Dame Ambarita’s Weblog

Entries categorized as ‘Tuanku Rao’

Dari Diskusi Buku ‘Tuanku Rao’ di Pematangsiantar (3/Habis)

17 Februari 2008 · & Komentar

Sejarah versi Buku Tuanku Rao Bisa Mengantarkan Sarjana Jadi S-2

Sesi tanya jawab yang dibuka moderator dalam diskusi buku Tuanku Rao, sempat akan ditutup untuk satu sesi saja. Maklum, waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 (sesi tanya jawab disediakan 1 jam). Namun Ibu Edith Dumasi Nababan minta kesempatan bicara, disusul peserta lainnya yang minta diskusi diperpanjang. “Tambahlah waktu, diskusinya benar-benar hangat nih,” kata sejumlah peserta. Empat pembicara setuju. Jadilah sesi dua dibuka, untuk 5 penanggap.

 

Dame Ambarita, Siantar

 

Empat penanggap pertama dimulai dari Bapak Drs Muara Sitorus, disusul Marisi Hutabarat (peserta yang berapi-api menyebut ‘impossible’ untuk fakta sejarah dalam buku Tuanku Rao), kemudian aktivis Torop Sihombing dan Kristian Silitonga (aktivis CIIS). Sesi kedua dimulai oleh Ibu Edith Dumasi br Nababan (mantan Hakim Agung), Ibu Poniati (guru sejarah), Pak Saragih (dosen di Universitas Simalungun), kemudian Kepala Sekolah SD Percontohan Timbul Panjaitan SPd, dan terakhir Sekjen GKPS Rumanja Purba.

Dari empat penanggap pertama, semuanya mendukung buku Tuanku Rao diterbitkan (kecuali Pak Hutabarat), dan meminta agar dialog membahas isi buku itu terus dibangun, sebagai pencerahan sekaligus pemaknaan akan sejarah di masa lalu. “Bagaimanapun kocaknya penulisan buku Tuanku Rao oleh MO Parlindungan, jangan terlalu dikecilkan, Karena itu mengandung fakta sejarah, meski banyak versi yang lain,” kata Drs Muara Sitorus.

“Kampus belum siap sedia menelaah kajian sejarah yang disampaikan dalam buku Tuanku Rao,” kata Torop Sihombing.

“Judul buku seharusnya bukan Tuanku Rao, tetapi Tuanku Lelo. Itu kalau merunut sejarah, bahwa Tuanku Lelo itu nenek moyangnya MO Parlindungan sebagai penulis buku. Kenapa ia justru memilih judul Tuanku Rao, sementara kisah Tuanku Rao hanya 20 persen dari seluruh isi buku, ini sangat paradoks,” kata Kristian Silitonga dan CIIS.

Lima penanggap di sesi kedua, dimulai dari Edith Dumasi Nababan yang menceritakan kesaksian soal kebenaran fakta sejarah dalam buku Tuanku Rao (sudah dibahas dalam tulisan kedua). Kata Ibu br Nababan, buku Tuanku Rao versi MO Parlindungan bisa mengantarkan orang menjadi sarjana S2 (Strata-2) , bahkan S3 (Strata-3). “Karena buku ini sangat banyak mengandung kisah sejarah, yang sebelumnya tak pernah dibukukan. MO Parlindungan sendiri ada mengatakan itu dalam bukunya, bahwa kisah sejarah yang ditulisnya akan menarik minat banyak orang untuk meneliti faktanya lebih lanjut, yang bisa sebagai bahan disertasi S-2. Jadi menurut saya, buku Tuanku Rao akan mengantarkan orang mendapat gelar S-2 bahkan S-3,” lanjutnya.

Penanggap berikutnya Ibu Poniati, guru Sejarah di Siantar, mengatakan sangat menyayangkan mengapa diskusi buku tidak dimulai sejak pagi hari. Sehingga audiens memiliki waktu yang lebih banyak untuk berdiskusi. “Soalnya, isi buku Tuanku Rao ini sangat bagus dan menarik untuk didiskusikan. Saya sebagai guru sejarah sangat tertarik dengan buku ini. Sayang, karena keterbatasan waktu, banyak pertanyaan yang tak sempat diajukan,” katanya.

Sementara Pak Saragih, dosen USI berpendapat, buku Tuanku Rao selayaknya untuk konsumsi orang-orang dewasa, karena bisa membingungkan murid sekolah yang belajar sejarah. Guru lebih bingung lagi menjawab pertanyaan muridnya, soal kebenaran sejarah versi buku sejarah dengan versi buku Tuanku Rao yang ditulis Mangaradja Onggang Parlindungan. “Banyaknya versi sejarah malah membuat bingung. Untuk itu perlu disepakati, versi mana yang benar agar jangan membuat bingung guru dan murid,” tandasnya.

Kepala Sekolah SD Percontohan Siantar, Timbul Panjaitan SPd, mengaku sudah memiliki buku Tuanku Rao cetakan pertama tahun 1964. “Diskusi seperti ini sangat membuka wawasan. Tapi kalau bisa, jangan hanya digelar di Medan, Siantar, Padangsidimpuan, dan Panyabungan saja. Tetapi juga di Tapanuli Utara dan Toba, bahkan kalau perlu langsung di Bakkara, daerah kekuasaan Singamangaraja,” usulnya.

Dan terakhir Sekjen GKPS Rumanja Purba, memberikan tanggapan sedikit mengenai buku Tuanku Rao, dan proses diskusi yang berlangsung yang menurutnya sangat mencerahkan dan memberi perspektif baru dalam memaknai sejarah.

Menanggapi seluruh penanggap dalam diskusi itu, keempat pembicara yang hadir, yakni Batara R Hutagalung (pemrakarsa penerbitan kembali buku Tuanku Rao), Dr Phil Ichwan Azhary (Sejarawan dari Unimed), Drs Marim Purba (mantan Wali Kota Siantar), dan M Shaleh Isre (LKiS, yang menerbitkan ulang buku Tuanku Rao), memberi tanggapan masing-masing.

Batara R Hutagalung misalnya mengatakan, buku sejarah sering ditulis oleh pemenang, karena itu sering ada pemutar-balikan fakta. Untuk itu, setiap orang diharapkan tidak menelan begitu saja versi sejarah yang ditulis, melainkan tetap kritis. “Buku Tuanku Rao banyak memancing kajian-kajian baru, dan memang itulah tujuannya buku ini kembali diterbitkan,” katanya.

