Pagelaran Lomba Fashion Show HUT V METRO SIANTAR (3/Habis)

Juri: Ada yang Cantik tapi Tak Senyum, ya Nilainya Kurang 

Ada peserta yang menurut penonton cantik, eh hanya masuk 15 besar tapi gagal masuk 6 besar. Ada yang tak dijagokan penonton, justru masuk 6 besar. Bagaimana ketiga juri Lomba Fashion Show HUT V METRO SIANTAR, yakni Mindo Beauty Indriani Napitupulu (Ketua), Ika Pitarawesti Harahap, dan Drs Gunawan Purba memberi nilai?

Dame Ambarita, Siantar

 

Nama-nama para juara sudah diumumkan langsung pada malam final, Sabtu (5/4) malam. Yang kalah sedikit banyak pasti kecewa. Hanya saja yang namanya lomba, memang harus ada yang menang ada yang kalah. _________________________________________________________________________________Nah, mungkin ada yang bertanya-tanya, apa saja pertimbangan juri dalam memilih juara Lomba Fashion Show, malam Minggu kemarin!  

 

Ketua Tim Juri, Mindo Beauty Indriani Napitupulu, saat diwawancarai METRO, Selasa (8/4), mengatakan, saat memilih para juara, Tim Juri sempat merasa pusing dan bingung. Pasalnya, semua peserta cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Hampir semua peserta tampil modis.

 

”Namun ada satu faktor yang sangat membantu juri memutuskan juara. Yakni adanya kesamaan-kesamaan penilaian di antara kami bertiga. Peserta yang mendapat nilai tinggi dari saya, ternyata juga mendapat nilai yang tinggi dari dua juri lainnya, yakni Bu Ika dan Pak Gunawan. Tinggal lagi sebagai ketua juri, saya harus mencari celahnya, agar juri tidak salah pilih,” katanya.

 

Mindo yang pada malam final tampil anggun mengenakan kebaya hijau pupus menegaskan, juri ternyata membutuhkan waktu lebih dari satu jam memutuskan juara, karena takut salah memilih. Katanya, juri bahkan sempat berpikir untuk menyuruh peserta sekali lagi berdiri di atas red carpet, untuk dinilai terakhir kali. “Apalagi, Ibu Plt Wali Kota, Ibu Imal Raya Harahap, sempat mengatakan, pihaknya dan seluruh penonton juga ikut melakukan penjurian. Kami para juri tentu saja jadi jantungan. Kami tak ingin nama kami jelek sebagai juri. Kami kan juga ingin nama dan bendera kami berkibar sebagai juri,” tegasnya.

 

Ditanya apa keunggulan Juara I Kategori Putri, Mindo menjelaskan, Kartika Suci L Parhusip memiliki tinggi yang cukup untuk seorang model, gayanya luwes di atas catwalk, busananya oke, dan semua kriteria penilaian yang diberikan panitia, dia miliki. Untuk juara II, Wulansari, nilainya hanya beda tipis dengan Juara I. Hanya ada satu kekurangannya, senyumnya kurang dibanding Kartika. ”Soal asesoris dan gaya di atas catwalk, Juara II itu cukup menonjol,” katanya. Sementara Juara III Ruth Teresia Aritonang, dinilai sudah oke, hanya kurang di asesoris.

 

Kembali ditanya, mengapa juri tidak memenangkan beberapa peserta yang diam-diam dijagokan beberapa penonton, contohnya dua peserta bergaun warna merah, Mindo menjelaskan, nilai dari dua juri untuk kedua peserta itu tidak terlalu tinggi. ”Hanya satu juri yang menjagokannya. Dan itulah gunanya mengapa juri harus tiga orang, agar bisa memutuskan,” katanya.

 

Tanpa menyebut nama, Mindo menjelaskan, beberapa kelemahan peserta antara lain ada di mimik. Jadi meski sudah luwes berjalan di atas red carpet dan busananya oke, tetapi kalau mimiknya kejam dan tanpa senyum, akan mengurangi total nilai.

 

Ke depan, kata dia, para calon peserta lomba fashion show diimbau berjuang mendapatkan simpati juri. ”Senyuman dapat mempengaruhi hati juri. Memang umumnya para peserta sudah lumayan bagus di gaya dan busana, hanya kurang di mimik saja. Mungkin masih grogi,” katanya.

 

Untuk kategori Ibu-ibu, postur badan menjadi salahsatu pertimbangan memilih juara, di samping keserasian berbusana, asesoris, dan keluwesan berjalan di atas catwalk. ”Sempat ada peserta yang bertanya ke juri, ’Apa kekurangan saya Bu?” usai lomba. Saya jawab, kamu tidak ada kekurangan. Hanya saja, ada yang lebih baik dari kamu. Dan juri harus memilih,” cetusnya.

