Dame Ambarita’s Weblog

‘Telepon Merah’ Makin Merebak

09 Mei 2008 · & Komentar

 

* Warga Sei Kepayang Diduga Kejang-kejang

 

KISARAN-METRO

 

Isu teror kematian yang disebar melalui ‘telepon merah’ semakin meluas. Jumat (9/5), isu teror itu menimpa salahseorang warga Sei Kepayang, Asahan. Isu itu pun sempat didengar polisi.

 

Kapolsek Sei Kepayang, AKP S Purba, saat dikonfirmasi sekira pukul 15.15 WIB, tak membantah telah mendengar isu jatuhnya korban akibat telepon merah tersebut. Namun Kapolsek mengatakan bahwa pihaknya masih melakukan penyelidikan untuk membuktikan kebenaran isu tersebut.

 

‘’Korban kabarnya dibawa ke Rumah Sakit Umum Tanjung Balai dan kita masih melakukan penyelidikan apakah benar korban menderita kejang-kejang setelah menerima telepon merah tersebut,’’ kata Purba. Karena masih bersifat isu, Kapolsek belum mengetahui persis identitas korban. ‘’Masih ditangani di rumah sakit,’’katanya.

 

Sementara informasi yang diterima koran ini, Jumat (9/5) menyebutkan, korban sebelum menerima telepon berlayar merah itu masih dalam keadaan sehat. Beberapa menit setelah handphone miliknya berdering dan dijawab, tiba-tiba saja korban terjatuh pingsan.

 

Belum diketahui persis apakah korban menerima nomor ‘telepon merah’ 0866 atau 0666 yang diisukan sebagai penyebar maut tersebut. Hanya saja, warga menduga korban pingsan akibat menerima telepon dan pesan singkat berlayar merah. Apalagi, isu telepon merah ini kini merebak hingga ke pelosok Asahan.

 

Isu jatuhnya korban akibat telepon merah itu juga sempat menyebar di Desa Rawang. Di desa itu, dikabarkan ada seorang warga yang tiba-tiba jatuh pingsan setelah terlihat berbincang-bincang dengan seseorang melalui handphone. Korban, masih menurut  isu, langsung diselamatkan ke puskesmas terdekat. Namun kepastian soal isu jatuhnya korban tersebut, hingga sore kemarin, belum bisa dibuktikan. (nes)

Kategori: Berita

‘Telepon Merah’ Muncul di Siantar

09 Mei 2008 · & Komentar

* Dekati ‘Hp Merah’, Siswi SMA Merasa Tenaganya Tersedot

 

SIANTAR-METRO

 

Telepon layar merah yang diisukan dapat memakan korban hingga meresahkan masyarakat di berbagai daerah di Indonesia, muncul di Kota Pematangsiantar. Seorang siswi kelas III IPA SMA Budi Mulia Pematangsiantar, Veronika Simarmata (18), warga Jalan Patuan Anggi No 44 Siantar. mendadak merasa tenaganya tersedot saat mendekati handphone milik adiknya yang berdering, dan memunculkan warna merah di layar.

 

“Saya merasa, tenaga saya seperti tersedot dan badan saya seperti dilolosi,” tutur Veronika, didampingi ayahnya Ojak Simarmata (52), ibunya Lasmaria Manik (45), dan adiknya Hery Simarmata (11), saat mendatangi kantor redaksi METRO di Kompleks Megaland Siantar, Jumat (9/5) pukul 02.00 WIB dinihari.

 

Kepada METRO, Veronika didampingi keluarganya menjelaskan, Kamis (8/5) malam sekira pukul 23.00 WIB, dirinya tengah belajar untuk mempersiapkan diri menempuh SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru), di ruang TV rumahnya. Tak jauh darinya, sang ibu tengah menonton acara televisi. Adiknya Hery sudah tidur di kamar. Sementara sang ayah berada di gudang Intra, sekitar 400 meter dari rumah.

 

Mendadak, handphone merek Samsung milik adiknya dengan nomor kartu 085297484xxx, yang terletak di atas sebuah kursi di ruang yang sama, berdering. Ibunya menoleh dan terkejut melihat layar telepon berwarna merah. ”Sebelumnya,  kami sudah beberapa kali menerima SMS berisi peringatan soal telepon layar merah itu. Selama ini, saya tidak percaya. Tapi melihat layar handphone yang biasanya berwarna putih, kok kali ini berwarna merah, saya takut juga. Trus saya bilang sama Vero, kok layarnya merah ya? Jangan-jangan telepon yang dibilang-bilang itu!” katanya pada putrinya.

