Dameambarita’s Weblog

Entries from Januari 2008

Buku: Tuanku Rao, Terror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak (2)

14 Januari 2008 · Tidak ada Komentar

MO Parlindungan, Cucu dari Cucu Tuanku Lelo ‘si Kriminal Perang’                        

  
Siapakah Mangaradja Onggang Parlindungan Siregar? Sonny Boy, anaknya, mengatakan: “Ayah saya seorang perwira KNIL.” MO Parlindungan sendiri, dalam bukunya menulis, dirinya adalah cucu dari cucu Tuanku Lelo (bernama asli Idris Nasution), yang disebutnya “kriminal perang” dalam Perang Paderi. Parlindungan bahkan sampai menyebut eyangnya itu seorang big scoundrel yang memiliki kelakuan binatang.
  
Disunting: Dame Ambarita, Siantar
  
Tak banyak yang tahu sosok pengarang ini. Hasil penelusuran METRO di internet, Basyral Hamidy Harahap –penulis buku Greget Tuanku Rao– pada 1974 pernah bertemu dengannya di dekat rumah Hamka di Jakarta. Ia langsung menanyakan kabar polemik antara Parlindungan dan Buya Hamka.
  
Agaknya Parlindungan tak suka. “Saat itu ia langsung mengarahkan tongkatnya yang  berkepala gading ke arah dahi saya. Saya kaget, mengelak,” kenang Basyral,
  
Untunglah, anak penulis, Dorpi Parlindungan Siregar, kini 59 tahun, mau bercerita- dialah anak yang dipanggil Sonny Boy dalam bukunya.
  
“Ayah saya seorang perwira KNIL. Perjalanan karier ayah saya dimulai ketika pada 1 Oktober 1945, Jenderal Mayor Oerip Soemohardjo mendirikan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Beliau mengumpulkan 17 anak muda di Yogyakarta, di antaranya Soeharto, Ibnu Sutowo, dan ayah saya,” katanya seperti dikutip dari Tempo.
  
Pada usia 27 tahun, menurut Dorpi, ayahnya memperoleh pangkat letnan kolonel. Sebagai insinyur kimia lulusan Jerman dan Belanda, ayahnya menjadi bawahan dr Willer Hutagalung, dulu dokter pribadi Jenderal Soedirman. Mereka kemudian mengambil bekas pabrik mesiu dan peralatan senjata Belanda, yang lalu menjadi Pindad.
  
Pada 1960, ayahnya ditahan rezim Soekarno karena dianggap pro-Masyumi. Tempat tahanan ayahnya berpindah-pindah, dan akhirnya menjalani tahanan rumah. Di sanalah, dengan data milik kakeknya dan Residen Poortman, ayahnya menulis buku Tuanku Rao.
  
Dan yang mengejutkan, bagian terbesar halaman buku ayahnya menceritakan kisah kejahatan algojo Padri bernama Tuanku Lelo, sosok yang tak lain menurut Parlindungan adalah kakek dari kakeknya sendiri. “Jadi ia seperti menceritakan aib keluarga sendiri. Tak banyak penulis yang berani seperti itu,” kata Ahmad Fikri dari LkiS, editor buku Tuanku Rao.
  
Buku itu awalnya, menurut Dorpi, tidak diperuntukkan bagi umum, tapi bagi anak-anaknya saja. “Sehabis membaca Alquran setiap hari, Ayah membacakan cerita ini untuk saya dan adik,” kenang Dorpi akan ayahnya yang meninggal pada 1975 itu. Atas desakan teman-temannya, buku itu akhirnya diterbitkan.
  
Buku itu intinya berisi informasi bagaimana gerakan Wahabi masuk Minang. Waktu itu, tahun 1803, Haji Piobang, Haji Sumanik, dan Haji Miskin kembali ke Minang setelah bermukim di Mekkah lebih dari 12 tahun.  Mereka adalah bekas perwira tentara Turki. Mereka mencoba menanamkan mazhab Hambali di Sumatera, termasuk di Tanah Batak, menekankan pemurnian Islam.
  
