Vihara Avalokitesvara Terbakar, 7 Tewas

SIANTAR-METRO

Vihara Avalokitesvara di Jalan Sipiso-piso Kelurahan Pematang Simalungun Kecamatan Siantar Selatan Kota Pematangsiantar terbakar, Minggu (11/5) sekira pukul 00.30 WIB. Dalam musibah itu, 7 orang tewas dan 9 lainnya luka-luka, termasuk pimpinan vihara, Bhiksu Dhyanavira. Sementara kerugian materil diperkirakan mencapai Rp15 miliar.

 

Pantauan METRO di lokasi kejadian sekira pukul 00.50 WIB, kobaran api terlihat di lantai II vihara, yang merupakan ruang ibadah. Dari jarak sekira lima meter, terdengar beberapa kali dentuman keras yang membuat bangunan runtuh dan puing-pung beterbangan. 

 

Api pun cepat menyebar ke seluruh ruangan vihara. Ketika api mulai benjalar ke ruang tempat tinggal pegawai dan perpustakaan di lantai II, terlihat beberapa penghuni vihara berusaha menyelamatkan diri dengan melompat ke sebelah kiri gedung vihara, yang merupakan pemukiman warga.

 

Akibat melompat, mereka mengalami luka dan patah kaki. Segera saja warga yang telah memenuhi pelataran vihara melarikan mereka ke rumah sakit. Sementara api semakin menjalar ke seluruh ruangan di lantai II dan lantai II, hingga ke Pagoda Vihara yang berada di sebelah kiri gedung yang terbakar.

 

Dugaan sementara, kebakaran disebabkan hubungan listrik arus pendek (korsleting) di ruang ibadah. Kebetulan asbes di ruangan tersebut terbuat dari kayu yang dipelitur, sehingga api langsung menyambar asbes. Lalu menjalar ke benda lain di dalam ruangan. Apalagi, dalam ruangan terdapat perlengkapan sembahyang seperti dupa, kertas sembahyang, dan sebagainya. Seketika nyala api semakin besar dan segera melalap hampir seluruh ruangan di lantai II.

 

Tak lama, mobil dan petugas pemadam kebakaran tiba di lokasi. Enam unit mobil pemadam kebakaran, yakni 4 dari Pemko Siantar, 1 unit milik Pemkab Simalungun, dan 1 unit milik NV STTC diturunkan. Petugas segera berusaha memadamkan api. Namun, karena dini hari itu angin bertiup cukup kencang, sehingga api sulit dipadamkan. Ketika disiram, api semakin menyala dan merembes hingga atap gedung. Sementara, perpustakaan di lantai II dipastikan hangus.

 

Petugas kesulitan menemukan titik asal api. Sebab vihara terbesar di Kota Siantar itu memiliki banyak ruangan. Dua unit mobil pemadam kebakaran yang tiba lebih dulu langsung menyemprot bagian belakang lantai II, namun api tak padam. Sehingga mobil pemadam yang lain langsung masuk ke pelataran vihara melalui Jalan Sipiso-piso. Api baru benar-benar padam sekira pukul 07.00 WIB.

 

Pagi itu juga, petugas pemadam bersama personil polisi dan sukarelawan masuk ke puing-puing bangunan untuk melakukan evakuasi. Ditemukan tujuh orang tewas terpanggang. Mereka yang ditemukan tewas di lantai II yakni Bhiksu Yucen (70) dan Sujadi Widodo (40). Lalu dua karyawan yakni Dian (20) dan Rizal (18). Selain itu, dua bersaudara yakni Aini dan Susanti alias Aicin (43), warga Kota Binjai juga ditemukan tewas. Dan korban tewas yang terakhir ditemukan Chiu Hong (25), juga warga Kota Binjai tepatnya di Pajak Taviv.

 

Pengurus Vihara Avalokitesvara, Chandra, kepada METRO mengatakan pihaknya sudah mengevakuasi seluruh korban. Sesudah diotopsi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Djasamen Saragih Pematangsiantar, seluruh jenazah dibawa ke rumah sosial atau Yayasan Bhakti Kesejahteraan Sosial (YBKS) di Jalan Cokroaminoto Pematangsiantar. ”Kita semua turut berduka atas kejadian ini. Mengenai para korban, sepenuhnya menjadi tanggung jawab Vihara Avalokitesvara,” tukas Chandra.

