Dame Ambarita’s Weblog

Masukan dari Desember 2008

Melirik Kiprah Crosser Muda Berprestasi asal Sibolga-Tapteng

17 Desember 2008 · & Komentar

Tak Ada Sponsor, Berlaga di Arena dengan Biaya Sendiri

 

Fazrin Zeb Tumory, Crosser Muda asal Sibolga-Tapteng, di samping sejumlah piala yang diraihnya.

Fazrin Zeb Tumory, Crosser Muda asal Sibolga-Tapteng, di samping sejumlah piala yang diraihnya.

 

 

Olahraga balap di Sibolga-Tapteng masih redup. Dalam setahun, paling hanya satu-dua kali event balap khususnya motor cross. Bahkan kadang tak ada event dalam setahun. Padahal, bibit-bibit pembalap muda cukup banyak. Hendak menyalurkan bakat di kejuaraan daerah maupun nasional, mereka terkendala biaya. Dukungan sponsor masih sebuah mimpi.

 

Dame Ambarita, Sibolga

 

Salahsatu crosser muda yang sudah mengharumkan nama Kota Sibolga dan Tapteng di berbagai event balapan tingkat provinsi maupun Sumatera adalah Fazrin Zeb Tumory. Hingga kemarin, pemuda yang November baru lalu merayakan ulangtahunnya ke 22 ini terhitung sudah 12 tahun malang melintang di dunia balap. Berbagai prestasi sudah diraihnya. Puluhan piala dari berbagai kejuaraan terpajang di rumahnya. Hanya satu kelemahannya, belum ada satu piala pun dari arena balapan resmi tingkat nasional.

 

“Sebenarnya, pembalap-pembalap muda asal Sibolga-Tapteng bisa berjaya ke  Kejuaraan Nasional, asalkan ada dukungan dana dan fasilitas. Tidak seperti sekarang, para pembalap harus membiayai dirinya sendiri. Beli motor sendiri, biayai modifikasi sendiri, biaya perjalanan dan akomodasi ke tempat event balap ditanggung sendiri, dan sebagainya. Ini cukup berat,” kata Fazrin Zeb Tumory kepada METRO kemarin, di Kantor METRO.

 

Kesulitan biaya menjadi kendala terbesar para crosser muda asal Sibolga-Tapteng untuk mengukir prestasi yang lebih tinggi. Maklum, harga motor balap kelas engine tidak murah. Mencapai seratusan juta satu unit motor baru, hampir sama dengan harga mobil. Yang bekas saja pun berkisar 80-an juta.

 

Di wilayah Tapanuli, yang memiliki motor engine baru dua-tiga orang. Di Psp, kata Fazrin, sepengetahuannya baru dua orang. Di Siborong-borong satu orang. “Makanya, Kejuaraan Motor Cross kelas engine belum pernah diikuti pembalap asal Sibolga-Tapteng. Paling, kita-kita ikut kelas Bebek Gabungan. Pakai motor Satria yang dimodifikasi. Biaya modifikasinya saja mencapai Rp9 jutaan,” cetusnya.

 

Dengan motor bebek, jelasnya lagi, para crosser hanya akan membalap di arena datar. Tak mampu ‘terbang’ seperti para crosser kelas engine yang mampu melayang melompati gundukan-gundukan tanah.

 

Fazrin sendiri mulai berkiprah di dunia balapan sejak dirinya kelas IV SD, awalnya ikut-ikutan balapan liar tengah malam di jalan raya. Balapan liar ini dilakukan sembunyi-sembunyi, dengan menggunakan Kawasaki Kaze di kawasan Pandan. “Tapi hanya setahun saja,” kenangnya. Soalnya, ia dilarang sang ayah, Hamzah Zeb Tumory, yang mantan pembalap juga di masa mudanya.

 

Kelas VI SD, ia minta dibelikan motor balap agar bisa balapan di arena resmi. Oleh sang ayah, anak keempat dari 6 bersuadara ini dibelikan motor Suzuki Satria, yang langsung dimodifikasinya menjadi motor balap. Tiap hari Sabtu, ia rajin latihan di Muaro-Pandan, sambil mengekor para senior yang latihan di sana. Kadang-kadang ia didampingi ayah ataupun abangnya.

 

Umur 16 tahun, untuk pertamakalinya ia ikut Kejuaraan Motor Cross di Pandan kelas Grass Track, dan langsung  meraih gelar Juara Umum. “Rasanya saat itu bangga dan senang. Apalagi, ibu ikut mendampingi ke podium,” cetusnya dengan mata berbinar-binar. Hadiah juara sebesar Rp1 juta langsung dihabiskannya untuk servis motor, belanja baju dan sepatu perlengkapan balap.