Dr Phil Ichwan Azhary mengatakan, buku Tuanku Rao lebih mirip disebut sastra sejarah. Dan data-data di dalamnya tak perlu diperdebatkan, karena dalam sejarah Melayu/Timur, fakta-fakta (penanggalan/tokoh-tokoh cerita) tidak terlalu dipentingkan. “Misalnya, soal kisah Kolonel Haji Piobang yang katanya mengalahkan Pasukan Napoleon, itu tak bisa diverifikasi. Tapi itu tak terlalu masalah. Ibarat Film Titanic yang terkenal itu. Kisah mengenai kapal Titanic tenggelam, itu fakta. Tetapi apakah benar ada dua remaja bercinta-cintaan di atas kapal, kita tak tau. Dan itu tak penting, serta tidak mengurangi fakta bahwa kapal Titanic tenggelam,” katanya.

Meski demikian, Ketua PUSSIS Unimed ini tetap merekomendasi LKiS sebagai penerbit buku, agar membuat pengantar, walau hanya di belakang buku (karena Sonny Boy sebagai ahli waris MO Parlindungan, hanya mengizinkan buku dicetak persis seperti aslinya, tanpa tambahan apapun untuk menangkap jejak emosi ayahnya saat mengetik buku ini). Pengantar itu menurutnya penting sebagai penjelasan kepada pembaca mengenai jenis buku Tuanku Rao, apakah sebagai buku sejarah, sastra sejarah, roman sejarah, atau apapun namanya.

Ia juga merekomendasikan orang Batak, agar mengumpulkan folklore atau turi-turian dari Tanah Batak sebelum Belanda hadir di Indonesia, sebagai perbandingan fakta sejarah dengan buku-buku sejarah lainnya.

Pembicara lokal dari Siantar, Drs Marim Purba, mengatakan, buku Tuanku Rao ditulis oleh orang yang nyeleneh dan aneh, karena ada tokoh-tokoh kontroversial dalam kisahnya, namun dengan catatan tahun-tahun yang lengkap. “Ini membuktikan kalau penulisnya luar biasa. Namun saya setuju, bahwa buku ini memberi definisi baru tentang sejarah hubungan suku-suku Batak. Juga kita belajar, agar jangan meniru kisah kekerasan dalam menyebarkan agama,” katanya.

Diskusi seperti yang digelar METRO Siantar, PLOt, Saroha Foundation, LKiS Jogjakarta, dan Center Popular Education Medan ini, menurut Marim, perlu sering-sering dilakukan, untuk mendidik orang belajar menerima pemikiran orang lain.

“Selain itu, setelah membaca buku Tuanku Rao, saya ingin mengatakan, nampaknya perlu merumuskan kembali daftar pahlawan-pahlawan nasional kita. Jangan-jangan semua memiliki sejarah gelap seperti Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Tambusai, seperti diceritakan dalam buku Tuanku Rao tulisan MO Parlindungan ini,” katanya.

Pembicara berikutnya, M Shaleh Isre dalam LKiS mengatakan, pihaknya sengaja menerbitkan buku sesuai aslinya tanpa tambahan apapun (kecuali kata sambutan dari Sonny Boy, putra penulis yang menjadi ahli waris buku Tuanku Rao). “Warna cover buku pun tak boleh diubah, harus tetap hitam, putih, dan merah, sesuai warga utama orang Batak,” katanya.

Penutup
Diskusi buku Tuanku Rao ini sengaja tak diakhiri dengan menarik kesimpulan, karena diskusi masih akan terus bergulir, dan proses pemikiran/kajian baru akan buku ini masih akan terus berlangsung. Dari Medan ke Siantar, safari diskusi dilanjutkan di Padangsidimpuan tanggal 28 November, dan Panyabungan 29 November. (habis)

Kategori: Tuanku Rao

Dari Diskusi Buku ‘Tuanku Rao’ di Pematangsiantar (2)

17 Februari 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Dua Sesepuh: Tingki ni Pidari Itu Benar Terjadi, Paderi Disebut Monjo

Selain Pak M Hutabarat (sesepuh) yang menyebut isi buku Tuanku Rao sebagai impossible, umumnya peserta diskusi mendukung penerbitan kembali buku itu. Bahkan ada dua orang ‘sesepuh’ lainnya yang memberi kesaksian, kalau cerita sejarah Perang Paderi yang ditulis Mangaradja Onggang Parlindungan, sungguh benar ada. Kedua sesepuh itu yakni Drs Muara Sitorus (70-an) dan Ibu Edith Dumasi Br Nababan (70-an). “Saya tersinggung, kalau ada yang menyebutkan isi buku itu bohong adanya,” tandas ibu Edith br Nababan, mantan Hakim Agung ini.

Dame Ambarita, Siantar

Penegasan Ibu Edith Dumasi Boru Nababan yang senada dengan tanggapan Drs Muara Sitorus, disampaikan menanggapi buku Buya Hamka berjudul Antara Fakta dan Khayalan Tuanku Rao, yang terbit tahun 1974 sebagai respon atas buku Tuanku Rao. Di mana, menurut sejarawan dari Unimed yang menjadi pembicara dalam diskusi, Dr Phil Ichwan Azhary, Buya Hamka adalah orang pertama yang mengkritik isi buku Tuanku Rao. Hamka menuding isi Tuanku Rao 80 persen bohong, sedangkan sisanya atau 20 persen lagi diragukan kebenarannya. Apalagi setiap kali Hamka menanyakan data dan fakta buku itu, Parlindungan selalu menjawab, “Sudah dibakar.”

Hamka antara lain mempertanyakan informasi Parlindungan mengenai Haji Piobang, pendiri Padri yang disebut Parlindungan pernah menjadi salah satu kolonel tentara Turki di bawah pimpinan Jenderal Muhammad Ali Pasya. Hal mana, tak bisa dijawab Parlindungan dengan tegas.

Hamka juga menolak menanggapi isu tentang adanya pemerkosaan massal dan orgy tawanan perempuan oleh sebagian pasukan Padri. Cerita tentang bagaimana anggota Padri melampiaskan nafsu syahwatnya secara terbuka terhadap tawanan-tawanan cantik dituding Hamka sebagai khayalan Parlindungan belaka. Hamka juga menuduh cerita-cerita seks itu sengaja dipasang Parlindungan untuk menarik hati para pemuda ketimbang mencari data ilmiah. Di mata Hamka, Tuanku Lelo yang menurut Parlindungan bernama asli Idris Nasution itu tokoh karangan Parlindungan belaka.