Buku Tuanku Rao ini menjelaskan cukup detail bagaimana persiapan dan kronologi invasi Padri ke Batak Selatan (1816) dan Toba (1818- 1820). Dari etape-etape dan serangan kilat (blitzkrieg), siasat-siasat, sampai notula rapat-rapat para panglima dideskripsikan.
  
Pendiri Padri, Haji Piobang dan Tuanku Imam Bonjol, mengkoordinasi penyebaran pasukan di bawah pimpinan Tuanku Rao, Tuanku Tambusai, Tuanku Lelo, Tuanku Asahan, Tuanku Maga, dan Tuanku Kotapinang. Toba dikepung dari empat penjuru. Tuanku Asahan dengan kavaleri berkekuatan 11 ribu tentara menyerang dari samping kanan; Kolonel Djagorga Harahap dengan kekuatan 4.000 anggota pasukan dari sayap kiri; Tuanku Maga menusuk dari sisi tengah atas dengan 5.000 anggota pasukan; Tuanku Lelo bersama 9.000 tentaranya merangsek dari sisi tengah bawah. Pada 1820, Sisingamangaraja X, yang bertahan di Benteng Bakkara, akhirnya tewas. Kepala Sisingamangaraja X ditusuk di atas tombak, dipancang di tanah.
  
Penyerbuan yang paling bengis dilakukan oleh Tuanku Lelo. Parlindungan sendiri menganggap “eyangnya” itu “kriminal perang”. Tuanku Lelo bernama asli Idris Nasution. Sosoknya besar, berjanggut hitam, berambut panjang, berombak-ombak. Ia mengenakan baju jubah dan serban yang seluruhnya putih serta suka memakai selempang dan ikat pinggang berwarna merah bertaburan emas-yang dirampasnya di Pagaruyung. Ia dikenal sebagai algojo pembantai, juga maniak seks.
  
Parlindungan bahkan sampai menyebut eyangnya itu seorang big scoundrel yang memiliki kelakuan binatang. Di tiap kawasan, sang eyang mengumpulkan ratusan wanita, lalu memerkosanya. Di Toba, 14 malam berturut-berturut pasukannya dibiarkan melakukan pesta seks besar-besaran.
  
Ketika pasukan bergerak meninggalkan Toba, Tuanku Lelo memerintahkan ribuan wanita dikumpulkan di Red Light District di Sigumpar Toba. Dari Sigumpar, mereka digiring berjalan kaki melalui Siborong-borong, Pangaribuan, Silantom, Simangambat, Sipirok, menuju Natal Mandailing. Sesampai di Mandailing, hanya 300 wanita selamat; 900 mati. Yang capek dipenggal.
  
Kemudian Belanda memutuskan menyerang Padri. Pertempuran pada 1820, menurut Parlindungan, meletus di Benteng Air Bengis. Imam Bonjol turun sendiri. Tuanku Rao tewas di situ. Nah, di pertempuran Air Bengis ini, secara licik Tuanku Lelo melakukan desersi. Melihat Imam Bonjol terdesak, ia lalu memimpin kavalerinya sendiri menuju Angkola dan Sipirok. Ia melanjutkan petualangannya, menjarah, membunuh, melampiaskan nafsu seksualnya. Ia lalu menjadi warlord di Angkola dan Sipirok selama 1822-1833. Ia di sana mendirikan sebuah harem di bentengnya di Padangsidimpuan.

 

Dikritik Hamka

  
Hamka pernah menjadi sahabat Parlindungan. Namun, suatu ketika, mereka berselisih tentang Tuanku Rao. Hamka menuliskan pendapatnya dalam Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao.
  
Di tahanan, Buya Hamka banyak membaca dan menulis. Waktu itu, tahun 1964, Hamka berada di rumah tahanan kepolisian Mega Mendung. Sebagai salahsatu fungsionaris Partai Masyumi, oleh rezim Soekarno ia dianggap anti-Nasakom. Kemudian ia dipindahkan ke Rumah Sakit Persahabatan, Rawamangun, Jakarta, karena sakit-selama 17 bulan, sampai 1966, Hamka menghasilkan karya monumentalnya, Tafsir Al-Azhar.
  
