Hari Ini Pementasan Opera Danau Toba Memeriahkan HUT V Metro Siantar (2)

Danau Toba dalam Film, dan Legenda Seorang Ayah Menyerapah si Buah Hati

 

Sukses mentas di Batam, Opera Danau Toba (ODT), hari ini sampai besok bakal digelar di Kota Siantar, di Aula FKIP Nommesen. ODT akan dimulai dengan pemutaran film tentang keindahan Danau Toba, pertunjukan tari Lima Serangkai sebagai tanda kekayaan lima puak (Toba, Simalungun, Mandailing, Karo, Pakpak). Dan cerita opera yang mengisahkan legenda terjadinya Danau Toba, kisah seorang ayah menyerapah si buah hati.

 

Dame Ambarita, Siantar

 

Jumat (11/4) kemarin, para pemain opera berdatangan dari berbagai penjuru, mulai dari Medan, Siantar, Tiga Dolok, dan lain-lain, ke Sekretariat Pusat Latihan Opera Batak (PLOt)  di Jalan Lingga Pematangsiantar. METRO yang berkunjung ke PLOt pada sore hari sekira pukul 18.00 WIB, mendapati para pemain opera tengah duduk lesehan di atas tikar. Suasananya santai. Teh manis dihidangkan. Asap rokok mengebul. Dua seruling (suling) dan dua kecapi (hasapi), tergeletak di antara mereka. Taganing (gendang) dan garantung serta kostum-kostum belum lagi diturunkan dari atas mobil yang mereka sewa.

Para pemain memperkenalkan diri. Alister Nainggolan, sang maestro opera, tampak santai berkaus singlet dan topi bulat. Dalam ODT, dia berperan sebagai si Pande, yang bisa melihat ke masa depan, pintar main suling dan kecapi. “Sebut saja saya Fort de Kock,” katanya sambil terkekeh.

Zulkaidah br Harahap, juga mantan maskot opera Serindo pimpinan Tilhang Gultom, tampak gaya dengan anting-anting menggantung di telinganya. Zulkaidah akan berperan sebagai Nai Mberu. Kemudian Erlina Silaban dan Ardis Silaban sebagai hombar jabu (tetangga). Ojak Manalu sebagai si Burgus (pemeran utama), yakni si ayah yang menyerapah hingga alam pun mengamuk. Kemudian Lamtiar Nainggolan sebagai si Boru Saniang Naga, Putri Sanghyang Naga. Poltak Sitanggang sebagai si Burgus kecil. Hendra Togu sebagai anak si Burgus (yang diserapah). Kemudian penari lima puak masing-masing Juli Nainggolan, Erliani Silaban, Imelda Manurung, Ida Boru Napitupulu, dan Emma br Ginting.

Pemusik, yakni Harianny Nainggolan di taganing (gendang), Alister Nainggolan di suling, Zulkaidah br Harahap di Sarune Etek (serunai kecil), Adris di Kecapi, Erliana di Tekkel, dan Hendra Togu di garantung. Thompson Hs bertindak sebagai penulis dan sutradara.

Usai memperkenalkan diri, para pemain bercanda dengan riang gembira. Tak lama kemudian, Alister dan seorang pemusik, atas pemintaan METRO, memainkan musik suling dan kecapi. Musik andung-andung dengan lagu ratapan dari bibir Zulkaidah mengalir di ruang PLOt. Nuansa kesedihan memenuhi ruang.

“Kenapa musik Batak dominan bernuansa sedih?” tanya METRO.

“Ya memang begitulah tradisinya. Dibawa ke Amerika pun, nuansa sedihnya akan tetap terasa. Tapi itu untuk musik andung-andung. Kalau mau musik gembira, juga bisa,” jawab Alister.

Untuk membuktikan ucapannya, para pemain opera pun memainkan musik gembira dengan kecapi dan suling. Efeknya memang langsung terasa. Tubuh serasa ingin bergerak melakukan gerak tortor Batak. Tapi karena segan, hanya tangan sajalah yang bergerak manortor (menari).  “Kalau dipadu dengan garantung dan serunai, lebih seru lagi,” kata Alister sambil memainkan tangannya seakan memainkan garantung. Sayang, pemain tak bisa mempertunjukkan kemahiran mereka bermain garantung, karena peralatan masih belum diturunkan dari mobil. Maklum, ruangan di PLOt tak terlalu besar untuk menampung.

