Jelang Pementasan Opera Danau Toba Memeriahkan HUT V Metro Siantar (1)

Dua Maestro Opera Batak Ikut Mentas, Perankan Nai Mberu & si Pande

 

Rindu menonton Opera Batak? Saksikan yang satu ini. Sebanyak 16 seniman Batak akan memainkan Opera Danau Toba, pada Sabtu (12/4) sore dan Minggu (13/4)  siang dan sore, di Aula FKIP Nommensen, Pematangsiantar. Dua di antaranya maestro Opera Batak. Pementasan ini dalam rangka memeriahkan HUT ke-5 Harian Metro Siantar, tanggal 10 April 2008. Beberapa hari lalu, Opera Danau Toba sukses dipentaskan di Batam.

 

Dame Ambarita, Siantar

 

Opera Batak adalah jenis kesenian teater rakyat itu sempat merajai dunia hiburan di Sumatera Utara. Hingga dekade 1980-an, opera Batak merupakan tontonan menarik meski diadakan di lapangan terbuka dengan  resiko misbar (gerimis bubar).

Opera Batak menyajikan cerita sandiwara yang diselingi lagu-lagu, tari-tarian dan lawak. Musik pengiringnya uning-uningan atau seperangkat alat musik tradisional Batak yang terdiri dari serunai, kecapi, seruling, garantung, odap, dan hesek. 

Dulu, ciri khas Opera Batak ini hampir selalu dimulai dengan lagu: Selamat Datang kami ucapkan pada Ibu dan Bapak… Dan di akhir pementasan, hampir selalu pula, seluruh pemain berbaris di panggung, sambil menyanyikan: Gelang Sepatu Gelang… Gelang Siramai-ramai… Mari pulang… marilah pulang… marilah pulang bersama-sama. Kenangan yang manis.

Tak ada catatan persis bagaimana kehadiran jenis opera yang lebih mirip teater keliling ini di tanah Batak. Namun yang pasti, nama Tilhang Oberlin Gultom selalu dikaitkan sebagai pemicu “kelahiran”-nya pada 1920-an ketika ia menggelar tontonan ini di pedalaman Tapanuli Utara. Adapun istilah opera Batak itu sendiri dilekatkan Diego van Biggelar, misionaris Belanda yang datang ke Pulau Samosir pada 1930-an.
Pada  masa jayanya, group opera jumlahnya mencapai 30-an. Di antaranya: Serindo, Serada, Rompemas, Seribudi, Roos, Ropeda, Serbungas, Roserda, Sermindo dan lain-lain.

Sempat mati suri selama lebih dua dekade, seniman muda Sumatera Utara (Sumut) yang peduli budaya Batak, Thompson Hs, kembali berupaya merevitalisasi Opera Batak. Nah, Sabtu sore besok dan Minggu siang dan sore lusa, Opera Batak akan kembali dipentaskan di Kota Siantar. Pementasan ini disponsori Harian METRO SIANTAR, dalam memeriahkan HUT-nya yang ke-5.

Tim Artistik dalam Pagelaran Opera Danau Toba ini adalah PLOt (Pusat Latihan Opera Batak). “Setelah sukses melakukan pertunjukan Opera Danau Toba di Batam, kami siap tampil di Siantar,” kata Thompson Hs, sang penulis dan sutradara ODT kepada METRO. 

Opera Danau Toba diawali dengan menceritakan situasi sekitar Danau Toba secara audio visual dan menampilkan asal-usulnya berdasarkan cerita rakyat. Audio visual menghantar pertunjukan dengan alur mundur sebelum penampilan cerita rakyat muncul dengan gaya Opera Batak.

Asal-usul Danau Toba menurut cerita rakyat bermula dari cerita seorang anak yatim piatu bernama Burgus. Pekerjaan Burgus adalah penangkap ikan. Suatu ketika dia mendapat seekor ikan yang dapat berbicara dan konon diutus Mulajadi Nabolon, Tuhan Pencipta langit dan bumi. Ikan itu menyampaikan kepada Burgus agar tidak usah menjualnya. Namun setelah tujuh hari dapat dijumpai di dangau.

Rupanya ikan itu menjelma seorang perempuan yang kemudian menjadi istrinya. Mereka sepakat menjadi suami-istri dengan sumpah agar Burgus jangan sekali-kali mengucapkan keturunan mereka sebagai anak ikan. Namun setelah sekian tahun mereka punya seorang anak sumpah itu dilanggar oleh Burgus, karena nasi yang seharusnya untuk dia, disantap berkali-kali oleh anaknya. Rasa lapar memang dapat menimbulkan amarah. ”Dasar anak ikan kau!!!” amarah Burgus menggelegar kepada anaknya.

Dibentak dan disebut sebagai anak ikan, anaknya menangius dan segera berlari pulang ke rumah untuk memberitahu si ibu. Si ibu pun sadar kalau Burgus telah melanggar sumpah. Disuruhnya sang anak agar menuju tempat yang lebih tinggi, sebelum permohonannya meminta bencana untuk menimpa tempat dia berpijak dan kampung itu. Hujan, gemuruh, guncangan bumi, dan lahar menjadi pertanda bencana itu. Burgus pun tenggelam dan berakhir oleh bencana itu.

Semuanya itu digambarkan kembali dengan audio visual sampai situasi Danau Toba akhir-akhir ini. Teks dan garapan ini ditulis dan disutradarai Thompson Hs.