 

Sejak meraih juara umum itulah, ia memutuskan untuk serius melakoni dunia balap, dunia yang disebut Fazrin ‘sangat menantang’ itu. Hampir setiap kejuaraan motor cross dia ikuti, khususnya yang masih di wilayah Sumatera Utara. Untuk biaya, ia terpaksa merogoh kocek sendiri karena belum ada sponsor. Beberapa piala dia sabet.

 

Semakin umurnya bertambah, jam terbangnya pun semakin tinggi. Bahkan saat mengambil kursus mekanik selama setahun di sebuah lembaga kursus di Medan, ia sempat serius melakoni dunia Road Race, balapan di jalan raya. Kejuaraan paling bergengsi yang diikutinya adalah Kejurnas Road Race di Binjai tahun 2006, diikuti para crosser se-Indonesia. Memang, ia tak meraih piala di Kejurnas itu. Tetapi ia cukup senang karena mendapat pengalaman bertanding di tingkat Kejurnas.

 

 

Hanya saja setelah dirinya kembali ke Sibolga, arena Road Race terpaksa ditinggalkan. Pasalnya, ajang itu jarang digelar di Sibolga-Tapteng. ”Hampir tak pernah,” cetusnya.

 

Apa beda Road Race dengan Motor Cross?

Road Race itu lebih susah karena balapan di jalan beraspal. Motor yang digunakan umumnya menggunakan bahan bakar bensol, mirip BBM Avtur untuk pesawat terbang. Bensol digunakan karena pengapiannya lebih keras. Untuk pengaturan gas dan koplingnya pun berbeda dengan motor cross. Kalau di Road Race, gas dan kopling harus dilepas serentak dan dengan lembut. Kalau dilepas dengan keras, roda bisa menggelincir,” terangnya.

 

Dengan penggunaan BBM Bensol yang harganya relatif mahal, mencapai Rp40.000-an per liter, menurutnya tergolong mahal untuk ukuran pembalap yang berlaga dengan biaya sendiri tanpa sponsor. Selain itu, Bensol juga tak ada dijual di Sibolga-Tapteng.

 

“Karena terkendala biaya inilah, saya lebih fokus ke motor cross saja. Soalnya motor cross umumnya menggunakan BBM bensin yang harganya lebih murah dibanding Bensol. Lagipula, event Road Race juga jarang digelar di wilayah Sibolga-Tapteng. Selain itu, lebih berbahaya karena kalau jatuh ke aspal lebih beresiko,” jelas pemuda yang berniat buka usaha bengkel ini.

 

Untuk menjaga staminanya tetap fit, Fazrin rajin olahraga lari dan angkat barbel. Rajin minum susu dan telur serta vitamin dari dokter, khususnya menjelang ikut kejuaraan. “Dan satu lagi, saya jarang merokok,” katanya sambil tersenyum tipis.

 

Ditanya pendapatnya soal perkembangan olahraga otomotif di Sibolga Tapteng, Fazrin mengaku, memang masih kalah dibandingkan daerah-daerah di Sumatera Utara. Bahkan dibanding Kota Padangsidimpuan, Sibolga-Tapteng kalah jauh. Di Psp, event motor cross bisa digelar minimal 4 kali setahun. Bandingkan dengan Sibolga-Tapteng yang hanya 1-2 kali setahun, bahkan kadang tidak ada event dalam setahun. “Mekanik di Sibolga Tapteng pun masih kalah jauh dengan mekanik di Psp soal modifikasi motor,” cetusnya.

 

Selain soal jarangnya digelar event motor cross, pemuda yang berharap dapat memiliki motor engine dalam waktu dekat ini, juga mengakui, komunitas crosser di Sibolga-Tapteng belum kompak memperjuangkan nasibnya. “Misalnya, kami belum membentuk wadah, agar bisa memperoleh sponsor. Di Sibolga-Tapteng saat ini ada sekitar 15 crosser yang serius. Kebanyakan kami masih main sendiri-sendiri, termasuk saya. Belum ada yang mengkoordinir untuk membentuk wadah para crosser,” aku lulusan STM Muhammadiyah Sibolga terus terang.

 

Yang pasti, kata dia, pembalap-pembalap muda asal Sibolga Tapteng sangat berpotensi berkembang, asalkan ada perhatian dan ada fasilitas yang cukup. Terbukti, banyak terjadi balapan liar di jalanan, yang menunjukkan tingginya minat para pemuda masuk dunia balap. “Kalau seseorang sudah berani ikut balapan liar, pasti berani juga ikut arena balapan resmi. Karena untuk ikut balapan, yang pertama dibutuhkan adalah keberanian. Sedangkan untuk mencapai prestasi, dibutuhkan fasilitas pendukung. Fasilitas inilah yang menjadi kendala kita selama ini,” kata pemuda yang sering sendirian mewakili Sibolga-Tapteng di sejumlah kejuaraan motor cross ini.