Salah seorang muridnya, Sofjan Tanjung, mengirimi ulama itu buku tebal berjudul Tuanku Rao, dua eksemplar-kiriman yang diiringi permintaan agar Hamka memberikan komentar serta kritik atas buku tersebut.
  
Dan ketika Hamka keluar dari tahanan, ia berkenalan dengan Parlindungan. Mereka bersahabat. Parlindungan biasa menjemput Hamka ke rumahnya sebelum salat Jumat. Parlindungan selalu mengenakan kopiah sampir buatan Gorontalo, bersarung, dan bertongkat kecil.
  
Hamka mulanya mengagumi buku Tuanku Rao. Polemik terjadi saat Hamka mulai meragukan isi Tuanku Rao. Salah satu peristiwa penting dalam polemik mereka terjadi dalam seminar di Padang pada Juli 1969. Baik Hamka maupun Parlindungan hadir sebagai pembicara. Pada acara tersebut, Hamka mempertanyakan informasi Parlindungan mengenai Haji Piobang, pendiri Padri yang disebut Parlindungan pernah menjadi salahsatu kolonel tentara Turki di bawah pimpinan Jenderal Muhammad Ali Pasya. “Sampai seminar habis, Parlindungan tidak dapat memberi jawaban tegas,” tulis Hamka.
  
Hamka meluncurkan kritik-kritik cukup pedas menanggapi Tuanku Rao. Kritik ini ia tulis dalam beberapa artikel yang dimuat di harian Haluan, Padang, 1969-1970. Ia menyebut Parlindungan bodoh. Parlindungan menganggap Hamka childish dan kampungan.
  
Sebuah buku khusus pun diluncurkan oleh Hamka bertajuk Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao. Dalam buku setebal 364 halaman yang diterbitkan oleh Penerbit Bulan Bintang pada 1974 itu, Hamka menuding isi Tuanku Rao 80 persen bohong, sedangkan sisanya diragukan kebenarannya. Pasalnya, setiap kali Hamka menanyakan data dan fakta buku itu, Parlindungan selalu menjawab, “Sudah dibakar.”
  
Selain itu, Hamka mempertanyakan kebenaran berbagai isu yang dilontarkan Parlindungan. Isu yang cukup sensitif adalah pernyataan bahwa selama 300 tahun daerah Minangkabau menganut mazhab Syiah Qaramithah. Hal ini menurut Hamka dusta belaka.
  
Hamka juga menolak menanggapi isu tentang adanya pemerkosaan massal dan orgy tawanan perempuan oleh sebagian pasukan Padri. Cerita tentang bagaimana anggota Padri melampiaskan nafsu syahwatnya secara terbuka terhadap tawanan-tawanan cantik dituding Hamka sebagai khayalan Parlindungan belaka. Hamka juga menuduh cerita-cerita seks itu sengaja dipasang Parlindungan untuk menarik hati para pemuda ketimbang mencari data ilmiah.
  
Hamka membandingkan kisah Parlindungan- tentang pembunuhan keluarga Kerajaan Pagaruyung yang disertai pemerkosaan para putri kerajaan dalam Tuanku Rao-dengan data sumber Belanda. Versi Belanda, menurut Hamka, menuliskan pembunuhan oleh Tuanku Lintau terhadap keluarga kerajaan pada 1804. “Tapi tidak ada disebut-sebut seorang Mandailing bernama Idris Nasution dan pasukannya yang menawan puluhan gadis, lalu memperkosa di hadapan umum, di udara terbuka,” tulis Hamka.
  
“Cerita tentang Tuanku Lelo mengumbar nafsu syahwatnya itu bumbu cerita porno yang dibuat Parlindungan yang tidak kalah dengan cerita-cerita film cowboy tahun 1972,” demikian Hamka mengejek Parlindungan. Di mata Hamka, Tuanku Lelo yang menurut Parlindungan bernama asli Idris Nasution itu tokoh karangan Parlindungan belaka.
  