Senada dengan Hamka, Dr Phil Ichwan Azhary juga membeberkan beberapa fakta dalam buku Tuanku Rao, yang ternyata tak ada jejak dokumen. Antara lain mengenai Residen Poortman yang disebut Parlindungan sebagai salahsatu sumbernya dalam menulis cerita Perang Paderi. Ternyata, saat sejumlah sejarawan –termasuk Ichwan– menelusuri jejak Residen Poortman ini ke Belanda, tak ada dokumen yang menunjukkan kalau Residen Poortman pernah ada di Sumatera. “Bisa jadi, cerita-cerita mengenai Perang Paderi ini dikondisikan oleh Belanda, untuk membuat Orang Batak tak senang kepada orang Minangkabau,” jelas Ichwan.

Menanggapi buku Buya Hamka dan pernyataan Ichwan inilah, Drs Muara Sitorus dan ibu Edith Dumasi Nababan, sesepuh yang hadir dalam diskusi Hikayat Tuanku Rao dan Kilas Balik Perang Padri di Sekretariat Plot Siantar, Senin sore dua hari lalu, memberikan kesaksiannya. Drs Muara Sitorus, seorang mantan guru, misalnya, menyatakan sangat senang saat harian METRO SIANTAR menulis kisah Perang Paderi dan ‘cerita kelam’ dalam keluarga Dinasti Singamangaraja, sebanyak empat seri. “Saya tak menyangka, di zaman sekarang masih ada orang yang peduli dengan kisah sejarah di masa lalu. Terima kasih METRO,” kata tokoh masyarakat asal Porsea yang merantau ke Siantar, mengawali (terima kasih kembali, Pak, red).

Selanjutnya ia mengatakan, fakta sejarah yang ditulis Parlindungan dalam buku Tuanku Rao, sudah lama didengarnya, jauh sebelum buku Tuanku Rao terbit. “Saya sudah lama mendengar kisah mengenai Tingki ni Pidari. Itu adalah kisah mengenai Pasukan Paderi menyerang Tanah Batak. Dari peristiwa Tingki ni Pidari inilah, muncul istilah Monjo (mirip dengan bunyi Bonjol). Monjo ini adalah sebutan orang Batak menyebut Pasukan Paderi,” katanya.

Kalau pasukan Paderi datang, orang-orang akan berteriak “Monjo datang…Monjo datang!” “Kalau ada teriakan Monjo, itu menjadi pertanda bagi orang-orang Batak yang mendengarnya, untuk lari ke hutan menyelamatkan diri,” katanya. Kisah ini didengarnya dari orang-orangtua, yang diceritakan secara lisan. Karena itu, Drs Muara Sitorus senang dengan penerbitan buku Tuanku Rao, dan menegaskan, kalau kisah di dalamnya adalah fakta sejarah.

Mendukung pernyataan Drs Muara Sitorus, Ibu Edith Dumasi Br Nababan, mantan Hakim Agung yang hadir dalam diskusi di Sekretariat PLOt itu mengatakan, Tingki Ni Pidari itu sungguh benar terjadi. “Saya sudah lama mendengar kisah mengenai kisah Tingki Ni Pidari. Dan seperti dikatakan Pak Sitorus, pasukan Imam Bonjol itu disebut Monjo. Kalau Monjo datang, seluruh orang Batak haruslah berlari menyelamatkan diri ke hutan,” katanya.

Sayangnya, hanya anak-anak, wanita, dan pria yang tengah bekerja di sawah yang sempat melarikan diri ke hutan. Sementara yang tinggal di rumah, umumnya perempuan-perempuan cantik yang bekerja menenun ulos/kain, tak sempat kabur.

Untuk memaksa orang-orang yang sembunyi di rumah agar keluar, Pasukan Paderi pun membakar rumah-rumah. Semua perempuan yang bersembunyi dalam rumah terpaksa keluar, daripada terpanggang hidup-hidup. “Itulah makanya, rumah-rumah Batak habis di daerah Silindung. Hanya di Toba saja yang masih tersisa sedikit,” katanya.

Dengan cara inilah, Pasukan Paderi, yang menurut Parlindungan dipimpin oleh Tuanku Rao dan Tuanku Lelo (si kriminal perang versi Parlindungan), menawan sejumlah perempuan Batak. Sebagian dipancung, sebagian lagi diperkosa ramai-ramai.

Yang melarikan diri ke hutan, sebagian besar mati kelaparan. Hanya yang kuat-kuat dan umumnya tak cantik, yang bertahan selamat. “Itulah sebabnya, perempuan-perempuan Batak yang cantik baru ada sekarang ini. Itu karena yang cantik-cantik sudah mati dipancung atau diperkosa oleh Monjo, atau kelaparan di hutan. Hanya perempuan-perempuan kuat dan berbadan tegap, yang umumnya tak begitu cantik yang berhasil bertahan hidup di hutan. Makanya perempuan-perempuan Batak sampai waktu yang cukup lama, umumnya tak cantik. Sekarang saja, baru ada perempuan Batak yang cantik,” kata Ibu Edith Dumasi Br Nababan, yang masih saudara kandung dengan Dr SAE Nababan, mantan Ephorus HKBP.

Selain membenarkan adanya kisah mengenai Tingki ni Pidari yang disebutnya sebagai masa kelam di Tanah Batak –seperti diceritakan oleh Parlindungan dalam buku Tuanku Rao– Ibu Edith Nababan yang juga istri Ir Sahat Lumban Tobing (alm) ini mengatakan, kisah mengenai Pongkinangolngolan Sinambela alias Tuanku Rao, adalah benar merupakan bere (keponakan) Singamangaraja X. Tapi karena Pongkinangolngolan memiliki kekuatan batin/spiritual, sejumlah datu di Bakkara mengatakan dia harus diusir/dibunuh. Itulah kisahnya maka dia terusir hingga ke Minang.

“Mertua dari mertua saya masih keturunan Dinasti Singamangaraja. Dan saya ada mendengar keberadaan Pongkinangolngolan sebagai bere Singamangaraja X, yang membunuh tulangnya itu,” kata mantan Ketua Pengadilan Tinggi di Lampung yang juga pernah menjabat sebagai wakil Ketua Pengadilan Tinggi di Jawa Baratdan di Kalbar ini.

Caranya, Pongkinangolngolan yang sudah bergelar Tuanku Rao, mengirim pesan ke Tulang-nya, untuk menerima pisau sebagai hadiah. Namun saat Tulangnya datang dari Bakkara, Pongkinangolngolan memeluk Tulang-nya itu dan menikamnya hingga tewas (versi MO Parlindungan, Singamangajara X dibunuh Jatengger Siregar).

Dari sana, Pasukan Paderi menyerang kampung Tulang-nya di Bakkara, dan menjarah harta benda, seperti perhiasan, baju, ternak, untuk logistik tentara. “Itulah cerita yang saya dengar dari ayah saya. Bahkan bibi dari ayah saya adalah salahsatu yang sempat ditawan Pasukan Paderi, yang berhasil melarikan diri dengan mengikuti aliran Aek Sigeaon,” kata ibu Edith Nababan (yang selanjutnya diwawancarai METRO).

