Sajak-sajak Ompu Monang
02 Juni 2009
Diam bukan watakmu
Hatimu tak bertaut
Kau cuma menunggu
Laut tak selamanya surut
04 Juni 2009
Sekarang kau terdampar di kering kerangku
Setelah seluruh tambat luruh dilanda rindu
Di gurat urat tubuhmu yang menantang lekang
Tersimpan rindumu kepada seseorang
08 Juni 2009
Kau terpedaya cakrawala jauh
Di mana langit dan bumi bersetubuh
Memang kadang bertandang angin dan gerimis
Namun sayang, cuma desis cuma riwis
09 Juni 2009
Kau seru taifun
Kau gendam badai
Biar badan terbantun, batin terbantai
Lantas kau lepas ke laut luas
mengarungi mimpimu
Yang tak pernah mampu
dipahami sebongkah batu
10 Juni 2009
Kelak, ketika berlabuh di pesisir waktu
Barangkali kau akan terkenang aku
Aku tahu kau akan menangis
Waktu bertandang angin dan gerimis
11 Juni 2009
Mungkin seseorang akan risau
Menyangka kau mengigau
Bibirmu mengembang
Dendangkan tembang
Dari mana kita datang, ke sana kita pulang
12 Juni 2009
Tetaplah berjarak dariku
Agar tegak dan nganga aku dalam rindu
Jika kau masuki aku, aku penuh
Aku punah
16 Juni 2009
Aku nyanyi dengan sepuluh jariku
Seriuh pasar malam
Dengan judul namamu
Aku rindu!
22 Juni 2009
Ah, usia…
Mengapa selalu ada cemas di dalamnya?
Mengapa?
30 Juni 2009
Dalam jasadku:
Angka-angka berkembang membesar
Lalu pelan-pelan terbang
SIAPA YANG BISA MENGHENTIKAN?
27 Juli 2009
“Ini pisaumu” katamu
Menyerahkan sebilah waktu
Sejak itu, aku mengasahnya di batu leherku
“Tajamkah sudah?” tanya jantungku
Seperti risau, bagai menunggu
10 Agustus 2009
– Perempuan!
Mengapa kau tangisi diriku
Dan tiada kau tangisi dirimu?
18 Agustus 2009
Kita mendesis
Bertukar bisa dan ciuman
Sejak itu, aku entah pergi entah pulang
(Sajak-sajak ini dikirim Ompu Monang via SMS)
Yang Kuinginkan
Yang kuinginkan bukan matahari
Atau bintang
Atau bulan
Aku juga tak ingin Himalaya
Atau Sungai Nil
Atau Menara Pisa
Yang kuinginkan sederhana saja
Tapi itu jauh
Dan itu bukan milikku
Siantar, Mei 2009
————————————-
————————————-
Kutunggu Kekasihku
Kutunggu kekasihku di antara deras hujan
Kutunggu dia meski aku gigil dalam dingin
Kukeraskan hati agar tak limbung dihembus angin
Kutiup namanya lewat angin malam
Tak henti aku bahkan walau sekejap
Meski bibirku pedih membiru
Kekasihku itu laksana api
Membakar bibir biruku jadi semerah saga
Dia datang laksana badai
Menyapu habis gigil dan dinginku
Api cintanya menerjang tak terbendung
Melambungkan aku ke pucuk pepohonan
Tinggi… tinggi…
Dan aku mabuk dalam api
Hatiku leleh dihantam badai kekasih
Derunya membuat bibirku lantang berkata
Aku akan menunggu seperti pohon menunggu badai
Laksana badai yang menerjang di sembarang musim
Demikianlah kekasihku
Tiba-tiba menerjang, tiba-tiba lenyap
Kutunggu kekasihku dalam deras hujan
Kutunggu dia bermusim-musim
Tak bergerak aku, seperti pohon menunggu datangnya badai.
