Menelusuri Jejak Sejarah Gugurnya Kapten Bongsu Pasaribu di Tapteng (1)

 

Monumen Perjuangan Kapten Bongsu di Sorkam

Monumen Perjuangan Kapten Bongsu di Sorkam

 Komandan Itu Dipenggal, Potongan Kepalanya Ditenteng dalam Karung

 Tahun 1945, usianya masih relatif muda. Baru 22-an tahun. Tapi Kapten Bongsu Pasaribu sudah tampil sebagai Komandan Kompani (Kompi). Dua tahun kemudian, saat Agresi Belanda II pecah, Kesatuan Harimau Mengganas Tapanuli yang dipimpinnya sukses membuat pasukan Belanda kocar-kacir. Sayang, ia tertembak dan tewas dipenggal Belanda di Harakka, Barus, tanggal 3 Maret 1947. Ia gugur di usia 24 tahun. Enam puluh satu tahun kemudian, barulah kisahnya dibukukan.

 

Dame Ambarita, Tapteng

 

Pekan lalu, METRO bersama Panitia Bedah Buku ‘Gugurnya Kapten Bongsu Pasaribu’ yang diketuai Raja Johan Sitompul, LVRI Tapteng, dan Dandim 0211/TT Letkol Kav Albiner Sitompul, berkunjung ke Desa Suga-suga Hutagodang, Kecamatan Pasaribu Tobing, Tapanuli Tengah. Di desa kelahiran sang kapten itu, rombongan menyaksikan rumah dan desa tempat kelahiran sang pejuang Kemerdekaan Nasional asal Tapteng itu, serta jembatan dan monumen untuk mengenang perjuangan sang Kapten. Bersama rombongan, turut serta penulis buku ‘Gugurnya Kapten Bongsu Pasaribu’, yakni Dr Sudung Parlindungan Lumbantobing.

 

Di Desa Suga-suga itu, jembatan yang mengabadikan nama sang kapten berukuran relatif kecil, hanya sekira 4 x 6 meter. Sekitar 200 meter dari jembatan ke arah bukit, berdirilah monumen perjuangan Kapten Bongsu Pasaribu, Komandan Round I, Harimau Mengganas. Bentuknya empat persegi, ukuran 1 x 1 x 2 meter. Dan di atas monumen itu, diletakkan patung kepala dengan tangan mengepal. Saat tiba di depan monumen sang kapten, Pak Dandim tak segan-segan memberi hormat. 

 

Bagi pembaca yang belum tahu, mungkin bertanya-tanya, siapa gerangan Kapten Bongsu Pasaribu? Inilah secuil kisahnya, yang dirangkum METRO dari tulisan Rekson Hermanto Pasaribu, cucu sang kapten, seperti dikutip dari sebuah situs di internet…

 

Delapan puluh lima tahun lalu, seorang bayi laki-laki lahir di Desa Suga-suga, Hutagodang, Kecamatan Pasaribu Tobing, Tapanuli Tengah, persisnya pada tanggal 15 Juni 1923. Di desa yang berjarak sekitar 25 kilometer dari pusat Kota Sibolga itu, pasangan suami istri yang sedang berbahagia, Raja Pandapotan Pasaribu dan Barita Mopul br L, menamai bayi itu Bongsu Pasaribu.

 

Bongsu bukan anak pertama. Ia memiliki seorang abang kandung bernama Raja Johannes Pasaribu (terakhir menjabat sebagai Kepala Desa Suga-Suga Hutagodang). Raja Johannes inilah yang memiliki peranan penting dalam kehidupan Bongsu muda. Ialah yang menyekolahkan Bongsu. Peran yang menentukan. Betapa tidak, pada zaman penjajahan Kolonial Belanda, sangat jarang ada penduduk pribumi yang dapat duduk di bangku sekolah.

 

“Bisa dikatakan, hanya orang-orang tertentu saja atau anak Kapala Nagari dan para pedagang rempah-rempah, yang bisa sekolah,” kata Rekson dalam tulisannya.

 

Apalagi untuk bisa mengenyam ke jenjang sekolah H.I.S (Hindia Indhise School) Kota Sibolga. Rasanya tidak mungkin. “Tetapi beruntunglah Bongsu muda pada zaman itu, karena memiliki abang bernama Raja Johannes Pasaribu yang baik hati, dan tidak mengenal menyerah dalam memperjuangkan adiknya kandungnya itu, agar menjadi manusia yang terpandang di masyarakat karena masuk sekolah H.I.S,” tulis Rekson.