 

Chandra menambahkan, saat kebakaran, penghuni vihara yang berjumlah 30 orang sedang beristirahat. Sebab keesokan harinya, Minggu (11/5) sekira pukul 07.00 WIB, dilaksanakan kebaktian menjelang Hari Tri Suci Waisak. Chandra juga mengatakan, vihara tersebut tidak memiliki pintu darurat untuk menyelamatkan diri jika terjadi musibah seperti kebakaran.

 

Penjaga malam Vihara Avalokitesvara, Hanafi, kepada METRO menerangkan, dini hari itu ia berjaga di depan vihara yang menghadap ke Jalan Pusuk Buhit. Tiba-tiba ia mendengar teriakan minta tolong. Ia pun segera berlari menuju ruang induk vihara, yakni Klenteng Phon In Tha. Dari situ ia melihat api membakar lantai II. Ia juga melihat para bhiksu dan bhiksuni dan pekerja lainnya berhamburan keluar dari vihara.

 

Suara Ketukan

Sekira pukul 05.00 WIB, saat kobaran api sudah mulai berhasil dijinakkan, ribuan warga yang memadati lokasi mendengarkan suara ketukan dari salahsatu ruangan di lantai III.

Ternyata ketukan ke lantai keramik itu dilakukan Ahong (65), warga Kota Binjai yang terperangkap di salahsatu kamar di ruangan tempat tinggal karyawan.

 

Petugas pemadam dan polisi yang juga mendengar suara tersebut, langsung menuju ruangan di lantai III. Namun karena asap masik menyelimuti, petugas kesulitan masuk. Setelah bara api yang tersisa disiram, petugas pun bisa masuk ke lantai III. Di lantai tersebut petugas menemukan Ahong terduduk dan sesak nafas akibat kepulan asap. Segera petuags menyelamatkan Ahong. Dari Ahong, diketahui ada beberapa orang yang tewas di lantai III. Ahong sendiri segera dilarikan ke rumah sakit.

 

Berdasarkan dari Ahong, petugas berusaha melakukan evakuasi terhadap korban tewas. Namun, lagi-lagi karena kepulan asap dan hawa panas, evakuasi ditunda.

 

Evakuasi baru bisa dilakukan sekira pukul 07.30 WIB, yang langsung dilakukan Tim Forensik Polresta Siantar dipimpin Kasatreskrim AKP Bustami didampingi Kapolsek Siantar Selatan AKP Robert Gultom. Mereka menelusuri seluruh ruangan di lantai II dan III, dipandu pengurus vihara.

 

Korban tewas pertama yang ditemukan yakni Bhiksu Yuncen (60). Jasadnya ditemukan tergeletak di dekat meja makan di lantai III. Ruangan tersebut merupakan ruang makan para bhiksu. Korban kedua yang ditemukan di lorong kamar tempat tinggal pegawai yakni Widodo (50) guru agama Buddha. Seluruh tubuhnya menghitam. Selanjutnya petugas menemukan jasad Dian (23) dan Rijal (18) warga Sei Rapuh Kabupaten Simalungun. Keduanya merupakan karyawan di vihara, dan ditemukan di kamar paling sudut di lantai III. Sedangkan tiga wanita yang merupakan warga Binjai yakni Ong Aini alias Sumarniah (42), Ong Aicin (44), dan Chuchu Hong (65), jasad mereka ditemukan berdempeten di kamar nomor dua di lantai III.

 

Sedangkan korban luka-luka, hingga kemarin belum diketahui identitasnya secara jelas. Informasi dihimpun METRO, korban luka dilarikan ke salahsatu rumah sakit di Medan.

 

Sungai Bah Bolon Tak Bisa Dimanfaatkan

Petugas pemadam kebakaran tidak dapat memanfaatkan air Sungai Bah Bolon yang berada tepat di samping vihara untuk memadamkan kobaran api. Pasalnya, selain kedalaman sungai yang tidak memungkinkan, sungai tersebut juga dipenuhi sampah dan lumpur.

 

Hal ini dikatakan Kapolsek Siantar Selatan AKP Robert Gultom SH yang ditemui METRO di lokasi kebakaran, Minggu (11/5), sekira pukul 03.00 WIB. Robert mengatakan, berdasarkan pernyataan petugas pemadam kebakaran kepada kepolisian, mereka tidak bisa mengambil air di sembarangan tempat untuk memadamkan api. Selain kedalaman air sungai tidak memenuhi standar, dikhawatirkan lumpur ikut tersedot. Selain itu, banyaknya sampah di sungai juga menjadi salahsatu faktor yang membuat petugas pemadam kebakaran enggan mengambil air Sungai Bah Bolon.

