Dameambarita’s Weblog

‘Telepon Merah’ Masuk Pasar Dwikora

11 Mei 2008 · & Komentar

HP Bergetar dan Alirkan Hawa Panas               

 

SIANTAR-METRO

Setelah Veronika Simarmata (1 8) menerima telepon layar merah (ring in red) Kamis malam (8/5) sekira pukul 23.00 WIB, Jumat (9/5) hal yang sama dialami Syawal Lubis (33), pedagang udang di Pasar Dwikora Kota Pematangsiantar. Meski tak sempat melihat warna layar handphone (HP)-nya, namun getaran HP dirasakannya sangat berbeda dari biasa. Bahkan menimbulkan hawa panas.

 

Informasi awal yang diterima METRO, korban ‘telepon merah’ di Pasar Dwikora  mengeluarkan darah dari mulut dan telinga. Namun setelah ditelusuri, hal itu tak benar. Yang terjadi, HP bergetar dan menimbulkan hawa sangat panas.

 

Syawal, warga Jalan Kadi I Kelurahan Kampung Bantan Kecamatan Siantar Barat, kemarin pagi sekira pukul 08.00 WIB berada di Pasar Ikan Dwikora. Sementara HP Nokia 7610 yang menggunakan sim card nomor 085296087xxx disimpan di kantung celana bagian kiri. Tiba-tiba HP berbunyi dan bergetar. Namun nada deringnya lain dari biasanya.

 

Ringtone yang saya gunakan lagu barat. Sedangkan untuk short message service (SMS) salahsatu lagu Ungu. Namun bunyi yang tadi pagi itu hanya tut..tut..tut. Dan getarannya makin lama makin kencang,” terang Syawal kepada METRO di kediamannya tadi malam sekira pukul 19.00 WIB.

 

Parahnya, selain getarannya makin kencang, HP tersebut menimbulkan hawa panas. Seketika paha kirinya terasa sangat panas. Rasa panas pun terus mengalir ke seluruh tubuh bagian kiri. “Tapi hanya bagian kiri yang terasa panas, sebelah kanan nggak,” terangnya.

 

Merasa tak tahan dengan hawa panas yang dialirkan getaran HP-nya, ia pun berusaha mengambil HP tersebut dari kantongnya. Namun tangannya kepanasan dan tak mampu menggenggam HP tersebut seperti biasa. Ia hanya memegangnya menggunakan dua ujung jari kiri. Lalu, tanpa sempat melihat layar, HP tersebut dilemparnya. Saat teman-temannya hendak melihat HP itu, ia segera melarangnya.

 

“Pas temanku mau mengambil HP, kularang. Jangan dulu…, jangan dulu…,” kata Syawal. Ia khawatir temannya akan ikut merasakan panas.

“Teman-teman bilang, wajahku usai kejadian itu pucat,” ungkap Syawal yang masih terlihat lemas.

 

Meski HP telah dikeluarkan dari kantong celana, namun Syawal masih merasakan panas di tubuh bagian kiri, terutama pahanya. Akhirnya ia meminta istrinya membeli celana baru saat itu juga, dan ia segera mengganti celananya. Tak lama, Syawal dan istrinya pulang dan berobat ke Rumah Sakit (RS) Suaka Insani di Jalan Seram, serta ditangani dr Robert Maulana.

 

Hingga tadi malam, Syawal masih terlihat lemah dan mengaku trauma. Untuk menghilangkan traumanya, ia tak mau lagi melihat HP-nya itu.

 

“Aku nggak mau lihat HP itu sejak kejadian tadi pagi karena masih trauma. Sekarang HP itu dipegang temanku dan sudah kusuruh menjualnya,” tuturnya. Syawal mengaku, sebelum kejadian itu, ia tidak percaya dengan informasi ‘telepon merah’. Namun kini ia berpesan agar warga lainnya berhati-hati dengan HP.

 

“Semalam aku dikasih tahu abangku untuk berhati-hati. Tapi aku tak mau percaya. Tadi pagi pun masih kubilang sama orang-orang bahwa hanya orang bodohlah yang mau percaya. Namun baru 20 menit aku ngomong gitu, langsung kejadian,” kenangnya.

