Masih Seputar Vihara Avalokitesvara Terbakar

6 Orang Diselamatkan dari Lubang Angin

SIANTAR-METRO

Banyak kisah menyedihkan saat musibah kebakaran Vihara Avalokitesvara di Jalan Sipiso-piso Kelurahan Pematang Simalungun Kecamatan Siantar Selatan, Pematangsiantar, Minggu (11/5) dini hari. Salahsatunya, upaya warga menyelamatkan penghuni vihara. Misalnya saja, saat enam penghuni yang diselamatkan keluar dari lubang angin di lantai dua vihara.

 

Warga sekitar vihara yang ditemui METRO tadi malam menerangkan, Minggu dini hari itu mereka ikut panik. Apalagi api yang membakar vihara terbesar di Pematangsiantar itu semakin besar.

 

Sangkot, salahseorang warga menuturkan, saat itu ia panik mencari keluarganya yang melihat kebakaran. Saat sedang berkeliling, ia melihat ada enam orang di lantai II vihara berusaha menyelamatkan diri di tengah kepulan asap. Sangkot pun berlari masuk dari pintu depan dan merusak salahsatu dinding bangunan dengan besi yang diambil dari rumahnya. 

 

Lalu Sangkot memecahkan ventilasi (lubang angin) vihara menggunakan besi. Kemudian ia masuk ke gedung dan menyelamatkan enam orang yang ada di atas genteng dengan cara menggendong dan mengeluarkannya dari lubang angin yang sudah dirusaknya.

 

Warga lainnya, Sinaga mengatakan dirinya sangat jelas melihat ada satu orang penghuni vihara melompat dari lantai tiga dan mendarat di dekat jemuran rumahnya. Orang itu diketahui bernama Acai dan merupakan karyawan di vihara yang bertugas sebagai tukang masak dan mengatur dekorasi vihara. Oleh warga, Acai ditolong dan dibawa ke rumah sakit.

 

Masih kata Sinaga, telapak kaki kiri Acai terbelah. Kemungkinan besar terkena tali jemuran. Sedangkan kaki kanannya patah. “Saat Acai melompat, saya sudah keletihan mengangkati barang. Lalu saya memanggil beberapa pemuda untuk menolong Acai,” tambahnya.

 

Sementara salahseorang ibu mengaku melihat dua orang melompat dari lantai tiga vihara ke arah rumah warga. Kedua orang yang melompat itu, katanya, mengalami luka cukup parah dan semuanya di larikan ke rumah sakit.

 

Sedangkan warga yang lain, Afo mengatakan, ketika nyala api mulai reda, warga masih terus menyirami sisa api yang masih berkobar. Saat itulah ia melihat sesosok wanita tua berlari-lari di lantai tiga dan berusaha minta tolong. Melihat itu, Afo berusaha masuk melalui jendela yang dibongkarnya dan menyelamatkan wanita tersebut, yang kemudian diketahui bernama Ahyong, warga Binjai. “Ahyong yang ketakutan menolak digendong. Tapi kemudian dia mau,” katanya.

 

Katanya, tas yang dipegang Ahyong sempat terjatuh. Namun kemudian diambil Afo dan diberikan kepada Ahyong. “Saat menggendong Ahyong, saya berusaha menahan hawa panas. Untung kemudian datang orang lain menjemput ke atas,” katanya.

 

Warga yang lain tak mau kalah. Katanya, ia melihat ada orang terjatuh dari vihara ke rumah warga. Untungnya, ada warga yang melihat korban terjatuh dan tidak berdaya. Orang itu pun langsung ditolong warga yang lain.

 

“Usianya sekira 65 tahun. Perempuan itu diperkirakan berusia 65 tahun itu, dan kondisinya sangat memprihatinkan. Ia mengalami luka di kaki, mulut, dan kepala. Kemudian ada warga membopongnya ke ambulans milik rumah sakit yang sudah stand by di lokasi. Seterusnya dilarikan ke rumah sakit,” paparnya.

