Dame Ambarita’s Weblog

Melongok Potensi Haranggaol sebagai Daerah Tujuan Wisata (1)

30 Mei 2008 · 4 Komentar

Andalkan Panorama Danau Toba,  Butuh Polesan di Sana-sini

 

Haranggaol, begitulah namanya sering disingkat. Nama lengkapnya Haranggaol Horisan. Dulu, sempat menjadi daerah tujuan wisata turis domestik. Tapi belakangan, nama itu semakin tenggelam, kalah bersaing dengan Parapat.

 

Dame Ambarita, Haranggaol

 

Dari Kota Pematangsiantar menuju Kecamatan Haranggaol Horisan Kabupaten Simalungun, Sabtu (24/5) pukul 15.30 WIB, METRO memilih naik kendaraan umum. Perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam 30 menit. Satu jam dari Siantar hingga Simpang Haranggaol dengan ongkos Rp10 ribu per orang, dan 30 menit dari Simpang Haranggal hingga Haranggaol dengan ongkos Rp5.000 (tarif sebelum harga BBM naik).

 

Udara sejuk segar mirip sejuknya udara Kota Berastagi menyambut METRO, begitu angkutan memasuki Raya, ibukota Simalungun (de jure). Sepanjang perjalanan, ladang-ladang pertanian nan menghijau tampak elok dipandang. Deretan tanaman cabai, kopi, jagung, kol, tomat, kacang panjang, dan lainnya di sepanjang jalan dari Raya menuju Haranggaol, sungguh menyejukkan mata.

 

Sayang, kenyamanan sedikit terganggu oleh kondisi prasarana jalan yang menggerundul-gerundul di sejumlah titik. Kalau tak hati-hati, kepala bisa kejedut atap kendaraan yang kadang terbanting-banting di jalanan berlubang. ”Seandainya Pemkab memberi perhatian membenahi kondisi jalan, alangkah baiknya,” celetuk seorang teman yang ikut dalam perjalanan.

 

Saat tiba di Simpang Haranggaol, jam sudah menujukkan pukul 16.30 WIB. Di simpang itu, harus bertukar angkutan. Di sini, pengunjung bisa menunggu 30 menit lebih sebelum bus berangkat. Soalnya harus menunggu sampai bus penuh, sementara penumpang jarang-jarang.

 

Dari Simpang Haranggaol menuju Haranggaol Horisan, suhu udara semakin dingin. Maklum, posisi saat itu berada di puncak pebukitan Bukit Barisan menuju ke Danau Toba. Jalanan berkelok-kelok, terkadang mulus terkadang berlubang. Sekitar 15 menit setelah kendaraan melaju dari simpang Haranggaol, hamparan luas Danau Toba mulai terlihat dari puncak. Bukit-bukit mengepung dari kiri kanan. Deretan rumah-rumah di dataran pinggiran danau yang dihuni sekira 1.400-an KK itu, tampak indah.

 

Semakin menurun, ladang-ladang menghijau menyambut. Ada tanaman kol, sawi pahit, tomat, cabai, kopi, bawang, mangga yang sudah berbuah, dan tanaman lainnya.

 

Tiba di Haranggaol Horisan, METRO turun dari angkutan. St W Sinaga, seorang tokoh masyarakat, dalam bincang-bincang dengan METRO mengatakan, Haranggaol sebenarnya memiliki potensi besar menjadi Daerah Tujuan Wisata (DTW) di Simalungun, bahkan Sumatera Utara.

 

”Yang pertama harus dibenahi adalah perbaikan prasarana jalan menuju ke Haranggaol. Selain itu, perlu dibuka jalan tembus Haranggaol-Tiga Ras dan Haranggaol-Tongging. Sebenarnya jalan ke sana sudah pernah dibuka, tetapi karena tak diaspal akhirnya  tertutup lagi. Padahal dengan adanya jalan tembus ini, pariwisata di Haranggaol bisa terangkat, dengan semakin pendeknya jarak tempuh ke Parapat,” jelasnya, sembari menunjukkan jalan tembus yang fisiknya masih bisa terlihat di pebukitan.

 

Jika prasarana jalan sudah relatif mulus, wisatawan domestik menurutnya akan lebih tertarik datang.

 

Mengenai Keramba Jala Apung (KJA) yang memenuhi permukaan Danau Toba di perairan Haranggaol, yang disebut-sebut mempengaruhi minat wisatawan berkunjung ke Haranggaol, menurut St W Manik, jangan sampai dihilangkan. Karena keberadaan keramba menyangkut sumber penghasilan warga setempat. ”Hanya saja, untuk mendukung pariwisata di Haranggaol, sebaiknya pemerintah melakukan penataan keramba dengan membuatkan zona khusus,” cetusnya.

