Arsip Kategori: Celoteh

Orang Majus Tidak Berkunjung ke Kandang Domba

Dalam sejumlah drama Natal, lukisan-lukisan, dan di buku-buku cerita Alkitab untuk anak-anak, sering digambarkan bahwa orang-orang Majus mengunjungi bayi Yesus di kandang tempat Yesus dilahirkan, bersama-sama dengan para gembala.

Itu salah. Yang benar, mereka mengunjungi Yesus tidak bersamaan dengan para gembala. Melainkan setelah Yesus berumur beberapa hari, beberapa minggu, atau bahkan bulan setelah dilahirkan.

Kecil sekali kemungkinan orangtua Yesus (Yusuf dan Maria) membawa kembali Yesus ke kandang domba tempat dia dilahirkan, pada saat orang Majus berkunjung. Karena saat itu, orangtua Yesus telah tinggal di sebuah rumah. Ini adalah suatu hal yang mengecohkan banyak orang.

Simak Kitab Matius 2 ayat (1): Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem.

Ayat (11): Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu (jadi bukan kandang domba) dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.

 

Ayat (16): Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah (artinya, ada jarak waktu sekitar dua tahun), sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu.

 

Jadi, buat teman-teman yang merancang drama Natal kelahiran Yesus, perlu merevisi adegan orang Majus di kandang domba. (*)

Aku Merasa Bersalah!

Aku merasa serba salah. Penyebabnya bukan karena sampai hari ini aku belum punya mobil (hehehehe…). Tetapi karena sebuah situasi, yang sudah beberapa tahun terakhir kerap membuatku bingung…  dan merasa bersalah.

 

Di kantorku, ada anak-anak asongan yang setiap hari bekerja menjual koran secara eceran. Usia mereka mulai dari 7 tahun sampai 16 tahun. Ada juga seorang ibu 3 anak dan seorang pria tua. Tapi di tulisan ini, aku tidak berbicara tentang kedua orang terakhir.

 

Tujuh puluh lima persen di antara anak-anak itu tidak lagi bersekolah. Ada yang putus di kelas II SD, kelas V SD, kelas I SMP, bahkan kelas II SMP. Penyebabnya bermacam-macam. Ada yang karena bandel, tetapi umumnya karena faktor ekonomi.

 

Nah, yang membuatku bingung adalah anak-anak ini. Aku terbelit dalam pertanyaan: apakah aku harus menasehati mereka bersekolah atau membiarkan mereka terus jadi asongan.

 

Sambil lalu, secara pribadi sebenarnya aku sering menasehati mereka untuk bersekolah. Tetapi aku tau… aku tidak sungguh-sungguh tulus. Pasalnya, aku terbelah antara keinginan melihat mereka bersekolah tinggi-tinggi, agar mereka memiliki masa depan yang lebih baik dari sekedar menjual koran. Dan kalau mereka bersekolah, tentu sekaligus akan mencerdaskan generasi muda bangsa ini.

 

Di pihak lain, keberadaan anak-anak asongan ini cukup mempengaruhi oplah laku koran. Semakin banyak anak-anak yang menjual koran, dan semakin banyak waktu yang mereka berikan untuk berjualan koran, akan membuat semakin banyak koran laku. Banyak koran laku, artinya semakin banyak pendapatan. Dan target yang dibebankan perusahaan semakin berpeluang tercapai.

 

Sebenarnyalah, untuk mengurangi rasa bersalahku karena tidak sungguh-sungguh serius memperjuangkan pendidikan anak-anak itu, aku menghibur diri dengan mempercayai bahwa anak-anak itu sendiri tidak terlalu berminat sekolah. Dan itu tidak 100 persen salah. Khususnya bagi anak-anak yang masih memiliki kedua orangtua, dan ekonominya tergolong mampu untuk menyekolahkan anak sekedar lulus SD sampai SMP, tetapi dasar si anak bandel… ia keluar dari sekolah.

 

Aku juga menghibur diri dengan mengatakan, bahwa pendidikan tidak menjamin seseorang berhasil dalam hidupnya. Berapa banyak sarjana yang pada akhirnya menganggur dan tetap menetek pada ibunya? 

 

Aku juga kadang sengaja mengingat-ingat, bahwa kami tidak merebut mereka dari sekolahan. Karena sebelum bekerja sebagai asongan koran, mereka ada yang bekerja sebagai tukang semir, pemulung, pengais sampah, dan sebagainya.

