Melihat Lebih Dekat PLTU Labuan Angin di Tapteng (2/Habis)

Ditargetkan Laik Operasi Selama 25-30 Tahun

 

Konstruksi Atap Melengkung di PLTU Labuan Angin

Konstruksi Atap Melengkung di PLTU Labuan Angin

Seperti manusia, mesin juga ada batas ketahanannya. PLTU Labuan Angin misalnya, ditargetkan laik operasi selama 25-30 tahun saja. Begitupun, penyusutan itu masih lebih lama dibanding PLTD (Diesel) dan PLTG yang rata-rata hanya laik operasi 10-15 tahun.

 

Dame Ambarita & Afwan Nst, Tapteng

 

Dilihat dari Desa Pargadungan, Kecamatan Tapian Nauli, Tapteng, konstruksi bangunan PLTU Labuan Angin sungguhlah megah. Sebuah bangunan dengan atap melengkung cantik di bagian paling kiri proyek, membuat disain PLTU tak kalah dari arsitektur hotel. Sementara menara boiler setinggi 150 meter di tengah lokasi proyek, menjulang ke langit mirip Tugu Monas Jakarta. Dan pada malam hari, PLTU ini ibarat kota dengan kerlip lampu-lampu di sepanjang pantai. Secara keseluruhan, bangunan PLTU Labuan Angin memanglah memukau.

 

Konstruksi PLTU makin sedap dipandang dari restoran yang berada di Desa Pargadungan, yang dibangun di atas bukit kecil pinggir jalan dengan ketinggian 10 meter. Dari restoran itu, pulau kecil yang kabarnya milik PT Mujur Timber, yang hanya ditumbuhi pohon kelapa dan pohon lainnya itu, terlihat seperti landscape PLTU. Pulau kecil itu membuat PLTU Labuan Angin terlihat hijau dan segar. Padahal kenyataannya, ‘lanscape’ itu cukup jauh dari PLTU Labuan Angin.

 

Sesuai penjelasan Aji Sutrisno, Kepala PLTU Labuan Angin, perancang konstruksi PLTU adalah The Northeast Electric Power Design Institute (NEPDI). “Tetapi mereka tetap mengacu pada rancangan standar PLN,” kata Aji, menjawab METRO.

 

Kawasan Labuan Angin dipilih sebagai lokasi pembangunan PLTU, karena lokasinya dinilai strategis, akses transportasi relatif mudah, ada transmisi, ketersediaan air cukup, dan ada strategis politis.

 

Untuk ke lokasi proyek, para pekerja biasanya naik kapal stempel yang disewa PLN sebagai sarana transportasi laut. Waktu tempuh dari dermaga kecil di Desa Pargadungan ke lokasi PLTU, sekitar 10-15 menit. Via darat, jarak tempuh mencapai 10 km dari Desa Poriaha. Hanya saja, jalan darat jarang dilalui karena jalannya belum diaspal. Bisa dibayangkan beceknya kalau musin penghujan.

 

Mengunjungi lokasi PLTU tidak bisa sembarangan. Harus ada izin. METRO sendiri berkunjung ke lokasi setelah mendapat izin dari Kepala PLTU, yang sekaligus mendampingi dan memberi penjelasan seputar proyek.

 

“Memang harus ada izin, karena PLTU ini masih dalam tahap pengerjaan. Kalau ada apa-apa, misalnya obeng terjatuh dari atas bangunan, kita tak bisa menanggungjawabi orang yang masuk tanpa izin. Setiap orang yang punya izin masuk ke lokasi proyek, wajib memakai helm proyek serta sepatu bot,” jelasnya.  Apalagi, sejumlah alat berat masih tampak dioperasikan di lokasi, yang tentu cukup berbahaya bagi pengunjung yang tidak didampingi pihak proyek.

 

Laik 25-30 Tahun

Untuk mengantisipasi gempa dan tsunami, konstruksi bangunan PLTU, menurut Aji, sudah dirancang sedemikian rupa, agar berpeluang selamat dari kedua bencana itu. Misalnya, tiang pancang ditanam hingga mencapai 60-an meter, yakni sampai menyentuh lapisan tanah keras. Tinggi air pasang juga sudah diukur sebelum memulai pembangunan. Di sekeliling perairan, dipasang pelambung penanda koordinat untuk membimbing kapal pengangkut batubara

 

Namun meski bangunan tampak megah dan dipenuhi konstruksi dari material besi, bukan berarti PLTU Labuan Angin layak beroperasi selama-lamanya. Ada batas usia kelayakan. “Seperti manusia, mesin juga ada batas ketahanannya. PLTU Labuan Angin misalnya, ditargetkan laik operasi selama 25-30 tahun saja,” kata Aji.