Saat epidemi penyakit merajalela, Pasukan Paderi mundur dari Tanah Batak. Namun sebagian memilih tinggal di Silindung, di daerah Sosorpadang, dan sampai sekarang masih ditempati oleh orang Padang yang Islam. “Sampai saat ini mereka tidak pernah diganggu,” kata ibu yang saat ini menjabat sebagai Ketua Paguyuban Darma Wulan (Warga Usia Lanjut) cabang Medan.

Ibu Edith juga mengaku, sempat kenal dengan Sutan Martua Raja, ayah MO Parlindungan, si penulis buku Tuanku Rao. Saat itu, mereka tinggal bertetangga di Siantar. Ibu Edith sendiri kala itu masih murid SD, sementara Sutan Martua Raja sudah tua.

Menurut ibu yang sudah berambut putih ini, orang Batak tidak tersinggung dan tidak perlu dendam membaca buku Tuanku Rao. “Sejarah kelam di Tanah Tapanuli jangan sampai menumbuhkan dendam. Kekerasan horizontal antarsuku ataupun atas nama agama/kepercayaan harus diakhiri. Mari kita membuka diri menerima fakta, bahwa orang orang Batak pernah kalah dalam Perang Paderi. Dan mari kita belajar dari sejarah, dengan tidak mengulangi perbuatan kekerasan. Karena sejarah memang sangat mungkin berulang,” kata ibu yang saat masih gadis ini sudah menjabat sebagai Ketua PN Taput dan Dairi. (ikuti tulisan mengenai apa kata dua pembicara lainnya, dan apa tanggapan peserta diskusi soal Buku Rao).

Kategori: Tuanku Rao

Buku: Tuanku Rao, Terror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak (4/Habis)

16 Februari 2008 · 1 Komentar

Demi Balas Dendam, Klan Siregar Ikut Pasukan Paderi Menyerang Bakkara         

Penyerbuan pasukan Paderi ke Tanah Batak dimulai pada 1 Ramadhan 1231 H (tahun 1816 M). Dimulai dengan penyerbuan terhadap benteng Muarasipongi yang dipertahankan oleh Marga Lubis. Sebanyak 5.000 orang dari pasukan berkuda ditambah 6.000 infanteri meluluhlantakkan benteng Muarasipongi, dan seluruh penduduknya dibantai tanpa menyisakan seorang pun.

Disunting: Dame Ambarita, Siantar

Kekejaman ini sengaja dilakukan dan disebarluaskan untuk menebarkan teror dan rasa takut agar memudahkan penaklukkan. Setelah itu, satu per satu wilayah Mandailing ditaklukkan oleh pasukan Paderi, yang dipimpin oleh Tuanku Rao dan Tuanku Lelo, yang adalah putra-putra Batak sendiri.

Selain kedua nama ini, ada sejumlah orang Batak yang telah masuk Islam, ikut pasukan Paderi menyerang Tanah Batak, yaitu Tuanku Tambusai (Harahap), Tuanku Sorik Marapin (Nasution), Tuanku Mandailing (Lubis), Tuanku Asahan (Mansur Marpaung), Tuanku Kotapinang (Alamsyah Dasopang), Tuanku Daulat (Harahap), Tuanku Patuan Soripada (Siregar), Tuanku Saman (Hutagalung), Tuanku Ali Sakti (Jatengger Siregar), Tuanku Junjungan (Tahir Daulay) dan Tuanku Marajo (Harahap).

Penyerbuan terhadap Singamangaraja X di Benteng Bakkara, dilaksanakan tahun 1819. Orang-orang Siregar Salak dari Sipirok dipimpin oleh Jatengger Siregar ikut dalam pasukan penyerang, guna memenuhi sumpah Togar Natigor Siregar dan membalas dendam kepada keturunan Raja Oloan Sorba Dibanua, yaitu Singamangaraja X.

… Adapun kisah mengenai dendam keturunan marga Siregar terhadap dinasti Singamangaraja, bermula ketika Marga Siregar bermukim di daerah Muara, di Danau Toba, mereka sering melakukan tindakan yang tidak disenangi oleh marga-marga lain. Akibatnya, konflik bersenjata pun tidak dapat dihindari.

Raja Oloan Sorba Dibanua, kakek moyang dari Dinasti Singamangaraja, memimpin penyerbuan terhadap pemukiman Marga Siregar di Muara. Setelah melihat kekuatan penyerbu yang jauh lebih besar, untuk menyelamatkan anak buah dan keluarganya, peminpin marga Siregar, Raja Porhas Siregar meminta Raja Oloan Sorba Dibanua untuk melakukan perang tanding -satu lawan satu- sesuai tradisi Batak. Menurut tradisi perang tanding Batak, rakyat yang pemimpinnya mati dalam pertarungan satu lawan satu tersebut, harus diperlakukan dengan hormat dan tidak dirampas harta bendanya serta dikawal menuju tempat yang mereka inginkan.

Dalam perang tanding itu, Raja Porhas Siregar kalah dan tewas di tangan Raja Oloan Sorba Dibanua. Tetapi ternyata, anak buah Raja Porhas ternyata tidak diperlakukan seperti tradisi perang tanding, melainkan diburu oleh anak buah Raja Oloan. Akibatnya, mereka terpaksa melarikan diri ke tebing-tebing yang tinggi di belakang Muara, meningggalkan keluarga dan harta benda.

Mereka kemudian bermukim di dataran tinggi Humbang. Pemimpin Marga Siregar yang baru, Togar Natigor Siregar mengucapkan sumpah, yang diikuti oleh seluruh Marga Siregar yang mengikat untuk semua keturunan mereka, yaitu: Kembali ke Muara untuk membunuh Raja Oloan Sorba Dibanua dan seluruh keturunannya.

Dendam ini baru terbalas setelah 26 generasi, tepatnya tahun 1819, ketika Jatengger Siregar (keturunan Marga Siregar) –yang datang bersama pasukan Paderi, di bawah pimpinan Pongkinangolngolan (Tuanku Rao)- menyerbu Bakkara, ibu kota Dinasti Singamangaraja…

Begitulah, dalam suasana Perang Paderi itu, Jatengger Siregar yang bergelar Tuanku Ali Sakti, menantang Singamangaraja X (keturunan Raja Oloan Sorba Dibanua) untuk melakukan perang tanding. Walaupun sudah berusia lanjut, namun Singamangaraja tak gentar dan menerima tantangan Jatengger Siregar yang masih muda. Duel dilakukan dengan menggunakan pedang di atas kuda.