 

”Mereka bilang kedalaman air sungai tidak pas untuk dilakukan penyedotan. Selain itu, di Sungai Bah Bolon banyak sampah, dan dikhawatirkan lumpur juga banyak. Jika dilakukan penyedotan ke dalam tangki mobil pemadam kebakaran, bisa-bisa lumpur dan sampah ikut tersedot,” terang Robert.

 

Pantauan METRO, Robert sibuk memberikan arahan kepada bawahannya yang berada di lokasi vihara yang terbakar. Robert juga memerintahkan anak buahnya mengatur warga  agar tidak menghalangi mobil pemadam kebakaran masuk ke lokasi.

 

Saat ditanya jumlah kerugian materil atas kebakaran, Robert mengatakan diperkirakan kerugian akibat mencapai Rp15 miliar. Namun Robert belum mengetahui pasti sumber api.

Api melalap seluruh ruangan di lantai II dan II Vihara Avalokitesvara, seperti ruang ibadahm ruang makan, tempat tinggal pegawai, perpustakaan, ruang perabuan, serta pagoda. Untuk memadamkan api, dibutuhkan 80 tangki air. Api yang sulit dipadamkan yakni di perpustakaan dan ruang perabuan.

 

5 Jenazah Disemayamkan di YBKS

Lima jenazah korban kebakaran disemayamkan di Yayasan Bhakti Kesejahteraan Sosial (YBKS) Jalan Cokroaminoto Kelurahan Baru, Pematangsiantar, Minggu (11/5) mulai pukul 15.00 WIB. Kemarin, digelar kebaktian dan doa bersama oleh umat Buddha. Kebaktian dipimpin Bhiksu Prani Dhana Thera (Yan Chen She) dari Vihara Samidha Bagya Jalan Thamrin Siantar, Bhiksu dari Medan, dan Bikhsuni dari Vihara Setia Budi Medan. Kebaktian juga dihadiri para keluarga korban.

 

Usai kebaktian, para keluarga korban menangis di dekat jenazah. Di dekat jenazah Susanti, suami dan dua putranya menangis. Warga Jalan Pal No VI/2 d Km 12 Binjai itu berdoa sembari menyeka wajah sang istri yang telah kaku.

 

Suami Susanti, Sukwi mengaku tidak menyangka atas kejadian tersebut. Sebab istrinya berangkat dari Binjai ke Pematangsiantar rumah bersama rombongan, Sabtu (10/5) khusus untuk beribdah di Vihara Avalokitesvara Pematangsiantar.

 

“Dia (Susanti) memang pamit tidak pulang. Ia tidur di Vihara Avalokitesvara. Atas peristiwa ini, sedih, karena ibu anak-anak tidak ada lagi,” terang Sukwi yang mengaku menerima informasi kejadian itu Minggu (11/5) pagi.

 

Bhiksu Prani Dhana usai kebaktian mengaku prihatin atas peristiwa tersebut. “Kami, para Bhiksu dan Bhiksuni Vihara Samidha Bagya Pematangsiantar dan Medan turut berduka cita sedalam-dalamnya atas meninggalnya umat Buddha akibat terbakarnya Vihara Avalokitesvara Pematangsiantar,” katanya.

 

Sementara Ketua Umum YBKS Pematangsiantar Janis Gojali didampingi Heri Dermawan mengatakan, setelah acara kebaktian, tiga jenazah warga Binjai diberangkatkan ke Binjai. Sementara dua jenazah bhiksu akan disemayamkan selama tiga hari di YBKS, dan selanjutnya dimakamkan di Pemakaman Tambun Nabolon, Pematangsiantar.  

 

Sedangkan jenazah Dian dan Rizal sudah dibawa pulang keluarganya di Serapuh. Keluarganya lah mengurus pemakaman keduanya.

 

Warga Panik, Selamatkan Barang Keluar Rumah

Melihat api sudah menguasai atap gedung Vihara Avalokitesvara, warga sekitar panik. Mereka berlari keluar rumah dan berusaha menyelamatkan barang-barang serta surat-surat berharga.

 

Mereka berlari dan berteriak histeris. Bahkan tak sedikit warga, khususnya kaum ibu menangis dan histeris sambil mengeluarkan barang-barang dari rumah. Tak ayal, di jembatan di Jalan Wahidin menuju Jalan Pematang, barang-barang milik warga berserakan, seperti peralatan elektronik dan lainnya. Dan banyak juga warga yang memilih mengungsi ke rumah famili.

