Melirik Kehidupan Penggali Pasir di Aek Doras, Sibolga

8 Jam per Hari Berkutat di Sungai Demi Upah Rp25 Ribu

Wanita Penggali pasir di Aek Doras-Sibolga
Wanita Penggali pasir di Aek Doras-Sibolga

 

 

Demi upah Rp25 ribu per meter kubik pasir, sejumlah pria dan wanita bahkan anak-anak rela berkutat sekitar 8 jam per hari menggali pasir di tengah Sungai Aek Doras, persisnya di kawasan Sibolga Julu Kota Sibolga. Kutu air dan rematik menjadi ancaman tak kasat mata.

 

Dame Ambarita, Sibolga

 

Dengan kepala dilindungi handuk lusuh, tubuh dibungkus kaos oblong bersablon salahsatu nomor Parpol, serta celana ponggol (celana panjang yang dipotong pendek) kusam warna coklat, Lina Tiawa (28), dengan gerak perlahan menarik pasir dari dalam sungai Aek Doras, di kawasan Sibolga Julu, Senin (8/12) pagi pukul 9.00 WIB baru lalu.

 

Air sungai menutupi sampai ke pinggangnya. Di tangannya ada sebuah sekop pasir, sebuah tongkat besi yang ujung bawahnya ditempel semacam seng yang dikerucutkan. Alat itulah yang digunakan untuk menarik pasir dari dasar sungai.

 

Perlahan ia melangkah ke pinggir sungai yang ada bagian kering, dan menuangkan pasir dari alat di tangannya, ke tumpukan pasir basah yang dikumpulkannya sejak sekitar pukul 08.00 WIB. Tangannya otomatis membenahi posisi pasir-pasir basah itu agar tak melebar. Tak lama kemudian, ia kembali ke tengah sungai. Dibantu kakinya, ia mengumpulkan pasir ke sekop pasir di tangannya. Setelah terkumpul, ia menarik sekop itu ke pinggir sungai, dan menuangkan pasirnya. Demikian terus berulang.

 

”Kami biasanya bekerja mulai pukul 8 pagi, dan baru pulang sekitar pukul 5 sore,” cetus ibu enam anak ini kepada METRO, yang menemuinya di pinggir sungai, pagi itu. Dengan jam istirahat sekitar 30 menit untuk makan siang yang dibawa sendiri dari rumah, mereka bekerja sekitar 8 sampai 8,5 jam per hari.

 

Pekerjaan itu meliputi penggalian pasir di tengah sungai, menariknya ke pinggir, membersihkannya dari bebatuan kecil yang turut tergali, mengisinya ke goni, mengangkatnya ke pinggir jalan di atas sungai lewat tangga kayu setinggi 3 meter, dan mengumpulkannya di satu tumpukan.

 

Dari sepertiga hari yang dihabiskan di sungai, mereka rata-rata hanya berhasil mengumpulkan 1 meter kubik pasir. Untuk satu meter kubik pasir, mereka berhak mendapat upah Rp25 ribu. Upah itu mulai

 

Selain dirinya, suami Lina Tiawa bermarga Laiya, juga ikut menggali pasir. Bahkan putra sulungnya yang baru  berusia 13 tahun, kadang ikut menggali pasir pada hari libur. Penggali pasir lainnya merupakan rekan-rekan Tiawa, ada ibu-ibu, ada pria dewasa, bahkan anak-anak. ”Dalam sehari rata-rata penggali pasir di sini mencapai 10 orang, tapi kadang bisa lebih, sampai 15 orang, tergantung berapa orang yang datang hari itu!” kata dia.

 

Tak mampukah mereka menggali lebih dari 1 kubik pasir per hari? Tiawa menggeleng. ”Memang rata-ratanya hanya dapat segitu sehari. Bahkan itupun bisa sulit dikumpul saat musim kemarau. Apalagi kayaknya pasir sudah cukup banyak diambil dari sungai ini,” jelasnya.