 

Untuk itu, Fazrin mengharapkan adanya dukungan sponsor, khususnya dari showroom-showroom sepeda motor, seperti Suzuki, Honda, Yamaha, atau yang lainnya, untuk mendukung kiprah para crosser muda dari Sibolga-Tapteng di arena balap. Selain itu, ia juga mengharapkan adanya perhatian Pemko-Pemkab terhadap mereka, paling tidak memberikan perhatian dan pembinaan. ”Karena, bibit-bibit cukup banyak, hanya butuh dukungan yang lebih besar,” kata pemuda yang berharap bisa memperoleh sponsor untuk berlaga di arena Kejurnas dengan motor engine.

 

Ia juga mengimbau sejumlah pihak, agar lebih sering menggelar kejuaraan motor cross di Sibolga-Tapteng, sehingga bakat-bakat para crosser tersalurkan. (*)

Kategori: Catatan Kaki

Melirik Kehidupan Penggali Pasir di Aek Doras, Sibolga

17 Desember 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

8 Jam per Hari Berkutat di Sungai Demi Upah Rp25 Ribu

Wanita Penggali pasir di Aek Doras-Sibolga

Wanita Penggali pasir di Aek Doras-Sibolga

 

 

Demi upah Rp25 ribu per meter kubik pasir, sejumlah pria dan wanita bahkan anak-anak rela berkutat sekitar 8 jam per hari menggali pasir di tengah Sungai Aek Doras, persisnya di kawasan Sibolga Julu Kota Sibolga. Kutu air dan rematik menjadi ancaman tak kasat mata.

 

Dame Ambarita, Sibolga

 

Dengan kepala dilindungi handuk lusuh, tubuh dibungkus kaos oblong bersablon salahsatu nomor Parpol, serta celana ponggol (celana panjang yang dipotong pendek) kusam warna coklat, Lina Tiawa (28), dengan gerak perlahan menarik pasir dari dalam sungai Aek Doras, di kawasan Sibolga Julu, Senin (8/12) pagi pukul 9.00 WIB baru lalu.

 

Air sungai menutupi sampai ke pinggangnya. Di tangannya ada sebuah sekop pasir, sebuah tongkat besi yang ujung bawahnya ditempel semacam seng yang dikerucutkan. Alat itulah yang digunakan untuk menarik pasir dari dasar sungai.

 

Perlahan ia melangkah ke pinggir sungai yang ada bagian kering, dan menuangkan pasir dari alat di tangannya, ke tumpukan pasir basah yang dikumpulkannya sejak sekitar pukul 08.00 WIB. Tangannya otomatis membenahi posisi pasir-pasir basah itu agar tak melebar. Tak lama kemudian, ia kembali ke tengah sungai. Dibantu kakinya, ia mengumpulkan pasir ke sekop pasir di tangannya. Setelah terkumpul, ia menarik sekop itu ke pinggir sungai, dan menuangkan pasirnya. Demikian terus berulang.

 

”Kami biasanya bekerja mulai pukul 8 pagi, dan baru pulang sekitar pukul 5 sore,” cetus ibu enam anak ini kepada METRO, yang menemuinya di pinggir sungai, pagi itu. Dengan jam istirahat sekitar 30 menit untuk makan siang yang dibawa sendiri dari rumah, mereka bekerja sekitar 8 sampai 8,5 jam per hari.

 

Pekerjaan itu meliputi penggalian pasir di tengah sungai, menariknya ke pinggir, membersihkannya dari bebatuan kecil yang turut tergali, mengisinya ke goni, mengangkatnya ke pinggir jalan di atas sungai lewat tangga kayu setinggi 3 meter, dan mengumpulkannya di satu tumpukan.

 

Dari sepertiga hari yang dihabiskan di sungai, mereka rata-rata hanya berhasil mengumpulkan 1 meter kubik pasir. Untuk satu meter kubik pasir, mereka berhak mendapat upah Rp25 ribu. Upah itu mulai

 

Selain dirinya, suami Lina Tiawa bermarga Laiya, juga ikut menggali pasir. Bahkan putra sulungnya yang baru  berusia 13 tahun, kadang ikut menggali pasir pada hari libur. Penggali pasir lainnya merupakan rekan-rekan Tiawa, ada ibu-ibu, ada pria dewasa, bahkan anak-anak. ”Dalam sehari rata-rata penggali pasir di sini mencapai 10 orang, tapi kadang bisa lebih, sampai 15 orang, tergantung berapa orang yang datang hari itu!” kata dia.

