Arsip Kategori: Puisi

Pedang Pembunuh

Pedang! Pedang!
Yang sudah diasah dan juga digosok!
Diasah untuk menumpahkan darah
dan digosok supaya mengkilap seperti petir.
Apakah kita akan bersukacita?
–Tongkat anakku menghina
segala macam kayu. –

Pedang itu diberikan supaya digosok,
supaya sedia dipergunakan;
pedang itu diasah dan digosok,
supaya diberikan ke tangan si pembunuh.
-
-
-
Dan engkau anak manusia, tepuklah tanganmu,
biarlah pedang itu menjadi dua kali lipat,
tiga kali lipat.
Itu pedang pembunuh,
pedang untuk pembunuhan besar-besaran,
yang berkeliling menghabiskan mereka.

Supaya hati mereka hancur
dan yang jatuh berebahan bertambah-tambah
di tiap pintu gerbang mereka,
Aku memerintahkan penumpahan darah dengan pedang itu.
Aduh, pedang itu dibuat menyamai petir
dan digosok untuk menumpahkan darah.
Pancung yang di kanan dan di kiri,
ke mana saja matamu menetak.

Dan Aku juga akan bertepuk tangan
dan hati-Ku yang panas menjadi tenang kembali.
(Yehezkiel)

Rindu Sesuatu

Aku rindu sesuatu.
Sebenarnya, aku tau apa sesuatu itu.
Tapi aku tak berani
mengatakannya padamu.

Aku rindu sesuatu
Sesuatu yang hanya kau bisa beri
Tapi kau tak tau
Atau tau, tapi tak mau memberi

Aku rindu sesuatu
Dan aku sedih

Peduli Apa!

Engkau mau jungkir balik
Mau balik jungkir
Aku tak peduli lagi
Silahkan berbuah semaumu
Aku akan tutup mata tutup telinga
Bahkan takkan coba mengintip
Apa yang kau lakukan dalam senyap

Silahkan… silahkan
Lakukan apa yang kau suka
Selagi kau masih ada waktu

Aku bukan marah bukan jengkel
Hanya tak peduli saja lagi
Karena peduli pun ternyata tak banyak gunanya
Hanya mengundang pertikaian
So, silahkan jungkir balik
Peduli apa dengan semua itu
Aku capek sakit kepala!

Siantar, Juni 2009

Berat Sebelah

Hati-hati…!
Kakimu timpang
Jalanmu miring sebelah
Caramu berjalan tidak seimbang

Kau condong ke satu sisi
Hatimu plin-plan
Kau pikir kepincanganmu tersembunyi
Tapi sebenarnya itu sangat jelas terlihat
Seperti batu besar di tengah jalan

Penghakimanmu tidak jujur
Kau berteriak saat kakimu diseimbangkan
Suaramu melengking saat langkahmu diluruskan
Menyerang saat nodamu disingkapkan

Jujurlah…!
Tak baik berbuat begitu
Dinding yang kau bangun pun bisa roboh
Karena dasarnya rapuh seperti pasir

Berjaga-jagalah
Jangan itu membuatmu tersandung

Siantar, Mei 2009

Pertempuran

Kau pernah bertempur?

Kau pernah dengar deru perang?

Kau pernah angkat senjata?

 

Ou ou… tidak katamu?

Hari gini perang, katamu?

 

Tapi aku pernah bertempur

Dan aku sedang bertempur

Kau dengar pekik perangku?

Kau lihat senjataku?

 

Ou ou… tidak katamu?

 

Aku sedang bertempur

Bukan… bukan seperti Perang Dunia

Ini pertempuran tentang perebutan kekuasaan

Tentang hilangnya harga diri

Tentang sulitnya pilihan hidup

Tentang gugurnya idealisme… (cuih…)

 

Kau tak dengar deru perangku?

Tak lihat senjataku?

Memang… memang perangku tidak bersuara

Tidak hangar-bingar laiknya perang

Tidak membunuh nyawa

 

Tapi jika kau peka

Kau pasti akan merasakan hembusan perangku

Dan mendengar derunya di kesenyapan

 

Pekakah engkau?

 

Siantar, Mei 2009