Menelusuri Jejak Sejarah Gugurnya Kapten Bongsu Pasaribu di Tapteng (2/Habis)

 

Gagal ‘Mengurus’ Gelar Pahlawan, Cucu sang Kapten Stres & Dikerangkeng

 

Kapten Bongsu Pasaribu layak memeroleh gelar pahlawan. Sayang, ‘penghargaan’ yang diperolehnya baru berupa pengabadian namanya menjadi nama sebuah jembatan, nama sebuah jalan, dan sebuah monumen semen berukuran 1 x 1 x 2 meter di Desa Suga-suda, Tapteng. Yang membuat hati miris, seorang cucu sang kapten sampai stres dan sudah 7 tahun terpaksa dikurung dalam kerangkeng besi, setelah gagal ‘mengurus’ gelar Pahlawan Nasional untuk sang kakek.   

 

 Dame Ambarita, Tapteng

 

 Pekan lalu di Desa Suga-suga Hutagodang, Kecamatan Pasaribu Tobing, Tapanuli Tengah. Seorang pria muda duduk seenaknya di sebuah kerangkeng besi berukuran sekitar 1 x 1,5 x 2 meter. Tubuhnya kurus. Jenggotnya tumbuh tak beraturan. Di lehernya menggantung kain-kain dan benda-benda yang sama sekali tak mirip kalung. Pergelangan tangannya dilingkari gelang-gelang yang terbuat dari potongan kain. Pakaiannya lusuh dan dekil, mirip pakaian orang sakit mental yang berkeliaran di sudut-sudut ibukota.

 

Bau pesing menguar dari kerangkeng besi yang digembok itu. Tumpukan baju-baju butut terletak di sudut kerangkeng, praktis menjadi sarang nyamuk. Tampak ceceran kapas-kapas yang berasal dari bantal yang hancur menghiasi sekitar kerangkeng. Kasarnya, kandang ternak masih lebih ‘layak’ daripada kerangkeng itu.

 

Kerangkeng besi itu terletak di bagian belakang sebuah rumah, yang ternyata rumah kelahiran Kapten Bongsu Pasaribu. Rumah itu sudah separuh hancur. Dinding-dindingnya sebagian sudah roboh. Bukan karena lapuk ditimpa usia, tapi kabarnya karena ‘dihancurkan’ dalam kemarahan. Rumah itu sendiri bisa dikatakan kosong. Kalaupun ada perabot, sudah dalam kondisi setengah hancur.

 

Pemandangan miris itu terekam saat METRO bersama rombongan Panitia Bedah Buku ‘Gugurnya Kapten Bongsu Pasaribu’, LVRI Tapteng, dan Dandim 0211/TT Letkol Kav Albiner Sitompul, berkunjung ke kampung kelahiran Kapten Bongsu Pasaribu, sang pejuang kemerdekaan RI, pekan lalu.

 

Nama pria itu Ramli Hasudungan Pasaribu (37). Ia cucu dari Raja Johannes Pasaribu, abang kandung Kapten Bongsu. Ramli dikurung di sana karena stres dan depresi, menyusul kegagalannya berkali-kali memperjuangkan kakeknya (Kapten Bongsu) menjadi Pahlawan Nasional. Kata pihak keluarga, ia sudah 7 tahun dikurung di rumah kelahiran kakeknya itu.

 

“Ia dikurung karena menghancurkan seisi rumah,” kata seorang familinya, kepada METRO saat berkunjung ke rumah itu.

 

Menurut pihak keluarga yang mengantarkan rombongan ke rumah itu, Ramli dulunya waras. Setelah mengetahui kisah perjuangan Kapten Bongsu yang masih terbilang kakeknya sendiri, didukung kisah kakek kandungnya sendiri, Raja Johannes Pasaribu, yang tewas ditembak Belanda, Ramli berketetapan hati untuk memperjuangkan gelar Pahlawan Nasional bagi kakeknya.