 

Senada dengan Mindo, anggota Tim Juri, Ika Pitarawesti Harahap, saat ditemui di ruang kerjanya di Siantar Hotel, kemarin menjelaskan, busana, gaya di atas catwalk, dan asesoris, benar-benar dinilai juri. ”Ada yang memang cantik, tapi tak ada senyum. Ya jelas nilainya kurang,” katanya, senada dengan Mindo.

 

Untuk Juara I Putri, Kartika Suci L Parhusip, menurut Ika, mendapat nilai paling tinggi dari ketiga juri. “Nilai dari saya, Bu Mindo, dan Pak Gunawan, memang paling tinggi untuk dia. Baik dilihat dari keserasian busana pesta malam yang dikenakannya, gayanya di atas catwalk, dan penggunaan asesoris. Bahu tegak, dan punggung tidak membungkuk. Dan yang pasti, dia tampil luwes dan senyum saat berjalan di atas catwalk. Kan tak lucu, saat memeragakan busana pesta, wajah tegang dan serius tanpa senyum,” kata Ika sambil mempraktekkan gaya peserta yang jalan dengan memasang wajah serius.

 

Juara II Putri, Wulansari, busananya juga dinilai tepat dengan tema, yakni busana pesta malam. Selain itu, gaya berjalannya di atas catwalk dinilai luwes dan asesorisnya cocok. Juara III, Ruth  Teresia Aritonang, juga dinilai berbusana yang tepat dengan tema, cukup tersenyum di atas catwalk, hanya saja masih kalah luwes dibanding juara I saat jalan di atas catwalk.

 

Sementara juara harapan I Agustin Windasari, meski busananya tidak tergolong glamour dan malah cenderung simple, tetapi secara keseluruhan dianggap serasi dengan dandanannya. Selain itu, gaya berjalannya di atas catwalk cukup luwes. Juara Harapan II Dewi Syafriana Sinaga dan Harapan III Bedseba Angellina Sinaga, busananya juga dianggap serasi dengan dandanannya, didukung cara berjalan dan gaya di atas catwalk, serta asesoris pendukung yang cocok.

 

“Dan mungkin perlu saya sampaikan, meski ketiga juri tak saling contek saat memberi penilaian, ternyata nilai-nilai yang kami berikan untuk tiap peserta, tidak terlalu jauh berbeda,” katanya.

 

Penilaian untuk peserta Kategori Remaja Putra dan Ibu-ibu juga prinsipnya sama. Misalnya, ada Juara Harapan I Putra, turun nilainya karena memeragakan busana di atas catwalk sambil makan permen. “Itu sudah pasti mengurangi nilainya, meski sebenarnya gayanya cukup bagus,” jelasnya.

 

Untuk peserta putri, ada yang mengenakan sandal. Ada yang tali branya kelihatan. Ada yang lapisan penutup dada di gaun yang bahunya terbuka, garis-garisnya terlihat jelas sehingga mengurangi keindahan. Ada yang gayanya terlalu heboh. Ada yang terlalu membungkuk. Ada yang terlalu banyak menunduk. Ada yang terlalu bergoyang. Ada yang pilihan busananya dianggap tak terlalu tepat dengan tema. Dan macam-macam bahan penilaian lainnya. Untuk Ibu-ibu, ada yang posturnya tidak terlalu tinggi, ada yang asesorisnya dianggap tak serasi, dan lain-lain. Semua itu mengurangi total nilai untuk si peserta.

 

Ika menegaskan, Tim Juri sudah berusaha seobjektif mungkin dalam menilai peserta. “Kami berdiskusi lebih satu jam untuk memilih pemenang. Kami kan tak ingin diprotes oleh peserta dan penonton. Tau tidak… sorak dan teriakan penonton yang mendukung peserta tertentu, cukup membuat Tim Juri terbeban. Kami tak ingin disoraki penonton kalau juara yang kami pilih tak tepat. Pokoknya, kerja keraslah, Dek,” katanya.

 

Sebelumnya, anggota Tim Juri, Drs Gunawan Purba, saat pengumuman para juara telah mengakui, dewan juri sempat kesulitan menentukan siapa calon pemenang, karena kemampuan peserta rata-rata bagus.  “Mereka rata-rata sudah berpengalaman, dan sebagian di antaranya adalah peserta yang tidak asing lagi di dalam setiap event-event lomba fashion di Siantar. Kami dewan juri sebenarnya sulit untuk menentukan juara. Tapi berkat kerja keras kami putuskan pemenangnya,” ujarnya. (Habis)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s