Ibarat miniatur keindahan Danau Toba namun berair Selat Melaka, demikianlah Danau Siombak diumpamakan. Walau teksture alamnya tak persis sama dengan Danau Toba nan menawan itu -soalnya tidak ada rangkaian pegunungan yang mengelilingi atau pulau di tengah-tengahnya- namun keindahan Danau Siombak cukup memikat. Sayang, penataannya belum maksimal. Ibarat gadis manis perawan desa yang belum berdandan, demikianlah ia bisa diandaikan. Hanya perlu polesan, lalu dihiasi sedemikian rupa. Usai dihiasi, jangan pula dikurung di rumah. Itu sama saja tak ada yang tahu. Maka si anak gadis harus dikenalkan ke dunia luar. Berani bertaruh… ia mampu menyaingi penampilan gadis kota. Pertanyaannya, siapa yang mau mendandani si gadis?
Dari Medan, lokasi Danau Siombak Indah dapat dicapai dengan naik kendaraan, baik roda empat maupun roda dua. Kondisi jalan raya cukup mulus. Bagi yang naik bus, bisa naik angkot Morina 122 dari Medan dan berhenti di Simpang Kantor. Dari sana, naik RBT ke Danau Siombak Indah. Ongkosnya sekitar Rp1.500-Rp2.000.
Hanya saja, jangan langsung berharap memperoleh suguhan pemandangan indah. Jalan masuk dari jalan besar ke Danau Siombak yang berjarak sekitar 1-2 km tidak begitu menarik. Rumah-rumah pemukiman penduduk banyak yang masih berdinding rumbia, dan sudah tua pula. Bahkan ada pabrik beton di sisi jalan. Tambak-tambak ikan meramaikan pemandangan jalan masuk. Namun bila perjalanan diteruskan, pada akhirnya anda akan menemukan Danau Siombak Indah dimaksud.
Lokasi persisnya terletak di Kelurahan Paya Pasir Kecamatan Medan Marelan, kurang lebih 18 Km dari pusat Kota Medan. Luas areal Danau ini kurang lebih 40 Ha, yang terdiri dari luas perairannya kurang lebih 29 Ha, serta luas daratannya kurang lebih 11 Ha. Kedalaman airnya diperkirakan mulai dari 1 meter sampai dengan 13 meter.
Sekilas pandang, panoramanya cukup alami, walaupun menurut informasi yang diperoleh, danau ini bukanlah danau alam, melainkan danau buatan yang tidak diciptakan secara khusus. Artinya, danau ini hanyalah bekas galian tanah untuk menimbun jalan tol Belmera (Belawan- Medan-Tanjung Morawa), 20-an tahun yang lalu. Jadi, ia tidak digali khusus untuk menciptakan sebuah danau.
Di tepian danau ada sejumlah pohon akasia. Cukup menyejukkan suasana. Sayang, belum merata ditanami mengelilingi danau. Di seberang danau, terlihat rumah-rumah nelayan yang masih sangat sederhana, masih berdinding rumbia.
Satu dua buah sampan nelayan terlihat berkayuh di tengah danau. Secara umum… cukup menawan.
Di tepi danau tersebut, pengunjung bisa menemukan sebuah kafe sederhana. Pemiliknya pasangan suami isteri D Simanjuntak dan R Sinaga. Mereka baru sekitar 3 tahun berusaha di lokasi itu dan mengupayakan sejumlah fasilitas untuk kenyamanan pengunjung. Sebuah sepeda air angsa warna kuning terlihat menyolok. Sementara dua tiga buah kerangka sepeda air dari kayu yang sudah berkarat terlihat di pinggir danau.
Beberapa buah kerangka sampan yang sudah lapuk juga menghiasi pemandangan. Sementara café milik Pak Simanjuntak dan ibu Sinaga menyediakan sejumlah makanan dan minuman, serta hiburan karaoke untuk pengunjung yang ingin menikmati.
Sejumlah tenda-tenda tempat bersantai, ayunan, perosotan, juga dibangun Pak Simanjuntak/boru Sinaga di sekeliling kafe. Tiga buah lokasi bersantai terapung dibangun di pinggir danau. Beberapa buah keramba tempat memelihara ikan, sekaligus juga berguna sebagai wisata ikan bagi anak-anak terlihat di pinggir danau.
Secara umum, fasilitas wisata yang tersedia di Danau Siombak masih sederhana, namun cukup memadailah untuk lokasi wisata kelas melati.
Ini Potensinya
Walau hanya danau buatan, keindahan Danau Siombak Indah tak kalah dengan danau-danau alam lainnya. Jajaran pohon-pohon akasia yang ditanam oleh warga setempat cukup menambah keasrian sang danau.
Selain keindahan alam, Danau Siombak Indah juga menyimpan keunggulan untuk dikembangkan menjadi lokasi wisata yang lebih berkelas. Mulai dari jaraknya yang hanya 18 km dari pusat kota Medan, yang berdampak pada efisiensi waktu dan biaya, Danau Siombak berprospek besar menjadi wisata alam andalan kota Medan.
Bayangkan saja, sekitar empat jutaan penduduk kota Medan, asumsikan saja 1/4-nya suka wisata alam, maka mereka tak perlu jauh-jauh ke daerah lain untuk menikmati alam.
Danau Siombak berpeluang besar menjadi lokasi wisata keluarga serta lokasi pesta karyawan perusahaan, karena memenuhi syarat dari segi nuansa alam, jarak, waktu, dan biaya.
Ada sepeda air, sampan, ayunan, bisa memancing gratis, dipadu dengan hembusan udara laut, serta pelayanan dari pemilik kafe.