 

Tetapi ‘penghiburan’ yang kuciptakan sendiri itu tak selalu mampu membuatku tenang dan sejahtera. Karena aku tau, faktanya kebanyakan anak-anak itu memang tidak mampu secara ekonomi. Memang. beberapa orang memiliki orangtua yang tidak terlalu peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Beberapa ada yang beribu/ayah tiri dengan ekonomi pas-pasan, sehingga tak terlalu memerhatikan pendidikan si anak. Tetapi sejumlah besar di antara anak-anak itu bisa dikatakan menjadi tulang punggung keluarga. Yang lain, meski bukan tulang punggung keluarga, tetapi –rela atau tidak– tetap harus menyetor sejumlah uang hasil penjualan koran kepada orangtuanya.

 

Memang…. memang… aku tidak boleh menjengkali masa depan seseorang. Belum tentu si anak asongan selamanya menjadi anak asongan. Boleh jadi di masa mendatang, dia berhasil menjadi pengusaha sukses. Bukankah terbukti, sejumlah pengusaha sukses bukanlah orang-orang berpendidikan tinggi? Yang penting mau bekerja keras. Dan anak-anak itu –paling tidak terbukti– bersedia bekerja keras. Bersedia berjualan koran setiap hari. Bukankah itu sudah modal awal keberhasilan? Bukankah, di mana ada kemauan, di situ ada jalan? Bukankah pendidikan formal bukanlah segalanya di dunia ini? Dan di atas segalanya, bukankah kasih Tuhan tak terbatas?

 

Tetapi… lagi-lagi…. setiap kali kulihat mereka sibuk berjualan koran di saat teman-teman sebayanya belajar di ruang-ruang kelas, aku merasa bersalah…. Duh! (*)

Pesannya: Jadilah Pemain!

Jadilah pemain, bukan pengamat atau penonton. Karena yang mendapat “piala kemenangan” adalah para pemain di lapangan, bukan penonton atau pengamat.

Kata-kata itu sering diucapkan dalam kaitan dengan dunia olahraga, bisnis, dan lainnya.

 

Tentu kita setuju, kalimat itu maksudnya positif, dan bermanfaat untuk mendorong seseorang menjadi pemain dalam arti positif pula.

 

Tapi bagaimana, jika para praktiknya, kalimat itu juga menjadi kalimat pendorong bagi dunia ‘permainan’? ‘Jadilah pemain,” kata beberapa orang beberapa kali dalam beberapa kesempatan.

 

Aku menangkap maksud mereka. Mereka memang ‘sudah bermain’. Aku belum. Dan aku dianggap lemah, karena tidak terlibat dalam ‘permainan’ itu. Dinilai lemah, karena mereka pikir aku tak mampu ikut ‘bermain’.

 

Sungguhkah aku lemah? Itu menjadi sebuah perenungan buatku selama beberapa waktu. Untuk terlibat dalam ‘permainan’, peluang di dunia kerjaku sungguhlah sangat terbuka. Yang dibutuhkan hanya sedikit kulit tebal, artinya tidak malu-malu masuk ke arena. Dan hasilnya cukup lumayan. Artinya, semakin berani ‘bermain’, semakin besar peluang untuk mendapat hasil yang besar. Dan ‘hasil keberanian’ itu cukuplah untuk membuat seseorang masuk golongan ‘yang berhasil’, paling tidak untuk ukuran materi.

 

Sebutan ‘lemah’ ini sempat membuatku kacau. Ingin kutunjukkan ke dunia bahwa aku tidak lemah. Aku bisa kalau aku mau. Persoalannya, apakah aku mau ‘jadi pemain’ dalam ‘permainan’ itu?

 

Mereka menganggapku lemah. Tidak pintar. Karena terbukti, pada akhirnya aku tidak sanggup memiliki benda-benda keren yang bisa dipamerkan. Sedangkan mereka punya. Bukan cuma punya, tetapi bisa ganti-ganti barang bermerek. Mereka ‘berhasil’ di mata dunia. Mereka hebat karena telah ikut menjadi ‘pemain’.

 

Siapa sih yang tidak ingin memiliki benda-benda mahal seperti itu? Aku, sebagai manusia normal yang masih hidup di dunia, tentu juga mau. Tetapi sungguh malang, sampai saat ini aku belum juga menang bertempur melawan hati nurani, agar bisa ikut dalam ‘permainan’ itu tanpa merasa malu dan hina. Tanpa merasa kehilangan harga diri. Tanpa merasa diri ‘terbeli’.