 

“Ia pergi ke Jakarta dengan niat menemui Jenderal Maraden Panggabean, meminta agar Kapten Bongsu mendapat penghargaan sebagai pahlawan,” tutur keluarga Kapten Bongsu, yakni Martaulinan Bondar (72), Mutiara Pasaribu (60), Tiamsyah Pakpahan (65), dan anggota keluarga lainnya.

 

Naas baginya, berkali-kali ke Jakarta, berkali-kali pula ia gagal menemui sang jenderal, yang merupakan atasan Kapten Bongsu semasa bertugas. Bahkan dikisahkan, Ramli sempat diusir aparat saat memaksa mendatangi kantor sang jenderal.

 

“Mungkin karena saat itu ia datang secara pribadi, tidak membawa rekomendasi dari LVRI atau pemerintah daerah, sehingga ia tidak diterima di Jakarta,” kata Raja Johan Sitompul, Ketua Panitia Bedah Buku ‘Gugurnya Kapten Bongsu Pasaribu’, kepada METRO. 

 

Dikisahkan pihak keluarga, setelah berkali-kali gagal mengurus gelar pahlawan untuk kakeknya itu, bahkan merasa diperhinakan karena diusir, Ramli pun stres dan depresi.

 

“Awalnya, tingkat stresnya tidak begitu parah. Ia hanya sering bertingkah seperti tentara, lari-lari bak prajurit latihan, lalu bilang ke kami, ‘cepat… cepat masuk ke rumah, Belanda mau datang’,” tutur Tiamsyah Pakpahan.

 

Lama kelamaan, tingkat stres yang diderita Ramli makin berat. Ia mulai mau mengamuk, dan menghancurkan benda-benda di sekitarnya. Puncaknya, ia menghancurkan seisi rumah Kapten Bongsu, hingga dinding rumah pun jebol.

 

Karena dianggap mengganggu, akhirnya sekitar 7 tahun lalu, pihak keluarga sepakat membuat kerangkeng besi, dan memasukkan sang pemuda ke dalamnya.

 

“Sebenarnya, ia bisa diajak ngomong seperti orang normal. Ia bahkan sering minta dilepaskan. Tapi kadang ia tidak mau makan dan minum, dan kemudian mengamuk,” tutur Tiamsyah dengan mata berkaca-kaca.

 

Saat rombongan mengunjungi kerangkeng besi tempat Ramli terkurung, ‘kewarasan’ pria itu memang masih bisa tertangkap. Ia langsung menyapa Dandim yang mendatanginya. Bahkan, ia bersedia diajak ngobrol, meminta rokok, dan sebagainya.

 

“Saya ini veteran angkatan laut. Sudah pernah ketemu komandan-komandan negara. Semuanya demi memperjuangkan kemerdekaan tanah air,” katanya dengan gaya santai.

 

Saat ditawari rokok dan mancis, ia menerima dengan baik. Dan kala Ketua Antar Waktu LVRI Tapteng, Abdul Kahar Tanjung, yang saat itu mengenakan topi veteran, menyalaminya, Ramli kontan ngoceh: “Sudah veteran Bapak sekarang ya!” Pak Tanjung hanya mengangguk.

 

Namun rombongan tak lama di sana. Usai melihat kondisi cucu sang pejuang, Pak Dandim keluar dan berikutnya mengunjungi rumah kakak ipar Kapten Bongsu, Tio Simbolon (100-an), istri Raja Johannes Pasaribu.

 

Sayang sekali, Tio tidak dapat diwawancarai karena sudah sangat tua. Tubuh tuanya terus menggigil bak orang kedinginan. Pak Dandim merengkuh bahu wanita itu, dan memberi segelas air dingin untuk diminumnya.

 

Dari rumah Tio, rombongan bergerak ke monumen perjuangan untuk menghormati perjuangan sang kapten, masih di desa yang sama. Untuk menuju ke monumen, rombongan harus melewati sebuah jembatan yang juga bertuliskan nama sang kapten. Tulisannya tidak terlalu besar. Bagi orang yang tidak jeli, tulisan di jembatan itu bisa saja terluput dari penglihatan.

