Dame Ambarita’s Weblog

Masukan dari Juli 2008

Sunset di Pantai Ujung Siboga

28 Juli 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Pantai Ujung Siboga

Pantai Ujung Siboga

Sunset di Pantai Ujung Siboga

 

 

 

 

 

Hampir setiap sore sampai malam saat cuaca cerah, Pantai Ujung Siboga, ramai dengan pengunjung. Umumnya warga lokal. Ada yang main bola di lapangan yang tersedia, ada yang duduk-duduk di atas tembok pembatas air laut dengan ‘daratan’, ada yang mandi-mandi, main pasir, jajan makanan ringan, atau hanya sekedar lalu-lalang menikmati sunset (pemandangan matahari terbenam).

 

Dame Ambarita, Sibolga

 

Yang namanya pantai, tentu saja berbatasan langsung dengan laut. Begitu juga dengan Pantai Ujung Siboga, di Kelurahan Simare-mare, Kecamatan Sibolga Utara, Kota Sibolga. Dari sekian banyak pantai di Kota Sibolga dan Tapteng, pantai yang satu ini cukup diminati pengunjung lokal. Apa kelebihannya?

 

Dari segi luas, mungkin Pantai Ujung Siboga bukan ‘the best’. Maklum, luasnya hanya sekitar 50 x 60 meter persegi. Fasilitasnya pun bukan kelas satu. Bahkan, kejernihan air lautnya pun bukan pula menggiurkan. Tetapi ia memiliki sesuatu yang khas. Pemandangan Aek (Sungai) Doras di sisi kiri jalan masuk ke lokasi. Dan pekuburan umum di sisi kanan.

 

Pekuburan tentunya bukan sesuatu yang patut diiklankan dalam wisata. Tetapi jangan takut, sejak pantai ini mulai ditata Pemko Sibolga di awal tahun 2008, jalan masuk ke pantai sudah ditimbun dan diaspal apik, dengan pagar cukup tinggi membatasi sisi ke pekuburan. Bagi pengunjung yang baru pertama kali datang, mungkin takkan menyangka kalau di sisi kanan adalah pekuburan.

 

Biasanya mulai pukul 16.00 WIB (khususnya saat cuaca cerah), kawasan ini sudah mulai ramai. Pedagang jajanan ringan, seperti jagung bakar, bakso, mie instant rebus/goreng, kacang rebus, serta jajanan lainnya, sudah berjualan di lokasi. Pengunjung pun mulai berdatangan. Ada yang jalan kaki, naik becak, naik sepedamotor, mobil, dan sebagainya. Ada rombongan anak sekolah, anak-anak muda yang mau main bola, gadis-gadis remaja yang ingin menikmati sunset, pasangan yang lagi berpacaran, keluarga yang ingin bersantai, dan sebagainya.

 

“Sekarang ini, orang lebih suka ke pantai ini saja (Pantai Indah Siboga, red). ‘Kan lebih dekat! Daripada jauh-jauh ke Pantai Pandan atau Pantai Kuta? Lagipula, di sini cukup nyaman. Mau jajan juga lengkap. Mau pulang ke rumah, pun tak perlu repot-repot menghabiskan waktu di jalan!” ungkap Rina (23), seorang gadis muda kepada METRO, belum lama ini.

 

Jaraknya dekat! Kata itu menjadi salahsatu keunggulan Pantai Ujung Siboga, di mata warga Sibolga. Memang, kejernihan air laut di pantai ini bukan nomor satu, tetapi tak pula kotor sekali. Buktinya, sebagian pengunjung cukup berani mandi-mandi di sana. Pantai ini bisa dibilang muara, karena air Aek Doras bermuara di sini. Tetapi tidak seperti muara lainnya yang umumnya agak berlumpur, muara Aek Doras cukup bersih, dengan pasir putih kecoklatan yang elok dipandang. 

 

Soal pemandangan alam, pantai ini juga tak kalah dari pantai lainnya. Pemandangan sunset dari sini, sama menariknya dengan sunset dilihat dari Pantai Pandan misalnya. Apalagi, di sisi kanan pantai, ada bebatuan karang yang dinaungi pohon besar dan lebat. Di antara batu karang dan pohon itu, ada gua kecil, yang konon katanya ada penunggunya berupa ular. Ular ini, masih katanya, hanya muncul saat-saat tertentu saja. Soal kebenarannya, wallahualam…

 