Siantar, Agustus 2007
Di Ketinggian Awan
Seorang lelaki singgah di kaki langit
Sayapnya mengepak kuat
Kakinya menjejak bumi
Disapanya aku
Bumi dan langit terbisu menyaksikan
Si lelaki mengangkatku di sayapnya
Bibirnya meneteskan madu
Matanya penuh cinta
Aku menggelepar nikmat
’Cintaku putih tak bercela’
Bisik si lelaki
Aku anggukkan kepala
’Hanya satu… KAU!’
Gigihnya penuh tekad
Aku rebahkan diri di sayapnya
Di ketinggian awan, si lelaki menciumku
’Aku pasti datang menjemput!’ janjinya
Lalu ia mengepakkan sayap
Terbang sendirian ke langit
Aku terjatuh ke bumi tanpa sayap
Bum…… bumi pun tertawa
Hahahahahaha…..
Hahahahahaha…..
Jiwaku Mengembara
Jiwaku mengembara
Menjelajah ke bukit-bukit, gunung, hutan, danau
Melintasi tempat hantu-hantu
Jiwaku meloncat-loncat
Hari ini di gunung, besok malam di bawah danau
Aku menghindar dari tempat hantu-hantu
Tapi hantu-hantu itu selalu ada di lintasan
Aku melawan mereka
Mereka melawan aku
Aku tau aku punya senjata
Tapi tangan-tangan mereka gentayangan meraihku
Aku terus mengembara sambil melakukan perlawanan
Di setiap perjalanan, mereka ada
Mencoba meraihku
Aku takut, tapi aku tak berhenti melawan
Aku terus mengembara
Tidak tahu mengapa tiba-tiba aku ada di gunung, di hutan, bukit, danau
Dan terus melawan hantu-hantu
1.000 Janji
Kuhitung-kuhitung, janjimu sudah 1.000
Seribu kali kau tak tepati
Seribu kali kau minta maaf
Seribu kali pula aku tertambat di pohon yang sama
2.000 hari aku percaya
Cinta ini tak tertandingi
Kau adalah aku
Aku adalah kau
Bumi berputar
Jam berputar
Engkau berputar
Kau bertiga kembali ke titik awal
Dan berputar-putar di lingkaran yang sama
Perputaran bumi adalah waktu
Perputaran jam menunjukkan waktu
Perputaranmu… entahlah!
Kekasih…
Lepaskanlah tali ini!
Pematangsiantar, 21 Mei 2008
Drama Empat Babak
BABAK I:
Aku memohon: ”Tolonglah Pak!”
”Kamu kerjakan saja sendiri!
Jangan harapkan orang lain
Jangan harapkan bantuan apapun!”
Aku menangis di balik jendela
”Tolong jangan bilang siapa-siapa ya,” pintaku pada dinding.
BABAK II:
”Kamu pikir kamu hebat?!”
Telunjuknya diarahkan ke wajahku
Aku tertegun
Tenggorokanku terasa sakit
BABAK III:
”Buktikan kehebatanmu padaku!”
Bentaknya dari jauh
Lewat perantara
”Kau telah menggunakan milikku
Kini, kembalikan hasilnya padaku!”
Aku menatap tak percaya
Bahuku goyang
Aku menggeleng, menolak menangis
BABAK IV:
”Karya apa itu???
Lenyapkan karya-karya itu dari hadapanku!
Jangan seperti orang onani!”
Ejeknya lewat dering telepon
Aku membisu
Jiwaku mati rasa
TAMAT!
Aku menengadah ke langit
”Tuhan….” aku merintih
”Kau di mana?
Peluklah aku
Aku benar-benar butuh bahu-Mu!”
Siantar, Mei 2008
Cinta pun Tak Selamanya Membara
Cinta pun terkadang mengalami gelombang kebosanan.
Ada pasang surut.
Cinta tak selamanya membuat kita ingin memeluk yang dicintai.
