Dameambarita’s Weblog

Entries categorized as ‘Berita’

TPL Bidik 14.000 Ha Lahan Tidur

19 Mei 2008 · Tidak ada Komentar

Rekapitulasi Areal PKR sampai April 2008         

No.      Sektor             Area Tanam   Potensi           Total Areal

                                    (Ha)                (Ha)                (Ha)

1.         Aek Nauli       1,171.48         575,46            1,746,93

2.         Habinsaran    1,337.70         2,408.10         3,745.80

3.         Aek Raja        2,461.50         3,954.10         6,415.60

4.         Tele                 1,040,41         1,681.09         2,721.50

Total                           6,011.09         8,618,75         14,629.84

 

 

Jadi Perkebunan Kayu Rakyat di Kawasan Tapanuli

PORSEA-METRO

Mengantisipasi larangan menebang pohon dalam hutan alam mulai Januari 2010 sesuai Protokol Kyoto, PT Toba Pulp Lestari (TPL) yang berlokasi di Desa Sosor Ladang Kecamatan Porsea, Kabupaten Tobasa, Sumut, membidik lahan-lahan tidur di kawasan Tapanuli untuk dijadikan Perkebunan Kayu Rakyat (PKR) eukaliptus. Total lahan tidak produktif yang dinilai berpotensi, mencapai 14.000 hektare.

 

”Saat ini TPL memiliki Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri (HPHTI) sebanyak 260.060 hektare. Namun tidak semua lahan tersebut dapat dimanfaatkan, karena sebagian merupakan kawasan hutan yang dilindungi. Sebagian lain telah dikelola masyarakat sekitar, sehingga tidak dapat diganggu lagi. Untuk menjaga ketersediaan pasokan kayu kebutuhan industri pulp, TPL memprogramkan PKR bekerja sama dengan masyarakat, dengan memanfaatkan lahan yang selama ini tidak produktif,” kata Direktur PT TPL, Juanda Panjaitan, kepada wartawan di kawasan HPHTI TPL di Sektor Habinsaran, Tobasa, Jumat baru lalu.

 

Juanda didampingi Humas PT TPL di Medan Chairuddin Pasaribu, staf senior Humas PT TPL Porsea Ir Tagor Manik, Manager PKR Posma Tambunan, Estate Manager Sektor Habinsaran Walman Pangaribuan, dan sejumlah staf TPL, menjelaskan, dengan PKR tanaman eukaliptus (eucalyptus sp), ada beberapa keuntungan yang diperoleh. Antara lain, rehabilitasi lahan tidak produktif yang ’tidur’ selama bertahun-tahun.

 

”Salahsatu tujuan program PKR adalah membantu masyarakat merehabilitasi lahan-lahan tidur menjadi subur kembali, agar nilai ekonominya meningkat.

 

Di mana setelah ditanami hutan baru eukaliptus, unsur hara atau zat nutrisinya akan kembali melalui pemupukan. Guguran daun eukaliptus itu sendiri akan memperkaya hara tanah,” katanya.

 

Keuntungan lainnya bagi masyarakat, biaya material, upah kerja, serta pemanenan seluruhnya disediakan PT TPL. ”Istilahnya, masyarakat digaji untuk mengolah tanahnya sendiri,” jelasnya. Prinsip kerja samanya, masyarakat menyediakan lahan untuk penanaman eukaliptus, selama kurun waktu paling sedikit dua rotasi atau 14 tahun. Pemilik lahan boleh menanam tanaman holtikultura selama satu musim, selama pohon eukaliptus belum besar.

 

Dengan sistem pembibitan yang saat ini dikembangkan TPL, yakni sistem kloning, menurut Juanda, PKR eukaliptus berpeluang panen cepat dengan hasil yang maksimal. Karena bibit unggul eukaliptus akan dipilih yang paling cocok untuk lahan bersangkutan. ”Bibit unggul eukaliptus yang kita hasilkan dengan sistem kloning, ada beberapa jenis. Yang paling unggul saat ini jenis IND 47, hasil persilangan eukaliptus jenis grandis dan uropilla. Keunggulannya antara lain tahan penyakit, kualitas serat baik, cepat tumbuh, tidak bercabang, dan tidak rakus air. TPL saat ini sedang mengurus hak cipta untuk jenis bibit dimaksud,” kata dia.