Sambil menikmati sunset, silahkan jajan bagi yang mau jajan. Jajanan ringan tersedia cukup beragam. Ada jagung bakar, Rp3.000-an per tongkol. Bakso, Rp7.000-an per mangkok, ada mie sop, mie instant goreng/rebus, snack,  kacang rebus, minuman ringan, dan sebagainya. Kalau mau bawa makanan dari rumah, juga boleh. Tak ada larangan. Cuma kalau tidak beli jajanan di sana, dimohon jangan duduk di tikar atau kursi plastik milik pedagang yah… hehehe…

 

Bagi anak-anak atau remaja yang ingin main sepeda, kejar-kejaran, atau main bola, lokasi sangat memadai. Tak perlu takut terluka parah jika jatuh, karena pasir yang ditimbun menjadi daratan dan ditembok dengan semen, cukup empuk.

 

Pemandangan ke laut lepas, dengan debur ombak menghempas pantai, ditingkahi hembusan angin laut, bolehlah untuk melepas suntuk setelah seharian berkutat dengan rutinitas. Belasan kapal-kapal nelayan yang sedang mencari ikan, dengan pulau-pulau kecil di kejauhan, juga menjadi objek pemandangan yang tak kalah menariknya.

 

Bagi warga Sibolga, berkunjung ke pantai ini menjadi pilihan salahsatu menarik, dan berpeluang menjadi objek wisata kebanggaan. Tak ada pungutan apapun. Silahkan datang, duduk-duduk di lokasi, lalu pulang, semuanya gratis. Kalau mau jajan, tak mahal-mahal amat. Modal Rp6 ribu, bisa makan jagung bakar berdua dengan pacar. Nah, tertarik menikmati sunset di Pantai Ujung Siboga? (*)

 

 

 

 

 

Kategori: Berita

Menelusuri Jejak Sejarah Gugurnya Kapten Bongsu Pasaribu di Tapteng (1)

22 Juli 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

 

Monumen Perjuangan Kapten Bongsu di Sorkam

Monumen Perjuangan Kapten Bongsu di Sorkam

 Komandan Itu Dipenggal, Potongan Kepalanya Ditenteng dalam Karung

 Tahun 1945, usianya masih relatif muda. Baru 22-an tahun. Tapi Kapten Bongsu Pasaribu sudah tampil sebagai Komandan Kompani (Kompi). Dua tahun kemudian, saat Agresi Belanda II pecah, Kesatuan Harimau Mengganas Tapanuli yang dipimpinnya sukses membuat pasukan Belanda kocar-kacir. Sayang, ia tertembak dan tewas dipenggal Belanda di Harakka, Barus, tanggal 3 Maret 1947. Ia gugur di usia 24 tahun. Enam puluh satu tahun kemudian, barulah kisahnya dibukukan.

 

Dame Ambarita, Tapteng

 

Pekan lalu, METRO bersama Panitia Bedah Buku ‘Gugurnya Kapten Bongsu Pasaribu’ yang diketuai Raja Johan Sitompul, LVRI Tapteng, dan Dandim 0211/TT Letkol Kav Albiner Sitompul, berkunjung ke Desa Suga-suga Hutagodang, Kecamatan Pasaribu Tobing, Tapanuli Tengah. Di desa kelahiran sang kapten itu, rombongan menyaksikan rumah dan desa tempat kelahiran sang pejuang Kemerdekaan Nasional asal Tapteng itu, serta jembatan dan monumen untuk mengenang perjuangan sang Kapten. Bersama rombongan, turut serta penulis buku ‘Gugurnya Kapten Bongsu Pasaribu’, yakni Dr Sudung Parlindungan Lumbantobing.

 

Di Desa Suga-suga itu, jembatan yang mengabadikan nama sang kapten berukuran relatif kecil, hanya sekira 4 x 6 meter. Sekitar 200 meter dari jembatan ke arah bukit, berdirilah monumen perjuangan Kapten Bongsu Pasaribu, Komandan Round I, Harimau Mengganas. Bentuknya empat persegi, ukuran 1 x 1 x 2 meter. Dan di atas monumen itu, diletakkan patung kepala dengan tangan mengepal. Saat tiba di depan monumen sang kapten, Pak Dandim tak segan-segan memberi hormat. 

 

Bagi pembaca yang belum tahu, mungkin bertanya-tanya, siapa gerangan Kapten Bongsu Pasaribu? Inilah secuil kisahnya, yang dirangkum METRO dari tulisan Rekson Hermanto Pasaribu, cucu sang kapten, seperti dikutip dari sebuah situs di internet…

 

Delapan puluh lima tahun lalu, seorang bayi laki-laki lahir di Desa Suga-suga, Hutagodang, Kecamatan Pasaribu Tobing, Tapanuli Tengah, persisnya pada tanggal 15 Juni 1923. Di desa yang berjarak sekitar 25 kilometer dari pusat Kota Sibolga itu, pasangan suami istri yang sedang berbahagia, Raja Pandapotan Pasaribu dan Barita Mopul br L, menamai bayi itu Bongsu Pasaribu.