 

Veronika, yang selama beberapa hari terakhir mengaku tak percaya dengan isu telepon layar merah, berdiri dan mendekati kursi tempat handphone yang tengah berdering. Ia berniat mengecek sekaligus mematikan telepon.

 

Namun masih jarak satu meter dari handphone yang layarnya merah, mendadak ia merasa tenaganya seperti tersedot.”Badan saya terasa dilolosi. Tenaga seperti tersedot. Saya langsung panik dan berlari ke kamar sambil menjerit-jerit memanggil Tuhan,” tuturnya, dengan mata berkaca-kaca.

 

”Iya… dia sampai jatuh bangun berlari. Saya yang panik, ikut berlari ke kamar. Di kamar kami berdua saling berpelukan, tak berani keluar,” tambah ibunya, masih dengan sisa trauma di wajahnya. Karena panik, mereka tak berani mendekat untuk memeriksa nomor telepon yang melakukan panggilan.

 

Di kamar, ibu dan anak ini berdoa, membaca Alkitab, menangis, berdoa lagi, dan menangis ketakutan setiap kali mendengar dering telepon yang sekali lima menit berdering, hingga hampir satu jam. ”Karena takut, di kamar saya langsung mencabut batere dan kartu di handphone milik Vero dan milik saya sendiri,” tutur sang ibu.

 

Setelah hampir satu jam ketakutan di kamar, akhirnya keduanya sepakat untuk memberitahu sang ayah, yang sedang berada di gudang. Sekitar pukul 24.00 WIB, saat handphone sedang tidak berdering, keduanya tergesa-gesa keluar dari kamar, mengunci pintu kamar Hery yang masih tidur nyenyak, dengan tujuan Hery agar jangan mengangkat handphone saat ditinggal. Kemudian keduanya keluar rumah tanpa berani menoleh ke posisi handphone tadi.

 

Saat bertemu suami di gudang Intra, Lasmaria Manik menceritakan segala kejadian. ”Awalnya, suami saya tidak percaya. Tapi setelah saya bilang, Vero sendiri yang mengalami, barulah suami percaya dan kami sama-sama pulang,” tuturnya.

 

Tiba di rumah, kebetulan telepon sedang tidak berdering. Sang suami, Ojak Simarmata langsung membuka jaket hitam yang dikenakannya, menutupkannya ke handphone. Kemudian tanpa melihat, ia mencopot batere dan kartu di handphone milik putra bungsunya itu. ”Kalau bukan karena putri saya sendiri yang mengalami, saya takkan percaya isu telepon layar merah itu,” tutur Ojak.

 

Setelah diskusi beberapa saat, dan melihat kekuatan putrinya sudah kembali pulih, Ojak tak membawa putrinya ke rumah sakit. Tapi memutuskan untuk mendatangi kantor METRO, yang sehari sebelumnya telah membaut berita mengenai isu telepon layar merah.

 

Atas kejadian yang menimpa keluarganya, Ojak berpesan, kalau ada warga yang menerima telepon dengan layar warna merah, agar tidak mengangkat telepon. Juga agar segera berlari sejauh mungkin dari hp. ”Setelah hp tidak berdering, segera tutupi telepon dengan baju atau jaket, kemudian batere dan kartu dicopot tanpa melihat hp,” sarannya.

 

Sang Ibu, Lasmaria menambahkan, beberapa hari lalu, putranya Hery sebenarnya sudah mendapat beberapa SMS peringatan dari teman sekolahnya, terkait isu telepon layar merah. ”Anak saya percaya. Tetapi Vero tidak. Ia malah membalas SMS teman Hery, dengan mengatakan, ’jangan jadi bodoh’. Kepada teman-temannya di sekolah, Vero juga sempat bilang, pengen dapat telepon merah itu untuk membuktikan kebenarannya. Eh, dia benar-benar dapat telepon,” kata ibunya sambil melirik ke arah Vero, yang diangguki Vero sambil tersenyum malu.

