Dameambarita’s Weblog

Entries categorized as ‘Celoteh’

Puisi yang Hebat, Kata-kata Indah, atau…?

01 Mei 2008 · Tidak ada Komentar

Aku bukan seniman. Juga bukan seorang yang memiliki darah seni. Tapi dari sedikit pengalamanku membaca puisi, secara pribadi aku sering menggolongkan puisi dalam dua kategori: rangkaian kata-kata indah yang terkesan sangat bernilai sastra, dan rangkaian kata-kata biasa namun sarat makna.

 

Saat aku membaca puisi yang sarat kata-kata indah dan jarang dipakai di kehidupan sehari-hari, hatiku sering sekali terkagum-kagum. ”Kok bisa ya dia (si seniman) menciptakan puisi seperti ini!” Bayangkan saja, rangkaian kata-kata pilihan bagi saya yang bukan seniman ini, benar-benar sangat indah untuk dibaca. Kesannya sangat puitis! Pengarangnya, pastilah seorang seniman sejati.

 

Tapi sering sekali, usai membaca puisi ’sastra’ itu, hanya kagum yang ada. Kagum kepada kemampuan pengarangnya memilih kata dan menyusunnya dalam rangkaian kata-kata indah. Dan dalam hati mengakui, kata-kata yang dipilihnya memang puitis.

 

Namun bila dibandingkan dengan puisi kategori kedua: rangkaian kata-kata biasa namun sarat makna, aku tak hanya sebatas kagum. Tetapi juga sering merasa seperti membaca kitab suci. Ada percik yang membuatku ’mendapat sesuatu’ dari sana.

 

Contohnya, puisi yang kukutip dari sebuah milis di bawah ini:

 

Aku dan Kamu… Beda…

By : Sarlen Julfree

 

Salah…

Satu salah,

Dua salah,

Banyak salah…

Dikantonginya…

 

Benar…

Satu-dua anjuran,

Tiga deret kata benar,

Segudang perbuatan baik,

Masuk tong sampah…

 

Linu, pedih, perih, telinga mendengarkan…

Ramah hingga serak berkata, percuma diucapkan…

Hingga angkara adalah biasa, ditolak tak lagi menyiksa…

 

Janjiku adalah hutang…

Janjimu adalah omong kosong doang…

 

Nyatamu :

Aku adalah kebohongan, kamu adalah kebenaran…

Nyataku :

Kamu perlu merenung, aku perlu kepribadian baru…

 

Dua sisi mata uang…

Aku dan kamu…

Tak pernah bertemu…

 

Puisi di atas sama sekali bukan rangkaian kata-kata kata-kata indah yang hanya bisa ditemukan di kamus. Melainkan hanya rangkaian kata-kata umum yang lazim kita gunakan sehari-hari. Tapi puisi seperti itu lebih ’kena’ dengan saya. Ada sesuatu yang saya dapatkan dan saya kenang dari puisi itu.

 

Dan kalau saya tak salah, puisi berjudul ’Aku’ karya Chairil Anwar pun tidak menggunakan kata-kata ’indah dan puitis’, tapi siapa yang meragukan nilai puitis dari puisi ’Aku’?

 

Tanpa bermaksud mengatakan kategori puisi mana yang lebih ideal, saya hanya sedang berpikir-pikir mengenai konsep puisi yang bagaimana sebenarnya yang terbaik! Dan saya tak bisa memutuskan, hanya bisa menunjuk tanpa menyimpulkan!

 

Siantar, 1 Mei 2008

Kategori: Celoteh

Bos Tak Pernah Salah

30 April 2008 · Tidak ada Komentar

Peraturan Perusahaan:

Pasal Satu: Bos tak pernah salah.

Pasal Dua: Jika bos salah, lihat pasal satu.

 

Pernah dengar guyon di atas? Yah, itu memang hanya sebuah guyon. Meski demikian, ’pasal-pasal’ itu kerap terjadi dalam kehidupan nyata. Bos tak pernah salah! Ck ck ck!

Kategori: Celoteh

Duh, Capeknya Marah!

26 Maret 2008 · Tidak ada Komentar

Seharian ini, rasanya sibuk. Bukan karena pekerjaan lebih menumpuk. Tapi karena jumlah orang yang ditemui lebih banyak, berikut konfliknya. Dan akupun ‘merasa sibuk’, hehehehe…!

Kemarin malam, aku tidur pukul 03.00 WIB. Sebenarnya, kerja di kantor sudah selesai pukul 01.00. Dan pukul 01.30 udah nyampe di rumah. Cuma ngobrol lagi ama teman sekamar membahas berbagai rencana kegiatan kantor. Sambil makan kuaci, sedappp… Jadilah tidur pukul 03.00. Itupun karena ingat, besok banyak rencana yang harus dikerjakan (sok sibuk… hehehehe).

Bangun pagi pukul 09.30, hmm…. peregangan tubuh dulu. Trus, sarapan, mandi, ke kantor, hubungi sejumlah orang via telepon terkait pekerjaan. Trus, jumpai pihak gedung pertemuan untuk fix-kan rencana kegiatan HUT kantor.

Puas melihat gedung yang cukup representatif dengan rencana acara, ke kantor lagi ah… Rapat bo…. Eh, ada teman yang bikin darah naik ke kepala. Betapa tidak, ditegur soal hasil pekerjaannya yang banyak salah, eh…. malah ngomong: “Kalau aku tak dianggap layak, kembalikan saja ke jabatan semula….”

Duh, duh… childish amat sih… Udah tua pun! Memangnya itu menyelesaikan persoalan?

