Kuhitung-kuhitung, janjimu sudah 1.000
Seribu kali kau tak tepati
Seribu kali kau minta maaf
Seribu kali pula aku tertambat di pohon yang sama
2.000 hari aku percaya
Cinta ini tak tertandingi
Kau adalah aku
Aku adalah kau
Bumi berputar
Jam berputar
Engkau berputar
Kau bertiga kembali ke titik awal
Dan berputar-putar di lingkaran yang sama
Perputaran bumi adalah waktu
Perputaran jam menunjukkan waktu
Perputaranmu… entahlah!
Kekasih…
Lepaskanlah tali ini!
Pematangsiantar, 21 Mei 2008
BABAK I:
Aku memohon: ”Tolonglah Pak!”
”Kamu kerjakan saja sendiri!
Jangan harapkan orang lain
Jangan harapkan bantuan apapun!”
Aku menangis di balik jendela
”Tolong jangan bilang siapa-siapa ya,” pintaku pada dinding.
BABAK II:
”Kamu pikir kamu hebat?!”
Telunjuknya diarahkan ke wajahku
Aku tertegun
Tenggorokanku terasa sakit
BABAK III:
”Buktikan kehebatanmu padaku!”
Bentaknya dari jauh
Lewat perantara
”Kau telah menggunakan milikku
Kini, kembalikan hasilnya padaku!”
Aku menatap tak percaya
Bahuku goyang
Aku menggeleng, menolak menangis
BABAK IV:
”Karya apa itu???
Lenyapkan karya-karya itu dari hadapanku!
Jangan seperti orang onani!”
Ejeknya lewat dering telepon
Aku membisu
Jiwaku mati rasa
TAMAT!
Aku menengadah ke langit
”Tuhan….” aku merintih
”Kau di mana?
Peluklah aku
Aku benar-benar butuh bahu-Mu!”
Siantar, Mei 2008
Cinta pun terkadang mengalami gelombang kebosanan.
Ada pasang surut.
Cinta tak selamanya membuat kita ingin memeluk yang dicintai.
Benarkah? Entahlah…
Aku mau katakan,
Pacaran terus tanpa ada langkah maju
Bisa membuat hati membatu
Dan rayuan kekasih tak lagi membuat diri jatuh
Saat ini
Biarkan aku membisu
Karena cintaku sedang ingin diam
Tak ingin melangkah maju
Juga tak ingin mundur
Tak cinta lagikah aku padamu?
Tunggu saja sesaat
Karena aku pun sedang tak ingin bicara
Mungkin aku lelah
Siantar, Maret 2008