 

Terkait pengalaman itu, Ojak Simarmata langsung menghubungi dua anaknya yang lain di Medan, dan beberapa sanak famili lewat telepon, dengan pesan agar hati-hati jika mendapat telepon layar merah. ”Sampai kami meninggalkan rumah tadi menuju kemari (kantor METRO, red), kami merasa seperti ada sesuatu di kursi tempat hp tadi terletak. Saya tidak bilang benar-benar ada ’sesuatu’ di kursi itu. Mungkin hanya karena rasa trauma saja. Begitupun, saya belum niat pulang ke rumah, dan masih ingin membawa keluarga jalan-jalan dulu malam ini untuk menghilangkan rasa trauma. Hp saya masih saya matikan,” tuturnya.

 

Istrinya Lasmaria menambahkan, keluarganya masih trauma. ”Mungkin, kami semua akan tidur di satu kamar malam ini. Jantung saya masih gemetar,” katanya, dan tak sengaja ia bergidik. (mea)

Kategori: Berita

‘Telepon Layar Merah’ Makan Korban di Barus

09 Mei 2008 · & Komentar

 

* Mahasiswi STKIP Barus Pingsan Usai Dengar Suara ’Mengerikan’

 

BARUS-METRO

 

Mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Keguruan dan Pendidikan (STKIP) Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Devi br Saruksuk (20), jatuh pingsan di rumahnya setelah menerima telepon dari orang tak dikenal (OTK), Kamis (8/5) siang sekira pukul 13.30 WIB. Di layar handphone (HP) warga Kecamatan Sirandorung, Tapteng ini yang semula berwarna putih, seketika berubah menjadi warna merah.

 

Informasi yang dihimpun METRO dari tante korban Asni br Simanullang, saat kejadian itu, Devi br Saruksuk yang tinggal bersama Asni di rumahnya di Kelurahaan Pasar Batu Gerigis, Kecamatan Barus, sedang berkomunikasi melalui HP dengan seorang temannya Jhon Efendi (21), warga Kecamatan Sorkam Barat, yang juga mahasiswa STKIP Barus.

 

Beberapa saat kemudian saat asyik mengobrol, tiba-tiba masuk telepon dari orang tidak dikenal ke HP Devi, dan tidak memakai nomor. Seketika itu juga, layar HP yang digenggam gadis itu berubah menjadi merah, sementara suara dari seberang terdengar sangat mengerikan. Devi pun meminta temannya Jhon Efendi untuk mematikan HP-nya, agar dia menerima dahulu telepon yang masuk. “Nanti kita sambung lagi ya,” kata Asni menirukan ucapan Devi saat itu.

 

Jhon pun menuruti permintaan korban. Lalu Devi menerima telepon dari OTK tersebut. Hitungan detik kemudian, badan Devi terasa lemas dan menggigil. Kepala dan lehernya terasa pegal dan sakit.

 

Kemudian dia jatuh pingsan ke lantai rumahnya. Sedangkan HP-nya yang ikut terjatuh ke lantai rumah tetap hidup dengan layer bewarnah merah. Para keluarga yang melihat kejadian itu merasa ketakutan.

 

“Kami semua yang ada di rumah ketakutan saat melihat kejadian ini serta memanggil beberapa tetangga. Kami langsung melarikannya (Devi, red) ke Puskesmas Barus, sedangkan HP-nya yang jatuh ke lantai tetap hidup dengan layer warna merah dan tidak bisa di-nonaktifkan. Kemuadian ada keluarga lain mengambil inisiatif untuk mencabut baterai dan kartunya. Barulah HP-nya mati,” bebernya.

 

 

Disadarkan Paranormal

 

Lebih lanjut dikatakan Asni, setibanya di Puskesmas Barus, korban tidak juga sadarkan diri, meskipun telah ditangani oleh perawat Puskesmas Barus.

 

Sekira satu jam kemudian, seorang paranormal dari Barus, Musbir Sinaga datang ke Puskesmas Barus untuk melihat kejadian itu. Pria yang juga Kepala Desa Bungo Tanjung, Kecamatan Barus ini langsung memberikan pertolongan. Seketika itu juga korban baru sadarkan diri.

 

Sementara itu, Jhon Efendi, warga Sorkam Barat, teman korban kepada wartawan di Puskesmas Barus menjelaskan, pada siang itu, dia menerima telepon dari korban.

 

“Siang tadi kami berkomunikasi dengan Devi melalui ponsel, namun tiba-tiba Devi meminta saya agar dimatikan dulu HP saya karena ada masuk telepon ke HP korban. Saya pun menuruti permintaan Devi . Setelah itu saya tidak tahu lagi apa yang terjadi. Tapi tak berapa lama kemudian, saya menerima telepon lagi yang mengatakan bahwa Devi telah pingsan setelah menerima telepon dari orang yang tak kenal itu. Mudah-mudahan dia (Devi, red) cepat sembuh,” ujar Jhon sedih.