 

Musim hujan justru paling mereka sukai. Karena aliran air sungai yang deras dari hulu biasanya membawa pasir yang cukup banyak, sehingga mereka lebih mudah mengumpulkan pasir. ”Banjir sering membawa pasir. Jadi lebih mudah mengumpulkannya,” terangnya. 

 

Para pengali pasir ini hanya beroperasi di aliran Aek Doras sekitar 100-200 meter, persisnya di kawasan pertengahan Jalan Dolok Matimbang. Selebihnya, mereka tidak boleh menggali ke hulu maupun ke hilir, di luar kawasan yang 100-200 meter itu. Akibat penggalian pasir tersebut, kedalaman sungai Aek Doras  di kawasan itu bisa mencapai ½ -1 meter. Sementara di bagian lainnya paling setinggi 30-50 cm. 

 

Tiawa sendiri baru beberapa bulan jadi penggali pasir. Dulunya, dia dan keluarganya tinggal di Nias. Tapi pascagempa Nias tahun 2005 yang merobohkan rumah dan melongsorkan petak ladang miliknya, mereka memilih pindah ke Sibolga. Untuk menopang kehidupan keluarga, ia dan suaminya bekerja serabutan, dan terakhir ini sama-sama bekerja sebagai penggali pasir. Di antara 6 orang anaknya, hanya si sulung yang bersekolah. ”Kami tak mampu menyekolahkan anak-anak lainnya. Mereka putus sekolah setelah kami pindah ke Sibolga ini,” cetusnya dengan suara pelan.

 

Dari penghasilan menggali pasir yang dikumpulkannya bersama suami, rata-rata diperoleh uang Rp1 juta-Rp1,5 juta, tergantung cuaca. Uang itulah yang digunakan  untuk membayar rumah kontrakan sebesar Rp70 ribu per bulan, biaya sekolah si sulung, uang makan 8 orang, beli pakaian, bayar air dan listrik. Dia juga harus mengeluarkan ongkos becak mesin dari rumah kontrakannya di Ketapang ke Aek Doras, sekira Rp4 ribu pulang balik per hari. Atau sekitar Rp120 ribu per bulan.

 

”Penghasilan kami tak cukup untuk menyekolahkan anak-anak, jadi si sulung aja yang sekolah. Adik perempuannya diberi tugas menjaga adik-adiknya yang lebih kecil,” terangnya polos.

 

Dengan situasi kerja yang mengharuskan mereka hampir 8 jam berbasah-basah, kesehatan para penggali pasir ini sangat rentan kena penyakit. Kutu air dan rematik menjadi ancaman, belum lagi flu. ”Serangan kutu air rutin kami alami. Kaki suami saya bahkan sampai busuk kena kutu air,” kata Tiawa polos. Untuk mengobatinya, mereka hanya mengolesi kaki dengan minyak.

 

Serangan flu juga kerap mereka derita. Tiawa bahkan mengaku pernah dua minggu terbaring kena sakit flu. ”Badan sering menggigil kedinginan,” katanya. Ditengarai, dengan lamanya mereka berbasah-basah menggali pasir, rematik menjadi ancaman terselubung yang baru akan mereka derita beberapa tahun lagi.

 

Meski pekerjaannya beresiko, Tiawa tak ingin berhenti bekerja sebagai penggali pasir, karena ia mengakui keahliannya tak banyak. ”Saya jadi penggali pasir karena ditawari kawan. Hanya inilah yang bisa kami lakukan. Kalau pasir dari sungai ini nanti habis, saya juga tak tau mau kerja apa,” katanya lirih, sambil terus membersihkan pasir dari batu-batuan kecil yang ikut tergali,

 

Ditanya apakah tak berniat kembali ke Nias, Tiawa menggeleng. ”Ke mana kami akan pergi? Rumah dan ladang kami sudah longsor kena gempa,” gelengnya. Untuk membantu membiayai kehidupan keluarga, menurutnya beras miskin (raskin) yang disalurkan pemerintah cukup membantu. Hanya saja, untuk BLT (Bantuan Langsung Tunai), ia dan suaminya tak mendapat, karena tak terdaftar. Apa sebabnya, ia tak tahu. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s