 

Semula, paparnya, TPL menggunakan pola pengembangan tanaman ini dengan cara menanam dari biji. Tapi ternyata hasilnya tidak dapat maksimal. Hingga TPL mencangkok ilmu kloning dari negara Auastralia dan Brasil.

 

Dengan membudidayakan bibit unggul sistem kloning, saat ini TPL tidak lagi hanya dapat menghitung kubikasi kayu yang bisa dihasilkan dari satu hektare. Tetapi sudah dapat menghitung berapa tonase pulp yang bisa dihasilkan dari satu hektare HPHTI ataupun PKR. ”Jadi hitung-hitungannya sudah lebih maju dibanding dulu, yang hanya menghitung berapa kubik kayu yang bisa diperoleh dari satu hektare,” jelasnya.

 

Manager PKR, Posma Tambunan dan Humas TPL Chaeruddin Pasaribu, sebelumnya menjelaskan, adapun PKR disepakati selama dua rotasi tanam atau sekitar 14 tahun, dengan masa panen paling lama sekali 7 tahun. ”Sistem pembagian keuntungan adalah 60:40, 60 persen untuk PT TPL, dan 40 persen untuk masyarakat pemilik lahan,” jelasnya. Seluruh produksi kayu di areal plasma harus dijual ke PT TPL. Harga jual kayu dari areal plasma akan ditetapkan oleg Gubernur Sumut.

 

Disambut Antusias

Di Desa Lintong, Kecamatan Borbor, Tobasa, tiga warga peserta PKR, kepada wartawan mengaku, sangat senang dengan adanya program PKR yang diselenggarakan TPL.

 

Habinsaran Pasaribu (52), warga Desa Lintong Kecamatan Borbor, didampingi rekannya Posma Pasaribu (51) dan dua petani lainnya, menjelaskan, saat ini lahan PKR di desa mereka mencapai 250 hektare. Dari jumlah itu, 25 hektare merupakan lahan miliknya pribadi.

 

Ditanya apa alasannya ikut PKR yang diprogramkan TPL, Habinsaran menjawab, kemiskinan dan pengangguran menjadi alasan utama. Lagipula, lahan yang dimanfaatkan adalah lahan yang selama bertahun-tahun tidak dimanfaatkan. ”Selain memanfaatkan lahan tidur, PKR ini jelas bisa mengurangi pengangguran. Di mana pekerjaan membabat, menyemprot, mengolah tanah, menanam, dan merawat tanaman, semuanya diserahkan ke warga dengan upah yang layak. Kalau pemilik lahan tidak sanggup mengerjakan sendiri, bisa dialihkan ke sub kontraktor,” kata dia.

 

Ia menjelaskan, saat ini sekitar 80 persen warga Desa Lintong yang memiliki lahan tidur, sudah ikut PKR. ”Selain memberikan bantuan, TPL juga mengajari kami cara menanam eukaliptus, merawat, menyemprot, dan sebagainya. Saya sendiri saat ini menganggap diri saya sudah lulus soal eukaliptus ini,” katanya, sambil terkekeh gembira.

 

Ia optimis, masih akan dapat menawarkan ratusan hektare lahan tidur di desa mereka, untuk dijadikan PKR. ”Banyak warga yang sudah menyatakan berminat ikut,” katanya yakin.

 

Bagi warga yang berminat ikut menjadi peserta PKR, boleh mengajukan permohonan kepada Direktur PT TPL, dengan formulir yang ditandatangani Kepala Desa. Boleh perseorangan atau kelompok. Syaratnya, memiliki lahan yang tidur yang potensial dijadikan PKR, dengan kepemilikan yang jelas. Tersedia akses jalan untuk pemanenan di kemudian hari. ”Pembangunan infrastruktur jalan akan menjadi pertimbangan bila luas areal cukup besar.” kata Posma Tambunan. (mea)

Kategori: Berita

Masih Seputar Vihara Avalokitesvara Terbakar

14 Mei 2008 · & Komentar

6 Orang Diselamatkan dari Lubang Angin

SIANTAR-METRO

Banyak kisah menyedihkan saat musibah kebakaran Vihara Avalokitesvara di Jalan Sipiso-piso Kelurahan Pematang Simalungun Kecamatan Siantar Selatan, Pematangsiantar, Minggu (11/5) dini hari. Salahsatunya, upaya warga menyelamatkan penghuni vihara. Misalnya saja, saat enam penghuni yang diselamatkan keluar dari lubang angin di lantai dua vihara.