Orang yang terjatuh tersebut kepada warga mengaku warga Tandem, Binjai.

 

Disangka Petasan

Beberapa warga yang berkumpul tadi malam mengatakan, mereka memang sempat mendengar suara ledakan dari dalam kompleks vihara. Awalnya mereka menyangka suara petasan. Namun karena asap mulai mengepul, beberapa pemuda yang kebetulan begadang, berusaha mengintip ke dalam lokasi vihara dengan memanjat pagar. Saat itu mereka melihat api mulai berkobar di dalam vihara dan para penghuni berlarian.

 

“Kami kebetulan saat itu begadang. Kami mendengar ledakan dari dalam vihara. Kami piker suara petasan. Tapi kami melihat asap semakin mengepul, dan kami pun berusaha melihat ke dalam gedung. Ternyata api mulai membakar lantai dua,” aku Anto, salahseorang pemuda.

 

Beberapa pemuda kemudian membangunkan warga yang tinggal di sekitar vihara dibantu salahseorang ibu yang terlebih dahulu terbangun karena mendengar rebut-ribut dari vihara. Saat warga sudah banyak terbangun, mereka berusaha menyelamatkan barang-barang dari dalam rumah masing-masing. Sementara warga lainnya ikut menyirami api dengan air dan menyelamatkan orang-orang yang melompat dari vihara. Bahkan beberapa warga merelakan bagian rumahnya dirusak untuk menghindari api semakin menjalar.

 

Bantah Menjarah

Warga sekitar juga membantah telah melakukan penjarahan di vihara. Disampaikan mereka, saat itu seluruh warga sekitar tidak terpikir mengambil barang dari vihara ataupun rumah warga lainnya. Sebab saat itu semuanya panik dan berusaha menyelamatkan barang di rumah masing-masing, menyirami api, dan menyelematkan penghuni vihara yang melompat.

 

“Tidak ada kami melakukan penjarahan. Itu tidak benar,” kata warga hampir bersamaan.

 

5 Jenazah Dikremasi

Lima jenazah korban terbakarnya Vihara Avalokitesvara dikremasi (dibakar), di Crematorium Di Zang Dian, di Tanjung Morawa, Km 12 Kabupaten Deliserdang, Selasa (13/5). Kelima jenazah tersebut yakni Bhiksu Yu Chien (60), guru agama Buddha Sujad Widodo (48), Ai Chin (35), Ai Nie (34) serta Chin Hang (60).

 

Saat ritual kremasi, keluarga korban serta teman sejawat memanjatkan doa bagi lima jenazah yang dimasukkan dalam peti. Acara sembahyang dipimpin bhiksu yang datang dari Singapura.

 

Ritual itu diisi alunan doa-doa yang dipanjatkan sejumlah bhiksu yang secara khusus datang dari Singapura, Thailand, Malaysia, Jakarta, serta seluruh bhiksu di Pulau Sumatera. Meski mengaku tidak kenal dekat dengan kelima korban, para bhiksu mengaku sedih.

 

“Setiap orang akan mengalami kematian. Namun kita harus tetap berdoa kepada sang Maha Pencipta. Kematian adalah hal yang tidak asing dengan kehidupan. Untuk itu kita harus siap menghadapinya,” sebut Bhiksuni bernama Wiraguna dari Vihara Vilokasiva, Wifena Graha, Jakarta.

 

“Tidak ada acara khusus dalam ritual ini. Ini ritual umum dalam kegiatan kremasi. Jika ada kematian, kegiatan ini dilakukan,” tambah bhiksuni yang mengenakan kaca mata minus ini.

 

Bhiksu lain yang tidak mau disebut namanya mengaku khusus datang dari Jakarta. Katanya, kegiatan kremasi untuk menghormati para jenazah dan sebagai penghormatan terakhir.

