Dari Diskusi Buku ‘Tuanku Rao’ di Pematangsiantar (3/Habis)

Sejarah versi Buku Tuanku Rao Bisa Mengantarkan Sarjana Jadi S-2

Sesi tanya jawab yang dibuka moderator dalam diskusi buku Tuanku Rao, sempat akan ditutup untuk satu sesi saja. Maklum, waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 (sesi tanya jawab disediakan 1 jam). Namun Ibu Edith Dumasi Nababan minta kesempatan bicara, disusul peserta lainnya yang minta diskusi diperpanjang. “Tambahlah waktu, diskusinya benar-benar hangat nih,” kata sejumlah peserta. Empat pembicara setuju. Jadilah sesi dua dibuka, untuk 5 penanggap.

 

Dame Ambarita, Siantar

 

Empat penanggap pertama dimulai dari Bapak Drs Muara Sitorus, disusul Marisi Hutabarat (peserta yang berapi-api menyebut ‘impossible’ untuk fakta sejarah dalam buku Tuanku Rao), kemudian aktivis Torop Sihombing dan Kristian Silitonga (aktivis CIIS). Sesi kedua dimulai oleh Ibu Edith Dumasi br Nababan (mantan Hakim Agung), Ibu Poniati (guru sejarah), Pak Saragih (dosen di Universitas Simalungun), kemudian Kepala Sekolah SD Percontohan Timbul Panjaitan SPd, dan terakhir Sekjen GKPS Rumanja Purba.

Dari empat penanggap pertama, semuanya mendukung buku Tuanku Rao diterbitkan (kecuali Pak Hutabarat), dan meminta agar dialog membahas isi buku itu terus dibangun, sebagai pencerahan sekaligus pemaknaan akan sejarah di masa lalu. “Bagaimanapun kocaknya penulisan buku Tuanku Rao oleh MO Parlindungan, jangan terlalu dikecilkan, Karena itu mengandung fakta sejarah, meski banyak versi yang lain,” kata Drs Muara Sitorus.

“Kampus belum siap sedia menelaah kajian sejarah yang disampaikan dalam buku Tuanku Rao,” kata Torop Sihombing.

“Judul buku seharusnya bukan Tuanku Rao, tetapi Tuanku Lelo. Itu kalau merunut sejarah, bahwa Tuanku Lelo itu nenek moyangnya MO Parlindungan sebagai penulis buku. Kenapa ia justru memilih judul Tuanku Rao, sementara kisah Tuanku Rao hanya 20 persen dari seluruh isi buku, ini sangat paradoks,” kata Kristian Silitonga dan CIIS.

Lima penanggap di sesi kedua, dimulai dari Edith Dumasi Nababan yang menceritakan kesaksian soal kebenaran fakta sejarah dalam buku Tuanku Rao (sudah dibahas dalam tulisan kedua). Kata Ibu br Nababan, buku Tuanku Rao versi MO Parlindungan bisa mengantarkan orang menjadi sarjana S2 (Strata-2) , bahkan S3 (Strata-3). “Karena buku ini sangat banyak mengandung kisah sejarah, yang sebelumnya tak pernah dibukukan. MO Parlindungan sendiri ada mengatakan itu dalam bukunya, bahwa kisah sejarah yang ditulisnya akan menarik minat banyak orang untuk meneliti faktanya lebih lanjut, yang bisa sebagai bahan disertasi S-2. Jadi menurut saya, buku Tuanku Rao akan mengantarkan orang mendapat gelar S-2 bahkan S-3,” lanjutnya.

Penanggap berikutnya Ibu Poniati, guru Sejarah di Siantar, mengatakan sangat menyayangkan mengapa diskusi buku tidak dimulai sejak pagi hari. Sehingga audiens memiliki waktu yang lebih banyak untuk berdiskusi. “Soalnya, isi buku Tuanku Rao ini sangat bagus dan menarik untuk didiskusikan. Saya sebagai guru sejarah sangat tertarik dengan buku ini. Sayang, karena keterbatasan waktu, banyak pertanyaan yang tak sempat diajukan,” katanya.

Sementara Pak Saragih, dosen USI berpendapat, buku Tuanku Rao selayaknya untuk konsumsi orang-orang dewasa, karena bisa membingungkan murid sekolah yang belajar sejarah. Guru lebih bingung lagi menjawab pertanyaan muridnya, soal kebenaran sejarah versi buku sejarah dengan versi buku Tuanku Rao yang ditulis Mangaradja Onggang Parlindungan. “Banyaknya versi sejarah malah membuat bingung. Untuk itu perlu disepakati, versi mana yang benar agar jangan membuat bingung guru dan murid,” tandasnya.

Kepala Sekolah SD Percontohan Siantar, Timbul Panjaitan SPd, mengaku sudah memiliki buku Tuanku Rao cetakan pertama tahun 1964. “Diskusi seperti ini sangat membuka wawasan. Tapi kalau bisa, jangan hanya digelar di Medan, Siantar, Padangsidimpuan, dan Panyabungan saja. Tetapi juga di Tapanuli Utara dan Toba, bahkan kalau perlu langsung di Bakkara, daerah kekuasaan Singamangaraja,” usulnya.

