Dame Ambarita’s Weblog

Masukan dari Maret 2009

Ekspedisi Jalan Kaki 180 Km Medan-Parapat (1)

24 Maret 2009 · 1 Komentar

“Asalkan Kami Terus Berjalan ke Arah yang Tepat, Kami akan Tiba di Tujuan”

 

Foto di Lubuk Pakam, pada hari pertama jalan kaki menempuh rute Medan-Parapat.

Foto di Lubuk Pakam, pada hari pertama jalan kaki menempuh rute Medan-Parapat.

“Tidak masalah seberapa lambat kami berjalan kaki, asalkan kami terus berjalan dan berjalan ke arah yang tepat, kami akan tiba di tujuan.” Prinsip yang sama, jika diterapkan di dunia pendidikan kita, menurut Nugroho MM, Direktur Perguruan Cendana Medan –yang memimpin ekspedisi–, pasti akan berhasil memajukan bangsa ini.

 

Dame Ambarita, Siantar

 

“Jalan kaki dari Medan-Parapat sejauh 180 kilometer? Gila apa?” Itulah komentar sekian orang yang mendengar rencana Nugroho MM, Direktur Perguruan Cendana Medan, beserta lima orang mahasiswanya, yang akan berjalan kaki dari Kota Medan ke Parapat. Kelima mahasiswa itu masing-masing Samsudin (21) dan Felick (20), keduanya mahasiswa jurusan Managemen Pemasaran, serta Tommy Wahyudi (21), Jimmy Wahyudi (21), dan Darmadi (20), ketiganya mahasiswa jurusan Managemen Perkantoran Perguruan Tinggi Cendana Medan.

 

Tapi keenamnya pantang surut. Dengan tekad, ‘segalanya mungkin dilakukan’, Jumat (20/3) baru lalu start pukul 07.00 WIB, mereka memulai perjalanan jalan kaki dari depan Perguruan Cendana Medan, Pusat Niaga Asia Mega Mas Medan tujuan ke kota turis Parapat.

 

“Prinsipnya, biar lambat tapi terus melangkah,” kata Samsudin, salahsatu peserta ekspedisi jalan kaki, saat ditemui METRO di Siantar, Sabtu (21/3). Keenamnya pun berjalan penuh semangat dan penuh vitalitas.

 

Nugroho menjelaskan, niat melakukan perjalanan jalan kaki ke Parapat sudah muncul sejak dua tahun lalu. Namun karena sejumlah kesibukan, baru terwujud Maret 2009.

 

Apa yang ingin dicapainya dengan melakukan perjalanan melelahkan itu? “Saya ingin menginspirasi lebih banyak lagi komponen bangsa ini dalam membangun pendidikan di negara ini. Prinsip berjalan kaki ini, biar kita lambat, asalkan kita terus berjalan dan berjalan ke arah yang tepat, kita akan sampai ke tujuan. Demikian juga dengan pendidikan, tidak peduli seberapa lambat kita membangun, asalkan kita terus membangun dan membangun ke arah yang tepat, bangsa ini akan maju. Untuk itu, kita harus membangun dunia pendidikan. Karena jika pendidikan gagal, jangan harap Indonesia akan maju dan kuat. Kita memang bangsa yang besar, tapi belum kuat,” cetusnya.

 

Untuk memilih mahasiswa yang ikut ekspedisi, pihaknya mengumumkan rencana itu ke setiap kelas. Siapa yang ingin ikut, silahkan mendaftar. “Ternyata peminatnya cukup banyak, ada sekitar 50-an orang,” cetusnya.

 

Maka, dilakukanlah seleksi dengan sejumlah tes fisik. Antara lain push up, skuad jump, berdiri dengan satu kaki, dan lainnya. Yang lulus ketahanan fisik ada 7 orang. Tetapi saat keberangkatan, dua orang batal ikut karena urusan keluarga. “Jadilah kami berenam,” tuturnya seraya tersenyum.

 

Jalan kaki menempuh Kota Medan-Tebing, membutuhkan waktu sekitar 14 jam. Tempo itu sudah termasuk istirahat, makan minum, dan pertemuan dengan Bupati Serdang Bedagai, Nuriadi.

 

Usai bermalam di Kota Tebing, Sabtu (20/3) pagi mereka kembali berangkat menuju Kota Siantar. Dan Sabtu malam menginap di salahsatu hotel di Siantar.

 

“Hari pertama, rasanya sangat melelahkan. Kaki lecet-lecet. Saya terpaksa mencopot sepatu dan menggantinya dengan sandal. Belum panas terik, lalu lintas yang cukup padat, dan lainnya. Untunglah di hari kedua ini, sudah agak mendingan,” kekeh Nugroho.

