Dame Ambarita’s Weblog

Masukan dari Agustus 2008

Pesannya: Jadilah Pemain!

09 Agustus 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Jadilah pemain, bukan pengamat atau penonton. Karena yang mendapat “piala kemenangan” adalah para pemain di lapangan, bukan penonton atau pengamat.

Kata-kata itu sering diucapkan dalam kaitan dengan dunia olahraga, bisnis, dan lainnya.

 

Tentu kita setuju, kalimat itu maksudnya positif, dan bermanfaat untuk mendorong seseorang menjadi pemain dalam arti positif pula.

 

Tapi bagaimana, jika para praktiknya, kalimat itu juga menjadi kalimat pendorong bagi dunia ‘permainan’? ‘Jadilah pemain,” kata beberapa orang beberapa kali dalam beberapa kesempatan.

 

Aku menangkap maksud mereka. Mereka memang ‘sudah bermain’. Aku belum. Dan aku dianggap lemah, karena tidak terlibat dalam ‘permainan’ itu. Dinilai lemah, karena mereka pikir aku tak mampu ikut ‘bermain’.

 

Sungguhkah aku lemah? Itu menjadi sebuah perenungan buatku selama beberapa waktu. Untuk terlibat dalam ‘permainan’, peluang di dunia kerjaku sungguhlah sangat terbuka. Yang dibutuhkan hanya sedikit kulit tebal, artinya tidak malu-malu masuk ke arena. Dan hasilnya cukup lumayan. Artinya, semakin berani ‘bermain’, semakin besar peluang untuk mendapat hasil yang besar. Dan ‘hasil keberanian’ itu cukuplah untuk membuat seseorang masuk golongan ‘yang berhasil’, paling tidak untuk ukuran materi.

 

Sebutan ‘lemah’ ini sempat membuatku kacau. Ingin kutunjukkan ke dunia bahwa aku tidak lemah. Aku bisa kalau aku mau. Persoalannya, apakah aku mau ‘jadi pemain’ dalam ‘permainan’ itu?

 

Mereka menganggapku lemah. Tidak pintar. Karena terbukti, pada akhirnya aku tidak sanggup memiliki benda-benda keren yang bisa dipamerkan. Sedangkan mereka punya. Bukan cuma punya, tetapi bisa ganti-ganti barang bermerek. Mereka ‘berhasil’ di mata dunia. Mereka hebat karena telah ikut menjadi ‘pemain’.

 

Siapa sih yang tidak ingin memiliki benda-benda mahal seperti itu? Aku, sebagai manusia normal yang masih hidup di dunia, tentu juga mau. Tetapi sungguh malang, sampai saat ini aku belum juga menang bertempur melawan hati nurani, agar bisa ikut dalam ‘permainan’ itu tanpa merasa malu dan hina. Tanpa merasa kehilangan harga diri. Tanpa merasa diri ‘terbeli’.

 

Memang, ‘ikut dalam permainan’, belum tentu dihina dunia. Bisa jadi, malah dipuji karena telah ‘ikut menjadi pemain’. Dan berhasil pula! Bukankah pesannya memang: ‘Jadilah pemain?”

 

Persoalanku, hati nurani menjadi lawanku. Dan sampai kini, aku belum menang! Mungkin nanti, setelah hati nurani kukalahkan, aku akan ikut ‘bermain’.

 

Jadi sementara ini, biarlah aku dianggap lemah dan tidak pintar.

 

Kalau aku tak juga menang dalam pertempuran dengan diriku sendiri, biarlah! Apa boleh buat! Terpaksa, aku belum dapat ikut ‘jadi pemain’. Maafkan aku kalau itu dianggap lemah!