 

Bongsu mendapat dukungan penuh secara materil dari abangnya Raja Johannes Pasaribu, yang pada zaman itu (tanggal 3 Maret tahun 1932), telah dipilih rakyat Hutagodang menjadi pejabat Kepala Kampung Hutagodang.

 

Tak rugi sang abang mendukungnya. Karena Bongsu dikenal sangat pintar, berkepribadian pemimpin, dan memiliki bakat. Ia selalu tampil terdepan di sekolahnya. Kepintarannya dibuktikan dengan tamat sekolah dari H.I.S Sibolga, untuk melanjut ke jenjang lebih tinggi pada Quick Shcool di Tarutung (Tapanuli Utara). Dari Quick School, Bongsu juga tamat sekolah.

 

Setelah mendapat persetujuan kakaknya Raja Johannes, Bongsu muda merantau ke kota kembang Bandung (Jawa Barat) untuk sekolah tentara. Di Bandung, ia mampu masuk ke Kadester Shcool, hingga tamat. Selanjutnya, setelah tentara Jepang masuk ke tanah air Indonesia, Kapten Bongsu disuruh abangnya pulang kampung ke Hutagodang. Di masa itu, Kapten Bongsu sempat menjadi tentara Gygun dan menyandang pangkat sebagai Gyiusoi (Opsir), di Kota Sibolga.

 

Singkat cerita, berakhirlah penjajahan Jepang di negara Indonesia. Pemerintah RI di Jakarta melalui Presiden Soekarno Hatta menyatakan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus Tahun 1945. Kapten Bongsu kembali aktif lagi berjuang yaitu pada bulan Nopember 1945, dengan membentuk Angkatan Pemuda se-Kota Sibolga di bawah kepemimpinannya. Saat itu Kapten Bongsu terpilih menjadi pejabat Komandan Kompani 1 yang namanya saat itu adalah T.K.R (Tentara Keamanan Rakyat).

 

Sekitar waktu satu tahun berjalan yaitu pada Tahun 1946, T.K.R berubah nama (dilebur) menjadi namanya adalah T.R.I (Tentara Republik Indonesia) dan Kapten Bongsu dipercaya menjadi Komandan Batalyon II (dua). Hingga akhirnya jabatan Komandan Batalyon II itu diserahterima kepada Marhasam Hutagalung. Sementara itu Kapten Bongsu dipercayakan sebagai pejabat Staf Resimen III dengan Komandan Pandapotan Sitompul.

 

Pada zaman itu, seluruh daerah Tapanuli dipimpin satu Gubernur Militer bernama Dr. Ferdinan Lumban Tobing. Untuk pengamanan daerah-daerah keseluruhan Tapanuli, dibagi atas berbagai sektor pertahanan.

 

Agresi II Belanda

Tahun 1947, Belanda melancarkan Agresi II di tanah air di seluruh pelosok Indonesia, termasuk ke Kota Sibolga/Tapteng. Pejabat tertinggi di Tapanuli waktu itu yakni Dr. Ferdinan Lumban Tobing bersama Komandan Sektor IV bernama Maraden Panggabean (Purn Jenderal di Orde Baru), langsung mengistruksikan kepada semua Komandan Raund, untuk mengatur pengamanan di daerahnya masing masing.

 

Komandan Sektor IV Maraden Panggabean membagi Sektor IV Tapanuli yang dipimpinnya. Kapten Bongsu Pasaribu menjadi satu satunya kepercayaan yang terpanggil dan menjadi Komandan Raund I (Kesatuan Harimau Mengganas) untuk daerah kekuasaan di Sorkam dan Barus (Sibolga). Sinta Pohan ditunjuk sebagai Komandan Raund II untuk wilayah kekuasaan di daerah Bonandolok, Komandan Raund III bernama Bangun Siregar untuk kekuasaan di wilayah daerah Sibolga beserta S.M Simarangkir.

 

Komandan Raund IV bernama Parlindungan Hutagalung ditunjuk di daerah Jalan Tarutung, Komandan Raund V bernama Agus Marpaung untuk kekuasaan di wilayah daerah Poriaha, Komandan Raund VI bernama Henneri Siregar untuk wilayah daerah Jalan Tarutung, Komandan Raund VII bernama Paul Lumban Tobing untuk wilayah daerah Sibolga, Komandan Raund A sebagai pengawal Sektor IV oleh P. Hasibuan, dan Komandan Sektor S, Majit Simanjuntak dan M.A Aritonang untuk wilayah daerah Sibolga dan Barus.

