Melirik Kiprah Crosser Muda Berprestasi asal Sibolga-Tapteng

Tak Ada Sponsor, Berlaga di Arena dengan Biaya Sendiri

 

Fazrin Zeb Tumory, Crosser Muda asal Sibolga-Tapteng, di samping sejumlah piala yang diraihnya.
Fazrin Zeb Tumory, Crosser Muda asal Sibolga-Tapteng, di samping sejumlah piala yang diraihnya.

 

 

Olahraga balap di Sibolga-Tapteng masih redup. Dalam setahun, paling hanya satu-dua kali event balap khususnya motor cross. Bahkan kadang tak ada event dalam setahun. Padahal, bibit-bibit pembalap muda cukup banyak. Hendak menyalurkan bakat di kejuaraan daerah maupun nasional, mereka terkendala biaya. Dukungan sponsor masih sebuah mimpi.

 

Dame Ambarita, Sibolga

 

Salahsatu crosser muda yang sudah mengharumkan nama Kota Sibolga dan Tapteng di berbagai event balapan tingkat provinsi maupun Sumatera adalah Fazrin Zeb Tumory. Hingga kemarin, pemuda yang November baru lalu merayakan ulangtahunnya ke 22 ini terhitung sudah 12 tahun malang melintang di dunia balap. Berbagai prestasi sudah diraihnya. Puluhan piala dari berbagai kejuaraan terpajang di rumahnya. Hanya satu kelemahannya, belum ada satu piala pun dari arena balapan resmi tingkat nasional.

 

“Sebenarnya, pembalap-pembalap muda asal Sibolga-Tapteng bisa berjaya ke  Kejuaraan Nasional, asalkan ada dukungan dana dan fasilitas. Tidak seperti sekarang, para pembalap harus membiayai dirinya sendiri. Beli motor sendiri, biayai modifikasi sendiri, biaya perjalanan dan akomodasi ke tempat event balap ditanggung sendiri, dan sebagainya. Ini cukup berat,” kata Fazrin Zeb Tumory kepada METRO kemarin, di Kantor METRO.

 

Kesulitan biaya menjadi kendala terbesar para crosser muda asal Sibolga-Tapteng untuk mengukir prestasi yang lebih tinggi. Maklum, harga motor balap kelas engine tidak murah. Mencapai seratusan juta satu unit motor baru, hampir sama dengan harga mobil. Yang bekas saja pun berkisar 80-an juta.

 

Di wilayah Tapanuli, yang memiliki motor engine baru dua-tiga orang. Di Psp, kata Fazrin, sepengetahuannya baru dua orang. Di Siborong-borong satu orang. “Makanya, Kejuaraan Motor Cross kelas engine belum pernah diikuti pembalap asal Sibolga-Tapteng. Paling, kita-kita ikut kelas Bebek Gabungan. Pakai motor Satria yang dimodifikasi. Biaya modifikasinya saja mencapai Rp9 jutaan,” cetusnya.

 

Dengan motor bebek, jelasnya lagi, para crosser hanya akan membalap di arena datar. Tak mampu ‘terbang’ seperti para crosser kelas engine yang mampu melayang melompati gundukan-gundukan tanah.

 

Fazrin sendiri mulai berkiprah di dunia balapan sejak dirinya kelas IV SD, awalnya ikut-ikutan balapan liar tengah malam di jalan raya. Balapan liar ini dilakukan sembunyi-sembunyi, dengan menggunakan Kawasaki Kaze di kawasan Pandan. “Tapi hanya setahun saja,” kenangnya. Soalnya, ia dilarang sang ayah, Hamzah Zeb Tumory, yang mantan pembalap juga di masa mudanya.

 

Kelas VI SD, ia minta dibelikan motor balap agar bisa balapan di arena resmi. Oleh sang ayah, anak keempat dari 6 bersuadara ini dibelikan motor Suzuki Satria, yang langsung dimodifikasinya menjadi motor balap. Tiap hari Sabtu, ia rajin latihan di Muaro-Pandan, sambil mengekor para senior yang latihan di sana. Kadang-kadang ia didampingi ayah ataupun abangnya.

 

Umur 16 tahun, untuk pertamakalinya ia ikut Kejuaraan Motor Cross di Pandan kelas Grass Track, dan langsung  meraih gelar Juara Umum. “Rasanya saat itu bangga dan senang. Apalagi, ibu ikut mendampingi ke podium,” cetusnya dengan mata berbinar-binar. Hadiah juara sebesar Rp1 juta langsung dihabiskannya untuk servis motor, belanja baju dan sepatu perlengkapan balap.

 

Sejak meraih juara umum itulah, ia memutuskan untuk serius melakoni dunia balap, dunia yang disebut Fazrin ‘sangat menantang’ itu. Hampir setiap kejuaraan motor cross dia ikuti, khususnya yang masih di wilayah Sumatera Utara. Untuk biaya, ia terpaksa merogoh kocek sendiri karena belum ada sponsor. Beberapa piala dia sabet.

 

Semakin umurnya bertambah, jam terbangnya pun semakin tinggi. Bahkan saat mengambil kursus mekanik selama setahun di sebuah lembaga kursus di Medan, ia sempat serius melakoni dunia Road Race, balapan di jalan raya. Kejuaraan paling bergengsi yang diikutinya adalah Kejurnas Road Race di Binjai tahun 2006, diikuti para crosser se-Indonesia. Memang, ia tak meraih piala di Kejurnas itu. Tetapi ia cukup senang karena mendapat pengalaman bertanding di tingkat Kejurnas.