 

Sibolga, Agustus 2008

 

 

 

Kategori: Pikiranku

Ribuan Ekor Ikan Nila di Uluan Mati Mendadak

01 Agustus 2008 · 1 Komentar

Pemilik Kerambah Ibu Martianna br Manullang, terkapar melihat ikannya mati mendadak
Pemilik Kerambah Ibu Martianna br Manullang, terkapar melihat ikannya mati mendadak

* Pemilik Pingsan

 

TOBASA-METRO

Ribuan ekor ikan nila keramba Danau Toba milik empat keluarga di Dusun Huta Batu, Desa Lumban Holbung, Kecamatan Uluan, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) mati mendadak, Rabu (30/7). Akibatnya, warga ditaksir mengalami kerugian Rp50 juta.

 

Informasi dihimpun METRO dari warga setempat bermarga Butarbutar memaparkan, matinya ikan nila itu pertama kali diketahui salahseorang pemilik keramba saat hendak memberikan makanan ikan, Rabu (30/7) pagi. Si pemilik keramba pun terkejut bukan kepalang saat melihat ikan yang dipeliharanya sudah terapung di dalam kerambah. Lalu, pemilik keramba memberitahukan hal itu kepada warga dan kepala desa. Selanjutnya diteruskan kepada Camat Uluan Muara Pakpahan. 

 

Camat Uluan Muara Pakpahan kepada METRO mengatakan, setelah mendapat laporan dari warga, pihaknya langsung turun ke TKP. Di lokasi itu, warga terlihat mengumpulkan ikan nila ke daratan. Selanjutnya, camat mengambil sampel ikan untuk dikirimkan ke Dinas Pertanian, Peternakan, dan Perikanan Tobasa untuk diteliti guna mengetahui penyebab kematiannya.

 

“Kita juga melakukan gotong royong dengan warga setempat untuk mengumpulkan ikan dan langsung menguburnya. Ini dimaksudkan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” ujar Camat Uluan. 

 

Dikatakan Muara Pakpahan, pihaknya sedang berupaya membantu empat keluarga petani ikan nila, dengan mengajukan usulan kerugian yang dialami agar dapat dibantu Dinas Pertanian. 

 

Kadis Pertanian, Peternakan, dan Perikanan Tobasa, Ir HL Silitonga kepada METRO, Kamis (31/7), membenarkan adanya ikan nila yang mati mendadak di Kecamatan Uluan.

 

“Sampel ikan yang mati sudah diterima dan akan diteruskan untuk diperiksakan ke Dinas Perikanan Sumatera Utara di Medan. Sejauh ini kita masih menunggu dari hasil penelitian dari Medan. Namun diperkirakan biaya kerugian pemilik keramba danau sekira Rp50 juta. 

 

Hal senada diungkapkan Kabid Perikanan Tua Pangaribuan. “Kita masih menunggu hasil penelitian, apakah kematian ikan nila itu akibat terkena penyakit herves, virus, atau kena putas,” ujar Tua Pangaribuan.

 

Amatan METRO, Martianna br Manullang, salahseorang pemilik ikan keramba terlihat  danau terkapar dan jatuh pingsan di lokasi ikan yang telah dikumpulkan warga, Rabu (30/7). Martianna shock melihat ikannya yang sudah hendak dipanen mati mendadak.

 

Ikan di 15 keramba danau milik empat keluarga itu diduga mencapai 36.000 kg (36 ton) dengan taksiran total kerugian Rp50 juta. (mes)

Kategori: Berita

Mengintip Program Perkebunan Kayu Rakyat versi PT TPL (1)

01 Agustus 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Jagokan Bibit Eukaliptus Hasil Kloning, 7 Tahun Sudah Panen

 

Mulai 2010, penebangan pohon di hutan alam akan dihentikan. Industri yang pasokan utamanya berbahan kayu, hanya boleh memanfaatkan kayu dari hutan tanaman industri. PT Toba Pulp Lestari, industri pulp di Porsea, pun memutar otak. Meski telah memiliki HPHTI, sustainable ketersediaan pasokan kayu harus dijaga. TPL memilih program Perkebunan Kayu Rakyat (PKR). Bibit eukaliptus hasil kloning jadi andalan. Umur tujuh tahun, kayu sudah bisa dipanen.