Beberapa lagu baik sedih maupun gembira, terus dimainkan para pemusik. METRO bertepuk tangan.

“Gimana suaraku, masih bisa kan?” tanya Zulkaidah pada METRO.

“Mantap… masih boleh kok,” jawab METRO sambil senyum-senyum.

Sang sutradara, Thompson HS, menggambarkan sedikit cuplikan dari ODT yang akan dipentaskan hari ini dan besok. Pertama, film akan diputar yang memperlihatkan Danau Toba terkini dalam gambar. Kurang lebih 15 menit tergambar perihal Danau Toba, lingkungan budaya di sekitarnya, dan interaksi potensi-potensi lainnya.

 

Legenda Terjadinya Danau Toba

Usai potongan gambar terakhir yang memperlihatkan sebuah kampung kecil yang sepi, suara seruling dari seorang pandai yang muncul dan duduk di tengah-tengah panggung mengiringi tampilan visual terakhir. Si Pandai menyampaikan prolog dengan gaya meratap atau andung. Isi prolog dimulai dari asal-usul manusia secara mitologi sampai situasi getir dari kelompok manusia di kampung yang didiami.

Setelah prolog itu selesai, muncul seorang ibu tua bernama Nai Mberu. Dia membawa seorang anak kecil yang baru ditinggal mati ayah dan ibu. Anak kecil itu adalah keponakannya sendiri. Dia meminta petunjuk untuk masa depan si anak. Dengan bantuan serulingnya Si Pandai menunjuk arah masa depan si anak.

Nai Mberu berfirasat buruk atas ramalan si Pandai itu. Sempat dia menanya ulang maksud ramalan. Namun Si Pandai tetap tidak memberikan penjelasan ulang. Lalu Nai Mberu menuangkan kesedihannya dengan sebuah lagu yang berjudul Tiope Mual (Meskipun Air Jernih). Lagu ini diiringi dengan orkestra Opera Batak.

Selama Nai Mberu mengungkap kesedihannnya dalam lagu, anak kecil yang ditinggal mati ayah dan ibu melintasi panggung beberapa kali. Kelihatan dia sedang mencari-cari induknya tanpa baju dan celana. Wajah dan tubuhnya penuh corengan dan berbalut kemerahan. Waktu ketemu dengan Nai Mberu dia lalu memanggil-manggil ayah dan ibunya. Nai Mberu hanya mampu membuat dia tenang untuk sementara karena pertanyaan-pertanyaan selalu menyusul. Setelah anak itu tertidur dan bosan dengan pertanyaannya, Nai Mberu kembali menyanyikan sebuah lagu yang berjudul O, Ucok (Duhai, Anak Kecilku). Beberapa adegan lain terus susul-menyusul.

Singkat cerita, si Ucok mulai dewasa dan belajar mandiri. Namanya si Burgus. Pekerjaannya menangkap dan menjual ikan. Tapi sayang, nasibnya tak begitu mujur. Ia jarang mendapat ikan yang banyak. Di sela cerita, akan tampil  tarian cawan untuk melihat situasi musim, atas saran si Pande untuk menghilangkan kesialan si Burgus.

Tapi si Burgus tetap saja tak mujur hingga ia pun meratap (ngandung). Iringan seruling Si Pandai mengikuti ratapan Burgus.

Suatu kali, jala si Burgus sedikit tersangkut. Dia susah menariknya. Namun dari arah jalanya kedengaran suara meminta agar ditarik terus. Benar-benar dia gembira sampai-sampai dia berteriak: “Aku dapat satu ikan besar untuk kujual!”

Tanpa diduga ikan dalam jala itu mengucapkan keberatannya untuk dijual. Lalu Burgus sangat terkejut. Sang Ikan minta ditempatkan saja dulu di dangau selama tujuh hari tujuh malam. Dengan perasaan yang sulit diceritakan, Burgus tak dapat menolak permintaan itu. Setelah sang Ikan ditempatkan di dangau.

Pada hari ketujuh, Burgus dikejutkan karena menemukan seorang perempuan di dangaunya. Perempuan itu mengurai-urai rambutnya dan bernyanyi kecil. Dengan hati-hati Burgus mendekat. Perempuan itu langsung mengatakan dirinya jelmaan ikan yang ditangkap Burgus dan siap menjadi istri. Namun Burgus tidak boleh sekali-kali menyebut dirinya sebagai anak ikan kepada siapapun, termasuk kepada anak mereka kelak.