 

Meski lelah, belum ada anggota tim yang menyerah. Mereka belajar kegigihan, kesabaran, dan kejujuran dari ekspedisi tersebut. “Kalau kita sudah berhasil menaklukkan rute Medan-Parapat dengan berjalan kaki berikut segala tantangannya, saya percaya kita akan mampu menghadapi rintangan yang akan muncul di kehidupan kita ini,” kata Samsudin dengan nada optimis.

 

Felick menimpali, dirinya belajar soal kejujuran dalam perjalanan itu. “Kita belajar jujur, yakni benar-benar berjalan kaki, meski ada mobil yang siap sedia di belakang kita menjaga kalau-kalau ada yang menyerah. Jujur itu sebuah tantangan tersendiri,” katanya.

 

Pelajaran ‘segalanya mungkin dilakukan asalkan ada kemauan’ juga mereka pelajari dari ekspedisi ini. Dengan benar-benar berjalan kaki, mereka menepis komentar sejumlah orang dekat mereka, yang berkata ekspedisi itu tak mungkin dilakukan. “Ada yang bilang, bisa mati kalau jalan kaki Medan-Parapat. Ternyata sampai saat ini, kami baik-baik saja. Bahkan rasanya bersemangat, karena kami sudah benar-benar melakukannya,” kata Darmadi bersemangat.

 

Si kembar Tommy Wahyudi dan Jimmy Wahyudi juga mengatakan hal senada. Kata mereka, rintangan yang dihadapi sepanjang perjalanan, seperti capek, kaki lecet, dan lainnya, membuat mereka belajar untuk tidak cepat menyerah. “Kesabaran dan kegigihan kita benar-benar diuji,” cetus mereka sambil senyum manis.

 

Kelimanya sepakat, perjalanan ini membuat mereka lebih berpikiran positif, bahwa mereka mampu melakukan pekerjaan yang nampaknya mustahil dilakukan.

 

Lalu, kenapa Nugroho memilih jalur Medan-Parapat, dan bukan rute lainnya dalam misi menginspirasi komponen bangsa ini memajukan pendidikan? “Parapat itu sebuah daerah tujuan wisata yang belakangan ini kurang terekspos. Kita mau, agar ekspedisi ini juga mampu mengingatkan orang-orang akan indahnya Kota Parapat dan Danau Toba,” katanya.

 

Dalam memajukan dunia pendidikan, Nugroho tak hanya tinggal diam dengan konsep. Dia telah berbuat. Awalnya dengan membuka Sekolah Sempoa, cara berhitung dengan menggunakan sempoa, yang muridnya saat ini sudah mencapai 3.000 orang tersebar di seluruh Sumatera Utara dan Aceh. Dan 2003 lalu, ia mengambil alih Perguruan Tinggi Cendana Medan, Akademi Sekretari dan Manajemen. Membangun sistem pendidikan yang lebih baik dari yang lain.

 

Dalam mendidik ‘anak-anaknya’ (istilah untuk mahasiswanya), Nugroho mendidik dengan fokus ilmu terapan, membangun rasa percaya diri mahasiswa dalam berkomunikasi dan mengutarakan pemikirannya, dan sebagainya. “Keunggulan pendidikan di Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Cina adalah mereka lebih fokus ke keahlian dan aplikasi nyata di lapangan. Sementara di negara kita, kebanyakan sistem pendidikan adalah menjejali murid dengan teori. Akibatnya, setamat kuliah, banyak sarjana kita yang tak tau harus berbuat apa, makanya banyak pengangguran. Ini yang kita hindari di Perguruan Tinggi Cendana. Di sini, kita mengasah anak-anak agar memiliki keahlian dan mampu mengaplikasikannya di lapangan. Kita didik anak-anak membangun jaringan, dan membangun percaya diri mahasiswa dengan melatih mereka presentasi setiap minggu,” katanya.

 

Untuk memajukan anak-anak didiknya, Nugroho menggandeng Olympia College Malaysia menjadi sister College PT Cendana, lalu Toastmasters Leadership Institute yang berpusat di Amerika dalam mengembangkan ketrampilan kepemimpinan para mahasiseanya, St Clements University Inggris. Dan Singapore Education Consultant. Juga kerap membawa anak-anak didiknya study tour ke sejumlah institusi pendidikan di sejumlah negara, membawa hiking alam untuk melatih keberanian. Salahsatunya, dengan membawa lima mahasiswanya dalam ekspedisi jalan kaki Medan-Parapat.

