Jonggol Batu Berbentuk Patung Perempuan di Sipange Tapteng

Dipercaya Keramat, Pencuri pun Mengembalikan Karena Termimpi-mimpi

 

Patung itu kecil saja, ukurannya hanya sekira 1/2 meter. Dipahat dari batu asli. Usianya diperkirakan sudah lebih dari 200-an tahun. Disebut Jonggol Batu. Jonggol (bahasa Batak) artinya patung. Lokasinya pun tak terlalu elit, ’hanya’ di sebuah perladangan di Sipange, Kecamatan Tukka Tapteng. Yang menarik, patung itu dipercaya keramat. Pencuri pun konon mengembalikannya karena termimpi-mimpi.

 

Dame Ambarita, Sipange-Tapteng

 

Menuju ke lokasi Jonggol Batu dimaksud, METRO harus berjalan kaki dari kawasan pemukiman penduduk di Desa Sipange, Kecamatan Tukka Tapteng, sekira 1 kilometer. Desa Sipange sendiri sekitar 14 km dari Kota Sibolga, dan sekira 4,5 km dari Pandan, ibukota Tapteng. Melewati pematang sawah, sungai kecil bening, persawahan lagi, kemudian ke kawasan perladangan tarutung (durian). Dekat perladangan durian inilah, jonggol itu berada.

 

Selasa (6/1) sore kemarin, METRO bersama 7 warga Tukka –sebagian besar warga Sipange– bersama dua wartawan lainnya, ramai-ramai berkunjung ke lokasi jonggol dimaksud. Tujuh warga Tukka itu antara lain, Raja Johan Sitompul (37), Danner Panjaitan (59), Doharman Tambunan (48), Sobu Sitompul (65), Rubun Tambunan (51), Jamanurut Tambunan (56), dan Sanggam Tambunan (42).

 

METRO yang ingin melihat langsung keunikan patung ’keramat’ itu, tetap semangat meski peluh mengucur. Tiba di perladangan yang ditanami durian dan karet, rombongan segera menuju lokasi patung. ”Inilah patungnya. Namanya jonggol batu,” jelas Danner Panjaitan, sembari menunjuk sebuah patung kecil yang terletak bersandar ke sebuah pohon cempedak hutan. Patung itu kecil saja, hanya sekira 1/2 meter, dengan lebar sekira 20 cm. Pahatannya memperlihatkan anatomi tubuh perempuan, ditandai dengan dua tonjolan di dada. Sayang, pahatan di bagian dada tampak bekas dicongkel atau dipukul, sehingga dua tonjolan itu jadi agak rata. Hidung patung pun sudah patah. Warna patung itu agak kusam, dibungkus warna hijau bekas lumut.

 

Secara keseluruhan, patung itu biasa saja, bahkan terlalu biasa bila dibandingkan dengan patung-patung lainnya yang banyak dipahat di sejumlah kuburan di lingkungan suku Batak.

 

”Namun yang satu ini berbeda. Patung ini diperkirakan sudah sekitar 200-an tahun di tempat ini, dan konon tak bisa dipindah. Kalau ada yang memindahkan, orangnya pasti sakit atau termimpi-mimpi,” jelas Jamanurut Tambunan.

 

Cerita yang berkembang di antara warga desa turun temurun, patung itu dipercaya adalah peninggalan bangsa Spanyol, yang datang ke Sipange-Tapteng sekira tahun 1.511-an. Bahkan, nama Sipange pun katanya berasa dari kata Spanyol. Namun karena lidah orang Batak tak familiar menyebut Spanyol, lama kelamaan nama desa itu berubah menjadi Desa Sipange. ”Dulu, ada pilar peninggalan bangsa Spanyol di bukit sana. Tapi sudah ’digargar’ (dihancurkan, red) warga desa karena ingin mencari harta karun di pilar itu,” jelasnya.

 

Jonggol Batu itu dulunya sepasang. Ada patung lelaki di sampingnya, namun patung lelaki itu terbuat dari kayu. Tak jelas di mana keberadaan patung lelaki dimaksud saat ini. ”Bisa jadi karena dari kayu, jadi hancur karena aus. Atau mungkin ada yang mencuri. Menurut legenda, perbedaan bahan patung menunjukkan kalau ilmu si perempuan lebih tinggi dari si lelaki, makanya patungnya dipahat dari batu, sementara si lelaki dari kayu,” tambah Doharman Tambunan.

 

’Kekeramatan’ jonggol batu dimaksud diketahui oleh hampir seluruh warga Sipange. ”Awas, jonggol begu (patung hantu),” adalah kalimat yang kerap disampaikan orang-orang tua kepada anak-anak mereka.