 

Sedangkan kaum pria menyirami tembok dan atap rumah dengan air yang mereka timba dari Sungai Bah Bolon. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi bila api menjalar ke rumah warga.

 

Salahseorang warga, Br Damanik menuturkan, kobaran api dan teriakan minta tolong membuat warga panik. Mereka pun berusaha menyelamatkan benda-benda dari dalam rumah mereka karena khawatir api menjalar hingga ke pemukiman warga.

 

Warga lainnya, Riduansyah Sinaga mengatakan, api memang tidak sampai menjalar ke rumah warga. Namun dinding vihara, yang hanya berjarak sekira satu meter dari pemukiman warga, sudah menghitam. Sepanjang malam, warga berjaga-jaga di sekitar lokasi.

 

“Jika api sampai mengenai satu rumah warga, akan sulit diselamatkan. Selain padat rumah penduduk, rata-rata rumah terbuat dari kayu. Tindakan yang kami lakukan adalah, membawa barang-barang yang bisa kami selamatkan,” ujarnya dengan mata sayu, karena semalaman tidak tidur.

 

Lurah Simalungun, Sariaman Sinaga mengatakan, begitu mendapatkan informasi kebakaran dari warganya sekira pukul 00.30 WIB, ia langsung menuju lokasi dan menghubungi petugas pemadaman kebakaran.

 

Sementara itu hingga hari terang, warga masih memadati lokasi kejadian. Setelah api padam, mereka kembali ke rumah masing-masing dan memasukkan barang-barang serta perabot rumah yang sempat dikeluarkan.

 

Sejumlah warga mengaku, kejadian tersebut mengingatkan mereka pada musibah kebakaran tahun 1982. Saat itu, di pemukiman tersebut terjadi kebakaran meskipun tidak sampai menelan korban jiwa. Namun harta benda mereka tidak terselamatkan.

 

Korban Tewas Disebut Pahlawan        

Tujuh korban tewas dalam musibah kebakaran Vihara Avalokitesvara, Minggu (11/5) dini hari, bisa dinobatkan sebagai pahlawan. Sebab mereka mengalami musibah dan menginggal di dalam gedung Tuhan.

 

Demikian dikatakan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Buddha Departemen Agama (Depag) RI, Budi Setiawan saat meninjau lokasi kebakaran Vihara Avalokitesvara di Jalan Sipiso-piso Kelurahan Pematang Kecamatan Siantar Selatan, kemarin sore. Saat meninjau, Budi didampingi Kapolresta Siantar AKBP Drs Andreas Kusmaedi MM, Kakan Depag Siantar Drs H Hanafiah Amin, Kepala Tata Usaha (KTU) Depag Siantar Suaheni Rangkuti, Kapolsek Siantar Selatan AKP Robert Gultom, Asisten III Pemko Siantar Lintong Siagian, Camat Siantar Selatan R Ulina Br Girsang, dan Lurah Pamatang Simalungun J Sinaga.

 

Rombongan disambut para pandita dan tokoh Tionghoa Siantar, seperti Ketua Umum Yayasan Bhakti Kesejahteraan Sosial (YBKS) Janis Gojali, Hery Dermawan, dan lainnya.   

 

Dalam kesempatan itu Budi Setiawan mengatakan, kedatangannya ke Vihara Avalokitesvara sebagai bentuk keprihatinan atas musibah kebakaran gedung tersebut, hingga menelan korban jiwa. Informasi terbakarnya tempat ibadah itu ia terima dari pimpinan Vihara Avalokitesvara, Minggu (11/5) sekira pukul 06.00 WIB.

 

Mendengar kabar tersebut, ia terkejut dan prihatin, sehingga segera memutuskan mengunjungi Vihara Avalokitesvara. “Semua ini cobaan dari Tuhan yang tidak bisa dielakkan. Semoga korban jiwa diterima di sisi Tuhan dan keluarga yang ditinggalkan tetap tabah,” katanya.

 

Sementara itu, Kepala Kantor Departemen Agama (Kakan Depag) Kota Pematangsiantar Drs H Hanafiah Amin didampingi Guru Agama Buddha di Depag Siantar Indianto mengatakan, keluarga besar Depag Pematangsiantar turut berduka cita atas musibah ini. (mag-01/dro/syaf/nik)

Satu tanggapan untuk “Vihara Avalokitesvara Terbakar, 7 Tewas

  1. Turut berdukacita yang sedalam-dalamnya, semoga jasa dan kebajikan 7 korban kebakaran Vihara Avalokitesvara diterima disisi Tuhan dan keluarga yang ditinggalkan tetap tabah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s