Duel yang tak seimbang berlangsung tak lama. Singamangaraja kalah dan kepalanya dipenggal oleh pedang Jatengger Siregar. Terpenuhi sudah dendam yang tersimpan selama 26 generasi. Kepala Singamangaraja X ditusukkan ke ujung satu tombak dan ditancapkan ke tanah. Orang-orang marga Siregar masih belum puas dan menantang putra-putra Singamangaraja X untuk perang tanding. Sebelas putra-putra Singamangaraja memenuhi tantangan ini, dan hasilnya adalah 7 – 4 untuk kemenangan putra-putra Singamangaraja.

Namun setelah itu, penyerbuan terhadap Benteng Bakkara terus dilanjutkan, dan sebagaimana di tempat-tempat lain, tak tersisa seorangpun dari penduduk Bakkara, termasuk semua perempuan yang juga tewas dalam pertempuran.

Penyerbuan pasukan Paderi terhenti tahun 1820, karena berjangkitnya penyakit kolera dan epidemi penyakit pes. Dari 150.000 orang tentara Paderi yang memasuki Tanah Batak tahun 1818, hanya tersisa sekitar 30.000 orang dua tahun kemudian. Sebagian terbesar bukan tewas di medan petempuran, melainkan mati karena berbagai penyakit.

Untuk menyelamatkan sisa pasukannya, tahun 1820 Tuanku Rao bermaksud menarik mundur seluruh pasukannya dari Tanah Batak Utara, sehingga rencana pengIslaman seluruh Tanah Batak tak dapat diteruskan. Namun Tuanku Imam Bonjol memerintahkan agar Tuanku Rao bersama pasukannya tetap di Tanah Batak, untuk menghadang masuknya tentara Belanda. Ketika keadaan bertambah parah, akhirnya Tuanku Rao melakukan pembangkangan terhadap perintah Tuanku Imam Bonjol, dan memerintahkan sisa pasukannya keluar dari Tanah Batak Utara dan kembali ke Selatan.

Enam dari panglima pasukan Paderi asal Batak, yaitu Tuanku Mandailing, Tuanku Asahan, Tuanku Kotapinang, Tuanku Daulat, Tuanku Ali Sakti dan Tuanku Junjungan, tahun 1820 memberontak terhadap penindasan asing dari Bonjol/Minangkabau dan menanggalkan gelar Tuanku yang dipandang sebagai gelar Minangkabau. Bahkan Jatengger Siregar hanya menyandang gelar tersebut selama tiga hari. Mereka sangat marah atas perilaku pasukan Paderi yang merampok dan menguras Tanah Batak yang telah ditaklukkan. Namun hanya karena ingin balas dendam kepada Singamangaraja, Jatengger Siregar menahan diri sampai terlaksananya sumpah Togar Natigor Siregar dan ia berhasil membunuh Singamangaraja X.

Mansur Marpaung (Tuanku Asahan) dan Alamsyah Dasopang (Tuanku Kotapinang) dengan tegas menyatakan tidak mau tunduk lagi kepada Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Nan Renceh, dan kemudian mendirikan kesultanan/kerajaan sendiri. Marpaung mendirikan Kesultanan Asahan dan mengangkat dirinya menjadi sultan, sedangkan Dasopang mendirikan Kerajaan Kotapinang, dan ia menjadi raja.

Tuanku Rao tewas dalam pertempuran di Air bangis pada 5 September 1821, sedangkan Tuanku Lelo (Idris Nasution) tewas dipenggal kepalanya dan kemudian tubuhnya dicincang oleh Halimah Rangkuti, salah satu tawanan yang dijadikan selirnya.

Sedangkan Tuanku Imam Bonjol wafat pada usia 93 tahun di Manado, pada 1864.

Penutup

Buku Tuanku Rao yang terbagi dalam tiga bagian besar dan berisi 34 lampiran ini, disusun ulang persis dengan sebelumnya. Bagi yang tidak terbiasa dengan ejaan lama, agak susah dimengerti. Bahkan dalam tata bahasanya masih dicampur dengan Bahasa Inggris. Ini bisa dimaklumi agar apa yang tertulis dalam penerbitan perdana tidak terkurangi isinya dalam penerbitan kedua.

Namun yang jelas, buku ini memiliki tempat khusus di dalam penulisan sejarah berdasarkan fakta dan representasi historiografi sebagai interpretasi yang tidak mutlak.

Penulis telah menunjukkan adanya kekuatan pada naskah tertulis dalam merekonstruksi visi sejarah Batak bagi perkembangan politik, sosial, dan budaya. Tak dapat disangkal, kontribusi utama buku ini terletak pada temuannya atas faktor lain di luar domain historiografi konvensional. Hal itu jelas akan berdampak luas dalam perdebatan mengenai historiografi Indonesia.

(tulisan ini diramu dari resensi buku Tuanku Rao yang ditulis Batara R Hutagalung dan dari artikel yang dimuat Majalah Tempo dan beberapa sumber di internet/habis).

Kategori: Tuanku Rao

Buku: Tuanku Rao, Terror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak (3)

16 Februari 2008 · 1 Komentar

Tuanku Rao, Lahir di Luar Nikah & Sempat Dibuang ke Danau Toba

Pertanyaan selanjutnya, siapakah Tuanku Rao alias Pongkinangolngolan Sinambela? MO Parlindungan Siregar, dalam bukunya mengisahkan, Tuanku Rao adalah keponakan Singamangaraja X. Ia lahir di luar nikah. Kemudian, karena 3 orang Datu (tokoh spiritual) meramalkan bahwa Pongkinangolngolan suatu hari akan membunuh pamannya, Singamangaraja X, maka Pongkinangolngolan harus dibunuh.
  
Disunting: Dame Ambarita, Siantar
  
Dari cuplikan buku Tuanku Rao yang disarikan Batara R Hutagalung, dan dikutip METRO dalam tulisan ini, dikisahkan, ibu dari Pongkinangolngolan adalah Gana Sinambela, putri dari Singamangaraja IX. Sedangkan ayahnya adalah Pangeran Gindoporang Sinambela, adik dari Singamangaraja IX.
  
Gindoporang dan Singamangaraja IX, keduanya putra-putra Singamangaraja VIII. Dengan demikian bisa dikatakan, Pongkinangolngolan adalah anak hasil hubungan gelap antara Putri Gana Sinambela dengan Pamannya, Pangeran Gindoporang Sinambela.
  