 

Bongsu bukan anak pertama. Ia memiliki seorang abang kandung bernama Raja Johannes Pasaribu (terakhir menjabat sebagai Kepala Desa Suga-Suga Hutagodang). Raja Johannes inilah yang memiliki peranan penting dalam kehidupan Bongsu muda. Ialah yang menyekolahkan Bongsu. Peran yang menentukan. Betapa tidak, pada zaman penjajahan Kolonial Belanda, sangat jarang ada penduduk pribumi yang dapat duduk di bangku sekolah.

 

“Bisa dikatakan, hanya orang-orang tertentu saja atau anak Kapala Nagari dan para pedagang rempah-rempah, yang bisa sekolah,” kata Rekson dalam tulisannya.

 

Apalagi untuk bisa mengenyam ke jenjang sekolah H.I.S (Hindia Indhise School) Kota Sibolga. Rasanya tidak mungkin. “Tetapi beruntunglah Bongsu muda pada zaman itu, karena memiliki abang bernama Raja Johannes Pasaribu yang baik hati, dan tidak mengenal menyerah dalam memperjuangkan adiknya kandungnya itu, agar menjadi manusia yang terpandang di masyarakat karena masuk sekolah H.I.S,” tulis Rekson.

 

Bongsu mendapat dukungan penuh secara materil dari abangnya Raja Johannes Pasaribu, yang pada zaman itu (tanggal 3 Maret tahun 1932), telah dipilih rakyat Hutagodang menjadi pejabat Kepala Kampung Hutagodang.

 

Tak rugi sang abang mendukungnya. Karena Bongsu dikenal sangat pintar, berkepribadian pemimpin, dan memiliki bakat. Ia selalu tampil terdepan di sekolahnya. Kepintarannya dibuktikan dengan tamat sekolah dari H.I.S Sibolga, untuk melanjut ke jenjang lebih tinggi pada Quick Shcool di Tarutung (Tapanuli Utara). Dari Quick School, Bongsu juga tamat sekolah.

 

Setelah mendapat persetujuan kakaknya Raja Johannes, Bongsu muda merantau ke kota kembang Bandung (Jawa Barat) untuk sekolah tentara. Di Bandung, ia mampu masuk ke Kadester Shcool, hingga tamat. Selanjutnya, setelah tentara Jepang masuk ke tanah air Indonesia, Kapten Bongsu disuruh abangnya pulang kampung ke Hutagodang. Di masa itu, Kapten Bongsu sempat menjadi tentara Gygun dan menyandang pangkat sebagai Gyiusoi (Opsir), di Kota Sibolga.

 

Singkat cerita, berakhirlah penjajahan Jepang di negara Indonesia. Pemerintah RI di Jakarta melalui Presiden Soekarno Hatta menyatakan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus Tahun 1945. Kapten Bongsu kembali aktif lagi berjuang yaitu pada bulan Nopember 1945, dengan membentuk Angkatan Pemuda se-Kota Sibolga di bawah kepemimpinannya. Saat itu Kapten Bongsu terpilih menjadi pejabat Komandan Kompani 1 yang namanya saat itu adalah T.K.R (Tentara Keamanan Rakyat).

 

Sekitar waktu satu tahun berjalan yaitu pada Tahun 1946, T.K.R berubah nama (dilebur) menjadi namanya adalah T.R.I (Tentara Republik Indonesia) dan Kapten Bongsu dipercaya menjadi Komandan Batalyon II (dua). Hingga akhirnya jabatan Komandan Batalyon II itu diserahterima kepada Marhasam Hutagalung. Sementara itu Kapten Bongsu dipercayakan sebagai pejabat Staf Resimen III dengan Komandan Pandapotan Sitompul.

 

Pada zaman itu, seluruh daerah Tapanuli dipimpin satu Gubernur Militer bernama Dr. Ferdinan Lumban Tobing. Untuk pengamanan daerah-daerah keseluruhan Tapanuli, dibagi atas berbagai sektor pertahanan.

