Uang Dipinjam dari Cina, SDM & Material pun Buatan Cina
Nuansa Cina terekam jelas dalam proyek pengerjaan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Labuan Angin, Tapanuli Tengah. Para pekerja asal Shanghai, Cina berseliweran. Tulisan beraksara Cina terpampang di berbagai sudut proyek. Material bangunan buatan Cina. Tak usah heran, karena memang uang pengerjaan proyek dipinjam dari pemerintah Cina.
Dame Ambarita & Afwan Nst, Tapteng
Para pekerja asal Cina tampak berseliweran di antara sejumlah pekerja lokal, di lokasi proyek pengerjaan PLTU Labuan Angin, Kecamatan Tapian Nauli, Kabupaten Tapteng, Sabtu (18/10) dua hari lalu. Kebanyakan masih berusia muda.
METRO yang mendapat kesempatan berkunjung ke lokasi seluas 54 hektare itu, didampingi Kepala PLTU Labuhan Angin, Aji Sutrisno, mendapat penjelasan kalau jumlah pekerja Cina saat ini tinggal 200-300 orang. Para pekerja asal Cina ini umumnya tinggal di barak-barak yang dibangun di lokasi proyek. “Dulu di awal-awal pengerjaan proyek sekitar tahun 2006, pekerja dari Cina mencapai 1.300-an orang. Kehadiran mereka merupakan bagian dari kontrak PLN dengan pemerintah Cina,” jelas Aji Sutrisno.
Dalam kontrak pinjaman dengan pemerintah Cina, memang diatur mengenai ketentuan soal pelaksana proyek, yang dimenangkan China National Machinery Export and Import Corporation (CMEC) sebagai kontraktor utama. Pihak CMEC-lah yang mendatangkan para pekerja Cina ke PLTU Labuan Angin berkapasitas 2×115 MW.
Tak hanya SDM, material konstruksi bangunan pun sebagian besar didatangkan langsung dari Cina. Tak heran kalau sejumlah tulisan di konstruksi PLTU itu beraksara Cina. Misalnya di atas tulisan exit, ada tulisan beraksara Cina. Begitu juga di atas tulisan-tulisan penunjuk lainnya.
Setelah pekerjaan proyek hampir rampung, pekerja asal Cina secara bertahap dikurangi, hingga saat ini tinggal ratusan orang. Dijelaskan Aji, saat ini proyek sudah rampung sekitar 94 persen. “Tinggal tahap finishing saja,” jelasnya. Nantinya, para pekerja Cina secara bertahap akan terus dikurangi, hingga seluruh kontrak berakhir Desember 2009.
Bagaimana Aji berkomunikasi dengan para pekerja asal Cina itu? “Kalau para pekerja bangunan, mereka tidak mengerti bahasa Inggris. Dan memang saya tidak berkomunikasi langsung dengan mereka. Tapi level manajemen, semuanya bisa berbahasa Inggris,” katanya.
Mengenai total biaya pengerjaan proyek, Aji menjelaskan, mencapai 220 juta dolar AS atau sekitar Rp2 triliun. Dana itu dipinjam PT PLN dari pemerintah Cina, melalui pemerintah Indonesia. Nantinya, PT PLN akan membayar dana tersebut ke pemerintah Indonesia secara bertahap.
Apa Itu PLTU?
Apa itu PLTU? Ditanya seperti itu, Aji dengan tersenyum menjelaskan, sesuai kepanjangannya, PLTU adalah pembangkit listrik yang digerakkan oleh uap. Untuk itu, persediaan air di sekitar PLTU harus cukup. Biasanya PLTU berada di pinggir laut, walau tidak harus.
“Makanya, lokasi PLTU Labuan Angin ini bisa dikatakan nyaris dikelilingi laut ‘kan,” cetusnya, lagi-lagi tersenyum. Kapasitas air laut yang dibutuhkan untuk PLTU kapasitas 115 MW, cukup besar. Baik untuk direbus menjadi uap, maupun untuk proses pendinginan.
Pantauan METRO, memang PLTU Labuan Angin di sisi kiri, kanan, dan depan berhadapan dengan laut. Hanya sisi belakang yang dikawal daratan.
Adapun bangunan utama di PLTU ada tiga, yakni Boiler (perebus), Turbin (penggerak), dan Water Treatment Plant (WTP). “Selebihnya merupakan bangunan penunjang. Nantinya, PLTU Labuan Angin ini ada dua unit pembangkit, yakni Unit I dan Unit II. Masing-masing unit memiliki boiler, turbin, dan WTP sendiri,” jelasnya.
Adapun boiler adalah alat pemanas air sampai menjadi uap. Uap ini yang digunakan untuk memutar rotor dan membangkitkan energi listrik. Nah, uap bertekanan tinggi dari boiler digunakan untuk memutar bilah turbin yang dihubungkan dengan generator dengan bantuan poros. Poros yang berputar ini akan menghasilkan energi listrik di dalam generator.