 

Usai ritual doa, sanak saudara kelima korban memasuki ruangan khusus. Di ruangan itu mereka hanya duduk-duduk menunggu kremasi usai. Diperkirakan, kremasi membutuhkan waktu sekitar 3-4 jam. Kremasi sendiri dilakukan di dalam tungku khusus dengan tekanan api yang sangat tinggi.

 

Bhiksu Yu Chien, Baru 2 Tahun Ditahbiskan

Bhiksu Yu Chien (69) merupakan satu dari tujuh korban tewas dalam musibah kebakaran Vihara Avalokitesvara. Ia baru diangkat menjadi bhiksu sekitar dua tahun lalu, namun sudah sejak 29 tahun lalu, atau saat berusia 40 tahun, Bhiksu Yu Chien sudah tinggal di Vihara Avalokitesvara.

 

Pengurus Vihara Avalokitesvara, Chandra kemarin menerangkan, sebelum diangkat menjadi bhiksu, Yu Chien bekerja membantu-bantu kegiatan operasional di vihara, baik kegiatan ibadah maupun lainnya. Selama ini, katanya, Bhiksu Yu Chien dikenal sangat giat.

 

“Bhiksu Yu Chien sudah pernah menikah, dan punya anak. Istrinya menetap di Jakarta dan anaknya di Medan. Tapi ketika usianya 40 tahun, ia memutuskan untuk menghabiskan hidupnya dengan beribadah,” terang Chandra.

 

Masih kata Chandra, untuk menjadi bhiksu, seseorang biasanya harus sekolah untuk menghafal seluruh ayat-ayat Buddha. Berbeda dengan biksu Yu Chien, yang bisa ditahbiskan sebagai bhiksu hanya dengan ketekunannya belajar tanpa sekolah.

 

Sujad Widodo Tiap Sabtu Ajak Siswa ke Vihara Avalokitesvara

Sujad Widodo (48), salah satu korban tewas dalam kebakaran Vihara Avalokitesvara Pematangsiantar dinilai sebagai sosok yang patut diteladani. Di mata rekan guru dan siswa SMA Yayasan Perguruan Sultan Agung Pematangsiantar, guru agama Buddha tersebut dikenal sangat baik dan ramah. Namun yang paling diingat, setiap Sabtu, Sujad selalu mengajak siswanya beribadah ke Vihara Avalokitesvara, yakni vihara yang menjadi tempat ia meregang nyawa.

 

Sanny Halim, siswa kelas III SMA Sultan Agung yang ditemui di Yayasan Bhakti Kesejahteraan Sosial (YBKS) Jalan Cokroaminoto Pematangsiantar kemarin mengaku sangat berduka atas musibah kebakaran Vihara Avalokithesvara, yang mengakibatkan salahseorang gurunya tewas

 

Dalam pandangan Sanny dan rekan-rekannya, Sujad Widodo merupakan sosok guru yang baik. “Makanya kami sangat merasa kehilangan,” tambah Silvya, siswi kelas III SMA Sultan Agung.

 

Siswi lainnya, Theresia mengakui Sujad sebagai guru yang baik. Bahkan ia mengaku memiliki kesan tersendiri terhadap guru tersebut. Kesan itu, katanya, berupa kegigihan Sujad Widodo yang selalu mengajarkan pemahaman tentang hidup melalui ajaran Buddhist. “Bahkan setiap hari Sabtu, Pak Sujat Widodo tidak lupa mengajak siswa mengadakan kebaktian di vihara yang terbakar itu,” sebutnya.

 

Sedangkan Silvina, siswi kelas I SMA Sultan Agung mengatakan Sujad tidak pernah marah kepada siswanya. Padahal, Silvina yakin, almarhum pasti pernah dibuat kesal oleh ulah siswanya.

 

“Ya itulah dia. Tidak pernah marah, selalu baik dan tidak sombong, sopan, ramah, dan selalu bersedia memberikan masukan,” ujar Silvina. Bagi siswa yang rajin mengikuti kebaktian, tambah silvina, Sujad selalu memberi tambahan nilai.

