Aku Merasa Bersalah!

Aku merasa serba salah. Penyebabnya bukan karena sampai hari ini aku belum punya mobil (hehehehe…). Tetapi karena sebuah situasi, yang sudah beberapa tahun terakhir kerap membuatku bingung…  dan merasa bersalah.

 

Di kantorku, ada anak-anak asongan yang setiap hari bekerja menjual koran secara eceran. Usia mereka mulai dari 7 tahun sampai 16 tahun. Ada juga seorang ibu 3 anak dan seorang pria tua. Tapi di tulisan ini, aku tidak berbicara tentang kedua orang terakhir.

 

Tujuh puluh lima persen di antara anak-anak itu tidak lagi bersekolah. Ada yang putus di kelas II SD, kelas V SD, kelas I SMP, bahkan kelas II SMP. Penyebabnya bermacam-macam. Ada yang karena bandel, tetapi umumnya karena faktor ekonomi.

 

Nah, yang membuatku bingung adalah anak-anak ini. Aku terbelit dalam pertanyaan: apakah aku harus menasehati mereka bersekolah atau membiarkan mereka terus jadi asongan.

 

Sambil lalu, secara pribadi sebenarnya aku sering menasehati mereka untuk bersekolah. Tetapi aku tau… aku tidak sungguh-sungguh tulus. Pasalnya, aku terbelah antara keinginan melihat mereka bersekolah tinggi-tinggi, agar mereka memiliki masa depan yang lebih baik dari sekedar menjual koran. Dan kalau mereka bersekolah, tentu sekaligus akan mencerdaskan generasi muda bangsa ini.

 

Di pihak lain, keberadaan anak-anak asongan ini cukup mempengaruhi oplah laku koran. Semakin banyak anak-anak yang menjual koran, dan semakin banyak waktu yang mereka berikan untuk berjualan koran, akan membuat semakin banyak koran laku. Banyak koran laku, artinya semakin banyak pendapatan. Dan target yang dibebankan perusahaan semakin berpeluang tercapai.

 

Sebenarnyalah, untuk mengurangi rasa bersalahku karena tidak sungguh-sungguh serius memperjuangkan pendidikan anak-anak itu, aku menghibur diri dengan mempercayai bahwa anak-anak itu sendiri tidak terlalu berminat sekolah. Dan itu tidak 100 persen salah. Khususnya bagi anak-anak yang masih memiliki kedua orangtua, dan ekonominya tergolong mampu untuk menyekolahkan anak sekedar lulus SD sampai SMP, tetapi dasar si anak bandel… ia keluar dari sekolah.

 

Aku juga menghibur diri dengan mengatakan, bahwa pendidikan tidak menjamin seseorang berhasil dalam hidupnya. Berapa banyak sarjana yang pada akhirnya menganggur dan tetap menetek pada ibunya? 

 

Aku juga kadang sengaja mengingat-ingat, bahwa kami tidak merebut mereka dari sekolahan. Karena sebelum bekerja sebagai asongan koran, mereka ada yang bekerja sebagai tukang semir, pemulung, pengais sampah, dan sebagainya.

 

Tetapi ‘penghiburan’ yang kuciptakan sendiri itu tak selalu mampu membuatku tenang dan sejahtera. Karena aku tau, faktanya kebanyakan anak-anak itu memang tidak mampu secara ekonomi. Memang. beberapa orang memiliki orangtua yang tidak terlalu peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Beberapa ada yang beribu/ayah tiri dengan ekonomi pas-pasan, sehingga tak terlalu memerhatikan pendidikan si anak. Tetapi sejumlah besar di antara anak-anak itu bisa dikatakan menjadi tulang punggung keluarga. Yang lain, meski bukan tulang punggung keluarga, tetapi –rela atau tidak– tetap harus menyetor sejumlah uang hasil penjualan koran kepada orangtuanya.

 

Memang…. memang… aku tidak boleh menjengkali masa depan seseorang. Belum tentu si anak asongan selamanya menjadi anak asongan. Boleh jadi di masa mendatang, dia berhasil menjadi pengusaha sukses. Bukankah terbukti, sejumlah pengusaha sukses bukanlah orang-orang berpendidikan tinggi? Yang penting mau bekerja keras. Dan anak-anak itu –paling tidak terbukti– bersedia bekerja keras. Bersedia berjualan koran setiap hari. Bukankah itu sudah modal awal keberhasilan? Bukankah, di mana ada kemauan, di situ ada jalan? Bukankah pendidikan formal bukanlah segalanya di dunia ini? Dan di atas segalanya, bukankah kasih Tuhan tak terbatas?

 

Tetapi… lagi-lagi…. setiap kali kulihat mereka sibuk berjualan koran di saat teman-teman sebayanya belajar di ruang-ruang kelas, aku merasa bersalah…. Duh! (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s