 

Kapolsek Barus AKP Frido Gultom saat dikonfirmasi membenarkan peristiwa tersebut. “Devi br Saruksuk jatuh pingsan setelah menerima telepon dari orang yang tidak dikenal. Kita masih melakukan penyelidikan atas kasus ini,” ujarnya AKP Frido singkat.

 

Pantauan METRO di Puskesmas Barus hingga pukul 20.00 WIB, korban Devi masih dirawat di Puskesamas Barus. Devi belum dapat dikonfirmasi karena menurut keluarga yang menemaninya di Puskesmas, korban masih trauma. (mas)

Kategori: Berita

‘Telepon Merah’ Makan Korban di Kisaran

09 Mei 2008 · & Komentar

 

KISARAN-METRO

Kamis (8/5) malam sekira pukul 22.30 WIB,  warga Kota Kisaran tiba-tiba geger, setelah seorang pelajar SMK Pemda Kisaran mengaku dihubungi ‘telepon merah’. Akibatnya fatal, pelajar tersebut tiba–tiba mengalami kejang-kejang dan sakit perut.

Peristiwa tersebut dialami Jamot Manurung (17), warga Jalan Williem Iskandar Kisaran, ketika dia dan teman-temannya mendengarkan musik MP3 dari handphonenya Nokia type 3660.

 

Nah, ketika asyik mendengarkan musik MP3, handphone Jamot berdering. Jamot pun menerima panggilan masuk itu. Namun saat Jamot ingin melihat nomor si pemanggil, ada keanehan yakni, nomor si pemanggil tidak lengkap dan layar berubah tampilan menjadi merah serta serta layar handphone menampilkan tanda silang yang berkelap–kelip.

 

Melihat itu, pelajar kelas I Jurusan Otomotif merasa terkejut dan langsung mematikannya. Jamot melakukan tindakan tersebut karena sebelumnya telah mendengar adanya isu tentang nomor berbahaya itu sembari memberi tahukannya pada teman–temannya. Bahkan untuk menghindari hal–hal yang tak dinginkan, Jamot bersama teman-temannya langsung menukar nomor hp-nya yang sebelumnya menggunakan nomor kartu simpati dengan membeli kartu as di kios hp tak jauh dari kediamannya.

 

Begitupun, upaya yang dilakukan Jamot ternyata sia-sia. Beberapa saat ketika pergantian kartu, pelajar tersebut kembali dihubungi nomor berbahaya dengan seri 3458. Peristiwa yang tak disangka itu membuat Jamot bersama teman–temannya ketakutan. Bahkan Jamot membuang handphone nya dan lari keluar rumah. Ironisnya, setelah keluar dari rumah, Jamot mengalami kejang–kejang dan sakit perut. Peristiwa menimpa pelajar itu sontak menghebohkan tetangga dan warga setempat. Dalam beberapa saat, kabar tentang kejadian menimpa pelajar itu langsung menyebar luas dan menggegerkan kota Kisaran. Bahkan membuat warga berbondong–bondong mendatangi kediaman Jamot.

 

Awalnya Jamot dilarikan warga ke seorang thabib yang tak jauh dari kediamannya. Namun si thabib mengatakan bahwa Jamot terserang masuk angin karena belum makan. Merasa tak puas, warga membawa Jamot ke Rumah Sakit Umum H Abdul Manan Kisaran. Hasil pemeriksaan dokter rumah sakit, Jamot dikatakan mengalami penyakit asam lambung.

 

Namun apa yang dikatakan thabib dan pihak rumah sakit dibantah Jamot dan teman-temanya ketika ditemui wartawan koran ini di Rumah Sakit Umum H Abdul Manan Simatupang. Kata Jamot, dia benar–benar menerima panggilan dari “nomor  setan” itu. ”Peristiwa itu benar–benar terjadi. Saat itu saya sedang duduk bersama sejumlah teman–teman seusai makan malam,” katanya.

 

Pernyataan senada juga dilontarkan temannya, Elidison Siahaan (17). Elidison mengaku kalau dirinya juga sempat melihat nomor yang masuk handphone Jamot. “Kejadian itu memang benar, karena saya juga sempat melihat nomor tersebut,” cetusnya.