Singkat cerita, Burgus dan sang Putri sah menjadi suami isteri. Pada hari-hari dan bulan-bulan berikutnya sang Putri melahirkan seorang anak dan Burgus lebih giat bekerja di sawah.

Namun si kecil yang mulai bertumbuh cukup dimanja. Si Kecil sering melawan kalau diajari. Selang di luar belajar musik, si Kecil disuruh mengantar makanan si Burgus ke sawah. Sifat rakus anak itu muncul di tengah jalan dengan menghabiskan makanan yang akan diantarnya. Berkali-kali, si Burgus harus menahan kesalnya kepada si anak.

Namun suatu kali, amarahnya meledak juga. Dia pun mendamprat dan memaki-maki anak itu sampai mengingkari janjinya. “Dasar ibumu anak ikan! Aku tak menurunkan perangaiku bagimu, anak bengal!”

Mendengar itu si anak berlari dan melaporkan perkataan Burgus kepada si ibu. Sang Putri pun sedih dan mulai merintih. Dia ambil sesuatu seperti tepung yang kemudian ditabur sampai membentuk satu areal yang bernama bindu matoga (simbol delapan arah mata angin).

Sang Putri memanjatkan doa sambil menari. Suara gemuruh dan hujan mulai kedengaran. “Gambaran keruntuhan tanah dan badai akan dimunculkan secara audio visual,” kata Thompson.

Semua cahaya panggung seperti petir yang ikut menyambar-nyambar. Ketika Burgus menyesali ucapannya sang Putri tetap dengan rapalannya. Dia tak lagi perduli sampai bencana alam benar-benar terjadi dan membentuk suatu danau. Burgus tak bisa menyelamatkan diri. Sebelum tenggelam dia masih sempat melihat seekor ikan.

”Tanggal 5 April baru lalu, PLOt mementaskan Opera Danau Toba di dua tempat, yakni Alun-alun Engku Putri Batam Centre dan Rumah Hitam Sekupang. Pentas di tempat pertama difasilitasi Ikatan Keluarga Besar Sumatera Utara (IKABSU) yang diketuai Jasarmen Purba. Di tempat itu ribuan penonton yang menyaksikan Opera Danau Toba adalah masyarakat Sumatera Utara serta tokoh-tokoh penting di Batam,” kata Thompson kepada METRO.

Di tempat kedua, PLOt pentas 7 April, pada penutupan Rumah Hitam Art Andalas Festival (RAAF) dan Temu Sastrawan Sumatera (TSS) yang telah berlangsung sejak 31 Maret lalu. Namun durasi di tempat kedua ini dibatasi sekitar 45 menit karena pertunjukan- pertunjukan lainnya akan mengisi penutupan acara.

Sekedar memberitahukan, Zulkaidah boru Harahap dan Alister Nainggolan, adalah  penerima anugerah maestro 2007 dari Menteri Kebudayaan danPariwisata. Atas anugerah itu, keduanya berhak mendapat bantuan uang Rp 1 juta setiap bulan seumur hidup. Keputusan pemberian anugerah seni ini berdasarkan hasil seleksi dari tim yang dibentuk oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata melibatkan Asosiasi Tradisional Lisan (ATL).

Zulkaidah boru Harahap dikenal piawai memainkan seruling itu saat ini melakukan kegiatan menopang hidupnya dengan membuka kedai tuak di Desa Tiga Dolok Kabupaten Simalungun. Sementara Alister Nainggolan selama ini beraktivitas menjadi pemusik pesta adat di Medan. Keduanya sempat popular saat berjayanya Opera Serindo pada tahun 1960-an.

Pengajuan kedua seniman opera batak itu menjadi calon pemerima anugerah maestro dari pemerintah, atas berkat keuletan Sutradara PLOt, Thompson Hs.

Kiranya, dengan pementasan ODT ini, mampu mengobati kerinduan masyarakat Sumatera Utara umumnya dan Siantar-Simalungun khususnya, menonton Opera Batak. Dan membangkitkan kembali seni Opera Batak, yang sempat mati suri. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s