Mengintip Program Perkebunan Kayu Rakyat versi PT TPL (1)

Jagokan Bibit Eukaliptus Hasil Kloning, 7 Tahun Sudah Panen

 

Mulai 2010, penebangan pohon di hutan alam akan dihentikan. Industri yang pasokan utamanya berbahan kayu, hanya boleh memanfaatkan kayu dari hutan tanaman industri. PT Toba Pulp Lestari, industri pulp di Porsea, pun memutar otak. Meski telah memiliki HPHTI, sustainable ketersediaan pasokan kayu harus dijaga. TPL memilih program Perkebunan Kayu Rakyat (PKR). Bibit eukaliptus hasil kloning jadi andalan. Umur tujuh tahun, kayu sudah bisa dipanen.

 

Dame Ambarita, Porsea

 

Kamis (15/5) pekan lalu, METRO mendapat undangan untuk melihat sejumlah lahan HPHTI (Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri) milik PT TPL di wilayah Tobasa, serta lahan-lahan PKR yang sudah ada. Sesuai penugasan pimpinan, METRO pun berangkat dari Siantar ke Porsea, bersama 3 wartawan lainnya dari Medan.

 

Didampingi Humas TPL Medan, Chaeruddin Pasaribu dan stafnya, Herman, METRO meluncur ke Porsea pada Kamis pekan lalu sekira pukul 14.00 WIB. Pukul 16.00 WIB, rombongan memasuki wilayah PT TPL di Desa Sosor Ladang Kecamatan Porsea, Tobasa, Sumut. Tiba di pintu gerbang, rombongan menjalani pemeriksaan oleh petugas security. Kaca mobil wajib diturunkan, dan isi dalam mobil diperiksa.

 

”Pengamanan TPL dilakukan oleh Security Group Indonesa (SGI). Itu institusi yang khusus melayani tugas pengamanan untuk perusahaan-perusahaan,” jelas Chaeruddin Pasaribu.

 

Memasuki kawasan PT TPL, METRO menangkap kesan hijau dan lokasi yang cukup tertata rapi. Chaeruddin menunjuk sebuah lokasi hijau yang dipenuhi pohon. “Itu lokasi khusus yang dinamakan Hutan Tanaman Tamu. Tamu-tamu yang datang boleh menanam pohon di sana,” jelasnya.

 

Ia menjelaskan, luas lokasi PT TPL sekira 200 hektare. PT TPL, dulunya bernama PT Inti Indorayon Utama (IIU) , dibangun sejak 1984 dan mulai beroperasi tahun 1986. Awalnya memproduksi pulp paper dan rayon. Tapi saat ini, hanya memproduksi pulp paper (untuk kertas) dan pulp dissolving (untuk tekstil).

 

Dari pintu gerbang, mobil terus meluncur menuju lokasi pembibitan eukaliptus, yang luasnya mencapai sekira 16 hektare, terbagi menjadi dua buah lahan pembibitan terpisah. Hamparan hijau bibit eukaliptus muda tampak segar disiram air dengan sistem kran putar. Di lokasi itu, rombongan diterima Manajer Pembibitan Eukaliptus, Karman Sirait, dan Section Head Corporate Sosial Responsibility PT TPL, Lambertus Siregar.

 

Sambil tersenyum ramah, Karman yang mengenakan topi lebar, pertama-tama menjelaskan rantai pembibitan eukaliptus yang saat ini dikembangkan TPL.

 

“Dulu, TPL memproduksi bibit eukaliptus dari biji. Cara itu relatif lebih lama, dan dengan hasil yang tak maksimal. Mengantisipasi permintaan bibit yang terus meningkat dan kebutuhan pasokan kayu, TPL pun belajar dari negara-negara produsen eukaliptus. Dengan meniru sistem kloning yang diterapkan Australia dan Brazil, TPL berhasil mengembangkan bibit unggul eukaliptus,” jelasnya.

