Dari Diskusi Buku ‘Tuanku Rao’ di Pematangsiantar (1)

Munculkan Respon Beragam, Ada Peserta yang ‘Berapi-api’ Menyebut Impossible

 

Sesuai rencana, diskusi buku ‘Tuanku Rao: Terror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak’, yang ditulis MO Parlindungan, digelar di Sekretariat PLOt di Jalan Lingga Nomor 1 Siantar, Senin (26/11), mulai pukul 14.00-18.00 WIB. Beragam respon peserta terkuak dalam diskusi yang menghadirkan 4 pembicara itu. Mulai dari memuji penerbitan kembali buku tersebut, hingga dengan ‘berapi-api’ mengkritik isi buku. “Impossible,” kata seorang peserta sampai 7 kali.  

Dame Ambarita, Siantar  

Memang, peserta diskusi tak sebanyak yang ditargetkan semula, yakni 200-an orang. Yang hadir hanya sekitar 100-an orang. Tetapi peserta yang hadir memiliki latar belakang beragam, mulai  dari pengurus OSIS SMA, mahasiswa, aktivis, dosen/guru, PNS, pejabat pemerintahan, praktisi kesehatan, tokoh-tokoh agama, tokoh pemuda, wartawan, seniman, pemerhati sejarah, pelaku sejarah kemerdekaan, pengusaha, dan lain-lain. 

Batara R Hutagalung, putra Letkol (Purn.) TNI AD DR Wiliater Hutagalung –salahseorang yang ‘meyakinkan’ Mangadraja Onggang Parlindungan untuk memublikasikan catatan yang seharusnya diperuntukkan untuk ‘Sonny Boy’, kedua anak penulis– menjadi pembicara pertama yang bertutur tentang sejarah penerbitan buku Tuanku Rao.   Ia menjelaskan, buku Tuanku Rao memang telah menuai kontroversi sejak pertama kali diterbitkan tahun 1964. Dan hingga diterbitkan kembali oleh LKiS dengan cover dan ejaan (berikut kesalahan ketik) yang persis sama dengan aslinya, tetap menuai kontroversi. 

“Memang, banyak data di dalam buku itu yang kontroversial. Tapi juga banyak fakta-fakta yang tak terbantahkan. Yang penting bukan soal fakta-fakta sejarah, tetapi esensinya,” katanya.  Ia menyarankan penelitian lebih lanjut mengenai isi buku, yang sudah diakui banyak orang sebagai buku yang menarik, bahkan mampu menghipnotis pembaca untuk terus membaca lembar demi lembar.  

Pembicara kedua, Dr Phil Ichwan Azhary, mengatakan, buku Tuanku Rao itu bisa membuat stres pembacanya. “Orang Batak, banyak yang stres membaca buku ini. Bayangkan saja, buku ini menyebut Raja Sisingamangaraja X dibunuh oleh orang Batak sendiri. Apa tak stres?” katanya. Tak hanya orang Batak, orang Minangkabau sendiri juga stres membaca buku itul karena  Tentara Padri yang dibanggakan, ternyata adalah pembunuh di Tanah Batak. “Sulit melepaskan objektivitas dalam membaca buku ini, khususnya bagi orang Batak dan orang Minang. Karena buku ini, terus terang saja, bisa memancing emosi. Untungnya, saya orang Melayu, jadi saya tak terpancing,” katanya, yang mengundang tawa yang hadir.  

Lucunya, kata dia, buku yang mengambil judul Tuanku Rao itu, justru hanya 20 persen membahas tentang Tuanku Rao. Selebihnya, lebih  fokus menceritakan masuknya agama Islam ke Indonesia. “Karena itu, perlu dicermati, apakah penulis buku ini ingin membesarkan nama Tuanku Rao?” tanyanya.  Ichwan juga menjelaskan, bahwa fakta-fakta sejarah dalam buku Tuanku Rao, banyak yang tidak bisa ditelusuri dengan metode sejarah dengan cara verifikasi dokumen. “Karena itu, Buya Hamka sempat menyebut buku ini 80 persen bohong, 20 persen lagi meragukan,” katanya. Apalagi, MO Parlindungan sendiri dalam bukunya menulis, bahwa dirinya menulis buku itu dengan sedikit akal busuk, dan sengaja memasukkan 7 kesalahan. Maksudnya, agar kedua anaknya ‘Sonny Boy’ tak mudah mempercayai apa yang tertulis, di luar kitab suci.  “Jadi menurut saya, buku lebih cocok disebut Sastra Sejarah, yang datanya tak perlu dilacak sesuai metodologi sejarah,” katanya. Ichwan juga mengungkapkan berbagai temuannya tentang tidak validnya beberapa data dalam buku itu. 

Pernyataan Ichwan ini kontan didukung seorang peserta diskusi, Marisi Hutabarat (70-an), berprofesi wartawan. Dalam sesi tanya jawab, dengan berapi-api ia mengatakan, buku Tuanku Rao menimbulkan sinis pada dirinya. “Menurut saya, penulis pintar menjual bukunya. Isi buku ini tak lebih dari cerita 1001 malam. Karena dalam budaya Batak, kejadian besar selalu dibukukan, atau paling tidak diceritakan kembali lewat turi-turian. Sementara kisah kekerasan Perang Paderi tidak ada diceritakan. Dan mengenai pasukan kolosal 6.000 pasukan berkuda di Tanah Batak, itu impossible.Menurut saya juga, Perang Padri itu bukan perang, tetapi serangan. Dan Perang Paderi tidak pernah sampai ke Silindung, apalagi ke Toba. Itu impossible,” katanya dengan nada berapi-api dan dengan wajah ketat.  

Marisi Hutabarat juga mengatakan impossible untuk kisah mengenai dendam berkepanjangan antara Klan Siregar terhadap Dinasti Singamangaraja (keturunan Raja Oloan Sorba Dibanua yang mengusir mereka dari Muara dengan tidak mematuhi hukum Batak).  “Bagi orang Batak, tak pernah ada dendam berkepanjangan, apalagi sampai  26 generasi. Dendam sampai 4 generasi saja tak ada, konon pula sampai 26 generasi. Impossible!” tegasnya dengan nada semakin tinggi.  Ia mengatakan, penerbitan buku Tuanku Rao bisa memancing emosi pembaca. “Sanggupkah kita membaca buku ini tanpa emosi?” tanyanya, dengan eskpresi wajah yang menunjukkan intensitas emosi yang makin meningkat, walau dia sempat juga tertawa saat buku jatuh dari pangkuannya, di tengah semangat dirinya mengkritik isi buku Tuanku Rao.  Tanggapan Pak Marisi ini menuai tepuk tangan dari peserta yang hadir, termasuk dari pembicara sendiri. (Apa tanggapan para pembicara tentang  ‘emosi’ Pak Marisi, ikuti kelanjutannya) (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s