Dan terakhir Sekjen GKPS Rumanja Purba, memberikan tanggapan sedikit mengenai buku Tuanku Rao, dan proses diskusi yang berlangsung yang menurutnya sangat mencerahkan dan memberi perspektif baru dalam memaknai sejarah.

Menanggapi seluruh penanggap dalam diskusi itu, keempat pembicara yang hadir, yakni Batara R Hutagalung (pemrakarsa penerbitan kembali buku Tuanku Rao), Dr Phil Ichwan Azhary (Sejarawan dari Unimed), Drs Marim Purba (mantan Wali Kota Siantar), dan M Shaleh Isre (LKiS, yang menerbitkan ulang buku Tuanku Rao), memberi tanggapan masing-masing.

Batara R Hutagalung misalnya mengatakan, buku sejarah sering ditulis oleh pemenang, karena itu sering ada pemutar-balikan fakta. Untuk itu, setiap orang diharapkan tidak menelan begitu saja versi sejarah yang ditulis, melainkan tetap kritis. “Buku Tuanku Rao banyak memancing kajian-kajian baru, dan memang itulah tujuannya buku ini kembali diterbitkan,” katanya.

Dr Phil Ichwan Azhary mengatakan, buku Tuanku Rao lebih mirip disebut sastra sejarah. Dan data-data di dalamnya tak perlu diperdebatkan, karena dalam sejarah Melayu/Timur, fakta-fakta (penanggalan/tokoh-tokoh cerita) tidak terlalu dipentingkan. “Misalnya, soal kisah Kolonel Haji Piobang yang katanya mengalahkan Pasukan Napoleon, itu tak bisa diverifikasi. Tapi itu tak terlalu masalah. Ibarat Film Titanic yang terkenal itu. Kisah mengenai kapal Titanic tenggelam, itu fakta. Tetapi apakah benar ada dua remaja bercinta-cintaan di atas kapal, kita tak tau. Dan itu tak penting, serta tidak mengurangi fakta bahwa kapal Titanic tenggelam,” katanya.

Meski demikian, Ketua PUSSIS Unimed ini tetap merekomendasi LKiS sebagai penerbit buku, agar membuat pengantar, walau hanya di belakang buku (karena Sonny Boy sebagai ahli waris MO Parlindungan, hanya mengizinkan buku dicetak persis seperti aslinya, tanpa tambahan apapun untuk menangkap jejak emosi ayahnya saat mengetik buku ini). Pengantar itu menurutnya penting sebagai penjelasan kepada pembaca mengenai jenis buku Tuanku Rao, apakah sebagai buku sejarah, sastra sejarah, roman sejarah, atau apapun namanya.

Ia juga merekomendasikan orang Batak, agar mengumpulkan folklore atau turi-turian dari Tanah Batak sebelum Belanda hadir di Indonesia, sebagai perbandingan fakta sejarah dengan buku-buku sejarah lainnya.

Pembicara lokal dari Siantar, Drs Marim Purba, mengatakan, buku Tuanku Rao ditulis oleh orang yang nyeleneh dan aneh, karena ada tokoh-tokoh kontroversial dalam kisahnya, namun dengan catatan tahun-tahun yang lengkap. “Ini membuktikan kalau penulisnya luar biasa. Namun saya setuju, bahwa buku ini memberi definisi baru tentang sejarah hubungan suku-suku Batak. Juga kita belajar, agar jangan meniru kisah kekerasan dalam menyebarkan agama,” katanya.

Diskusi seperti yang digelar METRO Siantar, PLOt, Saroha Foundation, LKiS Jogjakarta, dan Center Popular Education Medan ini, menurut Marim, perlu sering-sering dilakukan, untuk mendidik orang belajar menerima pemikiran orang lain.

“Selain itu, setelah membaca buku Tuanku Rao, saya ingin mengatakan, nampaknya perlu merumuskan kembali daftar pahlawan-pahlawan nasional kita. Jangan-jangan semua memiliki sejarah gelap seperti Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Tambusai, seperti diceritakan dalam buku Tuanku Rao tulisan MO Parlindungan ini,” katanya.

Pembicara berikutnya, M Shaleh Isre dalam LKiS mengatakan, pihaknya sengaja menerbitkan buku sesuai aslinya tanpa tambahan apapun (kecuali kata sambutan dari Sonny Boy, putra penulis yang menjadi ahli waris buku Tuanku Rao). “Warna cover buku pun tak boleh diubah, harus tetap hitam, putih, dan merah, sesuai warga utama orang Batak,” katanya.

Penutup
Diskusi buku Tuanku Rao ini sengaja tak diakhiri dengan menarik kesimpulan, karena diskusi masih akan terus bergulir, dan proses pemikiran/kajian baru akan buku ini masih akan terus berlangsung. Dari Medan ke Siantar, safari diskusi dilanjutkan di Padangsidimpuan tanggal 28 November, dan Panyabungan 29 November. (habis)

2 tanggapan untuk “Dari Diskusi Buku ‘Tuanku Rao’ di Pematangsiantar (3/Habis)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s