 

Melihat kondisi Syawal yang trauma, sang ibu pun mengupa-upa anaknya itu. Kemarin sekitar pukul 15.00 WIB, diadakan upa-upa di rumah Syawal.  “Untuk menyemangati Syawal yang masih trauma,” tukas ibunya.

“Kepada orang-orang supaya lebih berhati-hatilah terhadap HP-nya,” pesan Syawal yang didampingi istri dan ibunya.

 

 

Di Tanah Jawa, Tubuh ‘Disedot’ Getaran HP

Lain lagi yang terjadi di Huta Pokan Baru Kecamatan Tanah Jawa Kabupaten Simalungun. Rumanti br Gultom (31) pingsan setelah sebelumnya bergetar saat membaca short message service (SMS) dari saudaranya di Jakarta, Jumat (9/5) sekira pukul 11.00 WIB. Setelah sadar, Rumanti mengaku tubuhnya seperti disedot oleh getaran HP-nya.

 

Rumanti yang diwawancarai METRO di kediamannya kemarin siang mengatakan, sekira pukul 11.00 WIB ia berada di teras rumahnya. Tak lama, HP Nokia 3230 miliknya berdering tanda ada SMS masuk. Ia pun membuka SMS tersebut. Ternyata berasal dari saudaranya, Sanggam yang tinggal di Jakarta. Isi SMS itu, kapan saya bisa mengaktifkan HP saya?

 

Diakui Rumanti yang yang membuka kios penjualan pulsa HP di rumahnya, sejak merebaknya informasi ‘telepon merah’, ia langsung menghubungi para pelanggan dan juga saudaranya agar hati-hati membuka HP. Juga pesan agar tidak mengaktifkan HP pada pukul 10.00 WIB. Sebab pada jam itu, HP rawan infra merah dan gangguan yang bisa menimbulkan celaka.

 

Nah, kemarin pukul 11.00 WIB ia menerima SMS dari Sanggam yang menanyakan apakah HP-nya sudah aman untuk diaktifkan. Namun sebelum semua isi SMS terbaca, tiba-tiba HP-nya bergetar. Parahnya getarannya terasa menyedot seluruh energinya. 

Ia pun lemas. Untungnya saat itu ada rekan yang menolongnya. Segera korban didudukkan ke sebuah kursi di sampingnya. Lantas HP dilepaskan dari genggaman tangan kanannya. Begitu HP tidak lagi melekat di tangan, tubuh korban pun tidak bergetar lagi.

 

Lalu korban didudukkan di lantai beralas tikar dan keluarga memanggil bidan setempat. Oleh bidan, korban diberi suntikan penambah tenaga. Saat diperiksa, tekanan darah korban normal. Hanya detak jantung agak lemah.

 

Korban mengaku, getaran HP seperti arus listrik. Mula-mula getaran masuk ke jari tangan, kemudian ke tangan kananannya. Dan getaran juga terasa hingga ujung kaki.

 

Layar Merah

Sementara itu, Ningsih br Pasaribu (23), yang tinggal di depan rumah Rumanti mengaku, Kamis (8/5) sekira pukul 22.30 WIB, terdengar nada panggilan dari HP Sony Ericson-nya. Kebetulan saat itu HP diletakkan di etalase tempat dagangannya.

 

Ketika didekati, tampak warna merah di layar HP dan muncul angka 0866 pada layar itu. 

Menyadari itu ‘nomor setan’ yang sedang ramai dibicarakan, Ningsih tak berani menyentuh HP itu. Keesokan paginya, HP tersebut langsung di-nonaktifkan.

 

Jual HP

Makin merebaknya informasi ‘telepon merah’, membuat warga Hutabayuraja ramai-ramai menonaktifkan HP. Bahkan banyak yang berencana menjual HP masing-masing dengan harga murah demi terhindar dari bahaya. Namun banyak juga yang memilih menonaktifkan HP untuk jangka waktu lama. 

 

 “Terpaksa saya beli tas khusus untuk tempat HP agar tidak menyentuh tubuh saya ketika berdering,” sebut Golang Harianja, mantan Ketua PDI Perjuangan Kecamatan Hutabayuraja.

 

Sementara itu Camat Hutabayuraja Albert R Saragi SIP MSi melalui telepon selulernya mengimbau seluruh warga tetap tenang dan jangan panik. Namun dari kasus yang menimpa Rumanti br Gultom, ia meminta warga hati-hati ketika menggunakan HP.