Benarkah? Entahlah…
Aku mau katakan,
Pacaran terus tanpa ada langkah maju
Bisa membuat hati membatu
Dan rayuan kekasih tak lagi membuat diri jatuh
Saat ini
Biarkan aku membisu
Karena cintaku sedang ingin diam
Tak ingin melangkah maju
Juga tak ingin mundur
Tak cinta lagikah aku padamu?
Tunggu saja sesaat
Karena aku pun sedang tak ingin bicara
Mungkin aku lelah
Siantar, Maret 2008
Hati Terasa Dibelah
Kau jauh tak terjangkau
Langitmu dan langitku berbeda warna
Bumiku dan bumimu beda bebatuannya
Tanahku dan tanahmu beda pepohonannya
Perbedaan selayaknya mempersatukan
Seperti magnet, negatif dan positif saling mendekat
Seperti perempuan dan laki-laki saling tertarik
Tapi langitku dan langitmu tak sama
Langitmu menarikmu
Melarangmu mendekati langitku
Langitku marah-marah
Tak senang aku ingin berlari ke langitmu
“Carilah bumi yang berada di bawah langitmu
Itu lebih mudah
Dari pada kau berlari ke langit lain
Dunia lain yang tak kau kenal
Patahkanlah tali itu
Tandai langit, dan simaklah artinya
Katakan, langit tak merestui”
Itulah pesan dari langitku
Disampaikan lewat roh
Ditandai lewat mimpi
Aku coba tersenyum
Sungguh, aku mencoba
Tapi hatiku terasa dibelah
Siantar, Awal Maret 2009
__________________
__________________
Mereka Benar
Mereka benar
Aku yang salah
Dan itu menyedihkan
Kesalahan demi kesalahan
Apa yang dapat kulakukan sekarang?
Tak satupun
Dan itu lebih menyedihkan lagi
Salah bertahun-tahun
Apa yang bisa memperbaikinya?
Hatiku mengerut dalam dadaku
Darahku tersumbat di hatiku
Tak seorang pun yang dapat menolong
Tak seorang pun
Dan itu menggigilkanku
Mereka benar
Aku yang salah
Dan hatiku gentar dalam dadaku!
Kepada siapa aku dapat mengadu?
Siantar, Akhir Maret 2009
Selamat Siang Kakandaku…
Apa kabarnya?? Sehat kan……
Kayaknya, First Comment neh aku ya???
hehehe….
Keliatan dari puisinya….
Seperti hatinya… HAHAHA….
Semangat Donk, Cintanya buat semakin Membara hingga terbakar, wuehehe….
Salam buat Rekan – rekan di Sibolga…
Hehehehe…. masak keliatan sih? Yang bener?
Oh ya Lupa satu lagi…
Kapan balik ke Siantar….?????
Udah balik kok ke Siantar, belum tau ya?
Mereka benar aku yang salah.. Nice Word
Nice word yah? Hehehehe…. bisa aja kamu Jan!
aq marga purba
salam semua untuk yg mempunyai marga batak
hoooooorrrrrrrrrrrraaaaaaaaaasssssssssssssss
HORAS BAH…….
Horrraaassssss juga bah! Purba dari mana nih?
Bah fuang…
Tabo nai manjaha puisi ni itoan on….
“Ndang tumagon tuhalak adong do dihita”
hehehhehehhehehh
Ok lah….”good luck”
Duduk manis ajalah..mana tau lewat bidadari
hehehheeh
Let’s go>>>>>>>bum…bum
Ndang tumagon tu halak? I do tutu Ito, alai ndang tar dok…
Horas ma tutu, ndang simanukmanuk sibottar andora, nadang sitodo turpuk siahut lomo niroha.
Wah..
yang tak punya marga boleh ikutan ga?
^_^
Maksudnya, boleh ikutan apa nih? :-)
mngpa bnyk putra/i siantar hny dmlt aja brkt aq bngga mnjdi siantar man tp tak prnh berbuat apalagi memberi ??? bktkn donk !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
keren..:)
mantaappp,,,”)