Dameambarita’s Weblog

‘Telepon Merah’ Makin Merebak

09 Mei 2008 · & Komentar

 

* Warga Sei Kepayang Diduga Kejang-kejang

 

KISARAN-METRO

 

Isu teror kematian yang disebar melalui ‘telepon merah’ semakin meluas. Jumat (9/5), isu teror itu menimpa salahseorang warga Sei Kepayang, Asahan. Isu itu pun sempat didengar polisi.

 

Kapolsek Sei Kepayang, AKP S Purba, saat dikonfirmasi sekira pukul 15.15 WIB, tak membantah telah mendengar isu jatuhnya korban akibat telepon merah tersebut. Namun Kapolsek mengatakan bahwa pihaknya masih melakukan penyelidikan untuk membuktikan kebenaran isu tersebut.

 

‘’Korban kabarnya dibawa ke Rumah Sakit Umum Tanjung Balai dan kita masih melakukan penyelidikan apakah benar korban menderita kejang-kejang setelah menerima telepon merah tersebut,’’ kata Purba. Karena masih bersifat isu, Kapolsek belum mengetahui persis identitas korban. ‘’Masih ditangani di rumah sakit,’’katanya.

 

Sementara informasi yang diterima koran ini, Jumat (9/5) menyebutkan, korban sebelum menerima telepon berlayar merah itu masih dalam keadaan sehat. Beberapa menit setelah handphone miliknya berdering dan dijawab, tiba-tiba saja korban terjatuh pingsan.

 

Belum diketahui persis apakah korban menerima nomor ‘telepon merah’ 0866 atau 0666 yang diisukan sebagai penyebar maut tersebut. Hanya saja, warga menduga korban pingsan akibat menerima telepon dan pesan singkat berlayar merah. Apalagi, isu telepon merah ini kini merebak hingga ke pelosok Asahan.

 

Isu jatuhnya korban akibat telepon merah itu juga sempat menyebar di Desa Rawang. Di desa itu, dikabarkan ada seorang warga yang tiba-tiba jatuh pingsan setelah terlihat berbincang-bincang dengan seseorang melalui handphone. Korban, masih menurut  isu, langsung diselamatkan ke puskesmas terdekat. Namun kepastian soal isu jatuhnya korban tersebut, hingga sore kemarin, belum bisa dibuktikan. (nes)

Kategori: Berita

‘Telepon Merah’ Muncul di Siantar

09 Mei 2008 · & Komentar

* Dekati ‘Hp Merah’, Siswi SMA Merasa Tenaganya Tersedot

 

SIANTAR-METRO

 

Telepon layar merah yang diisukan dapat memakan korban hingga meresahkan masyarakat di berbagai daerah di Indonesia, muncul di Kota Pematangsiantar. Seorang siswi kelas III IPA SMA Budi Mulia Pematangsiantar, Veronika Simarmata (18), warga Jalan Patuan Anggi No 44 Siantar. mendadak merasa tenaganya tersedot saat mendekati handphone milik adiknya yang berdering, dan memunculkan warna merah di layar.

 

“Saya merasa, tenaga saya seperti tersedot dan badan saya seperti dilolosi,” tutur Veronika, didampingi ayahnya Ojak Simarmata (52), ibunya Lasmaria Manik (45), dan adiknya Hery Simarmata (11), saat mendatangi kantor redaksi METRO di Kompleks Megaland Siantar, Jumat (9/5) pukul 02.00 WIB dinihari.

 

Kepada METRO, Veronika didampingi keluarganya menjelaskan, Kamis (8/5) malam sekira pukul 23.00 WIB, dirinya tengah belajar untuk mempersiapkan diri menempuh SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru), di ruang TV rumahnya. Tak jauh darinya, sang ibu tengah menonton acara televisi. Adiknya Hery sudah tidur di kamar. Sementara sang ayah berada di gudang Intra, sekitar 400 meter dari rumah.

 

Mendadak, handphone merek Samsung milik adiknya dengan nomor kartu 085297484xxx, yang terletak di atas sebuah kursi di ruang yang sama, berdering. Ibunya menoleh dan terkejut melihat layar telepon berwarna merah. ”Sebelumnya,  kami sudah beberapa kali menerima SMS berisi peringatan soal telepon layar merah itu. Selama ini, saya tidak percaya. Tapi melihat layar handphone yang biasanya berwarna putih, kok kali ini berwarna merah, saya takut juga. Trus saya bilang sama Vero, kok layarnya merah ya? Jangan-jangan telepon yang dibilang-bilang itu!” katanya pada putrinya.

 

Veronika, yang selama beberapa hari terakhir mengaku tak percaya dengan isu telepon layar merah, berdiri dan mendekati kursi tempat handphone yang tengah berdering. Ia berniat mengecek sekaligus mematikan telepon.