 

Agresi II Belanda

Tahun 1947, Belanda melancarkan Agresi II di tanah air di seluruh pelosok Indonesia, termasuk ke Kota Sibolga/Tapteng. Pejabat tertinggi di Tapanuli waktu itu yakni Dr. Ferdinan Lumban Tobing bersama Komandan Sektor IV bernama Maraden Panggabean (Purn Jenderal di Orde Baru), langsung mengistruksikan kepada semua Komandan Raund, untuk mengatur pengamanan di daerahnya masing masing.

 

Komandan Sektor IV Maraden Panggabean membagi Sektor IV Tapanuli yang dipimpinnya. Kapten Bongsu Pasaribu menjadi satu satunya kepercayaan yang terpanggil dan menjadi Komandan Raund I (Kesatuan Harimau Mengganas) untuk daerah kekuasaan di Sorkam dan Barus (Sibolga). Sinta Pohan ditunjuk sebagai Komandan Raund II untuk wilayah kekuasaan di daerah Bonandolok, Komandan Raund III bernama Bangun Siregar untuk kekuasaan di wilayah daerah Sibolga beserta S.M Simarangkir.

 

Komandan Raund IV bernama Parlindungan Hutagalung ditunjuk di daerah Jalan Tarutung, Komandan Raund V bernama Agus Marpaung untuk kekuasaan di wilayah daerah Poriaha, Komandan Raund VI bernama Henneri Siregar untuk wilayah daerah Jalan Tarutung, Komandan Raund VII bernama Paul Lumban Tobing untuk wilayah daerah Sibolga, Komandan Raund A sebagai pengawal Sektor IV oleh P. Hasibuan, dan Komandan Sektor S, Majit Simanjuntak dan M.A Aritonang untuk wilayah daerah Sibolga dan Barus.

 

Untuk memasuki Kota Sibolga, Belanda terlebih dahulu melakukan penembakan-penembakan dari jarak jauh, melalui pantai lautan Sibolga dengan Kapal Y.T.I Belanda. Perlawanan sengit pun pecah dengan pasukan tentara pejuang Indonesia hingga berminggu-minggu lamanya. Namun karena alat persenjataan pasukan pimpinan Maraden Panggabean terbatas, pasukan terpaksa bersembunyi di hutan untuk menyelamatkan nyawa masing-masing. Akhirnya tentara Kolonial Belanda dapat memenangkan peperangan di Kota Sibolga dan memasuki sudut-sudut kota melalui laut pada tanggal 24 Desember 1948.

 

Kapten Bongsu Pasaribu dengan pasukannya kemudian ditugaskan Komandan tertingginya, Maraden Panggabean, untuk bergerak menjaga wilayah Barus dan Sorkam sekitarnya. Kapten Bongsu beserta pasukan pun berangkatlah menuju daerah Sorkam melalui bukit-bukit hutan, hingga sampai ke Kampung Hutagodang di Kecamatan Sorkam.

 

Kedatangan Kapten Bongsu dan pasukannya disambut gembira oleh rakyat Hutagodang. Beliau juga menyempatkan diri mengunjungi rumah orangtuanya untuk meminta doa restu dari ibunya. Di sana, pasukan Kapten Bongsu membuat satu markas pertahanan yang bernama Hubangan. Dari tempat pertahanan Hubangan, oleh Komandan Kapten Bongsu kembali mengatur semua pasukannya yang bernama Kesatuan Harimau Mengganas atau disebut Raund I, Sektor IV.

 

Selanjutnya mereka menuju daerah Sorkam (kecamatan), karena di sana ada tentara Belanda. Adapun anggota-anggota kesatuan Harimau Mengganas yakni Majit Simanjuntak sebagai wakil, Humehe Rambe (Pengatur Pertahanan), Gontar Lubis sebagai ajudan dan staff, Kanor Samosir, Hombar Tambunan, Padet, Jaimi, Tanjung, Mian Tambunan, Mauli Panggabean, Bili Matondang, Ayat Tarihoran, Panemet Pasaribu, Masin Panggabean, Fliang, Kadi HT, Uruk, Mancur, Mancit, Krisman Marbun, Mahasan Aritonang, Usia Pane, Salmon Nainggolan dan Kartolo Pasaribu. Sementara untuk Seksi Perbekalan di antaranya bernama, Dior Nainggolan, Raja Johanis Pasaribu, Freodolin Purba dan Amit Simatupang yang ada di Pasar Sorkam.

 

Pasukan tentara Belanda yang dipimpin Komandan Van Hali datang membawa tentara Nepis termasuk Simurai dari Kota Sibolga dengan konvoi besar, hendak ke Sorkam untuk bermarkas, setelah berhasil menguasai Sibolga. Sesampainya tentara Belanda di Kampung Gontingmahe atau di tengah perjalanan, pasukan Komandan Kapten Bongsu menghadang dan terjadilah pertempuran I yang sengit. Pertempuran ini menyebar sampai ke perkampungan Parlimatohan.