 

Warga sekitar vihara yang ditemui METRO tadi malam menerangkan, Minggu dini hari itu mereka ikut panik. Apalagi api yang membakar vihara terbesar di Pematangsiantar itu semakin besar.

 

Sangkot, salahseorang warga menuturkan, saat itu ia panik mencari keluarganya yang melihat kebakaran. Saat sedang berkeliling, ia melihat ada enam orang di lantai II vihara berusaha menyelamatkan diri di tengah kepulan asap. Sangkot pun berlari masuk dari pintu depan dan merusak salahsatu dinding bangunan dengan besi yang diambil dari rumahnya. 

 

Lalu Sangkot memecahkan ventilasi (lubang angin) vihara menggunakan besi. Kemudian ia masuk ke gedung dan menyelamatkan enam orang yang ada di atas genteng dengan cara menggendong dan mengeluarkannya dari lubang angin yang sudah dirusaknya.

 

Warga lainnya, Sinaga mengatakan dirinya sangat jelas melihat ada satu orang penghuni vihara melompat dari lantai tiga dan mendarat di dekat jemuran rumahnya. Orang itu diketahui bernama Acai dan merupakan karyawan di vihara yang bertugas sebagai tukang masak dan mengatur dekorasi vihara. Oleh warga, Acai ditolong dan dibawa ke rumah sakit.

 

Masih kata Sinaga, telapak kaki kiri Acai terbelah. Kemungkinan besar terkena tali jemuran. Sedangkan kaki kanannya patah. “Saat Acai melompat, saya sudah keletihan mengangkati barang. Lalu saya memanggil beberapa pemuda untuk menolong Acai,” tambahnya.

 

Sementara salahseorang ibu mengaku melihat dua orang melompat dari lantai tiga vihara ke arah rumah warga. Kedua orang yang melompat itu, katanya, mengalami luka cukup parah dan semuanya di larikan ke rumah sakit.

 

Sedangkan warga yang lain, Afo mengatakan, ketika nyala api mulai reda, warga masih terus menyirami sisa api yang masih berkobar. Saat itulah ia melihat sesosok wanita tua berlari-lari di lantai tiga dan berusaha minta tolong. Melihat itu, Afo berusaha masuk melalui jendela yang dibongkarnya dan menyelamatkan wanita tersebut, yang kemudian diketahui bernama Ahyong, warga Binjai. “Ahyong yang ketakutan menolak digendong. Tapi kemudian dia mau,” katanya.

 

Katanya, tas yang dipegang Ahyong sempat terjatuh. Namun kemudian diambil Afo dan diberikan kepada Ahyong. “Saat menggendong Ahyong, saya berusaha menahan hawa panas. Untung kemudian datang orang lain menjemput ke atas,” katanya.

 

Warga yang lain tak mau kalah. Katanya, ia melihat ada orang terjatuh dari vihara ke rumah warga. Untungnya, ada warga yang melihat korban terjatuh dan tidak berdaya. Orang itu pun langsung ditolong warga yang lain.

 

“Usianya sekira 65 tahun. Perempuan itu diperkirakan berusia 65 tahun itu, dan kondisinya sangat memprihatinkan. Ia mengalami luka di kaki, mulut, dan kepala. Kemudian ada warga membopongnya ke ambulans milik rumah sakit yang sudah stand by di lokasi. Seterusnya dilarikan ke rumah sakit,” paparnya.

Orang yang terjatuh tersebut kepada warga mengaku warga Tandem, Binjai.

 

Disangka Petasan

Beberapa warga yang berkumpul tadi malam mengatakan, mereka memang sempat mendengar suara ledakan dari dalam kompleks vihara. Awalnya mereka menyangka suara petasan. Namun karena asap mulai mengepul, beberapa pemuda yang kebetulan begadang, berusaha mengintip ke dalam lokasi vihara dengan memanjat pagar. Saat itu mereka melihat api mulai berkobar di dalam vihara dan para penghuni berlarian.