 

Sedangkan Kapolsekta Tanah Jawa AKP B Turnip juga mengimbau warga agar tidak panik dan resah.  “Silahkan menghubungi Polsekta Tanah Jawa melalui nomor 0622 7554225 jika ada keresahan. Kepada anggota Polmas di seluruh nagori di wilayah hukum Polsekta Tanah jawa agar bersikap pro aktif memantau dan menenangkan warga yang dilanda kepanikan,” katanya.                

                            

 

Aktifkan HP, Mahasiswi Pingsan

Di termpat terpisah, Halwani (19), mahasiswi Akademi Kebidanan (Akbid) Unudiyah di Jeulingke Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh Jumat (9/5) sekitar pukul 14.00 WIB pingsan dan dilarikan ke Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA).  Halwani pingsan setelah mengatifkan HP-nya, dan layar HP- tersebut berwarna merah.

 Teman kos korban, Yusna mengatakan, akibat merebaknya informasi telepon layar merah beberapa hari terakhir, Halwani menonaktifkan HP-nya sejak dari pagi.

“Siang itu kami duduk bersama. Lalu Halwani masuk ke kamarnya mengambil  HP untuk mengirim SMS kepada kawannya. Namun ketika diaktifkan, layar HP menjadi merah dan ada tulisan. Ketika itu, Halwani langsung tersetrum dan mencampakkan HP ke lantai dan lari ke kamar kami,” terang Yusna.

 

Sambil gemetar, Halwani melarang kawannya memegang HP-nya. Setelah sempat berbicara beberapa menit, korban pingsan dan dilarikan ke rumah sakit.

 

Sejumlah warga mengaku sempat melihat layar merah di HP milik Halwani. Bahkan banyak warga mengabadikan ‘HP merah’ itu.

 

 

Di Kalbar Juga Jatuh Korban

Di Desa Kartiasa Kabupaten Sambas Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), Kamis (8/5), Adim Prawira (61) menjadi korban ‘telepon merah’. Sempat terjadi dialog antara Adim dan penelepon.

 

Pria yang sehari-hari bekerja sebagai petani ini menceritakan, Kamis pagi ia bersama istri dan kedua anaknya mengikuti persiapan pernikahan famili, tak jauh dari rumahnya.

 

Sekira 09.00, ia pulang untuk men-charge HP milik adik iparnya. Sesampainya di rumah, HP berdering dan muncul nomor 0666 dan layar HP seketika menjadi merah. Tanpa menaruh curiga, Adim mengangkatnya. Dari seberang sana terdengar suara pria.

“Ini di mana?” tanya si penelepon.

 “Ini di Kartiasa,” jawab Adim.

“Kartiasa itu di mana?” tanya di penelepon lagi.

“Kartiasa Kabupaten Sambas,” kata Adim.

Karena penasaran, gentian Adim bertanya, “Ini siapa?”

“Kamu tidak perlu tahu!” jawab pria itu kasar dan langsung menutup telepon.

Anehnya, nomor 0666 tak terekam dalam HP.

 

Saat menutup HP itulah Adim merasakan tangannya bergetar. Getaran terasa hingga ke seluruh tubuh, seperti tersengat aliran listrik. Tubuhnya seketika lunglai, tetapi ia masih sempat kembali ke rumah saudaranya.

 

Di sana, ia langsung terkulai lemas dan semua yang hadir terkejut serta berusaha menolong Adim. “Saya juga terkejut melihat suami saya lemah dan menangis terus,” ucap Endang. Entah dari mana, tiba-tiba ada seorang pria yang mengobati Adim. Dan menurut Endang, cara pengobatannya pun aneh, Adim didudukkan dengan cara bersila dan membakar kemenyan.

 

Tak lama Adim sadar, namun tubuhnya masih lemah. Kejadian ini membuat heboh masyarakat Sambas. Bahkan ada yang menyebutkan Adim dibawa ke RSUD Sambas dengan kondisi mengenaskan, telinga dan hidung mengeluarkan darah.