 

Hingga kini peristiwa menimpa pelajar itu, masih dalam penanganan pihak Polres Asahan yang turun langsung ke lokasi kejadian. Sedang warga hingga berita ini diturunkan masih terus berkumpul di rumah korban danRumah Sakit Umum H Abdul Manan Simatupang Kisaran. Kejadian itu juga sempat membuat macat alur lalu lintas Jalan Williem Iskandar.

 

Sementara itu, Mahasiswi Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Barus Kabupaten Tapteng, Devi br Saruksuk (20), pingsan di rumahnya di Kecamatan Sirandorung, setelah menerima telepon dari orang tak dikenal (OTK), Kamis (8/5) sekira pukul 13.30 WIB. Layar handphone (HP) gadis itu, seketika berubah menjadi merah.

 

Informasi dihimpun METRO dari tante korban, Asni br Simanullang, warga Kelurahan Pasar Batu Gerigis, Kecamatan Barus, saat kejadian, Devi yang tinggal bersama Asni di rumahnya, sedang berkomunikasi melalui HP dengan seorang temannya, Jhon Efendi (21), warga Kecamatan Sorkam Barat, yang juga mahasiswa STKIP Barus.

 

Beberapa saat kemudian, saat asyik mengobrol, tiba-tiba masuk telepon dari orang tidak dikenal ke HP Devi, dan tanpa nomor. Seketika itu juga, layar HP yang digenggam mahasiswi itu berubah menjadi merah, sementara suara dari seberang sangat mengerikan.

 

Devi pun meminta temannya, Jhon Efendi mematikan HP-nya, agar dia menerima telepon yang masuk itu.  “Nanti kita sambung lagi ya,” kata Asni menirukan ucapan Devi saat itu.

 

Jhon pun menuruti permintaan korban. Lalu Devi menerima telepon dari OTK tersebut. Dalam hitungan detik, tubuh Devi lemas dan menggigil. Lalu kepala dan lehernya terasa pegal dan sakit. Kemudian dia jatuh pingsan ke lantai. Sedangkan HP-nya yang ikut terjatuh ke lantai, tetap hidup dengan layar bewarnah merah. Keluarga yang melihat kejadian itu merasa ketakutan.

 

“Kami semua yang ada di rumah ketakutan saat melihat kejadian ini serta memanggil beberapa tetangga. Kami langsung melarikan Devi ke Puskesmas Barus, sedangkan HP-nya yang jatuh ke lantai tetap hidup dengan layar merah dan tidak bisa di-nonaktifkan. Kemudian ada keluarga mengambil inisiatif mencabut baterai dan kartunya. Barulah HP-nya mati,” bebernya.

 

 

//Disadarkan Paranormal//

 

Lebih lanjut Asni mengatakan, setibanya di Puskesmas Barus, korban tidak juga sadarkan diri, meskipun telah ditangani perawat. Sekira satu jam kemudian, seorang paranormal dari Barus, Musbir Sinaga datang ke Puskesmas untuk melihat kondisi Devi. Pria yang juga Kepala Desa Bungo Tanjung, Kecamatan Barus ini langsung memberikan pertolongan. Seketika itu juga korban sadar.

 

Sementara Jhon Efendi, warga Sorkam Barat, teman korban, kepada wartawan di Puskesmas Barus menjelaskan, siang itu, dia menerima telepon dari korban.

 

“Siang tadi kami berkomunikasi melalui ponsel, namun tiba-tiba Devi meminta saya  mematikan HP karena ada telepon lain yang masuk. Saya pun menuruti permintaan Devi. Setelah itu saya tidak tahu lagi apa yang terjadi. Tapi tak lama kemudian, saya menerima telepon yang mengatakan Devi pingsan setelah menerima telepon dari orang yang tak kenal itu. Mudah-mudahan dia cepat sembuh,” ujar Jhon sedih.

 

Kapolsek Barus AKP Frido Gultom saat dikonfirmasi membenarkan peristiwa tersebut. “Devi br Saruksuk jatuh pingsan setelah menerima telepon dari orang yang tidak dikenal. Kita masih melakukan penyelidikan atas kasus ini,” ujarnya.

 

Pantauan METRO di Puskesmas Barus hingga pukul 20.00 WIB, Devi masih dirawat. Namun ia belum dapat diwawancarai. Menurut keluarga yang menemaninya, korban masih trauma.