Gana Sinambela sendiri adalah kakak dari Singamangaraja X. Walaupun terlahir sebagai anak di luar nikah, Singamangaraja X sangat mengasihi dan memanjakan keponakannya. Untuk memberikan nama marga, tidak mungkin diberikan marga Sinambela, karena ibunya bermarga Sinambela. Namun nama marga sangat penting bagi orang Batak, sehingga Singamangaraja X mencari jalan keluar untuk masalah ini.
  
Singamangaraja X mempunyai adik perempuan lain, Putri Sere Sinambela, yang menikah dengan Jongga Simorangkir, seorang hulubalang. Dalam suatu upacara adat, secara pro forma Pongkinangolngolan “dijual” kepada Jongga Simorangkir, dan Pongkinangolngolan kini bermarga Simorangkir.
  
Namun kelahiran di luar nikah ini diketahui oleh 3 orang Datu (tokoh spiritual) yang dipimpin oleh Datu Amantagor Manurung. Mereka meramalkan, bahwa Pongkinangolngolan suatu hari akan membunuh pamannya, Singamangaraja X. Oleh karena itu, Pongkinangolngolan harus dibunuh.
  
Sesuai hukum adat, Singamangaraja X terpaksa menjatuhkan hukuman mati atas keponakan yang disayanginya. Namun dia memutuskan, bahwa Pongkinangolngolan tidak dipancung kepalanya, melainkan akan ditenggelamkan di Danau Toba. Dia diikat pada sebatang kayu dan badannya dibebani dengan batu-batu supaya tenggelam.
  
Di tepi Danau Toba, Singamangaraja X pura-pura melakukan pemeriksaan terakhir. Tetapi dengan menggunakan keris pusaka Gajah Dompak ia melonggarkan tali yang mengikat Pongkinangolngolan, sambil menyelipkan satu kantong kulit berisi mata uang perak ke balik pakaian Pongkinangolngolan. Perbuatan ini tidak diketahui oleh para Datu, karena selain tertutup tubuhnya, juga tertutup tubuh Putri Gana Sinambela yang memeluk dan menangisi putra kesayangannya.
  
Tubuh Pongkinangolngolan yang terikat kayu dibawa dengan rakit ke tengah Danau dan kemudian di buang ke air. Setelah berhasil melepaskan batu-batu dari tubuhnya, dengan berpegangan pada kayu Pongkinangolngolan berhasil mencapai sungai Asahan, di mana kemudian di dekat Narumonda, ia ditolong oleh seorang nelayan, Lintong Marpaung.
  
Singkat cerita, setelah bertahun-tahun berada di daerah Angkola dan Sipirok, Pongkinangolngolan memutuskan untuk pergi ke Minangkabau, karena selalu khawatir suatu hari akan dikenali sebagai orang yang telah dijatuhi hukuman mati oleh Raja Batak.
  
Di Minangkabau ia mula-mula bekerja pada Datuk Bandaharo Ganggo sebagai perawat kuda. Pada waktu itu, tiga orang tokoh Islam Mazhab Hambali, yaitu Haji Miskin, Haji Piobang dan Haji Sumanik baru kembali dari Mekkah dan sedang melakukan penyebaran Mazhab Hambali di Minangkabau, yang menganut aliran Syi’ah. Haji Piobang dan Haji Sumanik pernah menjadi pewira di pasukan kavaleri Janitsar Turki. Gerakan mereka mendapat dukungan dari Tuanku Nan Renceh, yang mempersiapkan tentara untuk melaksanakan gerakan Mazhab Hambali, termasuk rencana untuk mengislamkan Mandailing.
  
Tuanku Nan Renceh yang adalah seorang teman Datuk Bandaharo Ganggo, mendengar mengenai nasib dan silsilah dari Pongkinangolngolan. Ia memperhitungkan, bahwa Pongkinangolngolan yang adalah keponakan Singamangaraja X dan sebagai cucu di dalam garis laki-laki dari Singamangaraja VIII, tentu sangat baik untuk digunakan dalam rencana merebut dan mengIslamkan Tanah Batak. Oleh karena itu, ia meminta kawannya, Datuk Bandaharo agar menyerahkan Pongkinangolngolan kepadanya untuk dididik olehnya.
  
Pada 9 Rabiu’ulawal 1219 H (tahun 1804 M), dengan syarat-syarat Khitanan dan Syahadat, Pongkinangolngolan diislamkan dan diberi nama Umar Katab oleh Tuanku Nan Renceh. Nama tersebut diambil dari nama seorang Panglima Tentara Islam, Umar Chattab. Namun terselip juga asal usul Umar Katab, karena bila dibaca dari belakang, maka akan terbaca: Batak!
  
Penyebaran Mazhab Hambali dimulai tahun 1804 dengan pemusnahan keluarga Kerajaan Pagarruyung di Suroaso, yang menolak aliran baru tersebut. Hampir seluruh keluarga Raja Pagarruyung dipenggal kepalanya oleh pasukan yang dipimpin oleh Tuanku Lelo, yang nama asalnya adalah Idris Nasution (eyang dari MO Parlindungan, penulis buku Tuanku Rao). Hanya beberapa orang saja yang dapat menyelamatkan diri, di antaranya adalah Yang Dipertuan Arifin Muning Alamsyah yang melarikan diri ke Kuantan dan kemudian meminta bantuan Belanda. Juga putrinya, Puan Gadis dapat menyelamatkan diri, dan pada tahun 1871 menceriterakan kisahnya kepada Willem Iskandar.
  
Umar Katab alias Pongkinangolngolan Sinambela kembali dari Mekkah dan Syria tahun 1815, di mana ia sempat mengikuti pendidikan kemiliteran pada pasukan kavaleri janitsar Turki. Oleh Tuanku Nan Renceh ia diangkat menjadi perwira tentara Paderi dan diberi gelar Tuanku Rao. Ternyata Tuanku Nan Renceh menjalankan politik divide et impera seperti Belanda, yaitu menggunakan orang Batak untuk menyerang Tanah Batak.
  

Perang Paderi

  
Sebelumnya, perlu dijelaskan, Perang Paderi (ada yang berpendapat kata ini berasal dari Pidari di Sumatera Barat, dan ada yang berpendapat kata Paderi berasal dari kata Padre, bahasa Portugis, yang artinya pendeta, dalam hal ini adalah ulama) di Sumatera Barat, berawal dari pertentangan antara kaum adat dengan kaum ulama. Sebagaimana seluruh wilayah di Asia Tenggara lainnya, sebelum masuknya agama Islam, agama yang dianut masyarakat di Sumatera Barat juga agama Buddha dan Hindu. Sisa-sisa budaya Hindu yang masih ada misalnya sistem matrilineal (garis ibu), yang mirip dengan yang terdapat di India hingga sekarang. Masuknya agama Islam ke Sumatera Utara dan Timur, juga awalnya dibawa oleh pedagang-pedagang dari Gujarat dan Cina.
  