 

Zona khusus yang dimaksudkannya adalah dengan menetapkan lokasi khusus untuk keramba ikan. Di luar zona dimaksud, tak boleh ada keramba, khususnya di zona yang diperuntukkan untuk wisata.

 

Keramba ikan, jelasnya, sebenarnya bisa dimanfaatkan sebagai objek wisata tersendiri. Caranya, pemerintah membangun semacam jembatan apung di atas permukaan Danau Toba yang memisahkan zona keramba dengan zona wisata. Di atas jembatan itu, pengunjung bisa jalan-jalan, sambil melihat-lihat ikan yang dipelihara di atas keramba. Jembatan apung ini sekaligus memperlihatkan kepada pengunjung, bahwa perairan untuk wisata dan untuk keramba dipisahkan dengan baik. ”Untuk pembuatan jembatan itu, tentu harus ada inisiatif Pemkab. Asalkan Pemkab mau berbuat, pasti bisa,” tandasnya.

 

Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Haranggaol Horisan, SH Nababan, yang ditemui METRO di sana, menjelaskan mengenai sistem zonasi ini. Menurutnya, pemerintah sebenarnya telah pernah menetapkan zonasi keramba ikan di Haranggaol, yakni di daerah Rappa dan Tuktuk Sipalu. Sementara zona wisata di Tangga Batu.  ”Tetapi kondisi alam di lokasi itu kurang mendukung untuk keramba ikan, karena arus ombak yang cukup kuat dari Tao Silalahi, cukup mengganggu perikanan keramba. Selain itu, meski petani mengakui kalau ikan lebih sehat jika keramba jauh dari pantai, namun persoalan pencurian ikan menjadi masalah sendiri. Karena semakin jauh keramba ke tengah danau, pengamanan semakin sulit dilakukan. Akhirnya, petani kembali menarik keramba ke daerah pantai,” jelasnya.

 

Hal-hal inilah yang menyebabkan penataan keramba di Haranggaol agak sulit dilakukan. Apalagi, lanjutnya, Pemkab belum memberikan perhatian penuh untuk menata Haranggaol sebagai daerah tujuan wisata. ”Bupati sudah pernah menyatakan bersedia mengucurkan dana Rp1 miliar untuk membenahi Haranggaol. Tetapi syaratnya, masyarakat harus mau ditata,” cetusnya.

 

Penataan masyarakat inilah, yang menurutnya sampai saat ini belum berjalan dengan baik. Meski telah dilakukan sosialisasi beberapa kali, masih ada beberapa kendala di lapangan.

 

Ditanya tentang fasilitas pendukung pariwisata di Haranggaol, Sekcam menjelaskan, saat ini ada 5 hotel/penginapan. Yakni Hotel Sigumba-gumba sekitar 40-an kamar, Tuhulan 5 kamar, Naga Murni 3 kamar, Amdito 6 kamar, dan Horisan 14 kamar. Tarif per kamar per malam rata-rata Rp75.000 ribu.

 

Adapun fasilitas wisata yang bisa dinikmati di Haranggaol, selain pemandangan Danau Toba, juga wisata air naik speedboat dan sampan kecil, serta ban-ban untuk mandi-mandi. ”Oleh-oleh khas dari Haranggaol ini ya ikanlah…. atau mangga kalau lagi musim seperti sekarang,” jelas Sinaga.

 

Pasanggarahan Telantar

Kurangnya perhatian pemerintah memoles Haranggaol, dibuktikan St W Sinaga dengan menunjukkan Mess/Pasanggarahan Haranggaol milik Pemprovsu, yang sudah bertahun-tahun telantar.

 

”Lihat saja, milik pemerintah sendiri pun dilupakan dan ditelantarkan, tak dirawat, tak dikunjungi. Konon pula berharap pemerintah membenahi Haranggaol secara keseluruhan,” kata Sinaga sembari membawa METRO ke lokasi mess.

 

Pantauan METRO, mess yang dicat putih itu tampak tertutup.  Atapnya sudah mulai aus. Tangga batu di depan mess juga sudah pecah dan berlumut. Kesan tidak terawat sangat terlihat. Pantai di bawah mess diselimuti sejumlah sampah.

 

Menurut Sinaga, mess itu sebenarnya ada penjaganya. Tapi diduga karena Pemprovsu sendiri tidak peduli, mess pun tidak terawat sebagaimana diharapkan. ”Tahun 60-an, saya masih ingat mess ini sering dikunjungi orang bule. Mereka sering beri permen pada anak-anak. Tapi lihatlah sekarang, sudah bertahun-tahun seakan tak ada pemilik,” cetusnya.