 

Sayang, karena kurangnya alat persenjataan di pihak Kapten Bongsu, sementara Belanda bersenjata lengkap, pasukan Komandan Kapten Bongsu banyak yang gugur.

 

Gugurnya Sang Kapten

Dalam perjuangannya, pasukan Komandan Kapten Bongsu sering mematahkan operasi-operasi tentara Belanda ke kampung-kampung. Tak senang, Belanda pun memperkuat mata-mata (kaki tangan) yang tersebar di Tapanuli. Untuk daerah Barus dan Sorkam, mata-matanya bernama Tajim Sitanggang, anggota Polisi Belanda. Kapten Bongsu pernah memburu dan menangkap Tajim Sitanggang, dan memperingatkan dirinya agar jangan menjadi mata mata. Tetapi Tajim melarikan diri dan bergabung lagi dengan pasukan tentara Belanda di Pasar Barus.

 

Suatu hari, pasukan tentara Belanda melakukan operasi ke Bukit Hasang (Kecamatan Barus), bersama-sama dengan Tajim sebagai penunjuk jalan. Para Komandan beserta pasukan RI, di antaranya Komandan Sektor S bernama Majit Simanjutak dan P Hasibuan dibantu Komandan Raund III bernama Bagun Siregar dan pasukan Komandan Kapten Bongsu mengetahui operasi itu. Pasukan gabungan itu berangkat ke sana untuk melakukan pencegatan di tengah jalan. Tak ayal, perang besar pun pecah.

 

Pertempuran selama satu hari satu malam itu membuat tentara Belanda sempat kocar-kacir terpisah dari pasukanya. Sebagian lagi tidak tentu arah pelariannya.

 

Waktu peperangan yang terjadi pada malam hari itu sangat menguntungkan pasukan gabungan, hingga sebagian tentara musuh kabur dan lari ke pegunungan menuju ke kampung Purbatua. Banyak juga yang lari ke daerah perkampungan Harakka (Panguhalan Rihit).

 

Di kampung Harakka, pasukan Kapten Bongsu terus melakukan pengejaran ke tentara Belanda, hingga terjadilah pertempuran sengit selama 3 jam, mulai pukul 09.00 pagi hingga siang pukul 12.00 WIB. “Dapat dikatakan, saat itu pasukan musuh banyak yang tewas. Bahkan musuh tidak berkutik sama sekali, sebagian melarikan diri menyelamatkan nyawa masing masing karena kekurangan perbekalan maupun peluru senjata,” kata Rekson dalam tulisannya.

 

Peperangan akhirnya berhenti, dan tidak ada lagi suara tembakan baik dari pihak kesatuan Harimau Mengganas, maupun dari Belanda. Mengira seluruh tentara musuh sudah gugur, kecuali yang melarikan diri, Kapten Bongsu beserta dua orang prajuritnya memutuskan untuk melihat mayat-mayat yang bergelimpangan. Kapten Bongsu turun sendiri mengadakan operasi pembersihan, dengan memeriksa satu per satu mayat tentara musuh.

 

Sayang, dia salah perkiraan. Setibanya di sana, ternyata masih ada dua lagi tentara Belanda yang masih hidup, yang sengaja bersembunyi di satu kubangan bekas kerbau. Di kubangan itu, kedua tentara Belanda ditemani Tajim Sitanggang (mata-mata) Belanda.

 

Melihat Kapten Bongsu berjalan kaki, tentara Belanda yang sembunyi di kubangan langsung melepaskan tembakan. Tembakan bertubi-tubi tersebut berhasil mengenai kaki Kapten Bongsu satu peluru. Sang Kapten pun langsung tersungkur ke tanah. Tak puas, kedua tentara Belanda kembali memuntahkan peluru tepat mengenai kakinya lagi. Kapten Bongsu sempat membalas menembak dari senjatanya, sebelum akhirnya tidak berkutik. Namun seorang tentara Belanda tetap menembak.

 

Tajim (mata-mata), kemudian memberitahukan kepada kedua tentara Belanda itu, bahwa yang mereka tembak adalah Komandan Kesatuan Harimau Mengganas, Kapten Bongsu Pasaribu.

 

Tidak berapa lama, tentara Belanda datang menghampiri Kapten Bongsu. Selanjutnya, tentara itu mengakhiri hidup Kapten Bongsu dengan cara sadis, yaitu dengan memenggal lehernya sampai putus. Hari itu tanggal 3 Maret 1947.