 

Dame Ambarita, Porsea

 

Kamis (15/5) pekan lalu, METRO mendapat undangan untuk melihat sejumlah lahan HPHTI (Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri) milik PT TPL di wilayah Tobasa, serta lahan-lahan PKR yang sudah ada. Sesuai penugasan pimpinan, METRO pun berangkat dari Siantar ke Porsea, bersama 3 wartawan lainnya dari Medan.

 

Didampingi Humas TPL Medan, Chaeruddin Pasaribu dan stafnya, Herman, METRO meluncur ke Porsea pada Kamis pekan lalu sekira pukul 14.00 WIB. Pukul 16.00 WIB, rombongan memasuki wilayah PT TPL di Desa Sosor Ladang Kecamatan Porsea, Tobasa, Sumut. Tiba di pintu gerbang, rombongan menjalani pemeriksaan oleh petugas security. Kaca mobil wajib diturunkan, dan isi dalam mobil diperiksa.

 

”Pengamanan TPL dilakukan oleh Security Group Indonesa (SGI). Itu institusi yang khusus melayani tugas pengamanan untuk perusahaan-perusahaan,” jelas Chaeruddin Pasaribu.

 

Memasuki kawasan PT TPL, METRO menangkap kesan hijau dan lokasi yang cukup tertata rapi. Chaeruddin menunjuk sebuah lokasi hijau yang dipenuhi pohon. “Itu lokasi khusus yang dinamakan Hutan Tanaman Tamu. Tamu-tamu yang datang boleh menanam pohon di sana,” jelasnya.

 

Ia menjelaskan, luas lokasi PT TPL sekira 200 hektare. PT TPL, dulunya bernama PT Inti Indorayon Utama (IIU) , dibangun sejak 1984 dan mulai beroperasi tahun 1986. Awalnya memproduksi pulp paper dan rayon. Tapi saat ini, hanya memproduksi pulp paper (untuk kertas) dan pulp dissolving (untuk tekstil).

 

Dari pintu gerbang, mobil terus meluncur menuju lokasi pembibitan eukaliptus, yang luasnya mencapai sekira 16 hektare, terbagi menjadi dua buah lahan pembibitan terpisah. Hamparan hijau bibit eukaliptus muda tampak segar disiram air dengan sistem kran putar. Di lokasi itu, rombongan diterima Manajer Pembibitan Eukaliptus, Karman Sirait, dan Section Head Corporate Sosial Responsibility PT TPL, Lambertus Siregar.

 

Sambil tersenyum ramah, Karman yang mengenakan topi lebar, pertama-tama menjelaskan rantai pembibitan eukaliptus yang saat ini dikembangkan TPL.

 

“Dulu, TPL memproduksi bibit eukaliptus dari biji. Cara itu relatif lebih lama, dan dengan hasil yang tak maksimal. Mengantisipasi permintaan bibit yang terus meningkat dan kebutuhan pasokan kayu, TPL pun belajar dari negara-negara produsen eukaliptus. Dengan meniru sistem kloning yang diterapkan Australia dan Brazil, TPL berhasil mengembangkan bibit unggul eukaliptus,” jelasnya.

 

Dari Brasil dan Australia, TPL mencangkok ilmu kloning tanaman eukaliptus. Sementara dari Israel, perusahaan ini mencangkok sistem pengairan otomatisnya. Konon, metode kloning terhadap tanaman eukaliptus ini baru satu-satunya di Indonesia.