 

Sekitar 200 meter dari jembatan ke arah bukit, rombongan menemukan monumen perjuangan Kapten Bongsu Pasaribu, Komandan Round I, Harimau Mengganas. Bentuknya empat persegi, ukuran 1 x 1 x 2 meter. Di atas monumen itu, diletakkan patung kepala dengan tangan mengepal. Simbol kematian sang kapten yang tewas dipenggal tentara Belanda di Harakka, Barus, 61 tahun silam. Monumen itu didirikan tahun 1995, atau sekitar 13 tahun lalu.

 

Monumen itu tidak terlalu mewah. Arealnya sama sekali tidak dipagar. Bahkan di dekatnya, hanya berjarak sekitar 1,5 meter, berdiri sebuah rumah makan. Seandainya ada orang yang tidak punya tujuan khusus untuk melihat monumen, besar kemungkinan monumen itu luput dari perhatian.

 

Anak, cucu, dan para Veteran Indonesia yang ditinggal sang kapten terus berharap agar ada perhatian dari Pemerintah Pusat dan Daerah, untuk memberikan bantuan berupa tugu perjuangan sang kapten di desa kelahirannya. Hal itu sebagai tanda jasa atas kepahlawanannya mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. “Kalau tidak, Komandan Kesatuan Harimau Mengganas atau Komandan Raund 1/Sektor IV Tapanuli sebagai Pejuang Nasional, dipastikan akan terus terlupakan,” catat Rekson Hermanto Pasaribu, cucu sang kapten, dalam tulisannya di sebuah situs di internet.

 

Adapun jenazah (kerangka) Komandan Kapten Bongsu yang sempat terpisah, yaitu potongan badan yang dikubur di Kampung Sijungkang telah disatukan dengan kepala yang telah dikuburkan Belanda di komplek Penjara Barus. Setelah menyatu, beliau dimakamkan di Taman Pahlawan di Sibolga sampai sekarang.

 

Kisahnya Dibukukan

Buku yang mengisahkan perjuangan Kapten Bongsu Pasaribu, rencananya akan diterbitkan dalam waktu dekat, ditulis oleh Dr Sudung Parlin Lumbantobing & Andreas. Dr Sudung Parlin Lumbantobing, saat berkunjung ke rumah keluarga sang pejuang, di Desa Sugasuga Kecamatan Pasaribu Tobing, Kabupaten Tapteng, Rabu (16/7) lalu menjelaskan, sejarah Kapten Bongsu ditulis tanpa diduga sebelumnya. “Data tentang Kapten Bongsu saya dengar pertama sekali saat saya menulis buku Sejarah Tapteng. Karena saya merasa menarik, saya cari beberapa data pendukung. Tetapi tak banyak yang saya peroleh. Bahkan, foto diri Kapten Bongsu pun tidak saya peroleh saat itu,” tuturnya.

 

Ketertarikannya menulis tentang perjuangan Kapten Bongsu baru dapat disalurkan, setelah dirinya mendapat dukungan dari putra Tapteng, Raja Johan Sitompul (ketua panitia bedah buku), LVRI, dan Dandim 0211/TT. “Setelah saya ke sana ke mari mengumpulkan data tentang Kapten Bongsu, barulah kisah sejarahnya mulai tersusun. Bahkan, fotonya bisa diperoleh dengan meminta gambaran dari mantan anak buahnya yang masih hidup,” kenangnya.

 

Untuk memublikasikan kisah Kapten Bongsu, Panitia Bedah Buku ‘Gugurnya Kapten Bongsu Pasaribu’ yang diketuai Raja Johan Sitompul, dengan pembinaan dari LVRI Tapteng dan Dandim 0211/TT Letkol Kav Albiner Sitompul, terus menggelar rangkaian kegiatan, mulai dari kunjungan ke rumah keluarga Kapten Bongsu, dialog interaktif, gotong-royong di rumah Kapten Bongsu, audiensi ke Bupati Tapteng, dan sebagainya. (habis)

 

 

 

 

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s