Melongok Kehidupan Warga Transmigran di Rawa Kolang, Tapteng (3)

Sekolah Lokal Jauh Hanya 3 Kelas, Butuh Sumbangan Buku & Beasiswa

 

Murid, guru, dan ortu siswa sekolah lokal jauh di Rawa Kolang-Tapteng
Murid, guru, dan ortu siswa sekolah lokal jauh di Rawa Kolang-Tapteng

Empat tahun sejak lahan transmigrasi Rawa Kolang dibuka, sekolah sama sekali belum ada. Atas usaha Edy Saputra (saat itu pegawai RRI), tahun 2004 akhirnya ada Sekolah Lokal Jauh di Balai Desa. Tiga tahun kemudian, barulah didirikan bangunan sekolah tiga ruangan. Tenaga pendidik dua orang, direkrut dari warga trans sendiri. Gaji awal kadang tak sampai Rp100 ribu sebulan.

 

Dame Ambarita, Rawa Kolang

 

”Awal perkenalan saya dengan warga trans dimulai saat saya masih bekerja di RRI cabang Sibolga. Saat itu, saya menerima surat dari warga trans SP-3 Rawa Kolang agar mengekspos nasib mereka pada Siaran Pedesaan RRI. Saat itu tahun 2004. Dan itulah satu-satunya ekspos di media massa tentang nasib warga trans Rawa Kolang,” jelas Edy Saputra, pensiunan pegawai RRI, kepada METRO.

 

Saat terjun langsung meliput kehidupan warga trans di Rawa Kolang, hati Pak Edy tergerus sedih, khususnya terkait pendidikan anak-anak. ”Sekolah sama sekali tak ada. Kalau ada anak yang mau sekolah, harus diantarkan orangtuanya ke Kolang (sekitar 5 km) naik sepeda. Dan sering harus ditunggui sampai pulang sekolah karena sulitnya rute yang harus ditempuh,” jelasnya.

 

Karena prihatin, Pak Edy berupaya menghubungi Dinas Pendidikan Tapteng, saat itu dikepalai Pak Sugeng, hingga akhirnya berhasil mengusahakan Sekolah Lokal Jauh. ”Disepakati, anak-anak belajar di Balai Desa,” kenangnya.

 

Orangtua senang ada Sekolah Lokal Jauh. Persoalan muncul, karena tak ada guru yang bersedia mengajar anak-anak. Tak habis akal, Pak Edy mengusulkan tenaga pendidik direkrut langsung dari warga trans sendiri. Didapatlah Ibu Lestari (warga trans pengungsi Aceh) dan Pak Tosari (warga trans tamatan STM). Tahun pertama, anak-anak Sekolah Lokal Jauh terdaftar 38 orang. Untuk gaji guru, orangtua anak-anak diminta membayar uang sumbangan Rp5.000 per anak, atau Rp7.000 untuk dua orang kakak beradik. Pak Edy Saputra dipercaya sebagai Bapak Pembina.

 

Seharusnya, 38 anak dikali Rp5.000, dapat diperoleh uang Rp190.000. Tetapi ternyata banyak orangtua murid yang tak sanggup bayar. ”Kadang dapat Rp50 ribu kadang Rp70 ribu sebulan. Padahal kami ada dua orang. Makanya saya sering rela tak dapat gaji dan total sumbangan murid itu saya serahkan kepada Pak Tosari, agar gajinya tak terlalu kecil. Yang penting anak-anak dapat belajar,” terang Bu Lestari, diiyakan Pak Tosari.

 

Untunglah, Pak Sugeng selaku Kadis Pendidikan Tapteng saat itu, dari kocek pribadinya rela merogoh uang Rp200 ribu per bulan (masing-masing Rp100 ribu) sebagai honor kedua guru sukarelawan itu. Pak Sugeng juga menyumbangkan seragam sekolah, buku, dan bola untuk olahraga. 

 

Permulaan, anak-anak sekolah dibagi dua, yakni kelas 1 dan kelas 2. Uniknya, saat salahsatu di antara guru ada urusan di luar sekolah, tinggal satu orang guru yang bertugas mengajar. ”Kalau sudah begitu, kita terpaksa mondar-mandir dari ruang yang satu ke ruang yang lain,” jelasnya.