 

Adapun tanaman eukaliptus ada 600-an jenis. Ada yang rakus air, ada yang menyebarkan ’bau sengit’ ke dalam tanah sehingga cacing tak mau hidup di bawahnya, dll. ”Tetapi eukaliptus yang dikembangkan TPL adalah jenis yang baik, yakni jenis grandis, pellita, dan uropilla, Keunggulan ketiga jenis ini antara lain bisa tumbuh di dataran tinggi dan dataran rendah, di tanah subur maupun tidak subur. Jenis ini juga cepat besar sehingga bisa cepat dipanen. Tidak rakus air, dan tidak menyebabkan cacing pergi,” katanya.

 

Untuk menghasilkan bibit unggul, ketiga jenis eukaliptus itu disilangkan. Induk yang unggul dikloning. ”Dari persilangan grandis dan uropilla, telah dihasilkan 22 jenis klon,” jelasnya.

 

Dengan proses kloning ini, dapat dihasilkan tanaman-tanaman lurus yang dapat dipanen dalam jangka waktu 7 tahun. Sementara pada proses biasa, tanaman baru dapat dipanen setelah berusia puluhan tahun. “Selain itu keunggulan tanaman hasil kloning ini adalah batangnya tidak bercabang sehingga memudahkan proses produksinya,” tambahnya.

 

Metode kloning yang saat ini digunakan di TPL terdiri dari dua cara, yakni kloning macro-cutting (potongan besar) dan mini-cutting (potongan kecil). Perbedaan dari kedua metode ini terletak pada potongan dahan eukaliptus yang akan digunakan. Pada metode makro, potongan yang diambil mencapai 5–7 centimeter, sementara untuk mini cukup 3–5 sentimeter.

 

Dalam prosesnya, kedua metode kloning ini memiliki cara hampir sama yakni pertama dahan-dahan dari tanaman induk, dipotong sesuai metode yang akan digunakan. Satu induk bisa dipotong dua kali seminggu atau 8 kali per bulan. Kemudian potongan itu disterilisasi dan diberi perangsang akar. Lalu calon tanaman ini ditaruh dalam media pasir dan gambut pada tube khusus yang disirami campuran air serta pupuk setiap 10 menit. Proses ini dilakukan selama satu bulan dalam rumah-rumah khusus.

 

Setelah tanaman berusia 30 hari, tanaman dipindah ke ruang terbuka selama 60 hari, dengan pupuk khusus yang sementara ini didatangkan dari Belanda. Selanjutnya, bibit dipindah ke pot khusus disemprot bebas hama, sebelum dibawa untuk ditanam di hutan-hutan tanaman industri (HTI) milik PT TPL.

 

”Saat ini, TPL memiliki 523.000 tanaman induk yang dipasok oleh divisi penelitian di Sektor TPL Aek Nauli. Jika dikalikan 8 stek per bulan per tanaman induk, maka dengan proses kloning ini, bagian pembibitan dapat menghasilkan 4 juta bibit per bulan. Tingkat survival bibit mencapai 65 persen. Ini sudah bagus. Karena dulu dengan sistem biji, tingkat survival hanya 45 persen. Saat ini, rata-rata 2,2 juta bibit yang dihasilkan per bulan, bisa bertahan hidup hingga panen,” jelasnya bangga.

 

Dengan adanya program Perkebunan Kayu Rakyat yang dicetuskan TPL, Karman menargetkan, bagian pembibitan segera memiliki 750.000 tanaman induk, untuk menghasilkan 6 juta bibit per bulan. Dengan tingkat survival mencapai 65 persen, artinya bibit yang bisa dipasok mencapai 3,9 juta per bulan.

 

”Itu akan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan HTP TPL, lahan PKR milik masyarakat, dan permintaan bantuan bibit dari berbagai pihak,” cetusnya.

 

Lambertus Siregar menambahkan, dengan loncatan penemuan bidang pembibitan ini, dimungkinkan ke depan, pohon eukaliptus akan bisa dipanen lebih cepat, yakni sekali 4 tahun. Juga dengan jarak tanam yang lebih rapat, sehingga kubikasi kayu yang dihasilkan lebih banyak.

