Mengintip Program Perkebunan Kayu Rakyat versi PT TPL (3/Habis)

Peserta Tertawa Lebar, Sebut Kebun Eukaliptus ’Harta Karun’

 

Hingga April 2008, areal Perkebunan Kayu Rakyat (PKR) di bawah 4 sektor TPL, yakni Aek Nauli, Tele, Habinsaran, dan Aek Raja, sudah mencapai 6.011 hektare. Lahan yang potensial untuk digarap masih ada 8.600-an hektare lagi. Tiga dari ratusan peserta PKR TPL, yang ditemui METRO pekan lalu, semuanya tertawa lebar saat ditanya pendapatnya tentang program itu. Bahkan ada peserta yang menyebut kebun eukaliptusnya sebagai harta karun. 

 

Dame Ambarita, Porsea

 

”Apa alasan Bapak ikut PKR-nya TPL?” tanya METRO kepada Habinsaran Pasaribu (52), warga Desa Lintong Kecamatan Borbor, yang didampingi rekannya Posma Pasaribu (51) dan dua petani lainnya, Jumat pekan lalu.

 

Pak Habinsaran yang masih tampak gagah di usianya yang sudah kepala lima menjawab lantang. ”Pertama, alasan kemiskinan! Kami warga di sini tergolong miskin. Kedua, untuk mengurangi pengangguran. Dengan ikut PKR, warga di sini mendapat  pekerjaan dengan upah yang layak,” katanya bersemangat.

 

“Berapa upah pekerja per hari mengerjakan kebun eukaliptus?”

 

”Rata-rata Rp30 ribu per orang per hari. Saya sendiri sudah berposisi sebagai sub kontraktor. Untuk pekerja, saya libatkan warga kampung dengan upah Rp30 ribu per hari,” jawabnya.

 

Lebih lanjut, petani yang mengaku telah menyediakan 25 hektare lahan tidur miliknya untuk dijadikan PKR ini menjelaskan, selama ini lahan warisan milik keluarganya hanya ditumbuhi semak belukar dan alang-alang. ”Seingat saya, sejak saya lahir hingga sekarang berusia 52 tahun, tak pernah ada tanaman yang tumbuh di tanah saya ini selain alang-alang. Nah, tentu saja saya sangat senang dengan adanya program PKR ini. Di samping memanfaatkan lahan yang selama ini telantar, kami pun dapat gaji,” cetusnya.

 

Saat ini, usia pohon eukaliptus di lahan PKR-nya sudah berusia dua tahun. Artinya, lima tahun lagi ia sudah bisa panen. Ia pun sudah menghitung-hitung keuntungan yang baik diperolehnya. Dengan harga kayu saat ini Rp37.500 per ton, dengan asumsi hasil 150 ton per hektare, kelak ia akan memperoleh Rp56.250.000. Jumlah itu kelak berpeluang lebih tinggi, karena harga jual kayu lima tahun lagi kemungkinan besar lebih mahal.

 

Ia menjelaskan, saat ini  sekitar 80 persen warga Desa Lintong yang memiliki lahan tidur, sudah ikut PKR. ”Selain memberikan bantuan, TPL juga mengajari kami cara menanam eukaliptus, merawat, menyemprot, dan sebagainya. Saya sendiri saat ini menganggap diri saya sudah lulus soal eukaliptus ini,” katanya, sambil terkekeh gembira.

 

Ia optimis, masih akan dapat menawarkan ratusan hektare lahan tidur di desa mereka, untuk dijadikan PKR. ”Banyak warga yang sudah menyatakan berminat ikut,” katanya yakin.

 

Senada dengan Pak Habinsaran, peserta PKR di Desa Pardamean Kecamatan Ajibata, Tobasa, Aston Sirait (32), yang ditemui di lokasi PKR-nya, juga mengaku sangat senang dengan adanya program PKR ini. ”Kalau boleh saya katakan, kebun saya ini saya ibaratkan harta karun. Sebuah pekerjaan sampingan, yang dalam tujuh tahun tanpa terasa akan memberi keuntungan yang lumayan. Padahal selama ini lahan itu hanya semak-semak,” cetusnya, dengan senyum lebar di bibirnya.

 

Ia menjelaskan, sebenarnya ayahnya Pahala Sirait (65) yang masuk PKR. Tapi dirinyalah selaku anak ketiga dari 8 bersaudara, yang lebih fokus mengerjakan kebun. ”Lahan tidur milik keluarga kami yang sekarang menjadi kebun eukaliptus mencapai 20 hektare. Ditanam sejak Maret 2006, dan direncanakan akan panen 2012. Tapi selama menunggu panen eukaliptus, saat ini saya sudah memperoleh satu Supra Fit. Itu saya peroleh dari keuntungan mengerjakan proses membabat, menanam, dan menyemprot kebun ini,” cetusnya bangga.

 

Tabo do anggo dohot PKR on. Ba bereng ma, angka handphone na  ma nuaeng di kantong on (Enak ikut PKR ini. Lihatlah, handphone-handphone yang sekarang ada di kantongku),” celotehnya bercanda.

 

Tak berbeda jauh dengan kedua petani di atas, Ojak Sitinjak (45), peserta PKR di Dusun Tanjung Dolok Nagori Sibaganding, mengatakan, sebanyak 14 KK warga di desanya saat ini mengelola sekitar 34 hektare lahan PKR eukaliptus.

 

PKR di desanya dimulai Februari 2006, di lahan tidur yang dulunya hanya ditumbuhi alang-alang.

 

“Awalnya, kami tertarik ikut PKR ini setelah mendengar dari famili saya yang tinggal di Pangururan Samosir, yang sudah berhasil ikut PKR. Ditambah adanya penjelasan dari pihak TPL sektor Aek Nauli, kami pun mengajukan permohonan ikut PKR. Daripada lahan kami kosong dan telantar, kan lebih baik dimanfaatkan,” cetusnya.

 

Ojak yang sehari-harinya bekerja sebagai petani sawah dan keramba ikan di danau Toba ini mengatakan, untuk mengerjakan kebun eukaliptus seluas 34 hektare itu, mereka melibatlkan warga kampung. “Lumayanlah, daripada lahannya dibiarkan begitu saja,” katanya.  

 

Ditanya, apa rencananya dengan keuntungan yang kelak akan diperolehnya dari kebun eukaliptus itu, Ojak menjawab, unutuk menambah modal usaha. Tak dirincinya usaha yang mana.

 

Bagi warga yang berminat ikut menjadi peserta PKR, boleh mengajukan permohonan kepada Direktur PT TPL, dengan formulir yang ditandatangani Kepala Desa. Boleh perseorangan atau kelompok. Syaratnya, memiliki lahan yang tidur yang potensial dijadikan PKR, dengan kepemilikan yang jelas. Tersedia akses jalan untuk pemanenan di kemudian hari. ”Pembangunan infrastruktur jalan akan menjadi pertimbangan bila luas areal cukup besar,” kata Posma Tambunan, Manajer PKR PT TPL, mengakhiri. (*)

Satu tanggapan untuk “Mengintip Program Perkebunan Kayu Rakyat versi PT TPL (3/Habis)

  1. Harga eukaliptus PKR tahun 2008 per ton Rp. 37.500, lalu harga sekarang (2013) berapa ya per tonnya? Tentunya sudah naik seiring perjalanan waktu dan harga barang. Mohon informasinya, karena yang saya ketahui bahwa penetapan harga ditentukan oleh keputusan gubernur. Terimakasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s