 

Hal senada juga disampaikan rekan Sujad, sesama guru agama Buddha di SMA Sultan Agung, Widianto. Menurutnya, kepergian Sujad membuat mereka sangat kehilangan sosok yang supel dan tidak pandang bulu dalam bergaul.

 

Sebelum Sujad pergi untuk selamanya, Widianto merasa prilaku rekannya itu tidak seperti biasa. Misalnya, ketika rapat untuk peringatan Waisak di sekolah mereka, saat itu almarhum menyalami setiap orang. Bahkan sebelum rapat pun, almarhum sudah menyalami para guru.
”Terkesan, salaman itu menunjukkan tanda dirinya pamit untuk pergi,” kata Widianto.

 

Ditambahkannya, sebenarnya Sujad Widodo dihunjuk Departemen Agama (Depag) agar mengajar di Kisaran Kabupaten Asahan. Namun almarhum berusaha tetap mengajar di Pematangsiantar, dengan mencoba mendaftar ke Depag di Jakarta.  “Tapi almarhum tetap melaksanakan tugas mengajar di Kisaran pada hari-hari tertentu,” katanya.

 

Guru lainnya, di Yayasan Perguruan Manjusri, Nur Aini (28) dan Novita Hutagaol (31), mengatakan almarhum Sujad dikenal periang dan humoris. “Seperti terlihat di foto itu,” kata Novita sembari menunjuk foto di depan peti jenazah almarhum. Dalam foto itu, Sujad memang tersenyum.

 

Selain itu, tambah Novita, almarhum merupakan sosok yang aktif dan rajin. Jadi, tidak berlebihan bila almarhum mendapatkan penghargaan sebagai pahlawan. “Orangnya dikenal sangat baik. Selain dekat dengan sesama guru, almarhum juga dekat dengan para anak didik,” katanya.

 

Nur Aini, yang merupakan guru komputer mengaku selalu menjadi orang pertama yang disapa almarhum setiap datang ke sekolah.  “Saya memang orang yang selalu pertama disapa Bapak itu semasa masih hidup,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

 

Selain kedua guru itu, Haimin, pelajar kelas III SMP Budhis Manjusri mengatakan almarhum adalah orang yang periang dan suka bercanda. Dia juga suka bergabung dengan para pelajar.  “Kami merasa kehilangan sosok Pak Widodo. Dia baik sekali,” ujarnya, juga dengan mata berkaca-kaca.

 

Sementara istri almarhum, Nurhayati (42) mengatakan suaminya adalah sosok yang tegas namun murah senyum. Selama sekitar tujuh tahun bertugas di Siantar, suaminya memang tinggal di Vihara Avalokitesvara. Di Siantar, katanya, suaminya mendapat tugas dari Perwalian Umat Buddha Indonesia (Walubi). “Selama di Siantar, almarhum hanya pulang saat libur panjang,” sebutnya.

 

Dari Nurhayati, almarhum memiliki dua anak yakni Abi Manyu (7) dan Punto Dewo (4). Nurhayati yang selama ini tinggal terpisah dengan suaminya karena ia menetap di Tangerang dan bekerja di Rumah Sakit (RS) Harapan Kita Tangerang itu, mengaku tabah menghadapi cobaan ini, meskipun ia harus kehilangan suami dan ayah anak-anaknya.

 

Nurhayati juga mengaku tidak memiliki firasat apapun sebelum musibah terjadi. Hanya saja, katanya, dalam tidurnya Sabtu (10/5) malam itu, ia bermimpi melihat suasana seperti di film India, yakni banyak bunga-bunga.(mag-01/dro/btr)

3 tanggapan untuk “Masih Seputar Vihara Avalokitesvara Terbakar

  1. saya juga sangat sedih dengan kepergian bapak guru widodo..
    setiap minggu selama saya kebaktian di vihara avalokitesvara beliau selalu sabar melihat kelakuan semua peserta kebaktian yang bermain-main..
    sekarang kami telah kehilangan sosok beliau yang begitu sabar..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s