 

Minggu (22/3) pukul 06.00 WIB, mereka kembali jalan kaki dari Siantar menuju Parapat, menikmati alam Danau Toba, dan rencana kembali ke Kota Medan naik kendaraan pada Senin (23/3). Selamat! (*)

Kategori: Catatan Kaki

Ekspedisi Jalan Kaki 180 Km Medan-Parapat (2/Habis)

24 Maret 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Teriakan di Parapat: Yes Yes Yes… , Akhirnya Kita Melakukannya!

 

Tiba di Parapat, Yessss!!

Tiba di Parapat, Yessss!!

Aksi jingkrak, lompat, teriak, sambil mengepalkan tinju ke udara, menjadi hal pertama yang dilakukan keenam peserta ekspedisi Jalan Kaki Medan-Parapat sejauh 180 km, setiba di kota turis Parapat, Minggu (22/3) sore sekira pukul 18.00 WIB. “Yes, yes, yes… akhirnya kita melakukannya! Itulah teriakan mereka dengan semangat berapi-api.

 

Dame Ambarita, Siantar

 

Jarak Kota Pematangsiantar-Parapat sekira 45 menit, biasanya cukup ditempuh sekira 45 menit sampai 1 jam lebih, naik bus umum. Dengan jalan kaki, ternyata waktu yang dibutuhkan memerlukan waktu sekira 12 jam. Tentu, waktu selama ini hanya bagi mereka yang melakukannya tanpa merasa perlu terburu-buru. Prinsipnya, biar lambat, asal terus melangkah ke arah yang benar, pasti sampai di tujuan.

 

Dan jalan kaki sekitar 12 jam dari Kota Pematangsiantar ke Parapat inilah yang dilakukan peserta ekspedisi Jalan Kaki Medan-Parapat, yakni Nugroho MM, Direktur Perguruan Cendana Medan yang memimpin ekspedisi, beserta lima orang mahasiswanya, masing-masing Samsudin (21) dan Felick (20), keduanya mahasiswa jurusan Managemen Pemasaran, serta Tommy Wahyudi (21), Jimmy Wahyudi (21), dan Darmadi (20), ketiganya mahasiswa jurusan Managemen Perkantoran Perguruan Tinggi Cendana Medan.

 

Usai berjalan kaki sekira 135 km Medan-Siantar, dengan start keberangkatan Jumat (20/3) lalu, Minggu (22/3) kemarin, mereka kembali start berangkat dari Kota Siantar setelah menginap semalam di Siantar, menuju Kota Siantar. Kali ini, mereka tak lagi ngoyo melakukan perjalanan seperti dua hari sebelumnya, yang menempuh waktu sekitar 65 km lebih per hari. Apalagi, medan perjalanan ke Parapat agak lebih berat, ada mendaki di sana dan menurun di sini.

 

“Kita santai saja. Kalau mau istirahat… kita istirahat. Tak perlu buru-buru. Karena kita juga ingin menikmati proses perjalanan itu sendiri,” kata Nugroho, saat berkunjung ke Kantor METRO, Senin (23/3) pagi.

 

Selama dalam perjalanan yang sudah semakin berat, karena stamina mereka relative sudah menurun, mereka saling memotivasi satu sama lain. Untuk memompa semangat agar terus berkobar, mereka terkadang bernyanyi bersama dengan musik yang diputar lewat handphone.

 

Apa saja kesan-kesan selama perjalanan?

“Wah, banyak. Antara lain, kita menemukan bahwa selain kaya sumber daya alam, bangsa kita juga sangat ramah. Memang keramahan bangsa kita ini sudah menjadi pengetahuan umum, tapi dalam perjalanan ini, kita sekali lagi membuktikannya,” kata Nugroho.

 

Ia mencontohkan, saat mereka singgah di kedai yang sebenarnya tidak buka karena sedang ada kampanye partai di daerah mereka, pemilik kedai menolak menerima bayaran untuk jasanya mengupas dan menghidangkan salad apel kepada anggota ekspedisi jalan kaki ini. “Mereka benar-benar menolak lo,” kata Nugroho.

 

Ada juga pemilik warung yang menolak menerima bayaran, untuk peniti yang mereka butuhkan. “Wah, pokoknya keramahan itu sangat terasa. Kalau di kota, itu sudah sulit ditemukan,” katanya dengan sorot mata berbinar.

 

Saat mobil yang membawa perlengkapan mereka terperosok ke lubang, sekitar 14 kilometer menjelang Parapat, warga setempat suka rela membantu mengeluarkannya.

