Pesannya: Jadilah Pemain!

Jadilah pemain, bukan pengamat atau penonton. Karena yang mendapat “piala kemenangan” adalah para pemain di lapangan, bukan penonton atau pengamat.

Kata-kata itu sering diucapkan dalam kaitan dengan dunia olahraga, bisnis, dan lainnya.

 

Tentu kita setuju, kalimat itu maksudnya positif, dan bermanfaat untuk mendorong seseorang menjadi pemain dalam arti positif pula.

 

Tapi bagaimana, jika para praktiknya, kalimat itu juga menjadi kalimat pendorong bagi dunia ‘permainan’? ‘Jadilah pemain,” kata beberapa orang beberapa kali dalam beberapa kesempatan.

 

Aku menangkap maksud mereka. Mereka memang ‘sudah bermain’. Aku belum. Dan aku dianggap lemah, karena tidak terlibat dalam ‘permainan’ itu. Dinilai lemah, karena mereka pikir aku tak mampu ikut ‘bermain’.

 

Sungguhkah aku lemah? Itu menjadi sebuah perenungan buatku selama beberapa waktu. Untuk terlibat dalam ‘permainan’, peluang di dunia kerjaku sungguhlah sangat terbuka. Yang dibutuhkan hanya sedikit kulit tebal, artinya tidak malu-malu masuk ke arena. Dan hasilnya cukup lumayan. Artinya, semakin berani ‘bermain’, semakin besar peluang untuk mendapat hasil yang besar. Dan ‘hasil keberanian’ itu cukuplah untuk membuat seseorang masuk golongan ‘yang berhasil’, paling tidak untuk ukuran materi.

 

Sebutan ‘lemah’ ini sempat membuatku kacau. Ingin kutunjukkan ke dunia bahwa aku tidak lemah. Aku bisa kalau aku mau. Persoalannya, apakah aku mau ‘jadi pemain’ dalam ‘permainan’ itu?

 

Mereka menganggapku lemah. Tidak pintar. Karena terbukti, pada akhirnya aku tidak sanggup memiliki benda-benda keren yang bisa dipamerkan. Sedangkan mereka punya. Bukan cuma punya, tetapi bisa ganti-ganti barang bermerek. Mereka ‘berhasil’ di mata dunia. Mereka hebat karena telah ikut menjadi ‘pemain’.

 

Siapa sih yang tidak ingin memiliki benda-benda mahal seperti itu? Aku, sebagai manusia normal yang masih hidup di dunia, tentu juga mau. Tetapi sungguh malang, sampai saat ini aku belum juga menang bertempur melawan hati nurani, agar bisa ikut dalam ‘permainan’ itu tanpa merasa malu dan hina. Tanpa merasa kehilangan harga diri. Tanpa merasa diri ‘terbeli’.

 

Memang, ‘ikut dalam permainan’, belum tentu dihina dunia. Bisa jadi, malah dipuji karena telah ‘ikut menjadi pemain’. Dan berhasil pula! Bukankah pesannya memang: ‘Jadilah pemain?”

 

Persoalanku, hati nurani menjadi lawanku. Dan sampai kini, aku belum menang! Mungkin nanti, setelah hati nurani kukalahkan, aku akan ikut ‘bermain’.

 

Jadi sementara ini, biarlah aku dianggap lemah dan tidak pintar.

 

Kalau aku tak juga menang dalam pertempuran dengan diriku sendiri, biarlah! Apa boleh buat! Terpaksa, aku belum dapat ikut ‘jadi pemain’. Maafkan aku kalau itu dianggap lemah!

 

Sibolga, Agustus 2008

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s