 

Kepala yang terpisah dengan badan kemudian diangkat, dan dibawa pergi ke Pasar Barus untuk dipertontonkan kepada rakyat. Badannya yang masih tergeletak di tanah ditinggal tergeletak begitu saja di tempat dia dibunuh.

 

Setelah Belanda pergi ke Barus, potongan badannya dari leher ke kaki yang masih tergeletak di hutan, dijemput oleh pasukannya dan dibawa ke kampung Sijungkang. Di sana potongan badan itu dikuburkan.

 

Sementara itu, tentara Belanda yang bermarkas di Barus terus mempertontonkan potongan kepala Kapten Bongsu kapada para rakyat dan kepada para tahanan. Maksudnya untuk melemahkan perjuangan pasukan Indonesia di Pasar Barus, agar gerilyanya melemah. Potongan kepala ditenteng dalam karung itu dimulai markas di Harakka sampai ke Kota Barus. Pada hari yang ketiga, potongan kepala Kapten Bongsu dikuburkan di Komplek penjara Barus.

 

Setelah Bongsu Pasaribu gugur pada tanggal 3 Maret 1949, maka puncuk pimpinan sebagai Komandan Round dipegang sementara oleh Humahe Rambe dan kemudian diganti oleh Muliater Simatupang. (dikutip dari tulisan Rekson Hermanto Pasaribu/bersambung)

 

 

 

 

 

 

 

 

Kategori: Catatan Kaki

Menelusuri Jejak Sejarah Gugurnya Kapten Bongsu Pasaribu di Tapteng (2/Habis)

22 Juli 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

 

Gagal ‘Mengurus’ Gelar Pahlawan, Cucu sang Kapten Stres & Dikerangkeng

 

Kapten Bongsu Pasaribu layak memeroleh gelar pahlawan. Sayang, ‘penghargaan’ yang diperolehnya baru berupa pengabadian namanya menjadi nama sebuah jembatan, nama sebuah jalan, dan sebuah monumen semen berukuran 1 x 1 x 2 meter di Desa Suga-suda, Tapteng. Yang membuat hati miris, seorang cucu sang kapten sampai stres dan sudah 7 tahun terpaksa dikurung dalam kerangkeng besi, setelah gagal ‘mengurus’ gelar Pahlawan Nasional untuk sang kakek.   

 

 Dame Ambarita, Tapteng

 

 Pekan lalu di Desa Suga-suga Hutagodang, Kecamatan Pasaribu Tobing, Tapanuli Tengah. Seorang pria muda duduk seenaknya di sebuah kerangkeng besi berukuran sekitar 1 x 1,5 x 2 meter. Tubuhnya kurus. Jenggotnya tumbuh tak beraturan. Di lehernya menggantung kain-kain dan benda-benda yang sama sekali tak mirip kalung. Pergelangan tangannya dilingkari gelang-gelang yang terbuat dari potongan kain. Pakaiannya lusuh dan dekil, mirip pakaian orang sakit mental yang berkeliaran di sudut-sudut ibukota.

 

Bau pesing menguar dari kerangkeng besi yang digembok itu. Tumpukan baju-baju butut terletak di sudut kerangkeng, praktis menjadi sarang nyamuk. Tampak ceceran kapas-kapas yang berasal dari bantal yang hancur menghiasi sekitar kerangkeng. Kasarnya, kandang ternak masih lebih ‘layak’ daripada kerangkeng itu.

 

Kerangkeng besi itu terletak di bagian belakang sebuah rumah, yang ternyata rumah kelahiran Kapten Bongsu Pasaribu. Rumah itu sudah separuh hancur. Dinding-dindingnya sebagian sudah roboh. Bukan karena lapuk ditimpa usia, tapi kabarnya karena ‘dihancurkan’ dalam kemarahan. Rumah itu sendiri bisa dikatakan kosong. Kalaupun ada perabot, sudah dalam kondisi setengah hancur.

 

Pemandangan miris itu terekam saat METRO bersama rombongan Panitia Bedah Buku ‘Gugurnya Kapten Bongsu Pasaribu’, LVRI Tapteng, dan Dandim 0211/TT Letkol Kav Albiner Sitompul, berkunjung ke kampung kelahiran Kapten Bongsu Pasaribu, sang pejuang kemerdekaan RI, pekan lalu.