Suasana pun jadi tegang. Dan tak enak! (Memangnya, kapan  pula marahan itu enak? Hehehehe…).

Tapi aku sendiri masih naik darah (maklum, macan bo….). Mbok  ya teman-teman mau belajar memperbaiki kesalahan… dan tak sikit-sikit merajuk bilang: “Kalau memang dianggap tak mampu, kembalikan saja aku ke tempatku semula!  Duh…. Please deh! Jawaban apa itu?

  

Suasana ketegangan di lingkungan kerja pun bikin hati tak gembira (siapa suruh lu marah-marah, hehehehe).

Usai rapat, kerja lagi… (sibuk nih yeee)… Ada orang yang harus dijumpai (ceritanya masih terkait rencana kegiatan HUT). Pembicaraan berlangsung memuaskan. Tapi ada sedikit yang tak enak. Seorang anggota DPRD Siantar yang ketemu tak sengaja di tempat itu, mengejek media tempatku bekerja. Katanya, bisa di….! (sensor) …

Bah! Enak aja dia ngomong. Maccam aku tak tau kiprahnya aja. Huh…! (marah lagi nih).

Tiba di kantor…. kerja lagi. Trus, mendadak ada SMS dari bos tertinggi yang mengkritik konsep kerja kami yang katanya tak jelas. Sindiran yang dipakainya untuk menyampaikan maksudnya, cukup pedas. Belum sempat memikirkan kata-kata yang ‘bijaksana’ untuk mendinginkan suasana hati si bos tertinggi, eh ada telepon dari bos kedua meminta segera rapat.

Deg-deg plas, aku dan teman-teman pun datang ke rapat.

Tanpa ba bi bu, si bos kedua langsung menyentak keras, tentang hasil kerja kami, yang menurut bos tertinggi, SEHARUSNYA JANGAN SEPERTI ITU. Ada dua kesalahan yang disorot. Dan dua-duanya membuat bos tak senang.

Enaknya jadi bawahan ini, awak tak boleh membantah. “A kata bos, A-lah!” kata bos kedua. (Oke deh bos. Aku cinta bos deh, hehehehehe…).

Usai dimarah-marah, rapat bubar grak…!

Dengan hati yang sedikit tak bahagia, awak pun turun ke ruang resepsionis untuk sekedar ngobrol membahas rapat tadi.

Ngobrol ngalor-ngidul, ada teman yang nanya apa kabar si A (seorang karyawan). Kujawab, sudah lima hari tak masuk tanpa permisi, sejak libur ‘panjang’ PNS: Maulid Nabi, Wafat Isa Almasih, Hari Kejepit,  Hari Minggu, ditambah hari Senin yang sebagian menjadi libur fakultatif, dan berlanjut ke hari Selasa, semuanya tanpa permisi.

Seorang teman, yang masih sekampung dengan teman yang masih absen tadi, nyeletuk, kalau teman yang absen itu, Bapaknya lagi sakit.

“Oooo…. tapi kan seharusnya permisi?”

“Dia bilang, kalau dia terpaksa libur seminggu, dia akan mengajukan cuti!”

“Sistem dari mana pula itu, libur dulu baru ajukan cuti?”

“Yah, itu bukan urusanku lah, itu urusan dia!”

“Tau nggak, aku bahkan sempat berpikir, ada pesta marga  di kampung kalian, karena teman-teman yang marga kalian (sambil menyebut marganya) di kantor ini,  rame-rame pulang kampung,” sahutku bercanda…. Sumpah, tak ada maksud apapun selain bercanda!

“Loh, sukaku lah. Aku kan nengok bapakku!” kata teman tadi dengan nada ketus. “Lagipula, itu kan hari libur!” katanya dengan sorot mata menjereng menatapku. Teman-teman yang lain terdiam dan saling berpandangan.

“Ya memang…. aku kan tak bilang apa-apa! Kok marah?” balasku.

Loh, kakak kok menyentil? Menyebut-nyebut marga lagi. Tak boleh aku menengok bapakkku?” balasnya, tampak benar-benar tersinggung.

“Ya boleh…. aku kan cuma bilang, kalian rame-rame pulang. Itu kan fakta. Trus, kupikir ada pesta marga!” aku bingung menjelaskan maksudku tadi, sekaligus agak jengkel, kenapa dia tersinggung hanya dengan ucapan seperti itu? Itu kan hanya kalimat biasa (menurutku loh, hehehe). Atau memang menyinggung yah?

“Cara kakak itu tak enak!”

“Sudah… sudahlah!” kata teman yang lain, sambil keluar dari ruangan, meninggalkan suasana yang sudah memanas.

“Ya, sudahlah…!” aku yang juga jengkel dengan sensitivitas yang timbul akibat candaanku,  pun keluar dari ruangan dan bergerak kembali ke kantor belakang tempatku bekerja. Di tengah guyuran hujan, aku dan teman ku pun berlalu meninggalkan  suasana tak enak itu.

Duh… aku benar-benar dalam suasana hati yang tak enak. Dalam sehari, ada dua konflik yang melibatkanku. Sementara pekerjaan harus diselesaikan sesuai deadline. Gimana kerja bagus kalau mood tak enak?

Duh… udah deh, lupakan saja dulu suasana yang tak enak… kerja dulu.,.. kerja….!”

Dan kerja pun  akhirnya selesai juga, meski dengan rambut yang berdiri!

Pesan: Marah itu capek! Tak ada gunanya. Cuma menghabiskan energi dengan cara yang tak berguna!

Hoahhhhhhhh….! Capek deh!

Kategori: Celoteh