Menyimak Gaya Pidato Wali Kota Sibolga & Gubsu di Atas Podium

Pak Sahat Merendah, Pak Syamsul Bikin Hadirin Terbahak-bahak

 

Pidato tanpa berseloroh, mungkin ibarat sayur tanpa garam alias kurang rasa. Entah karena paham teori itu, yang jelas dua pemimpin, satu orang nomor satu Sibolga dan satu lagi orang nomor satu Sumut, Kamis siang kemarin, berhasil membuat ribuan hadirin tertawa terbahak-bahak. Hahahahaha…!!!

 

Dame Ambarita & Feliks Manalu, Sibolga

 

Awalnya, Wali Kota Sibolga, Drs Sahat P Panggabean MM, saat memberi kata sambutan pada peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) di Sibolga, di Lapangan Simare-mare Kota Sibolga, berpidato seperti biasa. Dimulai dengan: Yang saya hormati bapak gubernur beserta ibu, yang saya hormati rekan-rekan kepala daerah, yang saya hormati Kepala SKDP… dll… dll…

 

Kemudian, Pak Sahat membeberkan beberapa pembangunan di Kota Sibolga, sekaligus ‘menodong’ Pak Gubsu untuk meresmikan GOR (Gedung Olah Raga) Parombunan, awal 2009 mendatang. “Kiranya, Bapak Syamsul yang meresmikan GOR dengan kapasitas 1.000 penonton ini. Bapak sudah mengetahui bagaimana Kota Sibolga ini. Janganlah lupa Pak Gubernur dengan Sibolga yang tidak begitu hebat ini. Kami tidak hebat Pak… hanya biasa-biasa saja,” katanya merendah, yang disambut tertawa hadirin.

 

Usai merendah, Pak Sahat balik memuji Kota Sibolga sebagai Kota Berbilang Kaum, dengan masyarakatnya yang ramah, baik, dan sempat dinobatkan mantan gubsu T Rizal Nurdin (alm), sebagai Kota Perekat Umat Beragama.

 

Saat berbiacara tentang pendidikan, Pak Sahat menodong Pak Syamsul untuk membantunya. “Pemko Sibolga sudah mengalokasikan anggarannya 23 persen di bidang pendidikan. Jangan lupa nanti Pak Gubernur bantu saya di sektor pendidikan. Bapak bantu saya ya… setuju Bapak ‘kan?” katanya dengan gaya kocak, yang disambut kekeh dan tepuk tangan dari hadirin.

 

Untuk sektor kesehatan, lanjutnya, Sibolga mengalokasikan 15 persen. “Karena saya setuju dengan istilah Pak Gubernur, rakyat tidak bodoh, rakyat tidak lapar… rakyat tidak… (terdiam sejenank)… Cemmana tadi Pak…?”

 

Dijawab gubernur, tidak sakit. “Ya… rakyat tidak sakit,” sambungnya lagi kocak, yang kembali disambut tawa terbahak dan tepuk tangan hadirin.

 

Soal gaji guru, Pak Sahat mengingatkan, bahwa sesuai janji Presiden SBY, gaji guru takkan ada lagi di bawah Rp2 juta. Begitupun, kata dia, dirinya tetap akan ‘bisik-bisik’ ke Pak Gubernur, agar membantu guru-guru dari APBD provinsi. Kali ini, para guru yang tepuk tangan meriah.

 

Di tengah sambutannya, Pak Sahat mengatakan, tadi lupa menyatakan hormat kepada mantan pacarnya, yang saat ini menjadi Ketua PKK Sibolga. “Lupa saya Pak Gubernur… menghormati mantan pacar saya, yang juga berperan besar bersama ibu-ibu PKK, dalam mengelola PAUD (Pendidikan Usia Dini),” katanya sambil menoleh ke arah istrinya sambil tersenyum, dan langsung disambut tawa dan tepuk tangan hadirin.

 

Hadirin Terbahak-bahak

Seakan tak mau kalah dengan Pak Wali Kota Sibolga, orang nomor satu Sumut yang baru sekira 4 bulan menjabat, Syamsul Arifin SE, dalam sambutannya lebih gencar membuat lelucon, membuat hadirin makin terpingkal-pingkal.

 

Misalnya, masih dalam pembukaan sambutannya, ia sudah memuji-muji Bupati Tapteng sebagai ‘Bupati terganteng di antara kami’, ucapan yang segera disambut tawa.

 

“Sementara Bupati Sibolga… barusan saya dengar dalam Mars Sibolga, sebagai Bupati yang arif bijaksana. Tentu karena baiklah dia sama kalian,” katanya, membuat hadirin tertawa terbahak, dan berteriak: “Bukan Bupati Pak… Wali Kotaaa…”

 

“Wali Kota ya? Saya cuma tes, betul nggak dari hati kalian bilang dia bijaksana,” cetusnya sambil tertawa lebar.