 

Keberhasilan metode kloning ini telah mengusung industri terbesar di kawasan Porsea ini, mendapatkan penghargaan ISO 14001 : 1996 untuk pengelolaan lingkungan bidang kehutanan pada medio Juni 2004 lalu.

 

Sistem Pertanian Terpadu Tanpa Sisa

Usai melihat lokasi pembibitan, masih pada hari yang sama, wartawan sempat diajak meninjau lokasi pabrik TPL. Yakni melihat lab kimia secara singkat, untuk mendapat penjelasan seputar prinsip pengolahan kayu bulat menjadi pulp paper (bahan untuk kertas) dan pulp disolving (bahan untuk tekstil).

 

Kepala Environment Pabrik, Sri Nurhayati Pasaribu, dalam paparannya menjelaskan mulai proses pencincangan kayu, pencucian, pemutihan, pengeringan, hingga produksi hasil akhir TPL berupa lembaran karton warna putih. Lembaran putih itulah yang dipak dan dikirim ke pabrik lainnya di berbagai daerah/negara, untuk diolah lagi menjadi kertas atau pakaian.

 

Dari lab kimia, wartawan dibawa melihat instalasi pembakaran limbah gas. Di lokasi ini, METRO menyaksikan isntalasi pembakar limbah gas, serta instalasi penangkap partikel kimia di udara, dan mengolahnya kembali hingga memenuhi baku mutu. Di lokasi yang sama, juga ada instalasi pengolahan limbah padat. Limbah padat yang dihasilkan sekilas tampak mirip semen. Menurut Section Head Corporate Sosial Responsibility PT TPL, Lambertus Siregar, limbah padat itu dimanfaatkan untuk bahan pengerasan jalan.

 

Dari sana, wartawan dibawa ke instalasi pengolahan limbah cair, yang terdiri dari 3 kolam, yakni kolam pendinginan sekaligus pengendapan, kolam penetralan pH, dan kolam pengolahan lanjutan hingga limbah cair memenuhi standar baku mutu, sebelum dibuang ke Sungai Asahan.

 

Di lokasi ini, selain dipandu Lambertus Siregar, Humas TPL Medan Chaeruddin Pasaribu, Section Head Government and Media Relation Tagor Manik, juga ikut memandu.

 

Lambertus dalam kesempatan itu menjelaskan, dalam Konsep Sistem Pertanian Terpadu Tanpa Sisa, TPL mengembangkan sistem zero waste dengan memanfaatkan limbah cair TPL, untuk membuktikan kalau limbah TPL tidak mencemari lingkungan.

 

”Ternak yang dipelihara yakni sapi Bali dan unggas. Kotoran ternak menjadi pupuk sayur mayur berupa kol, kacang-kacangan, cabai, jagung, terong, kangkung, dan lainnya. Hasil pertanian menjadi makanan ternak. Sementara ikan, terbukti dapat hidup di kolam yang airnya berasal dari limbah cair hasil pengolahan akhir sebelum dibuang ke Sungai Asahan. Unggas sengaja diperlihara, karena unggas termasuk sensitif dengan pencemaran udara. Dan terbukti, semua ternak dapat berkembang biak, ikan bahkan sampai pembibitan, dan pertanian dapat hidup dengan baik,” jelasnya. (bersambung, besok ikuti catatan dengan topik: TPL Membidik Lahan-lahan Tidur).

Kategori: Catatan Kaki

HP Bergetar, Alirkan Hawa Panas

01 Agustus 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

SIANTAR-METRO

Jumat (9/5), Syawal Lubis (33), pedagang udang di Pasar Dwikora Pematangsiantar, meski tak sempat melihat warna layar handphonenya, namun getaran HP dirasakannya sangat berbeda dari biasa. Bahkan menimbulkan hawa panas.