 

Nama pria itu Ramli Hasudungan Pasaribu (37). Ia cucu dari Raja Johannes Pasaribu, abang kandung Kapten Bongsu. Ramli dikurung di sana karena stres dan depresi, menyusul kegagalannya berkali-kali memperjuangkan kakeknya (Kapten Bongsu) menjadi Pahlawan Nasional. Kata pihak keluarga, ia sudah 7 tahun dikurung di rumah kelahiran kakeknya itu.

 

“Ia dikurung karena menghancurkan seisi rumah,” kata seorang familinya, kepada METRO saat berkunjung ke rumah itu.

 

Menurut pihak keluarga yang mengantarkan rombongan ke rumah itu, Ramli dulunya waras. Setelah mengetahui kisah perjuangan Kapten Bongsu yang masih terbilang kakeknya sendiri, didukung kisah kakek kandungnya sendiri, Raja Johannes Pasaribu, yang tewas ditembak Belanda, Ramli berketetapan hati untuk memperjuangkan gelar Pahlawan Nasional bagi kakeknya.

 

“Ia pergi ke Jakarta dengan niat menemui Jenderal Maraden Panggabean, meminta agar Kapten Bongsu mendapat penghargaan sebagai pahlawan,” tutur keluarga Kapten Bongsu, yakni Martaulinan Bondar (72), Mutiara Pasaribu (60), Tiamsyah Pakpahan (65), dan anggota keluarga lainnya.

 

Naas baginya, berkali-kali ke Jakarta, berkali-kali pula ia gagal menemui sang jenderal, yang merupakan atasan Kapten Bongsu semasa bertugas. Bahkan dikisahkan, Ramli sempat diusir aparat saat memaksa mendatangi kantor sang jenderal.

 

“Mungkin karena saat itu ia datang secara pribadi, tidak membawa rekomendasi dari LVRI atau pemerintah daerah, sehingga ia tidak diterima di Jakarta,” kata Raja Johan Sitompul, Ketua Panitia Bedah Buku ‘Gugurnya Kapten Bongsu Pasaribu’, kepada METRO. 

 

Dikisahkan pihak keluarga, setelah berkali-kali gagal mengurus gelar pahlawan untuk kakeknya itu, bahkan merasa diperhinakan karena diusir, Ramli pun stres dan depresi.

 

“Awalnya, tingkat stresnya tidak begitu parah. Ia hanya sering bertingkah seperti tentara, lari-lari bak prajurit latihan, lalu bilang ke kami, ‘cepat… cepat masuk ke rumah, Belanda mau datang’,” tutur Tiamsyah Pakpahan.

 

Lama kelamaan, tingkat stres yang diderita Ramli makin berat. Ia mulai mau mengamuk, dan menghancurkan benda-benda di sekitarnya. Puncaknya, ia menghancurkan seisi rumah Kapten Bongsu, hingga dinding rumah pun jebol.

 

Karena dianggap mengganggu, akhirnya sekitar 7 tahun lalu, pihak keluarga sepakat membuat kerangkeng besi, dan memasukkan sang pemuda ke dalamnya.

 

“Sebenarnya, ia bisa diajak ngomong seperti orang normal. Ia bahkan sering minta dilepaskan. Tapi kadang ia tidak mau makan dan minum, dan kemudian mengamuk,” tutur Tiamsyah dengan mata berkaca-kaca.

 

Saat rombongan mengunjungi kerangkeng besi tempat Ramli terkurung, ‘kewarasan’ pria itu memang masih bisa tertangkap. Ia langsung menyapa Dandim yang mendatanginya. Bahkan, ia bersedia diajak ngobrol, meminta rokok, dan sebagainya.

 

“Saya ini veteran angkatan laut. Sudah pernah ketemu komandan-komandan negara. Semuanya demi memperjuangkan kemerdekaan tanah air,” katanya dengan gaya santai.

 

Saat ditawari rokok dan mancis, ia menerima dengan baik. Dan kala Ketua Antar Waktu LVRI Tapteng, Abdul Kahar Tanjung, yang saat itu mengenakan topi veteran, menyalaminya, Ramli kontan ngoceh: “Sudah veteran Bapak sekarang ya!” Pak Tanjung hanya mengangguk.

 

Namun rombongan tak lama di sana. Usai melihat kondisi cucu sang pejuang, Pak Dandim keluar dan berikutnya mengunjungi rumah kakak ipar Kapten Bongsu, Tio Simbolon (100-an), istri Raja Johannes Pasaribu.

 

Sayang sekali, Tio tidak dapat diwawancarai karena sudah sangat tua. Tubuh tuanya terus menggigil bak orang kedinginan. Pak Dandim merengkuh bahu wanita itu, dan memberi segelas air dingin untuk diminumnya.

