Melongok Potensi Haranggaol di bidang Pertanian dan Perikanan (2/Habis)

Kembalikan Haranggaol sebagai Sentra Produksi Bawang

 

Haranggaol pernah menjadi sentra produksi  bawang di Sumut, di samping Samosir dan Muara. Tapi sejak hama yang menyerang tanaman bawang 2002, petani beralih ke keramba ikan. Padahal, bawang dianggap paling cocok dengan alam dan kultur setempat.

 

Dame Ambarita, Haranggaol

 

“Bisa dikatakan, saya disekolahkan dari hasil bawang,” kata St W Sinaga. Hal senada juga disampaikan Belson Purba (52) dan Jawakim Purba (48), warga Haranggaol Horisan. ”Rata-rata warga Haranggaol disekolahkan dari hasil bawang,” kata mereka, kompak.

 

Di bawah tahun 2000-an, Haranggaol termasuk sentra produksi bawang di Sumatera, bersama Samosir, Muara, Bakkara, dan lainnya. Tahun 70-an, 80-an, 90-an, kapal-kapal dari Samosir rutin datang ke Haranggaol, membawa komoditi pertanian khususnya bawang untuk dijual di sana. Agen-agen dari Medan pun datang ke Haranggaol untuk membeli bawang. Masa-masa itu merupakan masa-masa keemasan Haranggaol. Ada dua pekan besar tiap minggu, yakni Senin dan Kamis. Pekan Senin merupakan yang terbesar, disusul Pekan Kamis di posisi dua.

 

”Tapi sekarang, keramaian pada Pekan Senin itu bahkan tak lagi sampai setengahnya dari Pekan Kamis yang dulu. Bayangkan saja, betapa anjloknya suasana keramaian sekarang dibanding dulu,” kata Jawakim Purba.

 

Belson Purba menambahkan, warga Haranggaol mayoritas berpenghasilan dari sektor agraris. Petani keramba ikan paling hanya 15 persen dan PNS 1 persen. Selebihnya petani. Dan pertanian yang paling menonjol, dulunya adalah bawang. Bawang merupakan komoditas utama dan unggulan dari daerah itu. ”Bawang merupakan tanaman yang paling cocok dengan kondisi alam di Haranggaol. Tanah-tanah pertanian di daerah ini cenderung berbukit-bukit dan berbatu-batu. Ladang paling luas dalam satu dataran paling jago 5-6 rante. Selebihnya bertangga-tangga. Melihat kondisi alam itu, bawang merupakan tanaman paling cocok,” jelas Jawakim.

 

Selain dari struktur tanah, dilihat dari umur, bawang juga paling enak ditanam. Hanya 65 hari sudah bisa dipanen. Bandingkan dengan jagung yang butuh waktu 90 hari. Belum lagi dilihat dari harga, jelas bawang lebih mahal dibanding jagung. Tambahan lainnya, modal menanam dan merawat tanaman bawang relatif lebih murah. Dan secara kultur, masyarakat Haranggaol sudah mengenal dan berpengalaman bertanam bawang. ”Asalkan pintar mengolah tanah, mengatur rotasi tanaman, hasil bawang cukup memadai sebagai sumber penghasilan,” tambah Belson.

 

Hilangnya julukan sebagai sentra produksi bawang dari ’tangan’ Haranggaol, terjadi pascaserangan hama yang menyerang tanaman bawang pada 2002. Sejak itu, warga setempat jadi malas bertanam bawang, dan beralih menjadi petani keramba ikan.

 

Hasil dari keramba ikan sempat pula mencapai masa keemasan. Sayang, serangan Koi Herves Virus (KHV) yang menyerang ikan mas di keramba-keramba milik warga pada tahun 2004, mengakibatkan kerugian puluhan miliar. Modal-modal petani pemula amblas. Hal ini sempat melemahkan semangat warga untuk bertani ikan. ”Sementara untuk kembali menanam bawang, warga juga tidak bersemangat karena harga bawang sempat jatuh menyusul masuknya bawang-bawang impor dari Thailand, Philippina, dan Bombay,” jelas Belson.