 

Informasi awal yang diterima METRO, korban ‘telepon merah’ di Pasar Dwikora mengeluarkan darah dari mulut dan telinga. Namun setelah ditelusuri, hal itu tak terbukti. Informasi diperoleh, HP hanya bergetar dan menimbulkan hawa sangat panas.

 

Syawal, warga Jalan Kadi I Kelurahan Kampung Bantan Kecamatan Siantar Barat, Jumat (9/5) pagi sekira pukul 08.00 WIB berada di Pasar Ikan Dwikora. Sementara HP Nokia 7610 yang menggunakan sim card nomor 085296087xxx disimpan di kantung celana bagian kiri. Tiba-tiba HP berbunyi dan bergetar. Namun nada deringnya lain dari biasanya.

 

Ringtone yang saya gunakan lagu barat. Sedangkan untuk short message service (SMS) salahsatu lagu Ungu. Namun bunyi yang tadi pagi itu hanya tut..tut..tut. Dan getarannya makin lama makin kencang,” terang Syawal kepada METRO di kediamannya tadi malam sekira pukul 19.00 WIB.

 

Parahnya, selain getarannya makin kencang, HP tersebut menimbulkan hawa panas. Seketika paha kirinya terasa sangat panas. Rasa panas pun terus mengalir ke seluruh tubuh bagian kiri.

“Tapi hanya bagian kiri yang terasa panas, sebelah kanan nggak,” terangnya.

 

Merasa tak tahan dengan hawa panas yang dialirkan getaran HP-nya, ia pun berusaha mengambil HP tersebut dari kantongnya. Namun tangannya kepanasan dan tak mampu menggenggam HP tersebut seperti biasa. Ia hanya memegangnya menggunakan dua ujung jari kiri. Lalu, tanpa sempat melihat layar, HP tersebut dilemparnya. Saat teman-temannya hendak melihat HP itu, ia segera melarangnya.

 

“Pas temanku mau mengambil HP, kularang. Jangan dulu…, jangan dulu…,” kata Syawal. Ia khawatir temannya akan ikut merasakan panas.

 

“Teman-teman bilang, wajahku usai kejadian itu pucat,” ungkap Syawal yang masih terlihat lemas.

 

Meski HP telah dikeluarkan dari kantong celana, namun Syawal masih merasakan panas di tubuh bagian kiri, terutama pahanya. Akhirnya ia meminta istrinya membeli celana baru saat itu juga, dan ia segera mengganti celananya. Tak lama, Syawal dan istrinya pulang dan berobat ke Rumah Sakit (RS) Suaka Insani di Jalan Seram, serta ditangani dr Robert Maulana.

 

Hingga Jumat malam, Syawal masih terlihat lemah dan mengaku trauma. Untuk menghilangkan traumanya, ia tak mau lagi melihat HP-nya itu. “Aku nggak mau lihat HP itu sejak kejadian tadi pagi karena masih trauma. Sekarang HP itu dipegang temanku dan sudah kusuruh menjualnya,” tuturnya.

 

Syawal mengaku, sebelum kejadian itu, ia tidak percaya dengan informasi ‘telepon merah’. Namun kini ia berpesan agar warga lainnya berhati-hati dengan HP.

 

“Semalam aku dikasih tahu abangku untuk berhati-hati. Tapi aku tak mau percaya. Tadi pagi pun masih kubilang sama orang-orang bahwa hanya orang bodohlah yang mau percaya. Namun baru 20 menit aku ngomong gitu, langsung kejadian,” kenangnya.

 

Melihat kondisi Syawal yang trauma, sang ibu pun mengupa-upa anaknya itu. Kemarin sekitar pukul 15.00 WIB, diadakan upa-upa di rumah Syawal. “Untuk menyemangati Syawal yang masih trauma,” tukas ibunya.