 

Namun masih jarak satu meter dari handphone yang layarnya merah, mendadak ia merasa tenaganya seperti tersedot.”Badan saya terasa dilolosi. Tenaga seperti tersedot. Saya langsung panik dan berlari ke kamar sambil menjerit-jerit memanggil Tuhan,” tuturnya, dengan mata berkaca-kaca.

 

”Iya… dia sampai jatuh bangun berlari. Saya yang panik, ikut berlari ke kamar. Di kamar kami berdua saling berpelukan, tak berani keluar,” tambah ibunya, masih dengan sisa trauma di wajahnya. Karena panik, mereka tak berani mendekat untuk memeriksa nomor telepon yang melakukan panggilan.

 

Di kamar, ibu dan anak ini berdoa, membaca Alkitab, menangis, berdoa lagi, dan menangis ketakutan setiap kali mendengar dering telepon yang sekali lima menit berdering, hingga hampir satu jam. ”Karena takut, di kamar saya langsung mencabut batere dan kartu di handphone milik Vero dan milik saya sendiri,” tutur sang ibu.

 

Setelah hampir satu jam ketakutan di kamar, akhirnya keduanya sepakat untuk memberitahu sang ayah, yang sedang berada di gudang. Sekitar pukul 24.00 WIB, saat handphone sedang tidak berdering, keduanya tergesa-gesa keluar dari kamar, mengunci pintu kamar Hery yang masih tidur nyenyak, dengan tujuan Hery agar jangan mengangkat handphone saat ditinggal. Kemudian keduanya keluar rumah tanpa berani menoleh ke posisi handphone tadi.

 

Saat bertemu suami di gudang Intra, Lasmaria Manik menceritakan segala kejadian. ”Awalnya, suami saya tidak percaya. Tapi setelah saya bilang, Vero sendiri yang mengalami, barulah suami percaya dan kami sama-sama pulang,” tuturnya.

 

Tiba di rumah, kebetulan telepon sedang tidak berdering. Sang suami, Ojak Simarmata langsung membuka jaket hitam yang dikenakannya, menutupkannya ke handphone. Kemudian tanpa melihat, ia mencopot batere dan kartu di handphone milik putra bungsunya itu. ”Kalau bukan karena putri saya sendiri yang mengalami, saya takkan percaya isu telepon layar merah itu,” tutur Ojak.

 

Setelah diskusi beberapa saat, dan melihat kekuatan putrinya sudah kembali pulih, Ojak tak membawa putrinya ke rumah sakit. Tapi memutuskan untuk mendatangi kantor METRO, yang sehari sebelumnya telah membaut berita mengenai isu telepon layar merah.

 

Atas kejadian yang menimpa keluarganya, Ojak berpesan, kalau ada warga yang menerima telepon dengan layar warna merah, agar tidak mengangkat telepon. Juga agar segera berlari sejauh mungkin dari hp. ”Setelah hp tidak berdering, segera tutupi telepon dengan baju atau jaket, kemudian batere dan kartu dicopot tanpa melihat hp,” sarannya.

 

Sang Ibu, Lasmaria menambahkan, beberapa hari lalu, putranya Hery sebenarnya sudah mendapat beberapa SMS peringatan dari teman sekolahnya, terkait isu telepon layar merah. ”Anak saya percaya. Tetapi Vero tidak. Ia malah membalas SMS teman Hery, dengan mengatakan, ’jangan jadi bodoh’. Kepada teman-temannya di sekolah, Vero juga sempat bilang, pengen dapat telepon merah itu untuk membuktikan kebenarannya. Eh, dia benar-benar dapat telepon,” kata ibunya sambil melirik ke arah Vero, yang diangguki Vero sambil tersenyum malu.

 

Terkait pengalaman itu, Ojak Simarmata langsung menghubungi dua anaknya yang lain di Medan, dan beberapa sanak famili lewat telepon, dengan pesan agar hati-hati jika mendapat telepon layar merah. ”Sampai kami meninggalkan rumah tadi menuju kemari (kantor METRO, red), kami merasa seperti ada sesuatu di kursi tempat hp tadi terletak. Saya tidak bilang benar-benar ada ’sesuatu’ di kursi itu. Mungkin hanya karena rasa trauma saja. Begitupun, saya belum niat pulang ke rumah, dan masih ingin membawa keluarga jalan-jalan dulu malam ini untuk menghilangkan rasa trauma. Hp saya masih saya matikan,” tuturnya.

