Dame Ambarita’s Weblog

Dari Diskusi Buku ‘Tuanku Rao’ di Pematangsiantar (1)

06 Januari 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

 

Munculkan Respon Beragam, Ada Peserta yang ‘Berapi-api’ Menyebut Impossible

Sesuai rencana, diskusi buku ‘Tuanku Rao: Terror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak’, yang ditulis MO Parlindungan, digelar di Sekretariat PLOt di Jalan Lingga Nomor 1 Siantar, Senin (26/11), mulai pukul 14.00-18.00 WIB. Beragam respon peserta terkuak dalam diskusi yang menghadirkan 4 pembicara itu. Mulai dari memuji penerbitan kembali buku tersebut, hingga dengan ‘berapi-api’ mengkritik isi buku. “Impossible,” kata seorang peserta sampai 7 kali.  

Dame Ambarita, Siantar  

Memang, peserta diskusi tak sebanyak yang ditargetkan semula, yakni 200-an orang. Yang hadir hanya sekitar 100-an orang. Tetapi peserta yang hadir memiliki latar belakang beragam, mulai  dari pengurus OSIS SMA, mahasiswa, aktivis, dosen/guru, PNS, pejabat pemerintahan, praktisi kesehatan, tokoh-tokoh agama, tokoh pemuda, wartawan, seniman, pemerhati sejarah, pelaku sejarah kemerdekaan, pengusaha, dan lain-lain. 

Batara R Hutagalung, putra Letkol (Purn.) TNI AD DR Wiliater Hutagalung –salahseorang yang ‘meyakinkan’ Mangadraja Onggang Parlindungan untuk memublikasikan catatan yang seharusnya diperuntukkan untuk ‘Sonny Boy’, kedua anak penulis– menjadi pembicara pertama yang bertutur tentang sejarah penerbitan buku Tuanku Rao.   Ia menjelaskan, buku Tuanku Rao memang telah menuai kontroversi sejak pertama kali diterbitkan tahun 1964. Dan hingga diterbitkan kembali oleh LKiS dengan cover dan ejaan (berikut kesalahan ketik) yang persis sama dengan aslinya, tetap menuai kontroversi. 

“Memang, banyak data di dalam buku itu yang kontroversial. Tapi juga banyak fakta-fakta yang tak terbantahkan. Yang penting bukan soal fakta-fakta sejarah, tetapi esensinya,” katanya.  Ia menyarankan penelitian lebih lanjut mengenai isi buku, yang sudah diakui banyak orang sebagai buku yang menarik, bahkan mampu menghipnotis pembaca untuk terus membaca lembar demi lembar.  

Pembicara kedua, Dr Phil Ichwan Azhary, mengatakan, buku Tuanku Rao itu bisa membuat stres pembacanya. “Orang Batak, banyak yang stres membaca buku ini. Bayangkan saja, buku ini menyebut Raja Sisingamangaraja X dibunuh oleh orang Batak sendiri. Apa tak stres?” katanya. Tak hanya orang Batak, orang Minangkabau sendiri juga stres membaca buku itul karena  Tentara Padri yang dibanggakan, ternyata adalah pembunuh di Tanah Batak. “Sulit melepaskan objektivitas dalam membaca buku ini, khususnya bagi orang Batak dan orang Minang. Karena buku ini, terus terang saja, bisa memancing emosi. Untungnya, saya orang Melayu, jadi saya tak terpancing,” katanya, yang mengundang tawa yang hadir.  

Lucunya, kata dia, buku yang mengambil judul Tuanku Rao itu, justru hanya 20 persen membahas tentang Tuanku Rao. Selebihnya, lebih  fokus menceritakan masuknya agama Islam ke Indonesia. “Karena itu, perlu dicermati, apakah penulis buku ini ingin membesarkan nama Tuanku Rao?” tanyanya.  Ichwan juga menjelaskan, bahwa fakta-fakta sejarah dalam buku Tuanku Rao, banyak yang tidak bisa ditelusuri dengan metode sejarah dengan cara verifikasi dokumen. “Karena itu, Buya Hamka sempat menyebut buku ini 80 persen bohong, 20 persen lagi meragukan,” katanya. Apalagi, MO Parlindungan sendiri dalam bukunya menulis, bahwa dirinya menulis buku itu dengan sedikit akal busuk, dan sengaja memasukkan 7 kesalahan. Maksudnya, agar kedua anaknya ‘Sonny Boy’ tak mudah mempercayai apa yang tertulis, di luar kitab suci.  “Jadi menurut saya, buku lebih cocok disebut Sastra Sejarah, yang datanya tak perlu dilacak sesuai metodologi sejarah,” katanya. Ichwan juga mengungkapkan berbagai temuannya tentang tidak validnya beberapa data dalam buku itu. 

