Ibuku, Perempuan Desa

Oleh: Dame Ambarita

 

Helai-helai rambut di kepalanya telah memutih. Kerut-merut di lehernya yang coklat jelas memperlihatkan usianya yang sudah tak muda lagi. Tulang punggungnya sudah mulai membungkuk, meski ia bisa tampak tegak saat berjalan. Dan walau usianya sudah 71 tahun,  ia masih sanggup berjalan 3 kilometer pulang balik tanpa terengah-engah.

 

Dia adalah ibuku. Seorang perempuan yang telah melahirkan 12 orang anak. Ibuku memang tergolong perempuan subur. Hampir tiap dua tahun ia melahirkan seorang anak. Ibu melahirkan adikku yang terkecil saat usianya sudah 45 tahun. Dari 12 anak yang lahir dari rahimnya, hanya 10 orang yang hidup, termasuk aku. Anak pertama meninggal karena step. Anak ke-8 meninggal tersedak susu.

 

Ibuku lahir di Sirait, sebuah dusun kecil di Kecamatan Nainggolan, Pulau Samosir, pulau yang dikelilingi Danau Toba. Meski tinggal di sebuah dusun yang jauh dari kota besar, keluarga ibuku tergolong maju dalam pendidikan. Hampir seisi anggota keluarga mereka bersekolah. Ibuku sendiri tamat Sekolah Rakyat (SR), langsung masuk Sekolah Perawat, setara SMP saat ini. ”Ayahkulah yang selalu memotivasi kami agar rajin bersekolah. Kata ayahku, perempuan juga harus bersekolah sederajat dengan laki-laki,” katanya dengan nada bangga.

 

Entah karena pengaruh ayahnya, ibuku selalu menerapkan prinsip yang sama dalam mendidik kesepuluh anak-anaknya. ”Laki-laki dan perempuan sama!” tegasnya selalu.

 

Prinsip itu berlaku, baik untuk pekerjaan di rumah, pendidikan, dan lainnya. Misalnya untuk pekerjaan di rumah, tidak ada istilah mencuci piring dan pakaian, memasak, atau menyeterika adalah tugas perempuan. ”Laki-laki pun bisa mengerjakannya!” itu jawab ibuku, jika misalnya ada abangku yang menolak bekerja.

 

Hasilnya, di keluarga kami tidak ada pekerjaan yang terkotak-kotak antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki bisa mengerjakan ’pekerjaan perempuan’. Sebaliknya, para perempuan juga bisa mencangkul di ladang, bisa bertukang sedikit-sedikit, bisa menyembelih ternak, dan beberapa ’pekerjaan pria’ lainnya.

 

Soal pendidikan anak-anaknya, ibuku juga tidak pernah membedakan antara laki-laki dan perempuan. Dari empat putra dan enam putrinya, semua memiliki hak yang sama dalam melanjutkan pendidikan, asalkan mampu. Syaratnya, kalau mau melanjut ke perguruan tinggi, harus lulus UMPTN. Kalau minta kuliah di PTS…. sorry aja!

 

Syarat bisa kuliah asal di PTN itu tidak pernah mendapat protes. Kami semua tahu diri. Kami sadar dengan kemampuan ekonomi keluarga yang pas-pasan.

 

Ayahku idem saja dengan ibuku. Tidak ada pertengkaran soal cara mendidik kami anak-anaknya. Kalaupun ayah dan ibuku pernah bertengkar, itu lebih ke soal pembagian rezeki, antara untuk ibuku dan untuk saudara-saudara ayah. Atau tentang kebiasaan ayahku yang kadang-kadang suka berjudi kecil-kecilan di warung.

 

Ibuku sendiri lulusan sekolah perawat di zamannya (setara SMP saat ini). Di Sekolah Perawat itulah ibuku bertemu ayahku, abang kelasnya. Ayahku jatuh cinta pada ibuku pada pandangan pertama. ”Hari pertama aku baru tiba di sekolah sambil menjunjung (diletakkan di atas kepala) koper, besoknya ayahmu sudah mengirim surat cinta padaku. Tentu saja kutolak mentah-mentah. Aku datang mau bersekolah, eh… sudah dikirimi surat cinta. Siapa yang tak sewot!” katanya, dengan nada sewot. Bertahun-tahun kemudian, barulah mereka menikah berkat pendekatan ayahku yang tak kenal menyerah.

 

Ayahku seorang mantri desa. Waktu kecil, aku sering menyebut ibuku juga seorang mantri desa. Aku tak tau persis apa beda perawat dengan mantri desa.

 

Sebagai mantri, ayah dan ibuku sering pindah-pindah tugas. Meski masih ditempatkan di Pulau Samosir, pulau indah yang dikelilingi Danau Toba, ayah sering dipindahtugaskan dari satu kecamatan ke kecamatan lain. Di Desa Lontunglah, ayah dan ibuku paling lama bertugas. Hampir 17 tahun. Delapan orang anaknya lahir di desa itu.

 

Saat aku masih duduk di kelas III SD, ayah dan ibuku ditugaskan di Ambarita, ibukota Kecamatan Simanindo. Di sanalah rumah kami tinggal sampai saat ini. Sudah 26 tahun.