“Kepada orang-orang supaya lebih berhati-hatilah terhadap HP-nya,” pesan Syawal yang didampingi istri dan ibunya. (nes)

Kategori: Catatan Kaki

Ibu-ibu Manis Menari Diiringi Keroncong, Remaja Tampil Berderap

01 Agustus 2008 · & Komentar

Ternyata, ibu-ibu di Kota Siantar tak kalah luwes dengan para remaja putra dan putri, saat berjalan di atas catwalk. Buktinya, saat gladi resik acara Lomba Fashion Show yang digelar Harian METRO SIANTAR di Pujasera Siantar Hotel, 4 April 2008, peserta ibu-ibu tampil manis berlenggak-lenggok diiringi irama keroncong, di bawah bimbingan dari pengarah gaya, Syawal. Sementara kaum remaja berderap dengan musik menghentak. Hurray!!

Dame Ambarita, Siantar

 

Menonton acara GR peserta Lomba Fashion Show, Jumat sore kemarin, cukup berhasil membuat beberapa pengunjung yang hadir terpukau dan terhibur. Betapa tidak, latihan parade fashion show diiringi musik keroncong untuk ibu-ibu, dan musik menghentak untuk remaja putra/putri, tak terasa membuat kita ikut bergoyang. Bahkan beberapa yang hadir mengaku, jadi muncul keinginan untuk ikut menjadi salahsatu peserta.

 

Awalnya, peserta kategori ibu-ibu yang latihan parade, diiringi musik keroncong. Di bawah panduan pengarah gaya, Syawal, ibu-ibu diajari cara berjalan di atas catwalk, dengan sedikit melakukan gerakan tari. Pada latihan pertama, hanya beberapa peserta yang tampil pede berjalan sambil menari. Kebanyakan hanya latihan berjalan dari titik awal ke titik akhir. Bahkan ada yang berjalan dengan gaya lurus.

 

Barulah setelah agar menguasai ’panggung’, peserta lebih santai dan mulai berani menari. Bahkan, ada peserta yang tampak sangat menikmati berjalan sambil menari tadi. Tangannya tampak lentur menari mengikuti musik.

 

”Kenapa Kategori Bapak-bapak tak diikutkan lomba, kami ’kan mau juga?” tanya seorang bapak-bapak kepada panitia, saat menonton kaum ibu berjalan sambil menari. Tak jelas, si bapak serius atau tidak.

 

Sekitar 30 menit latihan untuk kaum ibu, berikutnya latihan untuk peserta remaja. Musik menghentak langsung menyambar. Dua baris sekali jalan, sebaris cewek sebaris cowok. Di sini, latihan pertama agak kacau. Pasalnya, dengan musik berderap menghentak, barisan cewek berjalan terlalu cepat, membuat barisan cowok tertinggal beberapa meter. Apalagi, barisan cowok harus berputar di sisi yang lebih lebar, membuat jarak semakin besar. Latihan ini membuat Syawal, si pengarah gaya, terpaksa mengulang instruksinya.

 

”Oke, latihan kembali diulang,” kata Syawal.

 

”Wah, kok kacau nih,” kata Ruth, seorang peserta remaja putri, yang barisannya berjalan terlalu cepat, dan jarak antar peserta tidak teratur.

 

Beberapa kali latihan berhasil membuat barisan lebih teratur, meski tempo berjalan para peserta tetap agak keteter. Tapi untuk sementara,  pengarah gaya menganggap, latihan sudah cukup.

 

Berikutnya, latihan untuk tahap penilaian. Di sini, peserta disuruh tampil sekaligus dua orang. Cara berjalannya lebih rumit, berputar di sana, berputar di sini, berhenti di sana, berhenti di sini, wah… pokoknya agak rumit. Namun si pengarah gaya, Syawal, dibantu temannya yang bakal jadi MC, tampak luwes saja berjalan. Bahkan Syawal, yang memang sudah berpengalaman di bidang fashion/modelling, tampak sangat menguasai panggung. Gerak tubuhnya sangat lentur dan luwes.