Potensinya sebagai lokasi rekreasi memancing ikan dan bersampan sangat besar. Bahkan disebtukan, Danau Siombak Indah merupakan obyek wisata bahari yang sangat potensial untuk dipergunakan sebagai tempat atraksi wisata yang bersifat Nasional, seperti perlombaan Speed Boat, perlombaan Sampan, lomba berenang, perlombaan Selancar Air dan lain-lain.
Butuh Polesan
Persoalannya adalah, dengan semua potensi yang dimiliki Danau Siombak Indah ini, masih belum tergarap secara maksimal. Seperti kata seorang praktisi wisata Cahyo Pramono, sebenarnya Danau Siombak masih bisa dikembangkan dari nilai lima ke nilai sepuluh. “Hanya butuh polesan,” kata dia.
Menurut Cahyo, dengan pointnya yang hanya lima saat ini pun, sebenarnya Danau Siombak Indah sudah bisa dijual. “Asal promosinya tepat,” kata dia.
Tetapi tentu saja, jangan puas dengan nilai lima, kalau sebenarnya bisa dikembangkan dari kelas melati ke bintang lima.
Yang pertama bisa dilakukan, menurut Cahyo, adalah penataan ke dalam. Misalnya dengan melakukan perningkatan kelayakan fisik dan perbaikan sarana penunjang. Mulai dari penataan jalan masuk, sarana transportasi, dan penataan lingkungan yang lebih indah. Sementara itu, juga perlu penyelenggaraan kegiatan hiburan secara periodik, penyediaan fasilitas wisata yang cukup, seperti sampan, sepeda air, dan lain-lain. Kalau memungkinkan, bisa dibangun lokasi penginapan, seperti hotel, kafe yang lebih modern, restoran, dsb.
Siapa Sutradaranya?
Untuk melakukan semua ide itu, siapa yang bisa jadi sutradaranya? Pemko sendiri, lewat Dinas Pariwisata Medan kepada Sumut Pos mengatakan, tak bisa berbuat banyak selama pemilik danau yakni ahli waris Tengku Azhar masih belum ‘bergerak’ untuk mengelola Danau Siombak sebagai lokasi wisata.
“Harus ada kerjasama dari pihak pemilik,” kata Pemko Medan.
Hal senada diakui Lurah Paya Pasir Kecamatan Medan Marelan Moh. Yunus. “Karena danau itu milik pribadi, tentu Pemko tak bisa begitu saja melakukan pembenahan tanpa koordinasi dengan pemilik,” katanya.
Kalau demikian, bagaimana menangani Danau Siombak ini? Sementara para ahli waris pemilik danau, masih mengalami konflik internal?
Menurut praktisi wisata Cahyo Pramono, tidak bisa tidak, Danau Siombak hanya bisa dipoles cantik, bila ada kemauan dari para ahli waris. Ahli warislah yang harus turun tangan untuk bertindak sebagai sutradara.
“Sebenarnya pengembangan Danau Siombak tidak mesti menunggu investor. Para ahli waris sendiri bisa mengembangkan kawasan itu menjadi obyek wisata bernilai jual tinggi, jika mereka sepakat untuk mengelolanya,” kata dia.
Bentuk pengelolaan, kata Cahyo, bisa dilakukan sendiri oleh ahli waris, atau kerjasama dengan para stake holder.
Untuk modal, mereka bisa mengagunkan tanah sekitar danau kepada bank. Atau memilih jalur BOT (Built Over Transfer) kepada pemodal. “Jadi ketakutan bahwa danau akan beralih tangan bisa dihindari,” kata Cahyo.
Garap Pasar Lokal
Jika pemegang jabatan sutradara sudah ditentukan, maka yang pertama bisa dilakukan sang Sutradara ini adalah membuat master plan. Mulai dari penentuan segmen pasar yang akan digarap, lalu menetapkan bagaimana pengelolaan danau itu harus dilakukan untuk menarik pasar yang disasar, menentukan teknik promosi, dll..dll.
“Target pasar yang cocok untuk Danau Siombak adalah pasar lokal,” kata Cahyo.
Menurutnya, pasar lokal sangat potensial untuk digarap, karena wisata alam di Medan sangat sedikit. “Jangan memandang pasar lokal sebelah mata. Mereka adalah pasar yang sangat potensial,” cetusnya.
Sementara untuk turis mancanegara, menurut Cahyo, Danau Siombak belum cukup menarik untuk ditawarkan. “Kecuali ada yang luar biasa di sana,” kata dia.
Setelah menentukan segmen pasar di turis lokal, maka sang sutradara bisa melangkah ke strategi pengelolaan Danau Siombak, dengan menemukan apa yang diinginkan oleh turis lokal untuk dinikmati di sana.
Apakah penyediaan sampan, lokasi pemancingan, lomba renang, selancar air, atau hanya sekedar lokasi duduk yang nyaman. “Setelah itu, lakukan strategi positioning (pembentukan citra) kepada masyarakat,” kata Cahyo.
Dalam hal ini, strategi promosi menjadi sangat penting. “Panggil orang datang dengan penyelenggaraan kegiatan-kegiatan secara periodik. Jangan terpukau hanya pada promosi dari mulut ke mulut. Produk pariwisata itu harus dipasarkan dengan cara yang benar, dengan menetapkan tujuan yang akan dicapai, siapa yang melakukan, dan bagaimana teknik mencapai tujuan,” jelansya.
Untuk itu, bisa dimulai dengan penciptaan slogan yang menampilkan karakteristik khas Danau Siombak.
Jika ini sudah dilakukan, tinggal menunggu Danau Siombak menjelma menjadi maskot wisata alam kota Medan. (dame ambarita)