 

 

Hanya saja setelah dirinya kembali ke Sibolga, arena Road Race terpaksa ditinggalkan. Pasalnya, ajang itu jarang digelar di Sibolga-Tapteng. ”Hampir tak pernah,” cetusnya.

 

Apa beda Road Race dengan Motor Cross?

Road Race itu lebih susah karena balapan di jalan beraspal. Motor yang digunakan umumnya menggunakan bahan bakar bensol, mirip BBM Avtur untuk pesawat terbang. Bensol digunakan karena pengapiannya lebih keras. Untuk pengaturan gas dan koplingnya pun berbeda dengan motor cross. Kalau di Road Race, gas dan kopling harus dilepas serentak dan dengan lembut. Kalau dilepas dengan keras, roda bisa menggelincir,” terangnya.

 

Dengan penggunaan BBM Bensol yang harganya relatif mahal, mencapai Rp40.000-an per liter, menurutnya tergolong mahal untuk ukuran pembalap yang berlaga dengan biaya sendiri tanpa sponsor. Selain itu, Bensol juga tak ada dijual di Sibolga-Tapteng.

 

“Karena terkendala biaya inilah, saya lebih fokus ke motor cross saja. Soalnya motor cross umumnya menggunakan BBM bensin yang harganya lebih murah dibanding Bensol. Lagipula, event Road Race juga jarang digelar di wilayah Sibolga-Tapteng. Selain itu, lebih berbahaya karena kalau jatuh ke aspal lebih beresiko,” jelas pemuda yang berniat buka usaha bengkel ini.

 

Untuk menjaga staminanya tetap fit, Fazrin rajin olahraga lari dan angkat barbel. Rajin minum susu dan telur serta vitamin dari dokter, khususnya menjelang ikut kejuaraan. “Dan satu lagi, saya jarang merokok,” katanya sambil tersenyum tipis.

 

Ditanya pendapatnya soal perkembangan olahraga otomotif di Sibolga Tapteng, Fazrin mengaku, memang masih kalah dibandingkan daerah-daerah di Sumatera Utara. Bahkan dibanding Kota Padangsidimpuan, Sibolga-Tapteng kalah jauh. Di Psp, event motor cross bisa digelar minimal 4 kali setahun. Bandingkan dengan Sibolga-Tapteng yang hanya 1-2 kali setahun, bahkan kadang tidak ada event dalam setahun. “Mekanik di Sibolga Tapteng pun masih kalah jauh dengan mekanik di Psp soal modifikasi motor,” cetusnya.

 

Selain soal jarangnya digelar event motor cross, pemuda yang berharap dapat memiliki motor engine dalam waktu dekat ini, juga mengakui, komunitas crosser di Sibolga-Tapteng belum kompak memperjuangkan nasibnya. “Misalnya, kami belum membentuk wadah, agar bisa memperoleh sponsor. Di Sibolga-Tapteng saat ini ada sekitar 15 crosser yang serius. Kebanyakan kami masih main sendiri-sendiri, termasuk saya. Belum ada yang mengkoordinir untuk membentuk wadah para crosser,” aku lulusan STM Muhammadiyah Sibolga terus terang.

 

Yang pasti, kata dia, pembalap-pembalap muda asal Sibolga Tapteng sangat berpotensi berkembang, asalkan ada perhatian dan ada fasilitas yang cukup. Terbukti, banyak terjadi balapan liar di jalanan, yang menunjukkan tingginya minat para pemuda masuk dunia balap. “Kalau seseorang sudah berani ikut balapan liar, pasti berani juga ikut arena balapan resmi. Karena untuk ikut balapan, yang pertama dibutuhkan adalah keberanian. Sedangkan untuk mencapai prestasi, dibutuhkan fasilitas pendukung. Fasilitas inilah yang menjadi kendala kita selama ini,” kata pemuda yang sering sendirian mewakili Sibolga-Tapteng di sejumlah kejuaraan motor cross ini.

 

Untuk itu, Fazrin mengharapkan adanya dukungan sponsor, khususnya dari showroom-showroom sepeda motor, seperti Suzuki, Honda, Yamaha, atau yang lainnya, untuk mendukung kiprah para crosser muda dari Sibolga-Tapteng di arena balap. Selain itu, ia juga mengharapkan adanya perhatian Pemko-Pemkab terhadap mereka, paling tidak memberikan perhatian dan pembinaan. ”Karena, bibit-bibit cukup banyak, hanya butuh dukungan yang lebih besar,” kata pemuda yang berharap bisa memperoleh sponsor untuk berlaga di arena Kejurnas dengan motor engine.

 

Ia juga mengimbau sejumlah pihak, agar lebih sering menggelar kejuaraan motor cross di Sibolga-Tapteng, sehingga bakat-bakat para crosser tersalurkan. (*)

3 tanggapan untuk “Melirik Kiprah Crosser Muda Berprestasi asal Sibolga-Tapteng

  1. bos komunitas adventure di sibolga ada gak?rencananya lebaran mau bawa ts125 ke sibolga nyoba trek sana.maklum bos dapat istri org sibolga.aku dari medan.kalo ada boleh gabung bos?

    1. Komunitas terorganisasi kayaknya belm ada. Tapi kalau sekedar gabung-gabung latihan di lokasi tertentu, nah, itu baru ada. Itupun belum memiliki jadwal tetap dan teratur. Aku sendiri bukan penggemar loh, hanya penulis artikel saja. Kalau mau tau lebih banyak, bisa kontak di Sibolga dengan nama crosser dalam tulisan itu. Oke?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s