 

 

//Warga Siantar Heboh //

 

Sementara itu warga Kota Pematangsiantar heboh dengan adanya informasi telepon layar merah (ring in red) yang disebut-sebut bisa menyebabkan kematian. Kehebohan itu terjadi di sekolah-sekolah, bahkan di Kantor Dinas Pendidikan dan Pengajaran (Dikjar), Kamis (8/5).

 

Seperti yang terjadi di salahsatu sekolah. Usai Ujian Nasional (UN), banyak siswa membicarakan layar merah. Bahkan sebagian siswi mengaku merinding mendengar cerita itu. Dan tak sedikit yang ketakutan untuk mengangkat HP-nya, serta memilih me-non-aktifkan HP, khususnya di malam hari.

 

“Daripada kita mati sia-sia, lebih baik HP dimatikanlah. Buat apa punya HP kalau membuat kita celaka,” sebut salahseorang siswa, Aroni.

 

Di Pasar Dwikora Parluasan, kehebohan yang sama juga terjadi di kalangan pedagang. Namun mereka mengaku tidak mengetahui pasti siapa korban telepon layar merah tersebut. Kata mereka, yang penting saat ini memilih lebih berhati-hati.

 

“Untuk mengantisipasi terjadinya hal yang tidak diinginkan, saya beritahukan saja hal itu kepada keluarga terdekat. Benar tidaknya isu itu, urusan belakang. Yang pasti kita harus waspada,” ketus Raini, salahseorang pedagang. 

 

Sedangkan di Dinas Dikjar Pematangsiantar, para pegawai juga membicarakan nomor telepon 0866 atau 0666 dan layar HP yang menjadi merah atau biru.

 

“Kalau ada yang kayak gitu, jangan diangkat. Tiga kali kita mengucapkan halo, katanya di situlah kesempatan pemilik nomor itu mencabut nyawa kita,” ujar salahseorang pria. Pria berseragam Pegawai Negeri Sipil (PNS) itu mengaku mengetahui informasi itu itu dari keluarganya di Jakarta.

 

Wakapolresta Siantar Kompol Drs Safwan Khayat MHum mengatakan, informasi seperti itu tidak usah ditanggapi. Soal adanya short message service (SMS) berantai yang mengingatkan agar berhati-hati, katanya, itu adalah perbuatan orang iseng. Sebab sebenarnaya hanya untuk menghabiskan pulsa.

 

“Pekerjaan itu hanyalah perbuatan orang tidak bertanggung jawab, yang sengaja membuat masyarakat resah,” sebut Safwan.

 

    

//Jangan Resah //

 

Masyarakat diimbau tidak perlu resah dengan SMS yang mengabarkan panggilan dari nomor 0866 dan 0666 bisa menyebabkan penerimanya mati. SMS itu bisa dianggap teror. Panggilan dari nomor telepon yang tak lazim seperti itu juga bisa dipilih melalui layanan internet.

 

“Yang jelas teknologi seluler adalah teknologi logika. Jadi, siapa yang menelepon atau mengirim SMS pasti dapat dilacak darimana asalnya,” ujar Heru Sutadi, salahsatu anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) saat dihubungi, Kamis (8/5). Ia menjelaskan setidaknya dapat diketahui dari operator seluler apa SMS dikirim atau panggilan tersebut dilakukan. Apakah itu dari dalam negeri atau luar negeri. 

 

Nomor empat angka yang tidak lazim seperti nomor telepon umumnya, menurut Heru, dapat dilakukan melalui layanan internet. Ia yakin trik seperti ini bukan hal baru dan sudah lama dipakai untuk pengiriman SMS. Misalnya untuk memilih nama pengirim, nomor pengirim, atau menebalkan huruf. Memilih warna sampai menambahkan suara bahkan saat ini sudah ada operator yang menyediakan layanan.

 

“Dulu waktu saya di Jerman kirim sms pakai ’sms.de’ bahkan huruf di layar bisa jalan,” ujar Heru. Layanan semacam ini sempat marak di internet saat SMS mulai diperkenalkan di jaringan seluler. Beberapa perusahaan juga memanfaatkannya untuk SMS broadcast hingga untuk mengirim spam.

 

Menurutnya, penyebaran telepon dan SMS yang meresahkan itu hanya tindakan iseng. Pihaknya akan memantau perkembangan tersebut dan akan mengambil tindakan jika sampai merugikan masyarakat dengan menutup akses dari nomor tersebut. (mas/des/kdc/int/gan/hen/mar)

Kategori: Berita