadi pedagang. Banyak lahan yang telantar karena tak dikerjakan. Soalnya, dikerjakan pun hasilnya tak ada,” jelasnya. (bersambung)

 

4 tanggapan untuk “Melongok Kehidupan Warga Transmigran di Rawa Kolang, Tapteng (1)

    1. Duh duh.. bukan bapak-bapak nih, masih gadis… hehehehe… Daerahnya di Kecamatan Kolang, Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara. Sekitar 1 jam dari Kota Sibolga arah Barus. Udah pernah ke Sibolga Bu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s