Setelah kembalinya beberapa tokoh Islam dari Mazhab Hambali yang ingin menerapkan alirannya di Sumatera Barat, timbul pertentangan antara kaum adat dan kaum ulama, yang bereskalasi kepada konflik bersenjata. Karena tidak kuat melawan kaum ulama (Paderi), kaum adat meminta bantuan Belanda, yang tentu disambut dengan gembira. Maka pecahlah Perang Paderi yang berlangsung dari tahun 1816 sampai 1833.
  
Selama berlangsungnya Perang Paderi, pasukan kaum Paderi bukan hanya berperang melawan kaum adat dan Belanda, melainkan juga menyerang Tanah Batak Selatan, Mandailing, tahun 1816 – 1820 dan kemudian mengIslamkan Tanah Batak selatan dengan kekerasan senjata, bahkan di beberapa tempat dengan tindakan yang sangat kejam.
  
Sebelum masuknya agama Islam dan Kristen ke Tanah Batak, selain agama asli Batak yaitu Parmalim, seperti di hampir di seluruh Nusantara, agama yang berkembang di Sumatera Utara adalah agama Hindu dan Buddha. Sedangkan di Sumatera Barat pada abad 14 berkembang aliran Tantra Çaivite (Shaivite) Mahayana dari agama Buddha, dan hingga tahun 1581 Kerajaan Pagarruyung di Minangkabau masih beragama Hindu.
  
Agama Islam yang masuk ke Mandailing dinamakan oleh penduduk setempat sebagai Silom Bonjol (Islam Bonjol) karena para penyerbunya datang dari Bonjol. Seperti juga di Jawa Timur dan Banten rakyat setempat yang tidak mau masuk Islam, menyingkir ke utara dan bahkan akibat agresi kaum Paderi dari Bonjol, tak sedikit yang melarikan diri sampai Malaya. (ikuti tulisan dengan topik tentang kisah Penyerbuan pasukan Paderi ke Tanah Batak-tulisan ini diramu dari resensi buku Tuanku Rao yang ditulis Batara R Hutagalung dan dari artikel yang dimuat Majalah Tempo).

Kategori: Tuanku Rao

Buku: Tuanku Rao, Terror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak (1)

16 Februari 2008 · & Komentar

Ditarik dari Peredaran Tahun 1964, Sempat Dihargai Rp1,5 Juta

  

Judul bukunya cukup panjang: Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao, Teror Agama Islam Mazhab Hambali Di Tanah Batak 1816-1833. Buku yang menghebohkan tahun 1964 ini sempat ditarik dari peredaran. Tentu saja, buku langka di pasaran, bahkan sempat dihargai Rp1,5 juta. Oleh penerbit berbeda, Juni 2007, buku yang mengungkap sisi gelap Gerakan Padri ini kembali diterbitkan.
Disunting: Dame Ambarita, Siantar

  
Penulis buku ini bernama Mangaradja Onggang Parlindungan Siregar. Buku yang awalnya diperuntukkan untuk ‘Sonny Boy’ –kedua anaknya–, terbit pertama kali tahun 1964, dengan Penerbit Tanjung Pengharapan, Jakarta.
  
Parlindungan menyusun buku itu berdasarkan data sejarah Batak yang dimiliki ayahnya, Sutan Martua Radja. Pada 1918, ayahnya adalah guru sejarah di Normaalschool Pematangsiantar. Ayahnya memiliki warisan dokumen sejarah Batak turun-temurun dari tiga generasi sepanjang 1851-1955.
  
Di samping itu, Parlindungan memakai bahan-bahan milik Residen Poortman. Posisi Poortman sama dengan Snouck Hurgronje. Snouck adalah seorang ahli Aceh, yang informasinya diminta oleh pemerintah Belanda. Sedangkan Poortman adalah seorang ahli Batak. Poortman pensiun pada 1930 dan kembali ke Belanda. Di Leiden, Belanda, Poortman lalu menemukan laporan-laporan para Perwira Padri sepanjang 1816-1820 untuk Tuanku Imam Bonjol. Parlindungan mengenal Poortman secara pribadi dan pernah bertemu di Belanda. Poortman mengirimkan bahan-bahan laporan itu saat Parlindungan menulis bukunya.
  
Parlindungan bukan sejarawan profesional. Caranya menulis pun serampangan. Data yang diramunya itu sering ditampilkan cut and glue atau dinarasikan kembali dengan bahasa campuran: bahasa Indonesia lisan, kadang disisipi kalimat-kalimat Inggris yang panjang. Di sana-sini, ia memberikan komentar yang cara penulisannya seperti seorang ayah yang menerangkan kisah kepada anaknya. Kata ganti yang dipakai untuk dirinya adalah “Daddy“. Sedangkan anak laki-lakinya di situ disebut “Sonny Boy“.
  
Dan memang dalam awal bukunya, MO Parlindungan menulis, sebenarnya ia hanya bermaksud menulis buku untuk putra-putranya. Buku tersebut memuat banyak rahasia keluarga, termasuk kebiadaban yang dilakukan oleh Tuanku Lelo (tokoh yang dianggap pelaku utama pembantaian di Tanah Batak pada zaman Gerakan Padri yang juga nenek moyang penulis).
  
Dalam buku itu, diceritakan kembali kekejaman dan kebrutalan yang telah dilakukan Kaum Paderi waktu mereka melakukan ivansi ke Tanah Batak. Penulis yang kebetulan berasal dari Tanah Batak, menceritakan penderitaan nenek moyang mereka selama serangan pasukan Paderi antara 1816-1833 di Tanah Batak yang dipimpin oleh komandan-komandan Paderi seperti Tuanku Rao, Tuanku Lelo, Tuanku Asahan, dll.
  
Menurut penulis, setidaknya ada dua alasan mengapa penyerbuan ke Tanah Batak tersebut dilakukan dengan kekerasan. Selain menyebarkan Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak, penyerbuan itu juga dipicu oleh dendam keturunan marga Siregar terhadap Raja Oloan Sorba Dibanua, dinasti Singamangaraja, yang pernah mengusirnya dari Tanah Batak. Togar Natigor Siregar, pemimpin marga Siregar, pun sampai mengucapkan sumpah yang diikuti seluruh marga Siregar, akan kembali ke Batak untuk membunuh Raja Oloan Sorba Dibanua dan seluruh keturunannya.
  
Diperkaya dengan 34 lampiran yang antara lain berisi silsilah raja-raja Batak dan Minangkabau, serta dimuati serangkaian penelitian Willem Iskandar di samping dokumen klenteng Sam Po Kong Semarang hasil penyelidikan Residen Poortman, cerita sejarah yang diungkap MO Parlindungan tertuang dalam buku bertebal 691 halaman.
  
