Melongok Kehidupan Warga Transmigran di Rawa Kolang, Tapteng (2)

Drum tempat menampung air hujan di Rawa Kolang
Drum tempat menampung air hujan di Rawa Kolang

Air Coklat Kehitaman Kelebihan Magnesium, Itupun Dikonsumsi Juga

 

Kerasnya kehidupan warga transmigran di Rawa Kolang tak hanya soal kegagalan dalam bertani. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih saja, mereka harus rajin-rajin berharap hujan turun. Kalau hujan tak turun, ya terpaksa konsumsi air parit yang berwarna coklat kehitaman, dan konon kata para ahli di PDAM, mengandung magnesium di atas ambang batas. Ck ck ck!

 

Dame Ambarita, Rawa Kolang

 

Genangan air berwarna coklat kehitaman memang sudah menyedot perhatian METRO, selama dalam perjalanan ke SP 3 Rawa Kolang. Diawali dari sungai yang dialiri air berwarna kehitaman di bawah jembatan, pada pertengahan jalan menuju ke Rawa Kolang. Serta di parit-parit yang ditemui METRO di lokasi.

”Airnya coklat kehitaman karena lahan ini lahan gambut,” kata Pak Edy menjelaskan.

 

Air berwarna sama adalah pemandangan yang ’biasa’ di sana. Di sebuah sungai kecil hasil galian sekitar 1 km dari SP-3, tampak seorang ibu mencuci piring, dengan anaknya yang masih kecil asyik mandi dengan air coklat itu.

 

”Menurut pegawai PDAM yang pernah survey,  katanya air di sini terlalu banyak mengandung magnesium. Karena lahan ini dulunya bekas rawa, yang mengandung air laut,” kata Gus Karnati (35), warga trans.

 

Magnesium adalah unsur kimia terlarut ketiga terbanyak pada air laut. Sebenarnya, magnesium diperlukan tubuh untuk membuat otot-otot tetap lentur dan rileks serta memelihara kekuatan tulang dan gigi.  Juga dibutuhkan dalam mengatasi sejumlah penyakit seperti asma dan diabetes, gangguan atau kelainan ritme jantung.  Tetapi magnesium tidak boleh dikonsumsi terlalu banyak, karena bila terlalu banyak -melebihi 600 mg- berisiko terkena diare. 

 

Pengakuan warga trans, sebenarnya pemerintah sudah pernah mengupayakan sumur bor di lahan transmigran itu. ”Tapi baru seminggu dibangun sudah rusak, soalnya bornya murahan,” kritik mereka.

 

Pemerintah juga pernah menjanjikan untuk membendung air bersih dari pebukitan yang berada di sekitar lokasi, dan dialirkan ke SP 3. Namun janji tinggal janji. Sampai hari ini tak ada realisasi.

 

Untuk mengatasi kesulitan air bersih, warga rajin-rajin menampung air bersih dari pancuran seng rumah papan mereka. Air hujan itu ditampung di dalam tong, dan dihemat khusus untuk masak saja.  Sedangkan untuk MCK memanfaatkan air kehitaman yang banyak tergenang di parit-parit.

 

 ”Kami sangat berharap pemerintah bersedia memasukkan air PDAM sampai ke SP 3 ini. Soalnya, pipa PDAM sudah sampai ke Desa Aek Badan. Tinggal 3 km saja lagi yang perlu dibuat pipa,” harap mereka. 

 

Sulitnya kehidupan warga trans di lahan transmigran, diakui Bu Guru Lestari, akibat pertukaran pemerintahan. ”Dulu waktu zaman Pak Harto (mantan Presiden RI, Red yang menggagas program transmigrasi), warga transmigran mendapat perhatian yang cukup. Untuk merangsang semangat para petani warga trans, sering diberikan bantuan pupuk atau alat penyemprot hama. Sekarang, mana ada lagi!” katanya.

 

Selain itu, warga trans nyaris tak mendapat perhatian dari Pemkab setempat (Pemkab Tapteng), karena mereka masih di bawah binaan Kanwil Transmigrasi. ”Dijanjikan, kalau sarana dan prasarana sudah lengkap, daerah ini akan masuk wilayah Tapteng. Tapi kalau kek gini terus, mana mungkin Pemkab mau menerima? Apapun tak ada di sini. Sekolah Lokal Jauh saja ada karena usaha Pak Edy. Puskesmas ada, tapi paramedisnya tak ada. PDAM tak ada, listrik juga. Bahkan jalan pun ya kek gitu sajalah. Daerah kami bisa dibilang, ibarat kerakap di atas batu. Hidup segan, mati tak mau,” kata Wagiman.

 

Meski demikian, mereka memiliki KTP Tapteng dan terdaftar sebagai pemilih di KPU Tapteng.

 

Untuk meningkatkan perekonomian yang masih seadanya, warga trans berharap ada pihak yang menyumbangkan keramba. Keramba itu akan digunakan untuk memelihara lele di parit-parit lahan trans yang airnya berwarna merah kehitaman. ”Meski warnanya coklat, air cukup banyak tergenang di parit-parit. Dan ikan lele mampu hidup di air seperti itu. Pasarannya juga tinggi. Jadi permintaan kami agar kami dapat dibantu dengan keramba,” pinta mereka.

 

Usaha lele dalam keramba itu diharapkan dapat membantu warga meningkatkan taraf kehidupan skala jangka pendek. Sementara untuk jangka panjang, warga berharap hasil pertanian dari nenas, rambutan, karet, dan sawit yang sudah mulai tumbuh besar.

 

Untuk mendukung pertanian warga, pemerintah juga diharapkan memperbaiki sistem irigasi agar air dapat mengalir lancar, khususnya pada musim hujan sehingga air tidak menggenangi lahan.

 

”Pernah ada pejabat dari Pemprovsu datang meninjau ke sini, dan menuduh kami pemalas karena memohon bantuan dari pemerintah. Perlu saya tegaskan, kami bukan pemalas. Kami hanya lelah terus-menerus gagal bertani, karena lahan sering tergenang air hingga tanaman selalu busuk,” tegas seorang warga dengan nada berapi-api.

 

Ditanya berapa rata-rata penghasilan warga dalam sebulan, warga sambil tertawa miris menjawab, susah dihitung. Karena ada tak ada. ”Susah sekali menghitungnya itu Bu, soalnya kadang ada kadang tiada. Kadang hanya Rp50 ribu per minggu. Kadang dapat Rp100 ribu. Tapi kalau mau dirata-ratakan juga, sekitar Rp400 ribu-500 ribu lah per bulan,” cetus mereka senada.

 

Dengan penghasilan pas-pasan itulah mereka bertahan hidup di lahan transmigran SP 3 Rawa Kolang, sambil berharap ada keajaiban yang akan mengubah nasib mereka. (bersambung)  

2 tanggapan untuk “Melongok Kehidupan Warga Transmigran di Rawa Kolang, Tapteng (2)

  1. aku setuju
    gmana kalau tu desa di lengkapi sarana dan prasarana ,,,,,
    ingat g ada pejabat waktu bilang bilang,,,,,
    “” berdosa saya bila tidak saya bangun daerah ini””””
    tapi apa yang di bangun,,,,,
    yaaaa smoga di pergantian pemimpin dsana tu desa makin maju

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s