 

Untuk memasuki Kota Sibolga, Belanda terlebih dahulu melakukan penembakan-penembakan dari jarak jauh, melalui pantai lautan Sibolga dengan Kapal Y.T.I Belanda. Perlawanan sengit pun pecah dengan pasukan tentara pejuang Indonesia hingga berminggu-minggu lamanya. Namun karena alat persenjataan pasukan pimpinan Maraden Panggabean terbatas, pasukan terpaksa bersembunyi di hutan untuk menyelamatkan nyawa masing-masing. Akhirnya tentara Kolonial Belanda dapat memenangkan peperangan di Kota Sibolga dan memasuki sudut-sudut kota melalui laut pada tanggal 24 Desember 1948.

 

Kapten Bongsu Pasaribu dengan pasukannya kemudian ditugaskan Komandan tertingginya, Maraden Panggabean, untuk bergerak menjaga wilayah Barus dan Sorkam sekitarnya. Kapten Bongsu beserta pasukan pun berangkatlah menuju daerah Sorkam melalui bukit-bukit hutan, hingga sampai ke Kampung Hutagodang di Kecamatan Sorkam.

 

Kedatangan Kapten Bongsu dan pasukannya disambut gembira oleh rakyat Hutagodang. Beliau juga menyempatkan diri mengunjungi rumah orangtuanya untuk meminta doa restu dari ibunya. Di sana, pasukan Kapten Bongsu membuat satu markas pertahanan yang bernama Hubangan. Dari tempat pertahanan Hubangan, oleh Komandan Kapten Bongsu kembali mengatur semua pasukannya yang bernama Kesatuan Harimau Mengganas atau disebut Raund I, Sektor IV.

 

Selanjutnya mereka menuju daerah Sorkam (kecamatan), karena di sana ada tentara Belanda. Adapun anggota-anggota kesatuan Harimau Mengganas yakni Majit Simanjuntak sebagai wakil, Humehe Rambe (Pengatur Pertahanan), Gontar Lubis sebagai ajudan dan staff, Kanor Samosir, Hombar Tambunan, Padet, Jaimi, Tanjung, Mian Tambunan, Mauli Panggabean, Bili Matondang, Ayat Tarihoran, Panemet Pasaribu, Masin Panggabean, Fliang, Kadi HT, Uruk, Mancur, Mancit, Krisman Marbun, Mahasan Aritonang, Usia Pane, Salmon Nainggolan dan Kartolo Pasaribu. Sementara untuk Seksi Perbekalan di antaranya bernama, Dior Nainggolan, Raja Johanis Pasaribu, Freodolin Purba dan Amit Simatupang yang ada di Pasar Sorkam.

 

Pasukan tentara Belanda yang dipimpin Komandan Van Hali datang membawa tentara Nepis termasuk Simurai dari Kota Sibolga dengan konvoi besar, hendak ke Sorkam untuk bermarkas, setelah berhasil menguasai Sibolga. Sesampainya tentara Belanda di Kampung Gontingmahe atau di tengah perjalanan, pasukan Komandan Kapten Bongsu menghadang dan terjadilah pertempuran I yang sengit. Pertempuran ini menyebar sampai ke perkampungan Parlimatohan.

 

Sayang, karena kurangnya alat persenjataan di pihak Kapten Bongsu, sementara Belanda bersenjata lengkap, pasukan Komandan Kapten Bongsu banyak yang gugur.

 

Gugurnya Sang Kapten

Dalam perjuangannya, pasukan Komandan Kapten Bongsu sering mematahkan operasi-operasi tentara Belanda ke kampung-kampung. Tak senang, Belanda pun memperkuat mata-mata (kaki tangan) yang tersebar di Tapanuli. Untuk daerah Barus dan Sorkam, mata-matanya bernama Tajim Sitanggang, anggota Polisi Belanda. Kapten Bongsu pernah memburu dan menangkap Tajim Sitanggang, dan memperingatkan dirinya agar jangan menjadi mata mata. Tetapi Tajim melarikan diri dan bergabung lagi dengan pasukan tentara Belanda di Pasar Barus.

 

Suatu hari, pasukan tentara Belanda melakukan operasi ke Bukit Hasang (Kecamatan Barus), bersama-sama dengan Tajim sebagai penunjuk jalan. Para Komandan beserta pasukan RI, di antaranya Komandan Sektor S bernama Majit Simanjutak dan P Hasibuan dibantu Komandan Raund III bernama Bagun Siregar dan pasukan Komandan Kapten Bongsu mengetahui operasi itu. Pasukan gabungan itu berangkat ke sana untuk melakukan pencegatan di tengah jalan. Tak ayal, perang besar pun pecah.