 

Istrinya Lasmaria menambahkan, keluarganya masih trauma. ”Mungkin, kami semua akan tidur di satu kamar malam ini. Jantung saya masih gemetar,” katanya, dan tak sengaja ia bergidik. (mea)

Kategori: Berita

‘Telepon Layar Merah’ Makan Korban di Barus

09 Mei 2008 · & Komentar

 

* Mahasiswi STKIP Barus Pingsan Usai Dengar Suara ’Mengerikan’

 

BARUS-METRO

 

Mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Keguruan dan Pendidikan (STKIP) Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Devi br Saruksuk (20), jatuh pingsan di rumahnya setelah menerima telepon dari orang tak dikenal (OTK), Kamis (8/5) siang sekira pukul 13.30 WIB. Di layar handphone (HP) warga Kecamatan Sirandorung, Tapteng ini yang semula berwarna putih, seketika berubah menjadi warna merah.

 

Informasi yang dihimpun METRO dari tante korban Asni br Simanullang, saat kejadian itu, Devi br Saruksuk yang tinggal bersama Asni di rumahnya di Kelurahaan Pasar Batu Gerigis, Kecamatan Barus, sedang berkomunikasi melalui HP dengan seorang temannya Jhon Efendi (21), warga Kecamatan Sorkam Barat, yang juga mahasiswa STKIP Barus.

 

Beberapa saat kemudian saat asyik mengobrol, tiba-tiba masuk telepon dari orang tidak dikenal ke HP Devi, dan tidak memakai nomor. Seketika itu juga, layar HP yang digenggam gadis itu berubah menjadi merah, sementara suara dari seberang terdengar sangat mengerikan. Devi pun meminta temannya Jhon Efendi untuk mematikan HP-nya, agar dia menerima dahulu telepon yang masuk. “Nanti kita sambung lagi ya,” kata Asni menirukan ucapan Devi saat itu.

 

Jhon pun menuruti permintaan korban. Lalu Devi menerima telepon dari OTK tersebut. Hitungan detik kemudian, badan Devi terasa lemas dan menggigil. Kepala dan lehernya terasa pegal dan sakit.

 

Kemudian dia jatuh pingsan ke lantai rumahnya. Sedangkan HP-nya yang ikut terjatuh ke lantai rumah tetap hidup dengan layer bewarnah merah. Para keluarga yang melihat kejadian itu merasa ketakutan.

 

“Kami semua yang ada di rumah ketakutan saat melihat kejadian ini serta memanggil beberapa tetangga. Kami langsung melarikannya (Devi, red) ke Puskesmas Barus, sedangkan HP-nya yang jatuh ke lantai tetap hidup dengan layer warna merah dan tidak bisa di-nonaktifkan. Kemuadian ada keluarga lain mengambil inisiatif untuk mencabut baterai dan kartunya. Barulah HP-nya mati,” bebernya.

 

 

Disadarkan Paranormal

 

Lebih lanjut dikatakan Asni, setibanya di Puskesmas Barus, korban tidak juga sadarkan diri, meskipun telah ditangani oleh perawat Puskesmas Barus.

 

Sekira satu jam kemudian, seorang paranormal dari Barus, Musbir Sinaga datang ke Puskesmas Barus untuk melihat kejadian itu. Pria yang juga Kepala Desa Bungo Tanjung, Kecamatan Barus ini langsung memberikan pertolongan. Seketika itu juga korban baru sadarkan diri.

 

Sementara itu, Jhon Efendi, warga Sorkam Barat, teman korban kepada wartawan di Puskesmas Barus menjelaskan, pada siang itu, dia menerima telepon dari korban.

 

“Siang tadi kami berkomunikasi dengan Devi melalui ponsel, namun tiba-tiba Devi meminta saya agar dimatikan dulu HP saya karena ada masuk telepon ke HP korban. Saya pun menuruti permintaan Devi . Setelah itu saya tidak tahu lagi apa yang terjadi. Tapi tak berapa lama kemudian, saya menerima telepon lagi yang mengatakan bahwa Devi telah pingsan setelah menerima telepon dari orang yang tak kenal itu. Mudah-mudahan dia (Devi, red) cepat sembuh,” ujar Jhon sedih.

 

Kapolsek Barus AKP Frido Gultom saat dikonfirmasi membenarkan peristiwa tersebut. “Devi br Saruksuk jatuh pingsan setelah menerima telepon dari orang yang tidak dikenal. Kita masih melakukan penyelidikan atas kasus ini,” ujarnya AKP Frido singkat.

 

Pantauan METRO di Puskesmas Barus hingga pukul 20.00 WIB, korban Devi masih dirawat di Puskesamas Barus. Devi belum dapat dikonfirmasi karena menurut keluarga yang menemaninya di Puskesmas, korban masih trauma. (mas)

Kategori: Berita