* Dekati ‘Hp Merah’, Siswi SMA Merasa Tenaganya Tersedot
SIANTAR-METRO
Telepon layar merah yang diisukan dapat memakan korban hingga meresahkan masyarakat di berbagai daerah di Indonesia, muncul di Kota Pematangsiantar. Seorang siswi kelas III IPA SMA Budi Mulia Pematangsiantar, Veronika Simarmata (18), warga Jalan Patuan Anggi No 44 Siantar. mendadak merasa tenaganya tersedot saat mendekati handphone milik adiknya yang berdering, dan memunculkan warna merah di layar.
“Saya merasa, tenaga saya seperti tersedot dan badan saya seperti dilolosi,” tutur Veronika, didampingi ayahnya Ojak Simarmata (52), ibunya Lasmaria Manik (45), dan adiknya Hery Simarmata (11), saat mendatangi kantor redaksi METRO di Kompleks Megaland Siantar, Jumat (9/5) pukul 02.00 WIB dinihari.
Kepada METRO, Veronika didampingi keluarganya menjelaskan, Kamis (8/5) malam sekira pukul 23.00 WIB, dirinya tengah belajar untuk mempersiapkan diri menempuh SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru), di ruang TV rumahnya. Tak jauh darinya, sang ibu tengah menonton acara televisi. Adiknya Hery sudah tidur di kamar. Sementara sang ayah berada di gudang Intra, sekitar 400 meter dari rumah.
Mendadak, handphone merek Samsung milik adiknya dengan nomor kartu 085297484xxx, yang terletak di atas sebuah kursi di ruang yang sama, berdering. Ibunya menoleh dan terkejut melihat layar telepon berwarna merah. ”Sebelumnya, kami sudah beberapa kali menerima SMS berisi peringatan soal telepon layar merah itu. Selama ini, saya tidak percaya. Tapi melihat layar handphone yang biasanya berwarna putih, kok kali ini berwarna merah, saya takut juga. Trus saya bilang sama Vero, kok layarnya merah ya? Jangan-jangan telepon yang dibilang-bilang itu!” katanya pada putrinya.
Veronika, yang selama beberapa hari terakhir mengaku tak percaya dengan isu telepon layar merah, berdiri dan mendekati kursi tempat handphone yang tengah berdering. Ia berniat mengecek sekaligus mematikan telepon.
Namun masih jarak satu meter dari handphone yang layarnya merah, mendadak ia merasa tenaganya seperti tersedot.”Badan saya terasa dilolosi. Tenaga seperti tersedot. Saya langsung panik dan berlari ke kamar sambil menjerit-jerit memanggil Tuhan,” tuturnya, dengan mata berkaca-kaca.
”Iya… dia sampai jatuh bangun berlari. Saya yang panik, ikut berlari ke kamar. Di kamar kami berdua saling berpelukan, tak berani keluar,” tambah ibunya, masih dengan sisa trauma di wajahnya. Karena panik, mereka tak berani mendekat untuk memeriksa nomor telepon yang melakukan panggilan.
Di kamar, ibu dan anak ini berdoa, membaca Alkitab, menangis, berdoa lagi, dan menangis ketakutan setiap kali mendengar dering telepon yang sekali lima menit berdering, hingga hampir satu jam. ”Karena takut, di kamar saya langsung mencabut batere dan kartu di handphone milik Vero dan milik saya sendiri,” tutur sang ibu.
Setelah hampir satu jam ketakutan di kamar, akhirnya keduanya sepakat untuk memberitahu sang ayah, yang sedang berada di gudang. Sekitar pukul 24.00 WIB, saat handphone sedang tidak berdering, keduanya tergesa-gesa keluar dari kamar, mengunci pintu kamar Hery yang masih tidur nyenyak, dengan tujuan Hery agar jangan mengangkat handphone saat ditinggal. Kemudian keduanya keluar rumah tanpa berani menoleh ke posisi handphone tadi.
Saat bertemu suami di gudang Intra, Lasmaria Manik menceritakan segala kejadian. ”Awalnya, suami saya tidak percaya. Tapi setelah saya bilang, Vero sendiri yang mengalami, barulah suami percaya dan kami sama-sama pulang,” tuturnya.
Tiba di rumah, kebetulan telepon sedang tidak berdering. Sang suami, Ojak Simarmata langsung membuka jaket hitam yang dikenakannya, menutupkannya ke handphone. Kemudian tanpa melihat, ia mencopot batere dan kartu di handphone milik putra bungsunya itu. ”Kalau bukan karena putri saya sendiri yang mengalami, saya takkan percaya isu telepon layar merah itu,” tutur Ojak.
Setelah diskusi beberapa saat, dan melihat kekuatan putrinya sudah kembali pulih, Ojak tak membawa putrinya ke rumah sakit. Tapi memutuskan untuk mendatangi kantor METRO, yang sehari sebelumnya telah membaut berita mengenai isu telepon layar merah.
Atas kejadian yang menimpa keluarganya, Ojak berpesan, kalau ada warga yang menerima telepon dengan layar warna merah, agar tidak mengangkat telepon. Juga agar segera berlari sejauh mungkin dari hp. ”Setelah hp tidak berdering, segera tutupi telepon dengan baju atau jaket, kemudian batere dan kartu dicopot tanpa melihat hp,” sarannya.
Sang Ibu, Lasmaria menambahkan, beberapa hari lalu, putranya Hery sebenarnya sudah mendapat beberapa SMS peringatan dari teman sekolahnya, terkait isu telepon layar merah. ”Anak saya percaya. Tetapi Vero tidak. Ia malah membalas SMS teman Hery, dengan mengatakan, ’jangan jadi bodoh’. Kepada teman-temannya di sekolah, Vero juga sempat bilang, pengen dapat telepon merah itu untuk membuktikan kebenarannya. Eh, dia benar-benar dapat telepon,” kata ibunya sambil melirik ke arah Vero, yang diangguki Vero sambil tersenyum malu.
Terkait pengalaman itu, Ojak Simarmata langsung menghubungi dua anaknya yang lain di Medan, dan beberapa sanak famili lewat telepon, dengan pesan agar hati-hati jika mendapat telepon layar merah. ”Sampai kami meninggalkan rumah tadi menuju kemari (kantor METRO, red), kami merasa seperti ada sesuatu di kursi tempat hp tadi terletak. Saya tidak bilang benar-benar ada ’sesuatu’ di kursi itu. Mungkin hanya karena rasa trauma saja. Begitupun, saya belum niat pulang ke rumah, dan masih ingin membawa keluarga jalan-jalan dulu malam ini untuk menghilangkan rasa trauma. Hp saya masih saya matikan,” tuturnya.
Istrinya Lasmaria menambahkan, keluarganya masih trauma. ”Mungkin, kami semua akan tidur di satu kamar malam ini. Jantung saya masih gemetar,” katanya, dan tak sengaja ia bergidik. (mea)