 

“Selain sumber daya alam yang kita miliki, bangsa kita nyata-nyata memiliki hati. Kualitas ini patut didukung dengan pendidikan yang baik, sehingga bangsa kita memiliki ini (sambil menunjuk ke otak) dan ini (sambil menunjuk ke dada). Kalau keduanya sudah dimiliki, bangsa kita pasti akan maju,” kata Nugroho.

 

Anggota tim ekspedisi Jalan Kaki Medan-Parapat, Samsudin (21) yang ditanya soal kesan-kesannya, mengatakan sangat bersemangat menyelesaikan misinya, khususnya menempuh rute Siantar-Parapat. Apalagi rute ini relatif lebih sejuk dibanding rute-rute sebelumnya. “Khusus saat melewati hutan (Harangan Ganjang, Red) menuju Parapat, kami semua mampu berjalan kaki tanpa berhenti sepanjang 5 km, karena segarnya udara. Kami semua sangat bersemangat,” katanya. Dan yang pasti, ia langsung menari setibanya di Kota Parapat.

 

Darmadi, peserta lainnya, juga mengaku sangat senang berhasil menyelesaikan misi, mampu menaklukkan rasa capek, panas, polusi, kaki kram, dan sebagainya. Apalagi, ini kali pertama dirinya ikut event jalan kaki smapai 180 km.

 

Hanya saja, Darmadi memiliki pengalaman yang membuatnya sedikit sedih. Ia kehilangan handphone miliknya, di suatu tempat yang tak diketahui. “Mungkin tinggal di kedai, atau jatuh dari kantong saat berlari. Rasanya waktu itu benar-benar sedih,” tuturnya.

 

Untungnya, tentornya, Nugroho, menghiburnya dengan kata-kata bijak, yang membuatnya akhirnya merelakan hp-nya. “Masak barang seharga Rp2 juta menghilangkan kebahagiaanmu? Seharusnya, harga kebahagiaanmu itu senilai Rp2 miliar,” cetus Nugroho menyemangatinya.

 

Setelah merenungkan kata-kata bijak itu, Darmadi akhirnya memilih ‘keep smile’, tetap tersenyum. Bahkan, ia akhirnya mampu mengiklaskan handphonenya, dan mengharapkan orang yang menemukannya dapat menggunakannya dengan sebaik-baiknya.

 

Si kembar Tommy Wahyudi dan Jimmy Wahyudi sama-sama mengaku bersemangat. Dengan wajah berbinar ceria dan kulit wajah yang kemerahan kena papar matahari, keduanya mengaku belajar saling memotivasi, agar tetap semangat menyelesaikan perjalanan. Tommy bahkan langsung telepon orangtua dan teman, kasih kabar bahwa mereka selamat sampai tujuan. “Dan tak lupa, langsung foto-foto,” kekehnya dengan senyum dikulum.

 

Sedangkan Felick, mengaku bangga pada diri sendiri karena berhasil membuktikan pada teman-teman bahwa mereka berhasil menyelesaikan misi. “Awalnya, ortu dan teman-teman kan ragu kami, terutama saya, apakah akan mampu berjalan kaki Medan-Parapat. Apalagi dengan tubuh saya yang besar ini (posturnya lebih menonjol dibanding teman-temannya). Setelah tiba di Parapat, mereka tanya, ‘Kamu sudah kurus? Turun berapa kilo?’ Hehehehe….! Tapi bagi saya, ini pencapaian yang luar biasa dalam hidup saya, dan pasti juga bagi teman-teman lainnya. Jadi, saya sangat senang telah melakukan dan menyelesaikannya,” cetusnya bersemangat.

 

Yang pasti, keenamnya penuh sukacita setiba di Parapat, sambil berteriak: “Yes yes yes, akhirnya kita melakukannya!” Ada yang jingkrak-jingkrak kayak monyet Sibaganding, ada yang berteriak, ada yang lompat, menari, dan sebagainya. Semua penuh semangat karena telah berhasil menyelesaikan tantangan.

 

Di akhir pertemuan, Nugroho mengatakan, ada nilai lain yang diperolehnya dalam perjalanan itu. Saat itu, setelah mereka berada di Parapat, dirinya melihat pool bus Sejahtera, dan melihat bus-bus sedang diservis, di-tune up. Dan ia mendapat pelajaran, hidup pun perlu diservis usai melakukan sejumlah kegiatan. Hal itu agar kita mengalami peningkatan ke arah yang lebih baik ke masa mendatang. (*)

Kategori: Catatan Kaki