 

“Semua kabar itu tidak benar, dibuat-buat dan dibesar-besarkan. Buktinya saya ada di rumah dan kondisi saya sudah baik. Hanya saja tubuh saya masih lemah,” ungkap Adim.  (mag-03/(iwa/ova/ra/pnn)

Kategori: Berita

Seputar ‘Telepon Merah’ Makan Korban

11 Mei 2008 · & Komentar

Paranormal: Devi Kerasukan 4 Roh Gaib

 

TAPTENG-METRO

Paranormal Musbir Sinaga yang menyadarkan Devi br Saruksuk (20), mahasiswi Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Barus dari pingsannya saat menerima ‘telepon merah’ dari orang tak dikenal (OTK) mengatakan, sebelum tak sadarkan diri, Devi dimasuki roh gaib. Bahkan, jumlahnya mencapai empat. Kondisi Devi sendiri saat ini sudah semakin membaik.

 

Kepada METRO, Musbir Sinaga mengatakan, semula dirinya tidak mengetahui kejadian tersebut. “Awalnya saya datang ke Kantor Camat Barus untuk suatu urusan. Tetapi sebelum sampai di kantor camat, saya melihat kerumunan orang di Puskesmas Barus. Saya pun mencoba mendatangi puskesmas ingin mencari tahu apa yang terjadi. Ternyata saya melihat warga memegang korban yang sedang terbaring di Puskesmas Barus dengan kondisi pingsan. Keluarga korban mengatakan, Devi pingsan setelah menerima telepon dari OTK,” cerita Musbir Sinaga.

 

Diutarakan Musbri, dirinya selanjutnya berusaha memeriksa korban dengan ilmu gaib yang dimiliknya.  “Setelah saya periksa ternyata tubuh korban telah dimasuki makhluk gaib. Saya pun mencoba berkomunikasi dengan makhluk gaib itu. Ternyata ada empat roh gaib dalam tubuh korban, tetapi mereka (makhluh gaib, red) itu bisu smeua. Saya pun menyuruh roh gaib itu pulang ke tempatnya, dan dengan seketika itu pula korban sadar,” ujar Musbir yang juga Kades Bungo Tanjung.

 

Korban Masih Trauma

Sementara itu, kondisi Devi br Saruksuk, saat ini, Jumat (9/5), sudah semakin membaik. Namun, warga Kelurahan Pasar Batu Gerigis, Kecamatan Barus, Tapteng ini masih trauma. Devi sendiri telah meninggalkan Puskesmas Barus, Jumat (9/5) pagi sekira pukul 08.30 WIB atas permintaan keluarganya.

 

Ibu korban M br Simanullang didampingi Asni br Simanullang, tante Devi, saat ditemui METRO, Jumat (9/5) di kediamannya di Kelurahaan Pasar Batu Gerigis mengatakan, Devi sudah dibawa pulang dari Puskesmas Barus karena sudah siuman. Namun saat ini korban masih trauma dan tidak mau mendengar cerita kejadian yang menimpa dirinya tersebut.

 

“Maaf, kami belum bisa mempertemukan bapak dengannya (Devi, red), karena sejak kejadian yang menimpa dirinya semalam, dia tidak mau cerita tentang HP. Asal ada didengarnya orang teringat HP, dia (Devi, red) langsung ketakutan, kepalanya pening, seraya menutup telinga agar tidak didengar lagi. Secara spontan dia juga akan berteriak lagi sambil mengatakan, mau datang lagi telepon itu nanti (telepon merah, red),” ujar M br Simanullang yang diamini Asni br Simanullang.

 

Lebih lanjut dikatakannya, kondisi Devi saat ini sudah siuman dan sekarang telah dibawa pulang ke rumah. Devi sendiri tinggal bersama tantenya (Asni, red) di Kelurahan Pasar Batu Gerigis Kecamatan Barus, sedangkan M br Simanullang tinggal di Kecamatan Sirandorung.

 

Masih dikatakan ibu korban, M br Simanullang, setelah siuman, Devi menceritakan, saat kejadian itu, dirinya sedang berkomunikasi dengan temannya melalui handphone (HP). Namun secara tiba-tiba masuk telepon dari OTK ke ponselnya, dan seketika itu pula layar HP nya berubah menjadi merah, sementara nomor tidak teridentifikasi (rahasia, red).

 

Kemudian, korban menerima telepon dari OTK itu dan selanjutnya terdengar suara mengerikan seperti suara horor. Setelah mendengar suara itu, gadis ini merasa ketakutan dan langsung pingsan.

