Ompu Mula Jadi Nabolon, Lean Jo Di Au Dekke…. Gelleng Pe Ta Ho!

“Ompu Mula Jadi Nabolon, lean jo diau dekke. Gelleng pe taho… (Ya Tuhan Maha Besar, Awal Segala Sesuatu, berikanlah dulu aku ikan, kecil pun jadilah…, red),” doa si Burgus di dekat air terjun, meminta agar jalanya yang selama ini selalu sial, berhasil menangkap ikan di sebuah ’kolam’ penampungan air terjun, yang dibangun di panggung Opera Danau Toba (ODT), Sabtu (12/4).

 

ODT yang digelar di Aula FKIP Nommensen, digelar dalam rangka HUT V Harian METRO SIANTAR, 10 April 2003-10 April 2008, dengan tim artistik dari PLOt (Pusat Latihan Opera Batak).

 

Dialog kocak si Burgus itu kontan memicu ngakak para penonton yang menghadiri ODT, kemarin. Meski ruang aula tak penuh, diprediksi karena sejam sebelumnya cuaca mendung diiringi hujan mengguyur Kota Pematangsiantar, namun kekeh para penonton kerap terdengar saat ada dialog-dialog kocak para pemain opera. Sial bagi si Burgus, jalanya tak jua berhasil menangkap ikan barang seekor pun. Kesal, si Burgus pun menjatuhkan jalanya ke lantai panggung dengan suara berdebam. Penonton kembali ngakak.

 

Penggalan dialog si Burgus memanggil namborunya, juga nyaris menjadi semacam ikon selama pentas. “Namboru…. Namboruuu… Di dia ho (Bibi… Bibi… kau di mana)?” seru Burgus pemalas, setiap kali pulang dan pergi menjala ikan, baru bangun tidur, dan setiap kali dia memerlukan sesuatu dari namborunya. Panggilan yang menjadi ciri khas si Burgus ini tak ayal membuat Namborunya sesekali kesal, karena si Burgus taunya hanya tidur, menjala ikan, makan, tidur lagi, dan selalu memanggil-manggil Namborunya. ”Eeee Amang, bagiankon (oalah nasib… nasib).

 

”Capeeee deh…!” seru seorang penonton dari kursi belakang, setelah si Burgus tak bosan-bosannya bikin repot namborunya.

 

ODT yang digelar kemarin, diawali dengan tampilan lima penari yang menggambarkan lima puak Batak di Sumut (Toba, Simalungun, Mandailing, Karo, Pakpak). Tarian langsung diiringi musik kecapi, seruling, dan taganing, alat musik yang biasa digunakan orang Batak.

 

Seperti diberitakan sebelumnya, para pemain merupakan seniman-seniman Batak yang biasa berkecimpung di dunia opera. Bahkan, dua maestro Opera Batak, yakni Alister Nainggolan atau lebih dikenal dengan panggilan ”Fort de Kock” sebagai si Pande, dan Zulkaidah Harahap, mantan Ratu Opera Sitilhang sebagai Namboru.

 

Pemain lainnya yakni Erlina Silaban dan Ardis Silaban, sebagai hombar jabu (tetangga). Ojak Manalu sebagai si Burgus (pemeran utama). Kemudian Lamtiar Nainggolan sebagai si Boru Saniang Naga, Putri Sanghyang Naga. Poltak Sitanggang sebagai si Burgus kecil. Hendra Togu sebagai anak si Burgus (yang diserapah). Kemudian penari lima puak masing-masing Juli Nainggolan, Erliani Silaban, Imelda Manurung, Ida Boru Napitupulu, dan Emma br Ginting. Pemusik, yakni Harianny Nainggolan di taganing (gendang), Alister Nainggolan di suling, Zulkaidah br Harahap di Sarune Etek (serunai kecil), Adris di Kecapi, Erliana di Tekkel, dan Hendra Togu di garantung. Thompson Hs bertindak sebagai penulis dan sutradara.

 

Selain dialog yang mengundang tawa, sejumlah nasehat juga terekam dalam dialog-dialog pemainnya. ”Kalau mau melakukan sesuatu, bulatkan niat, jangan setengah-setengah,” nasihat Namboru kepada si Burgus, yang plin-plan apakah mau pergi berjala atau tidak.

 

ODT yang digelar kemarin juga sarat dengan nilai-nilai kehidupan. Tentang kerasnya hidup yang dialami si Namboru dalam menghidupi dirinya dan si Burgus. Tentang perjuangan seorang wanita Batak yang rela bekerja keras demi keluarga. Tentang kehidupan bertetangga yang saling menghibur dalam kesedihan, dan kehidupan orang Batak yang sarat dengan nilai-nilai adat. Antara lain ditunjukkan dalam pesta pernikahan si Burgus dan Boru Sanghyang Naga, yang dimeriahkan dengan acara tortor Batak dan pemberian umpasa-umpasa.

 

Kesedihan dan kegembiraan orang Batak yang ditunjukkan dengan musik dan lagu. Zulkaidah Harahap, si Namboru misalnya, lagunya berjudul: Tio Pe Mual Ndang Tarinom Au, membuat mata beberapa penonton, khususnya wanita, berkaca-kaca. Apalagi, suara si Namboru sarat dengan getaran kesedihan. ”Kalau benar-benar diresapi,  memang benar-benar sedih,” kata seorang penonton ibu-ibu, sambil mencari-cari sapu tangan dari tasnya.

 

Secara umum, pagelaran ODT berlangsung cukup sukses, meski jumlah penonton tak memenuhi ruang aula, dan sound system sesekali mendengung. Apalagi, ODT digabungkan dengan media film, untuk menggambarkan adegan yang tak bisa dilakukan manual di panggung. Misalnya, untuk adegan air terjun, diwakili media film dengan suaranya yang berdesau. Sementara adegan si Burgus bekerja keras di ladang, sambil menunggu anak semata wayangnya mengantar bekal ke sawah, ditunjukkan dalam film, dengan si Burgus benar-benar bekerja di sawah, sibuk menarik rumput-rumput.

 

”Seluruh pertunjukan hari ini menjadi bahan evaluasi untuk pertunjukan besok (hari ini, red),” kata Thompson Hs, penulis dan sutradara ODT.  (dame)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s