Sedangkan water treatment plant berguna untuk membersihkan air dari segala mineral, karena dapat menyebabkan korosi pada pipa-pipa boiler. Dengan alat ini, air yang mengandung lumpur akan dibuang keluar dari sistem. Seluruh material untuk bangunan-bangunan itu, didatangkan dari Cina.
“PLTU ini berbahan bakar batubara. Pemasok batubara untuk pengoperasian PLTU Labuan Angin diperoleh dari tiga pemasok, dua pemasok dari Muara Bungo, Provinsi Sumatera Selatan, dan satu pemasok lain dari Kalimantan Selatan,” jelas Aji.
Adapun cara kerjanya, batubara dari tambang dikirim ke “coal hoper” dan dihaluskan sampai ukuran 5 cm. Setelah itu dikirim ke pembangkit melalui konveyor. Selanjutnya batubara dihancurkan melalui crusher, dari ukuran 50 mm menjadi paling besar 10 mm, sebelum dibakar di ruang pembakaran, untuk memanaskan air di dalam boiler sampai menjadi uap.
Adapun sistem boiler CFB (Coal Fluidized Bed), yaitu batubara dicampur pasir dan limestone di boiler, baru dibakar. Fungsi pasir untuk mendistribusikan panas dan fungsi limestone untuk mengikat sulfur. CFB boiler sangat cocok untuk batubara yang mengandung sulfur hingga 0,5 persen. Teknologi CFB ini ramah lingkungan, sebagai alternatif penggunaan FGD (Fuel Gas Desulfurization), yang harganya relatif mahal, sekitar 5-7 persen dari total investasi PLTU.
PLTU, Tergolong Murah
Tenaga pembangkit listrik ada 7 jenis, yakni tenaga air, uap, nuklir, diesel, gas, surya, dan panas bumi. Dari antara ketujuh jenis pembangkit itu, PLTA tergolong paling murah. Maklum, tenaga air umumnya tak perlu dibayar lagi.
PLTU berbahan bakar batubara sendiri, jelas Aji, termasuk murah mengingat Indonesia adalah eksportir batubara terbesar kedua di dunia (setelah Australia, 2006). Saat ini, harga batubara sekira Rp500 ribu-Rp600 ribu per ton kalori 4.200-4.800. Per hari, diperkirakan Unit I PLTU membutuhkan 1.500 ton batubara. Artinya, cost untuk batubara mencapai Rp750 juta-Rp900 juta per hari. Jumlah batubara sebesar itu untuk mendidihkan air sebesar 1.000 kubik menjadi uap.
Memang, biaya itu lebih mahal dibanding PLTA yang digerakkan dengan tenaga air. “Namun dibandingkan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) berbahan bakar solar, PLTU berbahan bakar batubara masih lebih murah. Apalagi saat ini harga BBM Solar mencapai Rp11.000 per liter,” terang Aji.
Dan jika dibandingkan lagi dengan PLTG (Gas), PLTS (Surya), PLTN (Nuklir), PLTP (Panas Bumi), maka PLTU berbahan bakar batubara masih tergolong murah. Hanya saja, berapa hitung-hitungan perbandingan biayanya, Aji tidak merinci.
Sayang, kata Aji, PLN lebih banyak memiliki PLTD yang biaya operasionalnya sangat besar. Akibatnya, biaya subsidi listrik sangat besar. Sementara pembangkit yang lebih murah justru dikuasai swasta, seperti PLTA Asahan. “Padahal, harga jual listrik ditentukan komposisi pembangkit. Makin banyak pembangkit berbiaya murah, harga jual listrik semakin murah,” katanya.
Aji menjelaskan, Unit I PLTU Labuan Angin ditargetkan beroperasi penuh mulai Desember nanti, dengan kapasitas 115 MW (Mega Watt) daya masuk system jaringan interkoneksi SUAR (Sumatera Utara, Aceh, dan Riau). Pertengahan September lalu, uji coba sudah dilakukan dengan melepaskan 50 MW masuk SUAR.
Jika pengoperasian Unit I yang akan menghasilkan power sebesar 115 MW ini benar-benar sudah maksimal, maka CMEC selaku pelaksana proyek, akan menyerahkan pengoperasian sepenuhnya kepada pihak PLN.
Sementara itu, tahap II dengan kapasitas daya yang sama, 115 MW, akan dioperasikan empat bulan setelah pengoperasian tahap I atau tepatnya April 2009.
Dengan beroperasinya kedua unit PLTU Labuan Angin ini, diharapkan krisis energi listrik di wilayah Sumut, Aceh dan Riau (SUAR) benar-benar akan teratasi. Saat ini, kebutuhan listrik untuk ketiga daerah yang masuk dalam jaringan SUAR ini sebesar 1.050–1.100 MW. Sedangkan energi yang diproduksi selama ini hanya sebesar 1.000 MW.