Mayjen TNI (purn.) T.Bonar Simatupang menilai, bahwa tulisan tersebut banyak mengandung sejarah Batak, yang perlu diketahui oleh generasi muda Batak. Setelah diyakinkan, Parlindungan Siregar setuju untuk menerbitkan karyanya untuk publik. Parlindungan Siregar meminta TB Simatupang, Ali Budiarjo SH dan dr Wiliater Hutagalung memberi masukan-masukan dan koreksi terhadap naskah buku tersebut.
  
Terbitnya buku ini mengundang polemik. “Sebagai sebuah buku sejarah, buku Parlindungan sumbernya sangat lemah. Dokumen Poortman sendiri diragukan. Banyak yang tidak faktual,” kata Dr Asvi Warman Adam dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
  
Hamka sendiri pernah menganggap Tuanku Lelo hanyalah karangan Parlindungan belaka. Sebuah buku khusus pun diluncurkan oleh Hamka bertajuk Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao. Dalam buku setebal 364 halaman yang diterbitkan oleh Penerbit Bulan Bintang pada 1974 itu, Hamka menuding isi Tuanku Rao 80 persen bohong, sedangkan sisanya diragukan kebenarannya. Pasalnya, setiap kali Hamka menanyakan data dan fakta buku itu, Parlindungan selalu menjawab, “Sudah dibakar.”
  
Memang, sekarang mustahil untuk mengecek semua sumber yang digunakan Parlindungan, karena semua data itu dimusnahkan oleh Parlindungan sendiri.
  
Dalam bukunya itu, Parlindungan menyebutkan data yang diwariskan ayahnya kepadanya hanya meliputi 20 persen dari yang dimiliki ayahnya. Ia menyaksikan sendiri, pada 1941, ayahnya membakar sisanya sambil bercucuran air mata di tepi Sungai Bah Bolon. “Daddy tidak mau risiko,” katanya kepada anaknya. “Our family secrets yang ketahuan pada outsiders cukup yang terbatas dalam buku ini. No more.”
  
“Saya menduga, itu adalah alibi dia, yang sebenarnya tak cukup memiliki data otentik, atau bisa juga ia tak mau sejarawan lain menelitinya,” kata JJ Rizal dari Yayasan Bambu, yang menerbitkan Greget Tuanku Rao.
  
Akan halnya Dr Gusti Asnan, pengajar Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Andalas, Padang, menganggap tidak semua sumber Belanda yang digunakan Parlindungan mengandung bias. Dari 100 laporan, ada 20-50 persen data yang benar. Menurut dia, historiografi Perang Padri sendiri dimulai pada 1950-an. “Saat itu terjadi dekolonialisasi historiografi Indonesia, termasuk Perang Padri. Demi persatuan dan kesatuan, bagian-bagian miring dari data yang ada, seperti kebrutalan Perang Padri, sengaja tidak disiarkan.”
  
Ia juga melihat gerakan pasukan Padri tak semata-mata bermotif agama, tapi juga ekonomi. Sejak akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19, perkembangan  ekonomi di Sumatera Barat memang luar biasa karena booming kopi.
  
Dr Gusti pernah membaca sebuah kisah tentang saudagar bernama Peto Magik di Pasaman. Ia dikenal sebagai saudagar Padri-bisa dianggap konglomerat. Seorang Belanda bernama Bulhawer yang melakukan kerja sama dengan Peto mengaku tidak melihat sedikit pun gambaran islami padanya. “Kesan yang dilihat Bulhawer, Peto Magik adalah seorang kapitalis. Dan gambaran ini saya rasa juga menggambarkan sebagian besar kaum Padri,” ujar Gusti.
  
Maka, menurut Gusti, ketika daerah kekuasaan di Tanah Datar dan Agam mulai direbut Belanda, kaum Padri pun meluaskan ekspansi ke utara: Bonjol, Pasaman, dan Tapanuli Selatan. Mengapa ke utara? Karena daerah utara memiliki basis kekayaan yang sangat tinggi. Apalagi, dengan menguasai area tersebut, Padri masih dapat melakukan hubungan dengan kaum lain, seperti Aceh, melalui jalur sungai.
  
Sekalipun mengakui kekerasan yang dilakukan Padri, sebagian orang memandang dari sudut berbeda. “Soalnya saat itu kan tidak ada HAM,” kata sejarawan Taufik Abdullah.
  
Basyral sendiri melihat Imam Bonjol mengetahui segala perampokan, pemerkosaan, dan mutilasi yang dilakukan perwira-perwiranya. “Mustahil Imam Bonjol tak tahu. Ia kan komandan,” kata Basyral.
  
Tapi Taufik Abdullah tak sependapat. Menurut dia, kekerasan di awal gerakan Padri bukan tanggung jawab Tuanku Imam Bonjol. Saat gerakan Padri masih radikal di awal, Tuanku Imam Bonjol masih muda dan baru menjabat sebagai asisten Tuanku Bandaro, salah satu pemimpin gerakan Padri saat itu.
  
Ketika polemik menghangat, buku itu ditarik dari peredaran. Buku itu pun jadi buku langka. Di sebuah pameran buku di Jakarta, buku itu beberapa tahun lalu bahkan sempat dihargai Rp 1,5 juta.
  
Lama menghilang, buku Tuanku Rao kembali diterbitkan. Bila di tahun 1964 Tuanku Rao diterbitkan oleh Tandjung Harapan, maka dalam reinkarnasinya kali ini ia diterbitkan oleh LKiS Yogya, Juni lalu, tanpa suntingan apa pun. Bahkan tetap dalam ejaan lama.
  
Adalah Batara Hutagalung, putra dr Wiliater Hutagalung (salahsatu tokoh yang memberi masukan-masukan dan koreksi terhadap naskah buku karya Mangaradja Onggang Parlindungan Siregar), yang mengupayakan penerbitan kembali buku ini. Karena ia melihat, buku ini sangat banyak mengandung pengetahuan sejarah tentang Batak.
  
Sebagaimana lumrah terjadi dalam diskusi akademik, khususnya kajian-kajian sejarah Indonesia, barangkali buku ini dapat diletakkan kembali dan diperkenalkan lagi kepada khalayak pembaca dan peminat sejarah. (besok, ikut sambungannya, dengan topik: Siapakah Parlindungan?).
(tulisan ini diramu dari resensi buku Tuanku Rao yang ditulis Batara R Hutagalung dan dari artikel yang dimuat Majalah Tempo).

Kategori: Tuanku Rao