Melongok Kehidupan Warga Transmigran di Rawa Kolang, Tapteng (4/Habis)

Lahan Trans Diperjual-belikan di Bawah Tangan, Ada Juga yang Diserobot

 

Rumah trans di Rawa Kolang-Tapteng
Rumah trans di Rawa Kolang-Tapteng

Lelah bertarung dengan alam, puluhan KK warga transmigran di Rawa Kolang pilih kabur dari lahan trans sejak tahun 2001. Akibatnya, puluhan hektare lahan yang disediakan pemerintah, telantar bak tak bertuan. Lucunya, meski belum berhak, konon ada sejumlah warga yang hengkang itu yang diam-diam menjual lahan bagiannya ke pihak ketiga. Sementara lahan lainnya diserobot oknum-oknum bermodal.

 

Dame Ambarita, Rawa Kolang

 

Seperti umumnya di seluruh Indonesia, tiap Kepala Keluarga yang masuk dalam daftar transmigran berhak mendapat bagian lahan 2 hektare. Demikian juga warga trans di Rawa Kolang, Tapteng. Di SP 3 (Sarana Pemukiman 3) Rawa Kolang, terdaftar 150 KK yang disebar di atas lahan 300 hektare. Lahan yang 2 hektare itu berlokasi di tiga areal berbeda, masing-masing ½ hektare di lahan I pemukiman, ½ hektare di lahan II (kebun), dan 1 hektare di lahan III (perkebunan).

 

”Kami mendapat lahan sesuai undian. Setiap KK diundi dengan nomor. Nomor yang diperoleh, itulah yang menjadi nomor rumah dan nomor lahan yang menjadi bagiannya. Misalnya, jika pas undian saya memperoleh nomor 75 di SP 3 Rawa Kolang, berarti saya harus mencari rumah trans di Lahan 1 nomor 75. Kemudian lahan perkebunan di Lahan II nomor patok 75, dan lahan perkebunan di Lahan III nomor patok 75 juga. Kepada kami masing-masing diberikan fotokopi peta lahan,” jelas Pak Safari, warga trans yang baru tiga bulan diangkat menjadi Kepala UPT (Unit Pemukiman Trans) SP 3, sambil menunjukkan peta dimaksud.

 

Oleh pemerintah, warga trans diberi hak mengolah tanah tersebut selama 20 tahun. Jika warga bertahan selama 20 tahun di lahan itu, barulah pemerintah memberikan sertifikat hak milik atas rumah dan lahan bagiannya. ”Jadi jika belum genap 20 tahun, warga belum berhak memperjualbelikan lahan bagiannya,” jelas Pak Safari.

 

Tetapi jika sebelum 20 tahun ternyata lahan trans sudah dipindahtangankan, dari Kanwil Trans ke Pemkab Tapteng selaku pemilik wilayah demografis, lahan dan rumah dapat disertifikatkan.

 

Tahun 2009 ini, kata Pak Safari, sebenarnya lahan trans SP 3 Rawa Kolang direncanakan sudah dapat dialihkan ke bawah wewenang Pemkab Tapteng. Namun warga pesimis hal itu dapat terealisasi, mengingat infrastruktur di sana masih centang-perenang. Sementara 100-an lebih rumah sudah ditinggalkan dan nyaris roboh karena tak dirawat. Atap dan bangunan Balai Desa pun sudah penyok dan miring. Secara keseluruhan, kondisi di sana menunjukkan proyek transmigrasi yang gagal dan salah urus.

 

Ironisnya, meski sebenarnya belum berhak, namun selama beberapa tahun terakhir ini, diam-diam ada sebagian warga yang hengkang itu yang menjual lahan bagiannya ke pihak ketiga. ”Jadi tanpa sertifikat, lahan dialihkan ke pihak ketiga tanpa izin dari Kanwil Trans. Disinyalir, ada sekitar 50-an lahan yang pemiliknya telah berganti-ganti. Modusnya, si pembeli memberikan semacam ganti rugi kepada warga trans yang dulunya terdaftar tapi telah pindah itu,” kata Pak Safari tanpa merinci nama-nama si penjual.

 

Selain penjualan lahan di bawah tangan, ada juga oknum-oknum bermodal yang serakah, yang menyerobot lahan yang ditinggalkan warga trans itu. Oknum-oknum itu menanami lahan secara sepihak dengan kelapa sawit. ”Kasus-kasus itu tak mendapat perhatian karena seringnya pergantian pejabat di Kanwil Transmigrasi. Kepala UPT pun tak memiliki kewajiban menandatangani pengalihan lahan, jadi tidak bisa mendatanya. Saya sendiri baru tiga bulan diangkat menjadi Kepala UPT di sini,” terangnya.

 

Kasus penjualan lahan dan kasus penyerobotan itu sulit ditindak, karena seperti kata Pak Safari, sulit menelusurinya. ”Sulit membuktikan ada penjualan di bawah tangan, karena bisa saja si penjual mengaku si pembeli itu adalah keluarganya yang disuruh mengerjakan lahan,” cetus Kepala UPT yang belum sekalipun mendapat gaji selama 3 bulan diangkat ini.