 

“Kami kebetulan saat itu begadang. Kami mendengar ledakan dari dalam vihara. Kami piker suara petasan. Tapi kami melihat asap semakin mengepul, dan kami pun berusaha melihat ke dalam gedung. Ternyata api mulai membakar lantai dua,” aku Anto, salahseorang pemuda.

 

Beberapa pemuda kemudian membangunkan warga yang tinggal di sekitar vihara dibantu salahseorang ibu yang terlebih dahulu terbangun karena mendengar rebut-ribut dari vihara. Saat warga sudah banyak terbangun, mereka berusaha menyelamatkan barang-barang dari dalam rumah masing-masing. Sementara warga lainnya ikut menyirami api dengan air dan menyelamatkan orang-orang yang melompat dari vihara. Bahkan beberapa warga merelakan bagian rumahnya dirusak untuk menghindari api semakin menjalar.

 

Bantah Menjarah

Warga sekitar juga membantah telah melakukan penjarahan di vihara. Disampaikan mereka, saat itu seluruh warga sekitar tidak terpikir mengambil barang dari vihara ataupun rumah warga lainnya. Sebab saat itu semuanya panik dan berusaha menyelamatkan barang di rumah masing-masing, menyirami api, dan menyelematkan penghuni vihara yang melompat.

 

“Tidak ada kami melakukan penjarahan. Itu tidak benar,” kata warga hampir bersamaan.

 

5 Jenazah Dikremasi

Lima jenazah korban terbakarnya Vihara Avalokitesvara dikremasi (dibakar), di Crematorium Di Zang Dian, di Tanjung Morawa, Km 12 Kabupaten Deliserdang, Selasa (13/5). Kelima jenazah tersebut yakni Bhiksu Yu Chien (60), guru agama Buddha Sujad Widodo (48), Ai Chin (35), Ai Nie (34) serta Chin Hang (60).

 

Saat ritual kremasi, keluarga korban serta teman sejawat memanjatkan doa bagi lima jenazah yang dimasukkan dalam peti. Acara sembahyang dipimpin bhiksu yang datang dari Singapura.

 

Ritual itu diisi alunan doa-doa yang dipanjatkan sejumlah bhiksu yang secara khusus datang dari Singapura, Thailand, Malaysia, Jakarta, serta seluruh bhiksu di Pulau Sumatera. Meski mengaku tidak kenal dekat dengan kelima korban, para bhiksu mengaku sedih.

 

“Setiap orang akan mengalami kematian. Namun kita harus tetap berdoa kepada sang Maha Pencipta. Kematian adalah hal yang tidak asing dengan kehidupan. Untuk itu kita harus siap menghadapinya,” sebut Bhiksuni bernama Wiraguna dari Vihara Vilokasiva, Wifena Graha, Jakarta.

 

“Tidak ada acara khusus dalam ritual ini. Ini ritual umum dalam kegiatan kremasi. Jika ada kematian, kegiatan ini dilakukan,” tambah bhiksuni yang mengenakan kaca mata minus ini.

 

Bhiksu lain yang tidak mau disebut namanya mengaku khusus datang dari Jakarta. Katanya, kegiatan kremasi untuk menghormati para jenazah dan sebagai penghormatan terakhir.

 

Usai ritual doa, sanak saudara kelima korban memasuki ruangan khusus. Di ruangan itu mereka hanya duduk-duduk menunggu kremasi usai. Diperkirakan, kremasi membutuhkan waktu sekitar 3-4 jam. Kremasi sendiri dilakukan di dalam tungku khusus dengan tekanan api yang sangat tinggi.

 

Bhiksu Yu Chien, Baru 2 Tahun Ditahbiskan

Bhiksu Yu Chien (69) merupakan satu dari tujuh korban tewas dalam musibah kebakaran Vihara Avalokitesvara. Ia baru diangkat menjadi bhiksu sekitar dua tahun lalu, namun sudah sejak 29 tahun lalu, atau saat berusia 40 tahun, Bhiksu Yu Chien sudah tinggal di Vihara Avalokitesvara.

 

Pengurus Vihara Avalokitesvara, Chandra kemarin menerangkan, sebelum diangkat menjadi bhiksu, Yu Chien bekerja membantu-bantu kegiatan operasional di vihara, baik kegiatan ibadah maupun lainnya. Selama ini, katanya, Bhiksu Yu Chien dikenal sangat giat.