Dengan masuknya daya sebesar 115 MW tahap pertama, secara otomatis akan menambah kapasitas daya untuk sistem jaringan interkoneksi SUAR, dan dapat dimanfaatkan untuk dikomersilkan kepada konsumen atau pelanggan umum yang berada di wilayah Sumut, Aceh dan Riau.
Dengan pengoperasian PLTU Labuan Angin, diharapkan investor akan lebih melirik kawasan Tapanuli, khususnya Sibolga-Tapteng untuk membangun industri. (bersambung)

14 tanggapan so far ↓
Otniel Marrung // 03 April 2009 pada 9:35 pm |
CFB adalah jenis boiler yang ramah lingkungan karena emisi NOx dan SOxnya yang rendah. NOxnya rendah karena temp. pembakarannnya rendah, SOxnya rendah karena menggunakan limestone untuk mengikat sulfur. CFB juga sangat hemat bahan bakar. Tara kalornya lebih rendah dibandingkan dengan boiler Pulverized Coal. Tks.
dameambarita // 04 April 2009 pada 1:42 pm |
Thanks infornya yah…
ijuh priadi // 06 April 2009 pada 9:22 am |
adakah proposal investasi pltu tersebut, kalau ada tolong dong dikirim ke izuch2002@yahoo.com. makasih…
dameambarita // 08 April 2009 pada 1:19 am |
Saya tidak punya. Hehehehe…. saya kan cuma nulis laporan, Pak!
FIRMAN SANTOSO // 27 Mei 2009 pada 10:57 am |
PLTU Labuhan Angin ada dua unit turbin 2 x 115 MW Unit 1 gangguan pada jan 2009 unit 2 sudah dapat menghasilkan 100 MH – konsumsi batubara 60-70 ton per jam .
dameambarita // 27 Mei 2009 pada 11:36 pm |
Thanks infonya. Kerja di PLTU Labuan Angin yah? Salam kenal.
martonis // 29 Juni 2009 pada 9:40 pm |
ini baru terobosan tiap tiap provinsi nantinya diharapan punya pltu, tapi ingat…harus pakai tenaga tempatan, jangan seperti RAPP yang kebanyaan orang keling….,hampir semua area ada keling, habis dari satu departemen pindh departemen lain…gaji gak tanggung tanggung, level junior engineer dibayar U$ 3000-U$5000 per bulan
dameambarita // 02 Juli 2009 pada 4:59 pm |
Siapa yang bertanggung jawab menempatkan tenaga Keling di sana?
Dicky // 01 Juli 2009 pada 5:30 pm |
Wah hebat bisa jual listrik ke malaysia. Jangan ngirim tkw lagi. Kasihan wanita kita
dameambarita // 02 Juli 2009 pada 4:55 pm |
Jual listrik ke Malaysia? Untuk negeri sendiri saja belum cukup, bro!
Jalaza // 08 Agustus 2009 pada 9:24 pm |
Tapi masih lebih baik yang bertenaga Gas alias (Gas Fired Power Plant) yang lebih ramah linkungan karena limbahnya hampir habis terbuang ke udara. Sedangkan tenaga listrik yang diperoleh lebih besar dan dapat dibandingkan jika membangung dua unit GT dan ST GFPP akan setara dengan tiga unit PLTU batubara alias Coal Fired Power Plant, Kalau yang ini walau murah tapi kandungan COx, HOx dan SOx nya sangat rentan bagi lingkungan, (lihat saja Chimney yang merokok itu). Klo nuklir… baiknya jangan dulu dan sekarang deh, karena wilayah garis pantai Tapanuli Tengah masuk dalam wilayah dan tingkat kegempaan V (lima). bisa hancur kita…
dameambarita // 09 Agustus 2009 pada 6:05 pm |
Nampaknya Bung Jalaza cukup menguasai dunia perlistrikan, termasuk mengenal wilayah Tapteng. Thanks infonya.
supriadi // 22 Oktober 2009 pada 3:31 pm |
pak klo bleh tau dimana ya alamat pltu labuhan angin ne?tolong dong di kirim pak.kemudian boleh gak mahasiswa mengadakan survei/penelitian skripsi di pltu ne.
dameambarita // 26 Oktober 2009 pada 12:10 am |
Bukan Bapak-bapak nih.. boleh panggil Bu, atau Mbak atau Kak… hehehehe… Alamatnya kan ada di tulisan tuh, di Kecamatan Tapian Nauli Tapteng. Letak PLTU itu kan di Labuan Angin, daratan di tepi laut yang baru digarap. Untuk mencapai lokasi itu, biasanya naik kapal sekitar 10-15 menit. Soal survey, minta izin aja dulu sama Kepala PLTU-nya. Atau, bisa menghubungi PT PLN Kanwil Sumut.