 

Untuk itu, ia berharap agar pemerintah, khususnya dari Kanwil Transmigrasi, dapat turun menyelidiki dan menindak pelaku-pelaku yang terbukti melanggar ketentuan.

 

Di pihak lain, warga trans mengaku, memang mereka tak mampu mengerjakan lahan 2 hektare yang menjadi bagian mereka karena ketiadaan modal. Sementara penyerobot atau pihak ketiga yang diam-diam membeli lahan trans itu, rata-rata adalah orang bermodal yang sanggup mengolah lahan trans menjadi kebun sawit.

 

”Cemmanalah Dik, untuk makan sehari-hari saja susah. Sebanyak 1½ hektare lahan bagian kami kebanyakan tak kami kerjakan. Yang mampu kami kerjakan hanya yang ½ hektare dekat rumah. Ya beginilah… selama 8 tahun masih berjuang untuk makan sehari-hari,” cetusnya sembari tertawa lebar.

 

Agar mampu mengolah tanah bagian mereka, Pak Safari mengatakan, warga sangat membutuhkan uluran tangan Bapak Angkat. Bapak Angkat itu akan memberi modal untuk mengolah lahan, misalnya menjadi kebun sawit. Warga mendapat gaji mengerjakan lahannya sendiri, dan nantinya pembagian hasil sesuai kesepakatan, apakah 50:50, atau 40:60, atau 30:70.

 

”Tahun 2006 lalu, pernah ada calon investor (nama sengaja tak ditulis, Red) yang bersedia menjadi Bapak Angkat kami. Pertemuan sudah digelar dan kami sudah sepakat. Eh, malamnya saya dipanggil pejabat (jabatan sengaja tak ditulis, Red) dan disuruh batalkan kesepakatan. Janji si pejabat, Pemkab akan mengusahakan Bapak Angkat bagi kami. Namun sampai sekarang tak ada realisasi,” cetusnya, tetap sambil tersenyum lebar.

 

Jika ada pemodal yang bersedia menjadi Bapak Angkat, menurut Pak Safari, warga akan sangat menyambut gembira. Ia memastikan, pembagian hasil dapat dibicarakan. Yang penting warga dapat beroleh hasil dari lahan yang menjadi haknya. Dan kesejahteraan warga boleh meningkat. Harapan Pak Safari ini diamini Pak Hander Sitompul dan Pak Kasman Laoly.

 

Saat makan siang, METRO dan Pak Edy dijamu makan siang di rumah Pak Safari, yang adalah rumah trans ukuran 6 x 6 bentuk rumah panggung. Rumah itu sudah ditambah sedikit ke belakang yang befungsi sebagai dapur. Rumah panggung memang paling cocok untuk struktur rumah di lahan bekas rawa, karena struktur tanahnya yang labil. Di mana, dipijak saja tanah masih goyang. Dan kalau ada gempa, pohon sawit ikut bergoyang mulai dari akar sampai daunnya.

 

Ups, kembali ke makan siang. Namanya makan siang, ya tentu antara pukul 12.00 WIB sampai pukul 14.00 WIB. Saat itu, jam menunjukkan pukul 13.00 WIB. Pas METRO masuk ke rumah Pak Safari, hawa panas terasa menyengat. Maklum, jarak lantai papan dengan atap seng hanya sekitar 3 meter dan tak dilindungi asbes. ”Beginilah rumah trans Dik. Nikmatilah…,” kekehnya.

 

Hidangan disajikan istri Pak Safari. Nasi plus gulai bebek plus mentimun dan mie gomak. ”Nasi ini dari raskin (beras miskin). Dagingnya dari bebek yang kita ternakkan. Silahkan… jangan malu-malu,” katanya mempersilakan.

 

Keberadaan raskin, diakui warga sangat membantu, meski pasokannya baru lancar lima bulan terakhir. ”Benar sangat membantu. Harapan kami, raskin tetap lancar ke desa kami ini,” pinta Kasman Laoly.

 

Di akhir bincang-bincang, warga trans yang secara demografis adalah penduduk Tapteng, dan mempercayai Pak Edy sebagai tokoh panutan ini, bertanya siapa sebaiknya Calon Legislatif (Caleg) dan calon Presiden yang patut dipilih pada Pemilu mendatang. ”Kami ini kan hanya wong cilik. Kalau ada arahan dari Pak Edy, pasti akan kami ikuti,” tegas mereka.

 

Pak Edy tersenyum, tetapi tidak memberi arahan untuk memilih siapapun. ”Silahkan pilih sesuai hati nurani,” katanya bijak. (Habis-Peliputan dibantu Kristian Sembiring-Catatan: Data tambahan diperoleh METRO dari Bu Lestari (guru sekolah Lokal Jauh), pendiri Sekolah Lokal Jauh SDN 157614 Satahi Nauli 3 yakni Bapak Edy Saputra, Bapak Kacabdis Kolang B Marbun, Tua Situmeang, Camat Himal Batubara, Bu Ira, dan Bu Aniko dari LSM Wanita. ”Bapak B Marbun sangat peduli nasib anak trans, dan selalu memantau meskipun udah pindah tugas,” kata Bu Lestari dalam SMS-nya yang diterima METRO).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s