 

“Bhiksu Yu Chien sudah pernah menikah, dan punya anak. Istrinya menetap di Jakarta dan anaknya di Medan. Tapi ketika usianya 40 tahun, ia memutuskan untuk menghabiskan hidupnya dengan beribadah,” terang Chandra.

 

Masih kata Chandra, untuk menjadi bhiksu, seseorang biasanya harus sekolah untuk menghafal seluruh ayat-ayat Buddha. Berbeda dengan biksu Yu Chien, yang bisa ditahbiskan sebagai bhiksu hanya dengan ketekunannya belajar tanpa sekolah.

 

Sujad Widodo Tiap Sabtu Ajak Siswa ke Vihara Avalokitesvara

Sujad Widodo (48), salah satu korban tewas dalam kebakaran Vihara Avalokitesvara Pematangsiantar dinilai sebagai sosok yang patut diteladani. Di mata rekan guru dan siswa SMA Yayasan Perguruan Sultan Agung Pematangsiantar, guru agama Buddha tersebut dikenal sangat baik dan ramah. Namun yang paling diingat, setiap Sabtu, Sujad selalu mengajak siswanya beribadah ke Vihara Avalokitesvara, yakni vihara yang menjadi tempat ia meregang nyawa.

 

Sanny Halim, siswa kelas III SMA Sultan Agung yang ditemui di Yayasan Bhakti Kesejahteraan Sosial (YBKS) Jalan Cokroaminoto Pematangsiantar kemarin mengaku sangat berduka atas musibah kebakaran Vihara Avalokithesvara, yang mengakibatkan salahseorang gurunya tewas

 

Dalam pandangan Sanny dan rekan-rekannya, Sujad Widodo merupakan sosok guru yang baik. “Makanya kami sangat merasa kehilangan,” tambah Silvya, siswi kelas III SMA Sultan Agung.

 

Siswi lainnya, Theresia mengakui Sujad sebagai guru yang baik. Bahkan ia mengaku memiliki kesan tersendiri terhadap guru tersebut. Kesan itu, katanya, berupa kegigihan Sujad Widodo yang selalu mengajarkan pemahaman tentang hidup melalui ajaran Buddhist. “Bahkan setiap hari Sabtu, Pak Sujat Widodo tidak lupa mengajak siswa mengadakan kebaktian di vihara yang terbakar itu,” sebutnya.

 

Sedangkan Silvina, siswi kelas I SMA Sultan Agung mengatakan Sujad tidak pernah marah kepada siswanya. Padahal, Silvina yakin, almarhum pasti pernah dibuat kesal oleh ulah siswanya.

 

“Ya itulah dia. Tidak pernah marah, selalu baik dan tidak sombong, sopan, ramah, dan selalu bersedia memberikan masukan,” ujar Silvina. Bagi siswa yang rajin mengikuti kebaktian, tambah silvina, Sujad selalu memberi tambahan nilai.

 

Hal senada juga disampaikan rekan Sujad, sesama guru agama Buddha di SMA Sultan Agung, Widianto. Menurutnya, kepergian Sujad membuat mereka sangat kehilangan sosok yang supel dan tidak pandang bulu dalam bergaul.

 

Sebelum Sujad pergi untuk selamanya, Widianto merasa prilaku rekannya itu tidak seperti biasa. Misalnya, ketika rapat untuk peringatan Waisak di sekolah mereka, saat itu almarhum menyalami setiap orang. Bahkan sebelum rapat pun, almarhum sudah menyalami para guru.
”Terkesan, salaman itu menunjukkan tanda dirinya pamit untuk pergi,” kata Widianto.

 

Ditambahkannya, sebenarnya Sujad Widodo dihunjuk Departemen Agama (Depag) agar mengajar di Kisaran Kabupaten Asahan. Namun almarhum berusaha tetap mengajar di Pematangsiantar, dengan mencoba mendaftar ke Depag di Jakarta.  “Tapi almarhum tetap melaksanakan tugas mengajar di Kisaran pada hari-hari tertentu,” katanya.