Pernyataan Ichwan ini kontan didukung seorang peserta diskusi, Marisi Hutabarat (70-an), berprofesi wartawan. Dalam sesi tanya jawab, dengan berapi-api ia mengatakan, buku Tuanku Rao menimbulkan sinis pada dirinya. “Menurut saya, penulis pintar menjual bukunya. Isi buku ini tak lebih dari cerita 1001 malam. Karena dalam budaya Batak, kejadian besar selalu dibukukan, atau paling tidak diceritakan kembali lewat turi-turian. Sementara kisah kekerasan Perang Paderi tidak ada diceritakan. Dan mengenai pasukan kolosal 6.000 pasukan berkuda di Tanah Batak, itu impossible.Menurut saya juga, Perang Padri itu bukan perang, tetapi serangan. Dan Perang Paderi tidak pernah sampai ke Silindung, apalagi ke Toba. Itu impossible,” katanya dengan nada berapi-api dan dengan wajah ketat.  

Marisi Hutabarat juga mengatakan impossible untuk kisah mengenai dendam berkepanjangan antara Klan Siregar terhadap Dinasti Singamangaraja (keturunan Raja Oloan Sorba Dibanua yang mengusir mereka dari Muara dengan tidak mematuhi hukum Batak).  “Bagi orang Batak, tak pernah ada dendam berkepanjangan, apalagi sampai  26 generasi. Dendam sampai 4 generasi saja tak ada, konon pula sampai 26 generasi. Impossible!” tegasnya dengan nada semakin tinggi.  Ia mengatakan, penerbitan buku Tuanku Rao bisa memancing emosi pembaca. “Sanggupkah kita membaca buku ini tanpa emosi?” tanyanya, dengan eskpresi wajah yang menunjukkan intensitas emosi yang makin meningkat, walau dia sempat juga tertawa saat buku jatuh dari pangkuannya, di tengah semangat dirinya mengkritik isi buku Tuanku Rao.  Tanggapan Pak Marisi ini menuai tepuk tangan dari peserta yang hadir, termasuk dari pembicara sendiri. (Apa tanggapan para pembicara tentang  ‘emosi’ Pak Marisi, ikuti kelanjutannya) (*)

Kategori: Tuanku Rao
Ditandai:

Horassss!!!

06 Januari 2008 · & Komentar

Foto Gue Nih

Foto Gue Nih

Horasss….!!!

Aku gadis berdarah suku Batak, lahir dan besar di Pulau Samosir yang berudara sejuk, dikelilingi Danau Toba yang biru jernih (dulu saat aku masih kecil, sekarang sih danaunya udah mulai bercampur sampah, hehehe).

Samosir dan Danau Toba-ku, paling sering menjadi lokasi berbagai kisah dalam mimpi-mimpi yang mengganggu tidurku di malam hari. Lucunya, cerita-cerita mimpi itu kerap berkaitan dengan sesuatu yang menakutkan, kenapa ya? Padahal swear… aku itu paling cinta sama Samosir dan Danau Toba, loh! Tapi kok malah dalam mimpiku, ada hantu-hantu di kedalaman Danau Toba atau di pebukitan Samosir, yang kerap membuatku ketakutan (dalam mimpi nih). Kali, itu gara-gara cerita horor para tua-tua, yang suka menakut-nakuti anak-anak saat aku kecil yah…! Hehehehe…!

Masa kecil, kata orang, memang selalu melekat kuat di benak seseorang. Dan kampung halaman (bagi yang punya kampung), juga akan selalu menjadi tempat yang dirindukan dan membangkitkan kenangan indah. Jadi, aku bisa memastikan, aku suka dan cinta sama Samosir dan Danau Toba itu, bukan karena itu tempat paling indah di dunia (bagimu, mungkin kampungmu yang paling kau suka), tetapi karena aku memiliki banyak kenangan manis lucu di sana. Hmmm…..

Oh iya, aku membuat blog ini bukan karena mau gaya-gayaan ya.,.. cuma mau belajar menuangkan apa yang ada dalam benakku saja. Sekaligus, jadi tempat mengumpulkan beberapa catatan yang pernah kutulis.

Segitu aja dulu ya Blog…. nanti kita sambung lagi kapan sempat!

Kategori: Celoteh