 

Dari rumah Tio, rombongan bergerak ke monumen perjuangan untuk menghormati perjuangan sang kapten, masih di desa yang sama. Untuk menuju ke monumen, rombongan harus melewati sebuah jembatan yang juga bertuliskan nama sang kapten. Tulisannya tidak terlalu besar. Bagi orang yang tidak jeli, tulisan di jembatan itu bisa saja terluput dari penglihatan.

 

Sekitar 200 meter dari jembatan ke arah bukit, rombongan menemukan monumen perjuangan Kapten Bongsu Pasaribu, Komandan Round I, Harimau Mengganas. Bentuknya empat persegi, ukuran 1 x 1 x 2 meter. Di atas monumen itu, diletakkan patung kepala dengan tangan mengepal. Simbol kematian sang kapten yang tewas dipenggal tentara Belanda di Harakka, Barus, 61 tahun silam. Monumen itu didirikan tahun 1995, atau sekitar 13 tahun lalu.

 

Monumen itu tidak terlalu mewah. Arealnya sama sekali tidak dipagar. Bahkan di dekatnya, hanya berjarak sekitar 1,5 meter, berdiri sebuah rumah makan. Seandainya ada orang yang tidak punya tujuan khusus untuk melihat monumen, besar kemungkinan monumen itu luput dari perhatian.

 

Anak, cucu, dan para Veteran Indonesia yang ditinggal sang kapten terus berharap agar ada perhatian dari Pemerintah Pusat dan Daerah, untuk memberikan bantuan berupa tugu perjuangan sang kapten di desa kelahirannya. Hal itu sebagai tanda jasa atas kepahlawanannya mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. “Kalau tidak, Komandan Kesatuan Harimau Mengganas atau Komandan Raund 1/Sektor IV Tapanuli sebagai Pejuang Nasional, dipastikan akan terus terlupakan,” catat Rekson Hermanto Pasaribu, cucu sang kapten, dalam tulisannya di sebuah situs di internet.

 

Adapun jenazah (kerangka) Komandan Kapten Bongsu yang sempat terpisah, yaitu potongan badan yang dikubur di Kampung Sijungkang telah disatukan dengan kepala yang telah dikuburkan Belanda di komplek Penjara Barus. Setelah menyatu, beliau dimakamkan di Taman Pahlawan di Sibolga sampai sekarang.

 

Kisahnya Dibukukan

Buku yang mengisahkan perjuangan Kapten Bongsu Pasaribu, rencananya akan diterbitkan dalam waktu dekat, ditulis oleh Dr Sudung Parlin Lumbantobing & Andreas. Dr Sudung Parlin Lumbantobing, saat berkunjung ke rumah keluarga sang pejuang, di Desa Sugasuga Kecamatan Pasaribu Tobing, Kabupaten Tapteng, Rabu (16/7) lalu menjelaskan, sejarah Kapten Bongsu ditulis tanpa diduga sebelumnya. “Data tentang Kapten Bongsu saya dengar pertama sekali saat saya menulis buku Sejarah Tapteng. Karena saya merasa menarik, saya cari beberapa data pendukung. Tetapi tak banyak yang saya peroleh. Bahkan, foto diri Kapten Bongsu pun tidak saya peroleh saat itu,” tuturnya.

 

Ketertarikannya menulis tentang perjuangan Kapten Bongsu baru dapat disalurkan, setelah dirinya mendapat dukungan dari putra Tapteng, Raja Johan Sitompul (ketua panitia bedah buku), LVRI, dan Dandim 0211/TT. “Setelah saya ke sana ke mari mengumpulkan data tentang Kapten Bongsu, barulah kisah sejarahnya mulai tersusun. Bahkan, fotonya bisa diperoleh dengan meminta gambaran dari mantan anak buahnya yang masih hidup,” kenangnya.

 

Untuk memublikasikan kisah Kapten Bongsu, Panitia Bedah Buku ‘Gugurnya Kapten Bongsu Pasaribu’ yang diketuai Raja Johan Sitompul, dengan pembinaan dari LVRI Tapteng dan Dandim 0211/TT Letkol Kav Albiner Sitompul, terus menggelar rangkaian kegiatan, mulai dari kunjungan ke rumah keluarga Kapten Bongsu, dialog interaktif, gotong-royong di rumah Kapten Bongsu, audiensi ke Bupati Tapteng, dan sebagainya. (habis)

 

 

 

 

Kategori: Catatan Kaki