 

Pertempuran selama satu hari satu malam itu membuat tentara Belanda sempat kocar-kacir terpisah dari pasukanya. Sebagian lagi tidak tentu arah pelariannya.

 

Waktu peperangan yang terjadi pada malam hari itu sangat menguntungkan pasukan gabungan, hingga sebagian tentara musuh kabur dan lari ke pegunungan menuju ke kampung Purbatua. Banyak juga yang lari ke daerah perkampungan Harakka (Panguhalan Rihit).

 

Di kampung Harakka, pasukan Kapten Bongsu terus melakukan pengejaran ke tentara Belanda, hingga terjadilah pertempuran sengit selama 3 jam, mulai pukul 09.00 pagi hingga siang pukul 12.00 WIB. “Dapat dikatakan, saat itu pasukan musuh banyak yang tewas. Bahkan musuh tidak berkutik sama sekali, sebagian melarikan diri menyelamatkan nyawa masing masing karena kekurangan perbekalan maupun peluru senjata,” kata Rekson dalam tulisannya.

 

Peperangan akhirnya berhenti, dan tidak ada lagi suara tembakan baik dari pihak kesatuan Harimau Mengganas, maupun dari Belanda. Mengira seluruh tentara musuh sudah gugur, kecuali yang melarikan diri, Kapten Bongsu beserta dua orang prajuritnya memutuskan untuk melihat mayat-mayat yang bergelimpangan. Kapten Bongsu turun sendiri mengadakan operasi pembersihan, dengan memeriksa satu per satu mayat tentara musuh.

 

Sayang, dia salah perkiraan. Setibanya di sana, ternyata masih ada dua lagi tentara Belanda yang masih hidup, yang sengaja bersembunyi di satu kubangan bekas kerbau. Di kubangan itu, kedua tentara Belanda ditemani Tajim Sitanggang (mata-mata) Belanda.

 

Melihat Kapten Bongsu berjalan kaki, tentara Belanda yang sembunyi di kubangan langsung melepaskan tembakan. Tembakan bertubi-tubi tersebut berhasil mengenai kaki Kapten Bongsu satu peluru. Sang Kapten pun langsung tersungkur ke tanah. Tak puas, kedua tentara Belanda kembali memuntahkan peluru tepat mengenai kakinya lagi. Kapten Bongsu sempat membalas menembak dari senjatanya, sebelum akhirnya tidak berkutik. Namun seorang tentara Belanda tetap menembak.

 

Tajim (mata-mata), kemudian memberitahukan kepada kedua tentara Belanda itu, bahwa yang mereka tembak adalah Komandan Kesatuan Harimau Mengganas, Kapten Bongsu Pasaribu.

 

Tidak berapa lama, tentara Belanda datang menghampiri Kapten Bongsu. Selanjutnya, tentara itu mengakhiri hidup Kapten Bongsu dengan cara sadis, yaitu dengan memenggal lehernya sampai putus. Hari itu tanggal 3 Maret 1947.

 

Kepala yang terpisah dengan badan kemudian diangkat, dan dibawa pergi ke Pasar Barus untuk dipertontonkan kepada rakyat. Badannya yang masih tergeletak di tanah ditinggal tergeletak begitu saja di tempat dia dibunuh.

 

Setelah Belanda pergi ke Barus, potongan badannya dari leher ke kaki yang masih tergeletak di hutan, dijemput oleh pasukannya dan dibawa ke kampung Sijungkang. Di sana potongan badan itu dikuburkan.

 

Sementara itu, tentara Belanda yang bermarkas di Barus terus mempertontonkan potongan kepala Kapten Bongsu kapada para rakyat dan kepada para tahanan. Maksudnya untuk melemahkan perjuangan pasukan Indonesia di Pasar Barus, agar gerilyanya melemah. Potongan kepala ditenteng dalam karung itu dimulai markas di Harakka sampai ke Kota Barus. Pada hari yang ketiga, potongan kepala Kapten Bongsu dikuburkan di Komplek penjara Barus.

 

Setelah Bongsu Pasaribu gugur pada tanggal 3 Maret 1949, maka puncuk pimpinan sebagai Komandan Round dipegang sementara oleh Humahe Rambe dan kemudian diganti oleh Muliater Simatupang. (dikutip dari tulisan Rekson Hermanto Pasaribu/bersambung)

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s