 

“Setelah menceritakan kejadian itu kepada kami, dia (Devi, red) pun kembali ketakutan, dan akhirnya kami pun memutuskan agar menstop menanyakan kejadian ini kepada dia sebelum kondisinya pulih betul,” bebernya.

 

Sementara itu, Ujang Tanjung (20), salahseorang teman korban yang melihat kejadian itu kepada METRO menjelaskan, saat kejadian itu, Kamis (8/5) sekira pukul 13.30 WIB, Devi sedang berkomunikasi melalui HPnya merek Sony Ericsson tipe K200i, dengan kartu Pro XL kepada seorang temannya Jhon Efendi Purba (21) warga Kecamatan Sorkam Barat.

 

“Saya lihat korban sedang berkomunikasi dengan temannya, dengan memakai headset di telinganya. HP-nya merek Sony Ericsson tipe K200i warna casing biru kelabu di letakakan di atas meja. Sedangkan dia (Devi, red) duduk di bangku. Saat asyik berkomunikasi, tiba-tiba secara bersamaan masuk telepon dari orang tak dikenal ke ponselnya. Lalu dia pun meminta temannya agar menonaktifkan dulu ponselnya, karena ada telepon masuk,” ujar Ujang menceritakan.

 

Saat korban melihat dan menerima telepon dari OTK tersebut, seketika itu pula layar HP korban langsung berubah menjadi merah dan muncul tulisan di layar HP, nomor dirahasiakan.

 

“Dalam hitungan detik korban pun jatuh ke lantai rumah. Badannya pucat, sambil memegang kepalanya karena kesakitan, sedangkan HP nya ikut terjatuh namun tetap hidup. Sesaat kemudian korban pun pingsan. Saya bersama Hidayat (temannya, red) langsung melihat HP korban ternyata masih hidup walaupun sudah jatuh ke lantai, sementara warna layar merah, dan ada tulisan nomor dirahasiakan,” katanya.

 

“Saya sudah coba mematikan HP nya namun tetap juga tidak mau mati. Akhirnya saya dibantu beberapa teman untuk mencabut batere dan membuka kartunya, barulah HP korban mati. Setelah itu keluarga korban membawan Devi ke Puskesmas Barus. Beberapa saat kemudian petugas pun datang ke TKP dan mengamankan HP korban untuk bahan pengusutan selanjutnya,” tambah Ujang yang diamini temannya Hidayat.

 

 

Di tempat terpisah, Plh Pimpinan Puskesmas Barus Dr Surya Darma ketika dikonfirmasi atas kejadian itu, membenarkan keluarga korban membawa Devi ke Puskesmas Barus dalam keadaan tak sadarkan diri.

 

“Kita menerima korban kemarin (Kamis, red) dan langsung melakukan pemeriksaan. Setelah kita periksa, tekanan darahnya normal yaitu 110/70. Pernafasan korban juga normal. Cuma waktu kita terima korban tidak sadar. Kita memberikan pengobatan medis dengan memberikan obat dan infus. Tapi belum lagi kita berbuat banyak, pihak keluarganya meminta korban agar dibawa pulang ke rumah mereka,” pungkasnya.

 

Pantauan METRO, Jumat (9/5) di Barus menyebutkan, sejak pukul 10.00 WIB, banyak warga yang me-nonaktifkan HP-nya. Sedangkan di beberapa kios ponsel mengalami penurunan penjualan pulsa. (mas)

 

Kategori: Berita

‘Telepon Putih’ Setrum 4 Warga Sibolga

11 Mei 2008 · 1 Komentar

 

SIBOLGA-METRO

Setelah Kamis (8/5), mahasiswi STKIP Barus menjadi korban ‘telepon merah’, di Sibolga, ‘telepon putih’ justru menghebohkan warga dan memakan korban, Jumat (9/5) siang. Riki Tanjung (15), bersama ibunya E br Jambak (45), pedagang perabot di Pasar Sibolga Nauli, terkena setrum dan nyaris pingsan di kios mereka Jalan Patuan Anggi, setelah menerima telepon dari orang tak dikenal (OTK). Demikian pula dengan dua warga lainnya yang mencoba menolong ABG tersebut.