 

Hampir seumur hidupnya, ibuku tinggal di desa. Kalaupun sekali-sekali ke kota, jika ada keperluan penting saja. Seperti menghadiri pesta pernikahan adiknya di Medan, saat abangnya yang sulung meninggal di Siantar, dan beberapa kunjungan lainnya. Selebihnya, ia lebih suka mewakilkan kunjungan keluarga ke ayahku. Bukan karena ibuku tak senang mengunjungi sanak keluarganya yang tinggal di kota. Tetapi karena ibuku selalu mabuk di bus. “Kalau sudah muntah, rasanya aku lebih suka memilih mati,” keluh ibuku, melukiskan penderitaannya naik bus.

 

Ayahku meninggal saat aku duduk di bangku kelas III SMA. Saat itu, aku sempat pasrah jika cita-citaku melanjut ke perguruan tinggi, terpaksa terhenti. “Mana mungkin ibuku sendirian membiayai pendidikan tujuh anak?” pikirku sedih, saat itu. Saat ayah meninggal, tiga saudaraku sudah bekerja dan menikah. Seorang kakakku dan seorang abangku masih kuliah di Medan. Aku dan adikku duduk di bangku SMA. Satu orang adikku SMP, dan dua orang lagi masih SD.

 

Gaji pensiunan ayah dan gaji ibuku tak seberapa. Maklum ibu hanya golongan 1 (karena pendidikannya hanya setara SMP), sedangkan ayah meninggal dengan  golongan 2b. Penghasilan tambahan hanyalah uang jasa mengobati orang sakit. Dan yang namanya hidup di desa, uang jasa mengobati itu tidak besar.

 

Tapi ibuku tidak mengenal kata menyerah. Ia memutar otak untuk menambah penghasilan. Saat ada tetangga yang ingin menyewakan warung mie sopnya, ibu langsung menyewa. Sambil terus bekerja di Puskesmas, ibu nyambi berjualan mie sop, dibantu adik-adikku. Aku yang saat itu sudah kuliah di sebuah PTN di Medan, membantu-bantu ibu saat libur semester.

 

Sambil berjualan mie sop, ibuku juga beternak kecil-kecilan, usaha yang sudah berlangsung sejak ayahku masih hidup. Hasil penjualan ternak dikirim untuk biaya kuliahku dan kakak/abangku. “Kalian harus tetap bersekolah. Tak ada istilah putus sekolah karena tak ada uang. Di mana ada kemauan, di situ ada jalan,” itulah nasihat yang sering diulang ibuku.

 

Setelah warung mie sop mulai sepi, ibu yang sudah pensiun, banting setir dengan berjualan sayur mayur di pasar pagi. “Memang, ada untungnya Bu?” tanyaku suatu kali, melihat barang dagangan ibuku yang sangat sederhana. Hanya sedikit sayur, kadang ada sedikit cabai, sedikit jahe dan kunyit, dan sedikit ini itu.

 

“Paling tidak, setelah modalnya kembali, jualan yang tersisa bisa untuk menutupi keperluan dapur kita. Tak usah belanja lagi. ‘Kan lumayan menghemat,” begitu kata ibuku, sambil menyerakkan dagangannya di atas meja yang dipajang di dapur, agar tidak membusuk.

 

Ibuku memang seorang wanita tangguh. Sendirian, dengan kerja kerasnya yang tak peduli dengan gengsi, ibu berhasil menyekolahkan lima anaknya menjadi sarjana. Hanya satu orang abangku yang drop out dari universitas. Itu pun bukan salah ibuku. Satu orang adikku tak kuliah karena tak lulus PTN. Sesuai peraturan tak tertulis, pilihannya adalah langsung mencari kerja selulus SMA.

 

Hebatnya ibuku, saat 10 anaknya sudah mandiri pun seperti saat ini, ia tak mau berhenti bekerja. Ia masih meneruskan pekerjaannya beternak sambil bertani kecil-kecilan di halaman rumah. Tak pernah bersedia diajak anaknya-anaknya untuk tinggal di kota. “Aku tak mau merepotkan,” tolaknya halus.

 

Ada satu nasihat ibuku, yang kerap diulangnya. “Sebagai perempuan, kalian usahakanlah tetap bekerja atau punya penghasilan sendiri. Jika pun suami kalian nantinya meminta kalian berhenti bekerja, jangan mau. Sangat sakit bagi seorang istri jika selalu harus meminta-minta uang pada suami,” nasihatnya berulang kali. Aku tak tau, pengalaman siapa yang membuatnya trauma dengan istilah ’istri mengemis’ itu. Ibuku sendiri tak pernah bergantung penuh kepada ayahku, soal keuangan.

 

Saat ini, ibuku tinggal sendirian di rumah kami di Desa Ambarita. Meski usianya semakin tua, ia tetap kukuh dengan prinsipnya yang tak mau bergantung kepada orang lain.

 

Sementara saat melihat aku belum menikah di usia yang sudah kepala 3, ibu hanya menasihati. ”Aku mengerti enaknya menikmati gaji sendiri. Aku sendiri menikah usia 26 tahun. Itu sudah tergolong ’perawan tua’ di masa tahun 60-an. Tapi menikah tetaplah sebuah pilihan yang lebih baik,” nasihatnya.  (*)

 

 

 

3 tanggapan untuk “Ibuku, Perempuan Desa

  1. halo ito….!!
    aq penasaran ma ito, ito tinggal dmna seh di ambarita..??
    aq orang samosir tinggalnya seh di tomok. tapi SMP d ambarita, jad tau banyaklah liku2 ambarita….!!! ito dmn rumahnya???

    salam kenal ya…

    1. Hehehehehe…. penasaran yee… Aku dekat danau, di pelabuhan. Dari lapangan dekat kantor polisi, terus saja jalan ke arah danau…. nyampe deh…
      Salam kenal juga….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s