 

Karena kelas III belum ada, terpaksa anak-anak yang sudah naik ke kelas 3 harus menempuh perjalanan sekira 3-5 km ke SD Induk di Desa Aek Badan.

 

Tahun 2005, jumlah murid di Sekolah Lokal Jauh turun menjadi 36 orang. Tahun berikutnya naik jadi 40 murid. Kelas tetap dua, yakni kelas 1 dan kelas 2. Tahun 2007, atas upaya Pak Edy dan Pak Sugeng, Kanwil Transmigrasi bersedia membiayai pembangunan 3 ruang kelas untuk Kelas Lokal Jauh ini, meski hanya seadanya dan tanpa ruang guru. Tahun itu juga, jumlah kelas ditambah kelas 3, dengan jumlah murid 36 orang. Dan tahun 2008-2009, tinggal 34 murid saja.

 

”Meski hidup mereka sulit, tapi anak-anak trans di sini cukup bersemangat bersekolah. Padahal untuk makan 3 kali sehari saja pun mereka susah. Ada anak yang baju seragamnya sudah koyak karena orangtuanya tak sanggup membeli yang baru. Banyak yang masih kaki ayam alias tak bersepatu ke sekolah. Asalkan ada dukungan dari orangtua mereka, kebanyakan anak-anak trans senang bersekolah,” terang Bu Lestari dengan nada bersemangat.

 

Dukungan orangtua itu misalnya dengan mengajari anaknya di rumah, membantu membuatkan PR (Pekerjaan Rumah), dan tidak mewajibkan anaknya menjaga burung di sawah pada jam belajar, atau menyuruh anaknya menjaga durian pada jam sekolah saat musim durian tiba.

 

Prestasi anak-anak Sekolah Lokal Jauh, pengakuan Bu Lestari, tak kalah dari anak-anak di sekolah lain. Terbukti, beberapa anak-anak trans yang melanjutkan sekolah di SD Aek Badan, mampu tampil sebagai juara kelas. ”Hanya satu harapan kami di sini, agar ada perhatian dari pemerintah atau para dermawan, untuk menyediakan beasiswa bagi anak-anak yang berprestasi namun ekonomi orangtuanya tidak mampu. Saya sangat ingin mereka bisa melanjutkan sekolah. Mereka patut mendapatkan pendidikan yang layak. Anak-anak trans itu tidak bodoh. Jangan sampai mereka merasa malu atau terhina karena mereka anak-anak trans. Saya bahkan rela tak jadi CPNS asalkan mereka mampu melanjutkan sekolah,” kata Bu Lestari sambil terisak-isak.

 

Ia menuturkan, sebenarnya anak-anak trans di Rawa Kolang lebih membutuhkan beasiswa dibanding anak-anak kota yang orangtuanya mampu secara finansial. ”Apa artinya anak-anak kota yang berprestasi mendapat beasiswa, sementara orangtuanya mampu membiayai?” katanya dengan nada berapi-api.

 

Rasa cinta Bu Lestari dan Pak Tosari kepada anak-anak trans, diwujudkan mereka dengan terus mengabdi sebagai guru, meski selama 3 tahun tak dapat gaji layak. Gaji mereka berdua baru sedikit mendingan sejak tahun 2005, yakni sejak mereka lulus sebagai Guru Bakti, dan berhak mendapat gaji Rp60 ribu. Dan tahun 2007 naik menjadi Rp710 ribu.

 

”Harapan kami, ada Orangtua Asuh yang bersedia membiayai pendidikan anak-anak trans. Nanti anak-anaknya bisa kami pilih, yakni yang berprestasi namun orangtuanya tidak mampu,” harapnya.

 

Di akhir kalimatnya, Bu Lestari berharap ada sukarelawan yang terketuk hatinya untuk menyumbangkan buku-buku, khususnya buku cerita anak-anak, majalah bobo dan sejenisnya, serta buku-buku lainnya. ”Bekas pun akan kami sambut dengan senang hati. Karena anak-anak  murid kami sangat jarang memperoleh buku cerita. Kalau ada majalah bobo bekas, pasti kami terima dengan senang hati. Anak-anak murid kami sangat haus bacaan,” kata Bu Lestari dengan nada sedih, dan airmata bercucuran. (bersambung)  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s