 

Guru lainnya, di Yayasan Perguruan Manjusri, Nur Aini (2 8) dan Novita Hutagaol (31), mengatakan almarhum Sujad dikenal periang dan humoris. “Seperti terlihat di foto itu,” kata Novita sembari menunjuk foto di depan peti jenazah almarhum. Dalam foto itu, Sujad memang tersenyum.

 

Selain itu, tambah Novita, almarhum merupakan sosok yang aktif dan rajin. Jadi, tidak berlebihan bila almarhum mendapatkan penghargaan sebagai pahlawan. “Orangnya dikenal sangat baik. Selain dekat dengan sesama guru, almarhum juga dekat dengan para anak didik,” katanya.

 

Nur Aini, yang merupakan guru komputer mengaku selalu menjadi orang pertama yang disapa almarhum setiap datang ke sekolah.  “Saya memang orang yang selalu pertama disapa Bapak itu semasa masih hidup,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

 

Selain kedua guru itu, Haimin, pelajar kelas III SMP Budhis Manjusri mengatakan almarhum adalah orang yang periang dan suka bercanda. Dia juga suka bergabung dengan para pelajar.  “Kami merasa kehilangan sosok Pak Widodo. Dia baik sekali,” ujarnya, juga dengan mata berkaca-kaca.

 

Sementara istri almarhum, Nurhayati (42) mengatakan suaminya adalah sosok yang tegas namun murah senyum. Selama sekitar tujuh tahun bertugas di Siantar, suaminya memang tinggal di Vihara Avalokitesvara. Di Siantar, katanya, suaminya mendapat tugas dari Perwalian Umat Buddha Indonesia (Walubi). “Selama di Siantar, almarhum hanya pulang saat libur panjang,” sebutnya.

 

Dari Nurhayati, almarhum memiliki dua anak yakni Abi Manyu (7) dan Punto Dewo (4). Nurhayati yang selama ini tinggal terpisah dengan suaminya karena ia menetap di Tangerang dan bekerja di Rumah Sakit (RS) Harapan Kita Tangerang itu, mengaku tabah menghadapi cobaan ini, meskipun ia harus kehilangan suami dan ayah anak-anaknya.

 

Nurhayati juga mengaku tidak memiliki firasat apapun sebelum musibah terjadi. Hanya saja, katanya, dalam tidurnya Sabtu (10/5) malam itu, ia bermimpi melihat suasana seperti di film India, yakni banyak bunga-bunga.(mag-01/dro/btr)

Kategori: Berita

Pengirim SMS Santet Ditangkap

14 Mei 2008 · & Komentar

Motif: Hanya Iseng

 

RIAU-METRO

Begitu SMS santet yang meresahkan warga berseliweran, Depkominfo berkoordinasi dengan para operator selular untuk mengungkap siapa sosok di baliknya. Koordinasi itu berbuah manis. Si pengirim awal SMS tersebut terdeteksi.

 

“Orangnya (pengirim awal) sudah ketemu. Sudah diamankan kepolisian Riau,” kata Kabag Humas Ditjen Postel Depkominfo Gatot S Dewabroto, Selasa (13/5).

 

Siapa orang itu? “Itu kewenangan polisi untuk menjawab,” jawab Gatot.

 

Ditambahkan dia, karena telah menimbulkan keresahan di masyarakat, maka si pengirim awal SMS santet itu akan diproses pidana oleh aparat yang berwenang.

 

Menurut Gatot, setelah berkoordinasi dengan para operator di Tanah Air, pihaknya segera melokalisir. Setelah itu, dilaporkan kepada pihak kepolisian dan kejaksaan. “Di setiap nomor seluler kan ada local number-nya jadi bisa diketahui di daerah mana. Kick off-nya diketahui dari daerah Riau. Saat pelacakan terkendala registrasi karena tidak valid, tapi akhirnya bisa ditemukan juga,” tutur dia.

 

Apa alasan pelaku mengirimkan SMS Santet tersebut? Ternyata motif pengiriman SMS hanya iseng belaka. “Kalau motif, informasi yang kita terima karena iseng saja,” kata Kabag Humas Ditjen Postel Depkominfo Gatot S Dewabroto.

 

Dengan tertangkapnya orang tersebut, maka terbukti sudah tidak benar ada SMS yang bisa menyantet orang. “Sudah terbukti sekarang, kemarin orang yang sakit setelah baca SMS bukan karena santet,” lanjut dia.

