Aku bukan seniman. Juga bukan seorang yang memiliki darah seni. Tapi dari sedikit pengalamanku membaca puisi, secara pribadi aku sering menggolongkan puisi dalam dua kategori: rangkaian kata-kata indah yang terkesan sangat bernilai sastra, dan rangkaian kata-kata biasa namun sarat makna.
Saat aku membaca puisi yang sarat kata-kata indah dan jarang dipakai di kehidupan sehari-hari, hatiku sering sekali terkagum-kagum. ”Kok bisa ya dia (si seniman) menciptakan puisi seperti ini!” Bayangkan saja, rangkaian kata-kata pilihan bagi saya yang bukan seniman ini, benar-benar sangat indah untuk dibaca. Kesannya sangat puitis! Pengarangnya, pastilah seorang seniman sejati.
Tapi sering sekali, usai membaca puisi ’sastra’ itu, hanya kagum yang ada. Kagum kepada kemampuan pengarangnya memilih kata dan menyusunnya dalam rangkaian kata-kata indah. Dan dalam hati mengakui, kata-kata yang dipilihnya memang puitis.
Namun bila dibandingkan dengan puisi kategori kedua: rangkaian kata-kata biasa namun sarat makna, aku tak hanya sebatas kagum. Tetapi juga sering merasa seperti membaca kitab suci. Ada percik yang membuatku ’mendapat sesuatu’ dari sana.
Contohnya, puisi yang kukutip dari sebuah milis di bawah ini:
Aku dan Kamu… Beda…
By : Sarlen Julfree
Salah…
Satu salah,
Dua salah,
Banyak salah…
Dikantonginya…
Benar…
Satu-dua anjuran,
Tiga deret kata benar,
Segudang perbuatan baik,
Masuk tong sampah…
Linu, pedih, perih, telinga mendengarkan…
Ramah hingga serak berkata, percuma diucapkan…
Hingga angkara adalah biasa, ditolak tak lagi menyiksa…
Janjiku adalah hutang…
Janjimu adalah omong kosong doang…
Nyatamu :
Aku adalah kebohongan, kamu adalah kebenaran…
Nyataku :
Kamu perlu merenung, aku perlu kepribadian baru…
Dua sisi mata uang…
Aku dan kamu…
Tak pernah bertemu…
Puisi di atas sama sekali bukan rangkaian kata-kata kata-kata indah yang hanya bisa ditemukan di kamus. Melainkan hanya rangkaian kata-kata umum yang lazim kita gunakan sehari-hari. Tapi puisi seperti itu lebih ’kena’ dengan saya. Ada sesuatu yang saya dapatkan dan saya kenang dari puisi itu.
Dan kalau saya tak salah, puisi berjudul ’Aku’ karya Chairil Anwar pun tidak menggunakan kata-kata ’indah dan puitis’, tapi siapa yang meragukan nilai puitis dari puisi ’Aku’?
Tanpa bermaksud mengatakan kategori puisi mana yang lebih ideal, saya hanya sedang berpikir-pikir mengenai konsep puisi yang bagaimana sebenarnya yang terbaik! Dan saya tak bisa memutuskan, hanya bisa menunjuk tanpa menyimpulkan!
Siantar, 1 Mei 2008