 

Warga Haranggaol lainnya, Jawakim Purba (48), kepada METRO mengatakan, jika ingin menghidupkan pariwisata di Haranggaol, pengelolaan wisata harus profesional. ”Pariwisata domestik, Haranggaol ada potensi. Pariwisata internasional, Haranggaol bisa dipotensikan. Tergantung pengelolaannya,” kata dia.

 

Menurut dia, pariwisata di Haranggaol bisa dijual jika dipadukan dengan Parapat, Samosir (Tomok, Ambarita), dan klain-lain. Misalnya, kalau mau ke Parapat atau Samosir, turis bisa dikondisikan lewat Haranggaol dulu. Sehingga Haranggaol dapat imbas dari kunjungan turis yang lewat. ”Konsepnya pariwisata terpadu. Untuk itu, perbaiki infrastruktur. Jalan tembus Haranggaol-Paraopat  harus dibenahi. Jalur Haranggaol-Tongging yang sempat dimulai, juga harus diteruskan sampai selesai, sehingga waktu dan jarak tempuh semakin pendek. Selain itu, harus ada penyedia fasilitas pendukung wisata di Haranggaol. Kalau hanya menjual keindahan panorama Danau Toba, itu tak cukup,” cetusnya.

 

Ia berharap, wisata di Haranggaol bisa kembali bergeliat, meski diakuinya tak semudah membalik telapak tangan. ”Asalkan ada penataan secara profesional, pasti bisa,” cetusnya.  (bersambung).

Kategori: Catatan Kaki

4 tanggapan so far ↓

  • domu // 05 Juni 2008 pada 9:59 pm | Balas

    Deskripsi yang amat bagus, lengkap, dan mengajak pembaca seakan ikut dalam ‘trip to Haranggaol”. Salut buat Ito Dame. Horas itu, aku dari Sihaporas, Sidamanik, Simalungun. Maju terus sebagai jurnalis sejati. Sukses…. Horas…

  • dameambarita // 06 Juni 2008 pada 8:57 pm | Balas

    Halo Ito Domu, senang dapat ngobrol ama Ito sendiri. Thanks pujiannya. Sebenarnya tulisan itu masih sangat dangkal. Maklum, masih belajar. Senang kalau ada masukan dari Ito Domu yang sudah melanglang buana (udah baca profilnya di blog, hehehe), biar semakin bagus menulis. Thanks ya Ito.

  • rommel saragih // 10 Februari 2009 pada 3:41 pm | Balas

    ngomong2 soal DTW emang haranggaol udah kesohor,di website luar negri aja banyak photo haranggaol,cuma kampung yg dulu mirip austria ini udah ga dianggap ama orang-orang.wisatawan domestik aja banyak yg kecewa. secara,..ga trawat lagi, sbg penduduk asli haranggaol aku malu baca artikel pribadi orang yg pernah ke sana,waktu aku SD banyak bule mondar-mandir,sekarang?huh,.. boro-boro!!jauh sebelum ada KJA pemerintah udah ga peduli alias ga mau tau,…terbukti tahun 1995 sampe 1999,..jalan menuju DTW kebanggaan simalungun ini rusak total,pemerintah kmana aja loe??yg ada kesadaran organisasi kepemudaan plus dana seadanya dari warga,..so!sah-sah aja kalo KJA menjamur bak cendawa dimusim hujan,…jadi KJA vs DTW ibarat 2 sisi mata uang

  • Ir. Greos Sumartana Saragih // 27 Juni 2009 pada 5:16 pm | Balas

    Menurut saya, setiap sudut wilayah simalungun memiliki potensi untuk dikembangkan, terlebih Haranggaol yang memiliki potensi luar biasa demikian.

    Namun, harapan keikutsertaan Pemkab Simalungun membantu mendukung Sektor Parawisata di Haranggaol barangkali hanya impian. Masalahnya, jangankan untuk memajukan sektor Parawisata, mengurus jalan Siantar – Tiga Runggu saja tidak pernah beres dengan alasan klasik ” Ruas jalan itu bukan tanggung jawab Pemkab”. Sebuah alasan yang sangat kekanak-kanakan. Akhirnya, saya jadi terpanggil ingin jadi Bupati Simalungun agar saya benahi daerah Kelahiranku, Simalungun yang selalu kuin gat dan kurindukan.

Tinggalkan sebuah Komentar