 

Dari Brasil dan Australia, TPL mencangkok ilmu kloning tanaman eukaliptus. Sementara dari Israel, perusahaan ini mencangkok sistem pengairan otomatisnya. Konon, metode kloning terhadap tanaman eukaliptus ini baru satu-satunya di Indonesia.

 

Adapun tanaman eukaliptus ada 600-an jenis. Ada yang rakus air, ada yang menyebarkan ’bau sengit’ ke dalam tanah sehingga cacing tak mau hidup di bawahnya, dll. ”Tetapi eukaliptus yang dikembangkan TPL adalah jenis yang baik, yakni jenis grandis, pellita, dan uropilla, Keunggulan ketiga jenis ini antara lain bisa tumbuh di dataran tinggi dan dataran rendah, di tanah subur maupun tidak subur. Jenis ini juga cepat besar sehingga bisa cepat dipanen. Tidak rakus air, dan tidak menyebabkan cacing pergi,” katanya.

 

Untuk menghasilkan bibit unggul, ketiga jenis eukaliptus itu disilangkan. Induk yang unggul dikloning. ”Dari persilangan grandis dan uropilla, telah dihasilkan 22 jenis klon,” jelasnya.

 

Dengan proses kloning ini, dapat dihasilkan tanaman-tanaman lurus yang dapat dipanen dalam jangka waktu 7 tahun. Sementara pada proses biasa, tanaman baru dapat dipanen setelah berusia puluhan tahun. “Selain itu keunggulan tanaman hasil kloning ini adalah batangnya tidak bercabang sehingga memudahkan proses produksinya,” tambahnya.

 

Metode kloning yang saat ini digunakan di TPL terdiri dari dua cara, yakni kloning macro-cutting (potongan besar) dan mini-cutting (potongan kecil). Perbedaan dari kedua metode ini terletak pada potongan dahan eukaliptus yang akan digunakan. Pada metode makro, potongan yang diambil mencapai 5–7 centimeter, sementara untuk mini cukup 3–5 sentimeter.

 

Dalam prosesnya, kedua metode kloning ini memiliki cara hampir sama yakni pertama dahan-dahan dari tanaman induk, dipotong sesuai metode yang akan digunakan. Satu induk bisa dipotong dua kali seminggu atau 8 kali per bulan. Kemudian potongan itu disterilisasi dan diberi perangsang akar. Lalu calon tanaman ini ditaruh dalam media pasir dan gambut pada tube khusus yang disirami campuran air serta pupuk setiap 10 menit. Proses ini dilakukan selama satu bulan dalam rumah-rumah khusus.

 

Setelah tanaman berusia 30 hari, tanaman dipindah ke ruang terbuka selama 60 hari, dengan pupuk khusus yang sementara ini didatangkan dari Belanda. Selanjutnya, bibit dipindah ke pot khusus disemprot bebas hama, sebelum dibawa untuk ditanam di hutan-hutan tanaman industri (HTI) milik PT TPL.

 

”Saat ini, TPL memiliki 523.000 tanaman induk yang dipasok oleh divisi penelitian di Sektor TPL Aek Nauli. Jika dikalikan 8 stek per bulan per tanaman induk, maka dengan proses kloning ini, bagian pembibitan dapat menghasilkan 4 juta bibit per bulan. Tingkat survival bibit mencapai 65 persen. Ini sudah bagus. Karena dulu dengan sistem biji, tingkat survival hanya 45 persen. Saat ini, rata-rata 2,2 juta bibit yang dihasilkan per bulan, bisa bertahan hidup hingga panen,” jelasnya bangga.

 

Dengan adanya program Perkebunan Kayu Rakyat yang dicetuskan TPL, Karman menargetkan, bagian pembibitan segera memiliki 750.000 tanaman induk, untuk menghasilkan 6 juta bibit per bulan. Dengan tingkat survival mencapai 65 persen, artinya bibit yang bisa dipasok mencapai 3,9 juta per bulan.