 

Memang, ‘ikut dalam permainan’, belum tentu dihina dunia. Bisa jadi, malah dipuji karena telah ‘ikut menjadi pemain’. Dan berhasil pula! Bukankah pesannya memang: ‘Jadilah pemain?”

 

Persoalanku, hati nurani menjadi lawanku. Dan sampai kini, aku belum menang! Mungkin nanti, setelah hati nurani kukalahkan, aku akan ikut ‘bermain’.

 

Jadi sementara ini, biarlah aku dianggap lemah dan tidak pintar.

 

Kalau aku tak juga menang dalam pertempuran dengan diriku sendiri, biarlah! Apa boleh buat! Terpaksa, aku belum dapat ikut ‘jadi pemain’. Maafkan aku kalau itu dianggap lemah!

 

Sibolga, Agustus 2008

 

 

 

Puisi yang Hebat, Kata-kata Indah, atau…?

Aku bukan seniman. Juga bukan seorang yang memiliki darah seni. Tapi dari sedikit pengalamanku membaca puisi, secara pribadi aku sering menggolongkan puisi dalam dua kategori: rangkaian kata-kata indah yang terkesan sangat bernilai sastra, dan rangkaian kata-kata biasa namun sarat makna.

 

Saat aku membaca puisi yang sarat kata-kata indah dan jarang dipakai di kehidupan sehari-hari, hatiku sering sekali terkagum-kagum. ”Kok bisa ya dia (si seniman) menciptakan puisi seperti ini!” Bayangkan saja, rangkaian kata-kata pilihan bagi saya yang bukan seniman ini, benar-benar sangat indah untuk dibaca. Kesannya sangat puitis! Pengarangnya, pastilah seorang seniman sejati.

 

Tapi sering sekali, usai membaca puisi ’sastra’ itu, hanya kagum yang ada. Kagum kepada kemampuan pengarangnya memilih kata dan menyusunnya dalam rangkaian kata-kata indah. Dan dalam hati mengakui, kata-kata yang dipilihnya memang puitis.

 

Namun bila dibandingkan dengan puisi kategori kedua: rangkaian kata-kata biasa namun sarat makna, aku tak hanya sebatas kagum. Tetapi juga sering merasa seperti membaca kitab suci. Ada percik yang membuatku ’mendapat sesuatu’ dari sana.

 

Contohnya, puisi yang kukutip dari sebuah milis di bawah ini:

 

Aku dan Kamu… Beda…

By : Sarlen Julfree

 

Salah…

Satu salah,

Dua salah,

Banyak salah…

Dikantonginya…

 

Benar…

Satu-dua anjuran,

Tiga deret kata benar,

Segudang perbuatan baik,

Masuk tong sampah…

 

Linu, pedih, perih, telinga mendengarkan…

Ramah hingga serak berkata, percuma diucapkan…

Hingga angkara adalah biasa, ditolak tak lagi menyiksa…

 

Janjiku adalah hutang…

Janjimu adalah omong kosong doang…

 

Nyatamu :

Aku adalah kebohongan, kamu adalah kebenaran…

Nyataku :

Kamu perlu merenung, aku perlu kepribadian baru…

 

Dua sisi mata uang…

Aku dan kamu…

Tak pernah bertemu…

 

Puisi di atas sama sekali bukan rangkaian kata-kata kata-kata indah yang hanya bisa ditemukan di kamus. Melainkan hanya rangkaian kata-kata umum yang lazim kita gunakan sehari-hari. Tapi puisi seperti itu lebih ’kena’ dengan saya. Ada sesuatu yang saya dapatkan dan saya kenang dari puisi itu.

 

Dan kalau saya tak salah, puisi berjudul ’Aku’ karya Chairil Anwar pun tidak menggunakan kata-kata ’indah dan puitis’, tapi siapa yang meragukan nilai puitis dari puisi ’Aku’?

 

Tanpa bermaksud mengatakan kategori puisi mana yang lebih ideal, saya hanya sedang berpikir-pikir mengenai konsep puisi yang bagaimana sebenarnya yang terbaik! Dan saya tak bisa memutuskan, hanya bisa menunjuk tanpa menyimpulkan!

 

Siantar, 1 Mei 2008

Bos Tak Pernah Salah

Peraturan Perusahaan:

Pasal Satu: Bos tak pernah salah.

Pasal Dua: Jika bos salah, lihat pasal satu.

 

Pernah dengar guyon di atas? Yah, itu memang hanya sebuah guyon. Meski demikian, ’pasal-pasal’ itu kerap terjadi dalam kehidupan nyata. Bos tak pernah salah! Ck ck ck!