 

Untunglah, untuk saat ini dan tahun-tahun ke depan, ada angin segar yang berembus ke petani bawang. Ada kabar, pemerintah melarang impor limbah daun bawang ke Indonesia. Kebijakan ini ditengarai akan memperbaiki harga bawang dalam negeri, karena harga bawang lokal dan bawang impor tentu akan bersaing.

 

”Selama ini, bawang-bawang luar negeri ’kan diimpor bersama daun-daunnya langsung dari petani di sana. Selama di kapal dan di gudang para importir, bawang dikipas agar tak busuk. Bawang-bawang itu bisa dijual murah di Indonesia karena tak ada biaya untuk upah pekerja memotong daun bawang, menjemur, dan sebagainya. Tetapi dengan adanya larangan impor limbah daun bawang, tentu importir harus mengeluarkan upah untuk pekerja memotong daun bawang. Nah, di Indonesia harganya tentu akan lebih mahal. Imbasnya, bawang lokal bisa bersaing. Dengan adanya angin segar tadi, kita berharap Haranggaol bisa kembali bangkit sebagai sentra produksi bawang,” harap Belson.

 

Untuk mendukung hal itu, Belson berharap Pemkab Simalungun memberikan dukungan dengan mendatangkan bibit unggul, kalau boleh dari Philippina. Karena bibit unggul dari negara itu dipercaya bisa menghasilkan produksi bawang lebih banyak dibanding bibit lokal. ”Dari satu hektare, bibit bawang Philippina bisa menghasilkan 15 ton bawang. Kalau bibit lokal, hanya 1 ton saja. Kalau Pemkab mau dan perlu agunan untuk penyediaan bibit luar negeri ini, petani siap mendukung,” cetusnya.

 

Bersamaan dengan dukungan penyediaan bibit ini, Pemkab melalui Dinas Pertanian juga diharapkan proaktif memberikan penyuluhan kepada petani. Misalnya, menyosialisasikan harga-harga di pasar, kapan sebaiknya bertanam, pemakaian pupuk dan pestisida yang tepat, dan sebagainya. Pemkab juga diharapkan memfasilitasi pupuk bersubsidi ke Haranggaol.

 

Melihat potensi harga bawang saat ini, Belson mengharapkan agar Pemkab benar-benar memberikan dukungan. Dan masyarakat pun diharapkan kembali antusias bertanam bawang, sehingga julukan Haranggaol sebagai sentra produksi bawang bisa kembali diraih. Untung juga bisa dinikmati.

 

Pasok 15 Ton Ikan per Hari

Di samping pertanian, khususnya tanaman bawang, Haranggaol juga sejak 5 tahun terakhir terkenal sebagai pemasok ikan nila dan ikan mas ke pasaran di Sumatera Utara. Ditengarai, dari ratusan keramba yang saat ini menyelimuti perairan Danau Toba di Haranggaol, setiap hari sekitar 15 ton ikan, baik nila maupun mas, dipasok ke pasaran Sumut.

 

Harga ikan nila di tingkat petani saat ini Rp15 ribu per kg ukuran standar, dan mas Rp22-25 ribu per kg, tergantung besar ikannya. Ikan merupakan salahsatu sumber penghasilan utama di Haranggaol saat ini.

 

Namun belakangan, petani agak resah dengan kenaikan harga pellet ikan, yang dalam dua bulan terakhir naik dari Rp205 ribu per zak ukuran 50 kg, menjadi Rp297 per zak. Harga itu sebelum harga BBM naik. ”Dan dengan naiknya harga BBM hingga 28 persen, kami menduga harga pellet akan naik lagi. Sementara harga ikan belum tentu naik di pasaran. Inilah yang meresahkan petani,” kata Jawakim, yang juga petani keramba  ikan di Haranggaol.

 

Jawakim memperkirakan, setiap hari petani keramba ikan di Haranggaol membutuhkan 16 ton pellet untuk memberi makan ikannya. ”Untuk itu, kita berharap Pemkab dapat memberi dukungan, misalnya dengan membangun pabrik pellet berbahan baku lokal, yang harganya masih bisa dijangkau petani. Karena kalau begini terus, keuntungan dari petani ikan akan anjlok drastis,” harapnya. (habis) 

Satu tanggapan untuk “Melongok Potensi Haranggaol di bidang Pertanian dan Perikanan (2/Habis)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s