 

Cara berjalan yang berputar di sini, berhenti di sana, dan seterusnya, berlaku untuk peserta ketiga kategori. Karenanya, seluruh peserta diminta benar-benar memperhatikan di mana titik memberi hormat, titik berputar, titik berhenti, dan sebagainya.

 

Hanya sayang, karena persoalan teknis, musik yang mengiringi latihan untuk peserta putra dan putri masih pengganti, dan bukan musik yang akan mengiringi saat Lomba Fashion Show, yang digelar Sabtu malam ini.  

 

Latihan berlangsung cukup heboh. Penonton ikut bergoyang. Meski ada beberapa peserta yang terlambat, namun tak mengurangi kelancaran seluruh latihan. Bahkan, sejumlah peserta siswa SMK swasta yang terlambat latihan karena harus mengikuti ujian dulu di sekolahnya, tetap dilayani Syawal untuk dilatih. Uniknya, para siswa SMK ini tampak sudah familiar dengan dunia catwalk. Buktinya, cara berjalan yang mereka pertunjukkan sudah luwes. Tak perlu heran, soalnya mereka merupakan peserta fashion show yang digelar SMK Bintang Timur belum lama ini. Mereka juga akan memberikan atraksi fashion karya mereka sendiri, di tengah lomba yang rencananya akan digelar malam ini.

 

Adapun kriteria yang dinilai oleh dewan juri dalam lomba ini meliputi keserasian berbusana, keluwesan berjalan di atas catwalk, dan perpaduan aksesoris. Peserta ibu-ibu wajib mengenakan kebaya, remaja putri mengenakan gaun pesta malam, remaja putra mengenakan busana pesta malam.

 

Untuk kategori ibu-ibu, karena peserta yang mendaftar di bawah quorum yang ditetapkan panitia, yakni minimal 25 peserta, maka hadiah untuk para juara tidak seperti yang dijanjikan semula, yakni Juara 1 Rp1 juta ditambah paket kosmetik, Juara II Rp750 ribu ditambah paket kosmetik, Juara III Rp500 ribu ditambah paket kosmetik, dan 3 Juara Harapan masing-masing Rp250 ribu ditambah paket kosmetik.

 

Hadiah untuk Ibu-ibu diganti berupa piala, piagam, uang Rp750.000 ditambah handphone untuk juara I; piala, piagam, dan uang Rp500.000 ditambah handphone untuk juara II; piala, piagam, uang Rp250.000 ditambah DVD untuk juara III. Selanjutnya untuk 3 Juara Harapan mendapat produk berupa rice cooker, dispenser, dan hair dryer.

 

Sementara untuk peserta Remaja Putra dan Putri, karena jumlah peserta memenuhi quorum, yakni 69 Putri dan 32 Putra, hadiah yang dijanjikan tetap seperti semula, yakni Juara 1 Rp1 juta ditambah paket kosmetik, Juara II Rp750 ribu ditambah paket kosmetik, Juara III Rp500 ribu ditambah paket kosmetik, dan 3 Juara Harapan masing-masing Rp250 ribu ditambah paket kosmetik. Hanya saja untuk peserta putra tidak termasuk paket kosmetik. Hadiah untuk juara masih ditambah lagi dengan piala dan piagam penghargaan.

 

Ketua Dewan Juri, Mindo Beauty Indriani Napitupulu, didampingi anggota, Ika Pitarawesti Harahap, kembali mengingatkan seluruh peserta agar maksimal berupaya untuk menang. “Juri ingin penilaian objektif, dan tidak ada KKN (kolusi, korupsi, nepotisme). Belakangan ini, saya menerima beberapa SMS dan telepon. Untuk itu, kembali saya mengingatkan, juri akan menilai berdasarkan kemampuan peserta. Bukan karena KKN,” tegasnya diaminkan oleh Ika. (*)

 

 

Kategori: Siantar Man