 

”Itu akan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan HTP TPL, lahan PKR milik masyarakat, dan permintaan bantuan bibit dari berbagai pihak,” cetusnya.

 

Lambertus Siregar menambahkan, dengan loncatan penemuan bidang pembibitan ini, dimungkinkan ke depan, pohon eukaliptus akan bisa dipanen lebih cepat, yakni sekali 4 tahun. Juga dengan jarak tanam yang lebih rapat, sehingga kubikasi kayu yang dihasilkan lebih banyak.

 

Keberhasilan metode kloning ini telah mengusung industri terbesar di kawasan Porsea ini, mendapatkan penghargaan ISO 14001 : 1996 untuk pengelolaan lingkungan bidang kehutanan pada medio Juni 2004 lalu.

 

Sistem Pertanian Terpadu Tanpa Sisa

Usai melihat lokasi pembibitan, masih pada hari yang sama, wartawan sempat diajak meninjau lokasi pabrik TPL. Yakni melihat lab kimia secara singkat, untuk mendapat penjelasan seputar prinsip pengolahan kayu bulat menjadi pulp paper (bahan untuk kertas) dan pulp disolving (bahan untuk tekstil).

 

Kepala Environment Pabrik, Sri Nurhayati Pasaribu, dalam paparannya menjelaskan mulai proses pencincangan kayu, pencucian, pemutihan, pengeringan, hingga produksi hasil akhir TPL berupa lembaran karton warna putih. Lembaran putih itulah yang dipak dan dikirim ke pabrik lainnya di berbagai daerah/negara, untuk diolah lagi menjadi kertas atau pakaian.

 

Dari lab kimia, wartawan dibawa melihat instalasi pembakaran limbah gas. Di lokasi ini, METRO menyaksikan isntalasi pembakar limbah gas, serta instalasi penangkap partikel kimia di udara, dan mengolahnya kembali hingga memenuhi baku mutu. Di lokasi yang sama, juga ada instalasi pengolahan limbah padat. Limbah padat yang dihasilkan sekilas tampak mirip semen. Menurut Section Head Corporate Sosial Responsibility PT TPL, Lambertus Siregar, limbah padat itu dimanfaatkan untuk bahan pengerasan jalan.

 

Dari sana, wartawan dibawa ke instalasi pengolahan limbah cair, yang terdiri dari 3 kolam, yakni kolam pendinginan sekaligus pengendapan, kolam penetralan pH, dan kolam pengolahan lanjutan hingga limbah cair memenuhi standar baku mutu, sebelum dibuang ke Sungai Asahan.

 

Di lokasi ini, selain dipandu Lambertus Siregar, Humas TPL Medan Chaeruddin Pasaribu, Section Head Government and Media Relation Tagor Manik, juga ikut memandu.

 

Lambertus dalam kesempatan itu menjelaskan, dalam Konsep Sistem Pertanian Terpadu Tanpa Sisa, TPL mengembangkan sistem zero waste dengan memanfaatkan limbah cair TPL, untuk membuktikan kalau limbah TPL tidak mencemari lingkungan.

 

”Ternak yang dipelihara yakni sapi Bali dan unggas. Kotoran ternak menjadi pupuk sayur mayur berupa kol, kacang-kacangan, cabai, jagung, terong, kangkung, dan lainnya. Hasil pertanian menjadi makanan ternak. Sementara ikan, terbukti dapat hidup di kolam yang airnya berasal dari limbah cair hasil pengolahan akhir sebelum dibuang ke Sungai Asahan. Unggas sengaja diperlihara, karena unggas termasuk sensitif dengan pencemaran udara. Dan terbukti, semua ternak dapat berkembang biak, ikan bahkan sampai pembibitan, dan pertanian dapat hidup dengan baik,” jelasnya. (bersambung, besok ikuti catatan dengan topik: TPL Membidik Lahan-lahan Tidur).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s