 

Menurut Gatot, si pengirim awal SMS santet itu sengaja memanfaatkan keresahan masyarakat dengan medium telepon selular. Dengan tertangkapnya orang tersebut juga mementahkan dugaan operator selular ingin menaikkan traffic.

 

“Dia menggunakan data palsu, jadi agak terkendala. Tapi operator punya alatnya (untuk melacak). Itu satu orang saja (yang melakukan),” terang Gatot.

 

Namun kabar penangkapan tersangka pengirim SMS santet ternyata belum bisa dipastikan kebenarannya. Polda Riau membantah telah mengamankan tersangkanya. Padahal seperti yang diungkapkan Kabag Humas Ditjen Postel Depkominfo, Gatot S Dewabroto, pengirim awal SMS yang telah meresahkan masyarakat itu telah diamankan Kepolisian Riau.

 

Namun saat dikonfirmasi, jajaran Polda Riau membantah kabar tersebut. Sebaliknya, mereka justru mendengar kabar sang tersangka ditangkap oleh Polda Kepulauan Riau (Kepri). “Itu (penangkapan pengirim SMS santet) di Polda Kepri. Pelakunya kalau tidak salah saya dengar anak SMA,” ujar Wadir Reskrim Polda Riau AKBP Luki Arliansyah di kantornya, Jl Sudirman, Pekanbaru, Selasa (13/5).

 

Informasi penting ini pun kemudian ditindaklanjuti para wartawan di Riau dengan menghubungi Polda Kepri. Namun alih-alih mendapat kepastian, Polda Kepri malah mengaku tidak tahu menahu soal penangkapan tersangka pengirim SMS santet itu. “Memang ada isu penangkapan tersangka SMS santet, tapi sampai saat ini kami belum tahu menahu. Tim yang kami bentuk untuk menangani kasus ini belum memberikan laporan resmi soal penangkapan,” ujar Kadispen Polda Kepri AKBP Anggria Lupis.

 

Saat ditanya bahwa pelaku dikabarkan masih duduk di bangku SMA, Anggria kembali mengaku tidak tahu. “Ya itu tadi, kami belum tahu apa-apa,” ujar Anggria.

 

Sementara itu, bermacam-macam dugaan mencuat mana kala SMS santet yang meresahkan muncul dan beredar. Operator telepon selular juga dituding berada di balik munculnya SMS tersebut karena alasan meningkatkan traffic. “Salahsatu operator mengeluh dapat apes dengan adanya SMS itu. Apalagi harus berkali-kali menjelaskan kepada publik dan mendapat keluhan,” kata Kabag Humas Ditjen Postel Depkominfo Gatot S Dewabroto.

 

Setelah dilakukan penelusuran, SMS santet tersebut ternyata dikirim dari nomor telepon selular daerah Riau. “Awalnya dikirim dari nomor 0812. Disebut-sebut juga nomor 0866 yang dianggap milik Natrindo Telekomunikasi Selular (NTS) Axis, padahal nomor mereka kan awalnya 083,” tutur Gatot.

 

Begitu SMS santet itu beredar, Depkominfo pun menyampaikan surat kepada para operator di Tanah Air agar mengoptimalkan call center-nya. Tujuannya adalah agar isu SMS santet itu tidak berkembang liar. “Jadi tidak hanya Telkomsel saja (yang dikirimi surat),” sambung dia.

 

Gatot juga mengimbau publik agar memasukkan data yang valid manakala melakukan registrasi pelanggan telepon selular. “Warning bagi yang memasukkan data palsu, bila ketahuan maka bisa dinonaktifkan nomornya,” sambungnya.

 

Dia juga mengingatkan pihak operator agar cepat melakukan validasi. Bila lambat, maka citra operator juga yang akan jatuh.

 

Aturan registrasi pelanggan telepon selular diatur dengan Peraturan Menteri Nomor 23/Kominfo/M/10/2005 tentang Kewajiban Registrasi Pengguna Prabayar dan Pascabayar. Registrasi yang tidak dipungut biaya ini bertujuan untuk menghindari penyalahgunaan SMS, seperti untuk tindak kriminal, adu domba, dan pencegahan terorisme. (dc)

 

Kategori: Berita