 

Cerita yang berkembang di tengah warga Sipange, siapapun yang mengganggu, memindahkan, atau mencuri patung itu, akan menderita sakit tak jelas, atau minimal termimpi-mimpi.

 

”Sudah ada beberapa warga yang mengalami. Pernah ada anak kelas V SD yang mencongkel-congkel bagian dada patung itu. Eh, sampai dia tumbuh menjadi ABG, terus menderita penyakit yang tak jelas. Akhirnya, beberapa tetua kampung yang ’pintar’, menyuruhnya membuat ’napuran’ (sekapur sirih), seraya meminta maaf kepada patung itu, barulah ia pulih,” katanya.

 

Yang memindahkan patung itu pun tak luput dari sakit, atau minimal mimpi buruk. ”Dulunya patung ini terletak di atas batu, sekitar 5 meter dari pohon cempedak ini. Nah, ada yang usil memindahkannya, kami dengar cerita dari orang-orang tua, terkena penyakit tak jelas. Dan sekarang, akhirnya patung ini di situ terus (di bawah pohon cempedak, red), dan tak ada lagi yang berani memindahkan,” tambah Danner Panjaitan.

 

Namun pernah patung itu hilang sekira setahun. Tak ada warga desa yang tahu siapa yang mengambil. Tetapi setelah setahun, patung itu kembali lagi ke tempat semula. ”Kami dengar, yang mencurinya sempat membawanya ke Medan untuk dibisniskan. Namun selama itu ia diganggu oleh mimpi-mimpi buruk. Karena tak tahan lagi, setelah setahun ia diam-diam mengembalikan patung ini ke lokasi yang sama. Cerita ini terungkap dari si pencuri itu sendiri, yang akhirnya membuka mulut ke warga desa,” kata Danner.

 

Pemilik ladang tarutung (durian), bermarga Pardede, yang ditemui di lokasi menjelaskan, dirinya kerap melihat sosok perempuan cantik berambut panjang dan berhidung mancung, jalan-jalan di lokasi ladang sekitar patung itu, pada jam-jam tertentu. ”Kadang jam 1 siang, kadang sore. Yang saya lihat, kakinya tidak menjejak ke tanah,” akunya polos, tanpa menjelaskan lebih lanjut.

 

Tokoh masyarakat, Raja Johan Sitompul, sempat berniat meneliti patung itu dengan membawanya ke ahli-ahli. ”Kalau boleh, kami pinjam patung ini 3 hari saja untuk diteliti, dapat diizinkan tidak?” tanyanya pada tokoh desa yang ikut serta.

 

Saat disarankan agar permisi ke Kepala Desa setempat, Pak Johan coba menelepon sang kades meminta izin. Sampai tulisan ini diturunkan, belum jelas apakah izin meneliti patung diizinkan atau tidak. Dan soal kebenaran kekeramatan jonngol batu dimaksud, wallaualam! (*) 

4 tanggapan untuk “Jonggol Batu Berbentuk Patung Perempuan di Sipange Tapteng

  1. Dulu, nama desa itu Sibaganding, Sipange adalah sebuah dusun di desa tsb. Menurut ceritanya, pembuka desa turun dari Sibaganding Pahae, Tapanuli Utara yang berada di balik bukit. Dua keluarga perantau tsb bermarga Sihite beserta keluarga Laenya bermarga Sitompul mar-boru Sihite. Hal ini bisa dibuktikan dari patung besar suami-isteri di persimpangan Sibaganding-Sipange, tertulis jelas Raja …..(?) Sitompul beserta isterinya br.Sihite. Desa Sipange menjadi nama resmi pemerintahan desa, konon ceritanya pernah dikunjungi orang Spaanje (Spain/Spanyol). Jika ingin membuktikan kunjungan orang Spanyol tsb, bisa cari info dari Kedutaan Spanyol atau langsung kontak ke Madrid (ibukota Spanyol, juara Piala Dunia 2010). Cerita ini saya tahu dari kakek saya yg mencapai umur 105 tahun, meninggal dunia tahun1972 yl. Menyangkut patung, banyak versi dan bumbu cerita yang mutar-mutar, jadi silahkan tafsir dan renung sendiri pula karena saya sendiri tidak pernah tinggal di sana. Desa Sipange termasuk desa agraris yg subur dan tdk terlupakan meskipun saya sendiri sudah menjelajah lima benua ini. Saya tahu, banyak perantau dari desa ini yg bermukim di luar negeri seperti di Jerman dll, semoga masih ingat Desa Sipange.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s