 

Masa kelayakan PLTU ini lebih cepat dibanding PLTA, yang dapat mencapai umur 33-37 tahun. Begitupun, masa penyusutan itu masih lebih lama dibanding PLTD (Diesel) dan PLTG yang rata-rata hanya laik operasi 10-15 tahun. Bila setelah 30 tahun, PLTU dinilai masih laik operasional, menurut Aji, PLTU dapat direkondisikan untuk dimanfaatkan sampai batas yang dapat ditoleransi.

 

Ditanya, apakah ada limbah yang dihasilkan PLTU berbahan bakar batubara, Aji menjawab, ada. “Limbah ada, tetapi hanya debu saja,” katanya. Debu apa itu? Ternyata debu dimaksud adalah debu pembakaran batubara.

 

Untuk meminimalisir limbah debu ini, PLTU mengoperasikan ESP (Electrostatic Precipitator–bukan Precipitator dan Stack seperti dimuat di tulisan sebelumnya, Red). Dengan alat ESP, gas buang yang berupa partikel diberi muatan listrik positif atau negatif, kemudian ada sejenis logam yang bermuatan sebaliknya menangkap partikel-partikel tersebut. Sedangkan Stack (Chimney) didesain untuk membuang gas buang. Ketinggian disesuaikan dengan banyaknya partikel yang dibuang. Sedangkan sisa pembakaran yang lebih berat akan mengendap ke bawah boiler dan dibuang.

 

Ke mana limbah yang lebih padat akan dibuang? Aji mengaku, belum dipikirkan. Tapi bisa saja dimanfaatkan kembali untuk kegunaan lain. “Saat ini, konsentrasi saya adalah agar PLTU ini dapat beroperasi penuh sesuai target,” cetusnya.

 

Menarik Investor

Apa saja manfaat yang diperoleh masyarakat, khususnya warga Sibolga-Tapteng, setelah PLTU Labuan Angin nantinya beroperasi secara penuh?

 

Kata Aji, keuntungan langsungnya adalah masyarakat tidak lagi mengalami pemadaman listrik secara bergilir. Selain itu, dengan ketersediaan listrik ini, investor diharapkan akan berdatangan. Apalagi jika Kawasan Labuan Angin benar-benar akan dijadikan kawasan industri, tentu ketersediaan prasarana listrik yang cukup, akan menarik minat investor membuka usaha di sana. Kehadiran investor ini jelas akan mengurangi pengangguran, yang pada akhirnya akan meningkatkan perekonomian rakyat.

 

“Pernah ada kunjungan investor tambang emas yang ingin membangun tambang di kawasan Pantai Barat ini. Tapi ditunda sampai listrik dari PLTU tersedia. Ini membuktikan listrik sifatnya sangat vital,” jelasnya.

 

Dan yang penting, tak perlu lagi ada makian atau teriakan: “Huuuuu…” seperti selama ini setiap kali listrik mendadak padam. “Masyarakat umum ‘kan sering ingat PLN hanya saat listrik padam. Kalau listrik hidup terus, mana pula ingat??? Meski demikian, semoga setelah PLTU ini beroperasi maksimal, masyarakat tetap ingat PLN, terutama membayar kewajibannya,” kekehnya bercanda. (Habis)

 

(Pada tulisan bagian I, tertulis, tahun 2006, pekerja Cina mencapai 1.300-an. Yang benar, jumlah tenaga keseluruhan mencapai 1.300-an, 300-an di antaranya dari Cina. * (Koreksi ini langsung dari Kepala PLTU Labuan Angin, Aji Sutrisno, Red).

About these ads

2 responses to “Melihat Lebih Dekat PLTU Labuan Angin di Tapteng (2/Habis)

  1. Dijamin tak akan ada pemadaman bergilir setelah peresmian hari ini?

  2. Okelah mudah2an bs tetap beropesi dg lancar,ar.`ak jg kerja d PLTU lho…meski kapasitasnya kecil`

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s