 

Informasi yang dihimpun METRO dari korban Riki Tanjung didampingi ibunya E br Jambak, saat kejadian itu, Jumat (9/5) sekira pukul 14.30 WIB, dirinya dan ibunya sedang duduk di dalam kios Ceria Baru milik orangtuanya tersebut sambil menunggu pembeli.

 

Tiba-tiba HP Nokia tipe N 70 Riki yang layarnya berwarna warni dan berlatar belakang fotonya, berbunyi menandakan ada telepon masuk. Namun, nomor si penelepon tersebut tidak terlihat. Seketika itu pula layar handphone (HP) berubah menjadi warna putih.

 

Saat hendak diangkat, Riki kesetrum dan langsung melempar HP-nya ke atas meja, tanpa sempat mendengar suara dari orang yang meneleponnya. Bahkan, saking terkejutnya, warga Jalan Enam Sibolga Sambas itu sempat linglung dan nyaris pingsan.

 

“Saat hendak mengangkat telepon yang datang, saya kesetrum. Rasanya seperti kesetrum listrik. Dan ibu saya yang berada di samping saya juga terkena setrum. Padahal ibu saya tidak sempat pegang HP. Saya langsung melempar HP ke atas meja,” kata Riki menceritakan.

 

Anehnya lagi, HP yang dilemparkan di atas meja tersebut, tidak bisa dimatikan. Dua pedagang tetangga Riki, yakni Ujang dan Ardi Nainggolan, mengambil inisiatif untuk mencabut baterai. Namun, HP Riki tetap bergetar. “Untunglah berselang beberap menit kemudian HP barulah mati,” tutur Riki.

 

Sementara itu, Ujang menambahkan, dirinya sempat terkena setrum saat memegang HP Riki. “Sumpah demi Tuhan, sesudah saya mematikan HP Riki bersama Ardi Nainggolan dengan mencabut baterai, HP-nya masih tetap bergetar, dan saya juga sempat kesetrum. Sedangkan Riki tampak linglung dan pucat pasi, bahkan hampir pingsan. Sementara ibunya minta tolong supaya HP Riki dimatikan,” jelas Ujang yang diamini Ardi Nainggolan.

 

Saat METRO hendak menghidupkan HP Riki yang sudah mati dan sempat disimpan di dalam kantong plastik warna hitam, Riki dan ibunya takut karena masih trauma. Sementara sejumlah warga yang datang ke kios korban, sempat berhamburan ke luar kios. Akan tetapi setelah HP dihidupkan, layar HP Riki normal kembali. Ketika dicek nomor tak terjawab di dalam HP korban, tidak tampak nomor yang mencurigakan.

 

 

Warga Takut Aktifkan HP

Sementara itu, warga Sibolga sempat heboh dan menonaktifkan HP mereka atas adanya informasi telepon layar merah yang disebut-sebut bisa menyebabkan kematian. Demikian juga di sejumlah kantor kelurahan di Kota Sibolga, Jumat (9/5).

Di mana pada saat jam istirahat menjelang Salat Jumat, para pegawai negeri sipil (PNS) membicarakan telepon layar merah. Bahkan sejumlah pegawai mengaku takut dan menonaktifkan HP miliknya, khususnya dari pukul 09.00 sampai pukul 13.00 WIB.

 

“Saya mematikan HP karena saya dapat SMS peringatan dari teman yang dapat saya percaya tentang telepon layer merah, Kamis (8/5) sore kemarin, ditambah omongan dari teman kerja yang membenarkan isi SMS tersebut. Dari pada saya mati sia-sia, lebih baik HP dimatikan,” ujar S Simanjuntak, salahseorang pegawai kelurahan di Kota Sibolga saat ditemui di kantornya.

 

Lebih lanjut dikatakannya, karena menduga SMS tersebut benar dan juga untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, Simanjuntak mengirimkan SMS tersebut kepada kerabat dan teman sekerjanya yang belum mengetahui hal itu.

 

Adapun isi Short Message Service (SMS) yang beredar menyebutkan, “Usahakan besok dari pukul 09.00WIB sampai pukul 13.00WIB siang jangan aktifkan HP, karena radiasi RING IN RED (infra merah level tinggi = 0866, dapat membuat si penerima tewas dan merusak saraf) yang sudah melanda dunia. Dijadwalkan beredar pada jam di atas. Waspadai sampai WHO menyatakan aman.” (mag-2)

Kategori: Berita