20 Menit di RSUD Siantar…

Aku membelokkan motor melewati gerbang RSU Dr Djasamen Saragih –dulunya bernama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pematangsiantar–, Kamis malam (28 Pebruari 2008) sekira pukul 19.00 WIB. Di boncengan ada teman cewek yang nebeng. Kami akan menjenguk seorang teman yang kecelakaan dan dirawat di RSU itu.

Meski sudah hampir dua tahun tinggal di Siantar, baru pertama kalinya ini aku menjejakkan kaki di kawasan RS itu. Biasanya, paling melintas dari Jalan Sutomo depan RS. Agak memalukan memang (hehehehe). Cuma, memang selama 2 tahun ini pulak, aku tak ada urusan singgah ke RS itu. Justru aku lebih sering berkunjung ke RS swasta di Kota Siantar. Sebut saja RS Vita Insani, RS Harapan, dan RS Horas Insani.

Kesan pertama, lumayan bagus…  lapangan parkirnya luas. Lapangan terbuka juga cukup lapang. Beberapa pohon menaungi lokasi parkir. Daun-daunnya yang gugur tak disapu. Suasana sepi. Tidak ada kesibukan khas RS. Tapi aku tak terlalu ambil pusing. Mungkin keramaian ada di bagian lain.

Dipimpin teman yang paham lokasi RS, kami menyusuri lorong-lorong RS. “Ini yang baru direhab itu ya? “ tanyaku tanpa menuju pada teman tertentu.

Seorang teman menyahut: “Iya…!”

Aku memang sudah mendengar ada perehaban di RS yang tahun 2007 lalu memperoleh penghargaan di bidang Innovative Management itu. Lorong yang baru direhab lumayan modern. Dilingkupi kerangka besi yang dicat kemerahan, dengan atap dari genteng metal, lampu-lampu hias di dinding, dan lantai keramik. Sayang, di kiri kanan lorong, gedung-gedung tua milik RS belum ikut direhab. Masih tua dan terlihat tak berpenghuni. Karena sudah malam? Entahlah…. kesannya sih, memang dibiarkan tak terpakai sehingga tak terawat. Beberapa kursi panjang dari kayu ada di sisi lorong.

Tapi lorong modern ini hanya sekitar 50 meter. Selebihnya, kami tiba di lorong setengah terang, dengan ubin semen yang kehitaman, lampu redup, dan di kiri kanan bangunan RS yang jelas-jelas sebagian tak dipergunakan lagi. Kesan angker pun menguar. “Andaikan aku sendiri yang lewat di sini malam-malam begini, ih…. tak janjilah yaw!” Teman-temanku tertawa setuju.

Beberapa ekor kucing berkeliaran. Bahkan sekitar 3-4 ekor kucing berwarna coklat kotor  terlihat mengerumuni tempat sampah yang dibuat dari tong bekas yang dipotong dua.

Teman yang memimpin rombongan berbelok ke salahsatu bangunan. Nanya sebentar, eh salah… bukan itu ruangan tempat teman kami dirawat. Alhasil, kami pun memutar langkah lagi, menuju lorong berlawanan.

Pemandangan serupa menyambut. Kesan sepi begitu kentara. Satu dua keluarga pasien duduk-duduk di kursi panjang yang ada di lorong. Selebihnya, gedung-gedung tua yang dibangun terpisah-pisah, yang kesannya tidak digunakan lagi, menjadi pemandangan tak sedap.

“Sayang ya… gedung-gedungnya…!” kataku sambil menunjuk gedung-gedung itu.

“Iya…. jadul kali pun,” balas temanku, yang ternyata juga baru pertama kali ke RS.

Beberapa gedung yang agak rapi ikut dilewati. Nah, kalau yang rapi memang ketahuan pasti dipergunakan. Sedangkan yang tertutup rapat, baik jendela dan pintunya, dan ada nuansa tak dirawat, diduga kuat tak dipergunakan lagi.

Akhirnya kami ketemu gedung tempat teman yang dirawat itu. Oalah… maccam barak saja. Sekitar 15 tempat tidur dijejer di sana.  Namun hanya dua yang ditiduri pasien. Satu temanku itu, satu lagi seorang ibu tua yang katanya sakit karena dianiaya menantunya (istri putranya)… duh kacian!

Kami disambut ortu si teman yang sakit. Ngalor-ngidul ke sana ke mari. “Kok sepi?” tanyaku  iseng.

“Iya, sejak Askes tak diterima lagi, pasien sepi di sini. Biasanya ini ramai kok,” kata ibu teman yang sakit.

Karena ingin tahu kondisi RS, iseng, aku melangkah ke belakang gedung yang berukuran sekira 8 x 15 itu. Ingin ngecek kamar mandinya. Sebelum kamar mandi, ada dua ruangan berukuran sekira 3 x 3 m yang saya lewati. Satu pintu tertutup, yang lain terbuka, isinya tabung oksigen yang setengah berdiri, kursi roda, dan beberapa barang-barang yang diletakkan begitu saja di lantai.

Trus…. kamar mandi. Seperti saya duga, kamar mandinya agak menyeramkan… warna lantai dan dindingnya sudah agak kehitaman… hanya dinding bak dan WC-nya yang masih terlihat bersih. Mungkin hitam itu bukan karena jorok, tapi karena sudah tua. Ada empat ruangan kamar mandi, tapi aku tak ingin berlama-lama di sana…. Tak terlalu nekad untuk melongok ke semua kamar mandi, cepat-cepat aku berlalu dan memilih bergabung dengan teman-teman di sekeliling si sakit.

Singkat cerita, kami tak lama di RS, karena masih harus melanjutkan urusan masing-masing. Maka kami pun permisi, dan kembali melalui lorong-lorong setengah terang (atau setengah gelap?), sebelum mencapai lorong yang baru direhab, kembali ke lokasi parkir, dan berlalu dari RS.

Total waktu di RS hanya sekitar 20 menit. Tak sempat melihat seluruh bagian RS. Juga tak banyak informasi yang kugali. Jadi, tulisan ini pun hanya berjudul: 20 Menit di RSUD Siantar… Dan itulah ceritaku yang baru pertama kali menginjakkan kaki di RS. Hmmm… (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s