 

Tak mampukah mereka menggali lebih dari 1 kubik pasir per hari? Tiawa menggeleng. ”Memang rata-ratanya hanya dapat segitu sehari. Bahkan itupun bisa sulit dikumpul saat musim kemarau. Apalagi kayaknya pasir sudah cukup banyak diambil dari sungai ini,” jelasnya.

 

Musim hujan justru paling mereka sukai. Karena aliran air sungai yang deras dari hulu biasanya membawa pasir yang cukup banyak, sehingga mereka lebih mudah mengumpulkan pasir. ”Banjir sering membawa pasir. Jadi lebih mudah mengumpulkannya,” terangnya. 

 

Para pengali pasir ini hanya beroperasi di aliran Aek Doras sekitar 100-200 meter, persisnya di kawasan pertengahan Jalan Dolok Matimbang. Selebihnya, mereka tidak boleh menggali ke hulu maupun ke hilir, di luar kawasan yang 100-200 meter itu. Akibat penggalian pasir tersebut, kedalaman sungai Aek Doras  di kawasan itu bisa mencapai ½ -1 meter. Sementara di bagian lainnya paling setinggi 30-50 cm. 

 

Tiawa sendiri baru beberapa bulan jadi penggali pasir. Dulunya, dia dan keluarganya tinggal di Nias. Tapi pascagempa Nias tahun 2005 yang merobohkan rumah dan melongsorkan petak ladang miliknya, mereka memilih pindah ke Sibolga. Untuk menopang kehidupan keluarga, ia dan suaminya bekerja serabutan, dan terakhir ini sama-sama bekerja sebagai penggali pasir. Di antara 6 orang anaknya, hanya si sulung yang bersekolah. ”Kami tak mampu menyekolahkan anak-anak lainnya. Mereka putus sekolah setelah kami pindah ke Sibolga ini,” cetusnya dengan suara pelan.

 

Dari penghasilan menggali pasir yang dikumpulkannya bersama suami, rata-rata diperoleh uang Rp1 juta-Rp1,5 juta, tergantung cuaca. Uang itulah yang digunakan  untuk membayar rumah kontrakan sebesar Rp70 ribu per bulan, biaya sekolah si sulung, uang makan 8 orang, beli pakaian, bayar air dan listrik. Dia juga harus mengeluarkan ongkos becak mesin dari rumah kontrakannya di Ketapang ke Aek Doras, sekira Rp4 ribu pulang balik per hari. Atau sekitar Rp120 ribu per bulan.

 

”Penghasilan kami tak cukup untuk menyekolahkan anak-anak, jadi si sulung aja yang sekolah. Adik perempuannya diberi tugas menjaga adik-adiknya yang lebih kecil,” terangnya polos.

 

Dengan situasi kerja yang mengharuskan mereka hampir 8 jam berbasah-basah, kesehatan para penggali pasir ini sangat rentan kena penyakit. Kutu air dan rematik menjadi ancaman, belum lagi flu. ”Serangan kutu air rutin kami alami. Kaki suami saya bahkan sampai busuk kena kutu air,” kata Tiawa polos. Untuk mengobatinya, mereka hanya mengolesi kaki dengan minyak.

 

Serangan flu juga kerap mereka derita. Tiawa bahkan mengaku pernah dua minggu terbaring kena sakit flu. ”Badan sering menggigil kedinginan,” katanya. Ditengarai, dengan lamanya mereka berbasah-basah menggali pasir, rematik menjadi ancaman terselubung yang baru akan mereka derita beberapa tahun lagi.

 

Meski pekerjaannya beresiko, Tiawa tak ingin berhenti bekerja sebagai penggali pasir, karena ia mengakui keahliannya tak banyak. ”Saya jadi penggali pasir karena ditawari kawan. Hanya inilah yang bisa kami lakukan. Kalau pasir dari sungai ini nanti habis, saya juga tak tau mau kerja apa,” katanya lirih, sambil terus membersihkan pasir dari batu-batuan kecil yang ikut tergali,

 

Ditanya apakah tak berniat kembali ke Nias, Tiawa menggeleng. ”Ke mana kami akan pergi? Rumah dan ladang kami sudah longsor kena gempa,” gelengnya. Untuk membantu membiayai kehidupan keluarga, menurutnya beras miskin (raskin) yang disalurkan pemerintah cukup membantu. Hanya saja, untuk BLT (Bantuan Langsung Tunai), ia dan suaminya tak mendapat, karena tak terdaftar. Apa sebabnya, ia tak tahu. (*)

Kategori: Catatan Kaki