 

“Hahahahaha…!” hadirin terbahak-bahak.

 

“Itulah pemain,’ sambungnya lagi. “Saya bilang Bupati Tapteng… ‘tidaak… tidaak…’ saya tenang aja, karena enak tidur tadi malam. Ada sampan berlayar, hehehe…!” kekehnya.

 

Tak cukup bercanda, Pak Gubernur memperbandingkan wajahnya dengan wajah Wali Kota Padangsidimpuan yang menurutnya beda-beda tipis. “16… 17… Tinggal kalian yang pilih yang mana yang menang di antara kami,” cetusnya. Hadirin semakin terpingkal-pingkal.  

 

Masih tak puas juga, Pak Gubsu memperkenalkan rombongannya yang terdiri dari kadis-kadis. Tak lupa ia memperkenalkan Kadis Pendidikan dan Kadis Kesehatan Sumut sebagai ‘dua-duanya Pasaribu’. Hanya saja yang satu pandai menangis, yakni Kadis Pendidikan. Kalau Kadis Kesehatan pandai menyanyi. “Kalau Kadis Pendidikan datang sama saya, lagunya saya sudah tau itu, Ratapan Anak Tiri sama Keluhan Jiwa,” katanya. Hadirin memegang perut menahan tawa.

 

Tentang peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) sendiri, Pak Gubsu memuji Pemko Sibolga sebagai tuan rumah, yang menurutnya sukses menggelar acara. “Makannya, sistemnya, polanya, skedulnya, semua baik. Tidak lari. Tidak bertele-tele. Saat Pak Wali tadi mengatakan, Sibolga tidak hebat, ngejek saya dia. Katanya tidak hebat maccam gini… maccam mana kalau yang hebat??? Karena itu, kami atas nama gubernur dan Ketua PKK, mengucapkan banyak terima kasih,” katanya, disambut tepuk tangan membahana serta tawa meriah.

 

Tentang permintaan Wali Kota Sibolga agar membantunya di bidang pendidikan di Kota Sibolga, Pak Gubernur menjawab, pasti ada. “Uangnya langsung dikirim ke daerah. Bukan bentuk barang atau proyek,” cetusnya.

 

Kembali tentang HAI, Pak Gubernur mengingatkan semua pihak agar tidak buta aksara, tidak buta mata (melihat tapi tidak melihat), dan tidak buta hati. Ia mencontohkan, buta aksara harus dihapuskan, agar generasi mendatang lebih baik dari pendahulunya. Buta mata juga harus dihapuskan, misalnya orang melihat sampah di halaman rumahnya tapi tidak membersihkan, malah menyalahkan pemerintah kalau ada DBD. Dan buta mata jangan dipelihara, misalnya punya istri cantik tetapi tetap melihat rumput tetangga lebih hijau. “Kita harus hapuskan tiga buta ini!” tegasnya.

 

Anak-anak didik dinasehati agar patuh pada guru, orangtua, dan guru agama. ”Cium tangan mereka sebagai tanda penghormatan,” pintanya. Sementara kepada guru dan orangtua, Pak Gubernur meminta agar jangan bingung dengan kecanggihan anak sekarang. “Tapi milikilah metode mengajar dengan metode yang pas,” sarannya.

 

Tentang Kota Sibolga, Gubernur memuji sebagai negeri yang memiliki hokky, seperti halanya Hong Kong. “Di depan laut, di belakang bukit, itu artinya negeri yang punya hoki. Asalkan dikelola dengan baik. Bekerja samalah dengan Tapteng. Saling membantu. Bupati Tapteng itu hula-hulanya Panggabean. Hula-hula harus dihormati. Tapi hula-hula juga harus membantu Panggabean. Kalau tidak, marah saya. Kita sudah dengar semalam, mereka berjanji akan sama-sama membangun Sibolga-Tapteng. Semoga persahabatan mereka ini membunuh judas-judas yang ada di Sibolga-Tapteng ini,” katanya, yang disambut tepuk tangan hadirin sambil berdiri.

 

Masih puluhan canda dan seloroh yang dilemparkan orang nomor satu Sumut ini yang membuat hadirin tertawa terbahak-bahak. Ada yang dengan memuji diri sendiri, ada yang mengejek diri sendiri. Sebagian tak ditulis di sini karena terlalu banyak. Di akhir sambutannya, Pak Gubsu mengucapkan: Selamat Hari Aksara Internasional. “Ayo hapuskan buta aksara!” (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s