 

Hadirkan Dua Maestro

Dalam pagelaran opera ini, PLOt akan membawa dua maestro Opera Batak, yakni Alister Nainggolan sebagai si Pande dan Zulkaidah Harahap sebagai Nai Mberu, ikut dalam pementasan. Selain kedua seniman itu, juga ikut berakting yakni Ojak Manalu, Togu H Nainggolan, Lamtiar Nainggolan, Ardis Silaban, Poltak Sitanggang,  Erliani Silaban, Boru Nainggolan, Imelda Manurung, Dina, Boru Napitupulu, dan lainnya. Thompson Hs bertindak sebagai penulis dan sutradara.

Bagi pecinta Opera Batak dulunya, pastilah mengenal nama Alister Nainggolan. Di kalangan seniman tradisi di Sumatera Utara ia lebih dikenal dengan panggilan ”Fort de Kock” ketimbang nama aslinya. Alister menguasai hampir semua jenis alat musik yang biasa digunakan dalam Opera Batak. Ia tak cuma terampil memainkan sarune etek (serunai kecil) dan sarune bolon (serunai besar). Alister juga piawai meniup sulim (seruling) dan memetik hasapi (kecapi dua tali), dan pandai memainkan garantung (gamelan kayu) dan taganing (seperangkat gendang yang terdiri atas dua pasang gendang besar dan satu kecil). Tak usah ditanya bagaimana memainkan alat musik pelengkap yang disebut tokkel, yakni botol yang dipukul-pukul untuk memberi warna pada ”orkestra” simfoni Opera Batak.

Meski usia terus menggerogoti (saat ini ia telah berusia 65 tahun), ia begitu bersemangat saat diajak bicara tentang Opera Batak. Terlebih bila sudah memegang alat musik tradisi tersebut, wajahnya seperti bercahaya dan semangat hidupnya bagai menyala. “Memainkan alat musik ini harus benar-benar dijiwai, bukan sekadar sulim dan sarune ditiup, hasapi dipetik, atau garantung dan taganing dibunyikan,” ujarnya.

Dalam Opera Danau Toba besok, dia akan berperan sebagai Pande, yang ahli main seruling, dan menyampaikan prolog dengan gaya meratap atau andung. Isi prolog dimulai dari asal-usul manusia secara mitologi sampai situasi getir dari kelompok manusia di kampung yang didiami.

Sebelum pertunjukan dimulai, tari Lima Serangkai akan diperkenalkan untuk menggambarkan kekayaan lima puak (Toba, Simalungun, Mandailing, Karo, Pakpak) dengan lima orang penarinya (Imelda Manurung, Erliani Silaban, Dina, Boru Napitupulu, dan Lamtiar Nainggolan).

 

Sang Maskot Opera

Sementara Zulkaidah br Harahap, adalah mantan maskot opera pimpinan Tilhang Gultom (1960-1973) dan Opera Serindo (1973-1985). Dalam Opera Danau Toba besok, ia akan berperan sebagai  seorang ibu tua bernama Nai Mberu.

Wanita yang sudah berusia lebih setengah abad ini, menggambarkan perjalanan kehidupannya sebagai seniman tradisi Batak dengan ucapan: Ngeri-ngeri sedap! (dikutip dari Kompas, Selasa 18 Desember 2007).

Bertahun-tahun lalu, berkat talentanya bermain sulim dan vokalnya yang bening, Zulkaidah tak ubahnya bagai “ratu” yang selalu ditunggu kemunculannya di atas panggung opera Batak. Apalagi sejak suara beningnya mulai di-“rekam” dengan tape recorder saat ia diundang ke rumah orang-orang kaya, Zulkaidah mengaku serasa bagai hidup di atas awan. Katanya, “Seperti melayang-layang. Ke mana-mana dijemput naik sedan.”

Sepeninggal (alm) Tilhang Gultom, atas persetujuan keluarga Tilhang Gultom, perempuan kelahiran Desa Bunga Bondar, Sipirok, Tapanuli Selatan, ini memutuskan melanjutkan usaha pertunjukan opera Batak bernama Seni Ragam Indonesia alias Serindo tersebut.
Untuk menghidupi sekitar 70 anggota, ia jual sebagian besar harta yang sempat dikumpulkannya selama menjadi maskot opera Batak semasa Tilhang Gultom. Sawah, tanah, serta perhiasan emas yang melingkari leher, lengan, dan pergelangan kakinya pun dilego.
Serindo kembali menggelar pertunjukan keliling dari desa ke desa. Akan tetapi, ternyata “dunia luar” sudah berubah. Penontonnya sebagian besar sudah pergi ke pertunjukan dangdut dan televisi, sementara pajak tontonan dan “pajak” tak resmi dari oknum aparat membuat keuangan Serindo kelimpungan.
Modal hidup terus terkuras, sampai akhirnya Zulkaidah menyerah. Tahun 1985 grup opera Batak Serindo ia kembalikan ke pemiliknya, keluarga (alm) Tilham Gultom. Sekitar 45 anggota yang masih tersisa akhirnya ia bubarkan.  “Jadi seniman tradisional seperti kami ini, ya, ngeri-ngeri sedaplah. Bagaimana tak sedap, waktu di Jepang dan Amerika, semua orang hormat. Tidur di hotel mewah, makan tak kurang. Awak merasa kayak presiden saja, padahal cuma penjual kacang goreng,” ujarnya.
“Tapi begitu pulang ke rumah, habis dari hotel mewah tidur di tikar. Air kadang tak ada, makan sehari-hari pun terancam. Belum lagi awak di-cemeh orang kampung. Ha-ha-ha…. Kadang-kadang awak berpikir, macam mana pula ini. Tapi sudahlah, darah kita kan sudah di kesenian….” (bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s