Toh, meski tak mengupas secara spesifik soal kekerasan kaum Padri terhadap masyarakat Mandailing, khususnya perempuan, Hamka mengutip keterangan Faqih Shagir dari Hikayat Syaikh Jalaluddin, yang juga banyak berkisah mengenai kaum Padri: “…. Adapun yang jahat daripada Padri yaitu membunuh segala ulama-ulama dan membunuh orang yang cerdik cendekia, mengambil perempuan yang bersuami, menikahkan perempuan yang tidak sekufu dengan tidak ridhanya, bepergundik tawanan dan menghinakan orang yang mulia-mulia dan mengatakan kafir orang yang beriman….”
(tulisan ini diramu dari resensi buku Tuanku Rao yang ditulis Batara R Hutagalung dan dari artikel yang dimuat Majalah Tempo/bersambung).

Kategori: Tuanku Rao

Dari Diskusi Buku ‘Tuanku Rao’ di Pematangsiantar (1)

06 Januari 2008 · Tidak ada Komentar

 

Munculkan Respon Beragam, Ada Peserta yang ‘Berapi-api’ Menyebut Impossible

Sesuai rencana, diskusi buku ‘Tuanku Rao: Terror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak’, yang ditulis MO Parlindungan, digelar di Sekretariat PLOt di Jalan Lingga Nomor 1 Siantar, Senin (26/11), mulai pukul 14.00-18.00 WIB. Beragam respon peserta terkuak dalam diskusi yang menghadirkan 4 pembicara itu. Mulai dari memuji penerbitan kembali buku tersebut, hingga dengan ‘berapi-api’ mengkritik isi buku. “Impossible,” kata seorang peserta sampai 7 kali.  

Dame Ambarita, Siantar  

Memang, peserta diskusi tak sebanyak yang ditargetkan semula, yakni 200-an orang. Yang hadir hanya sekitar 100-an orang. Tetapi peserta yang hadir memiliki latar belakang beragam, mulai  dari pengurus OSIS SMA, mahasiswa, aktivis, dosen/guru, PNS, pejabat pemerintahan, praktisi kesehatan, tokoh-tokoh agama, tokoh pemuda, wartawan, seniman, pemerhati sejarah, pelaku sejarah kemerdekaan, pengusaha, dan lain-lain. 

Batara R Hutagalung, putra Letkol (Purn.) TNI AD DR Wiliater Hutagalung –salahseorang yang ‘meyakinkan’ Mangadraja Onggang Parlindungan untuk memublikasikan catatan yang seharusnya diperuntukkan untuk ‘Sonny Boy’, kedua anak penulis– menjadi pembicara pertama yang bertutur tentang sejarah penerbitan buku Tuanku Rao.   Ia menjelaskan, buku Tuanku Rao memang telah menuai kontroversi sejak pertama kali diterbitkan tahun 1964. Dan hingga diterbitkan kembali oleh LKiS dengan cover dan ejaan (berikut kesalahan ketik) yang persis sama dengan aslinya, tetap menuai kontroversi. 

“Memang, banyak data di dalam buku itu yang kontroversial. Tapi juga banyak fakta-fakta yang tak terbantahkan. Yang penting bukan soal fakta-fakta sejarah, tetapi esensinya,” katanya.  Ia menyarankan penelitian lebih lanjut mengenai isi buku, yang sudah diakui banyak orang sebagai buku yang menarik, bahkan mampu menghipnotis pembaca untuk terus membaca lembar demi lembar.  

Pembicara kedua, Dr Phil Ichwan Azhary, mengatakan, buku Tuanku Rao itu bisa membuat stres pembacanya. “Orang Batak, banyak yang stres membaca buku ini. Bayangkan saja, buku ini menyebut Raja Sisingamangaraja X dibunuh oleh orang Batak sendiri. Apa tak stres?” katanya. Tak hanya orang Batak, orang Minangkabau sendiri juga stres membaca buku itul karena  Tentara Padri yang dibanggakan, ternyata adalah pembunuh di Tanah Batak. “Sulit melepaskan objektivitas dalam membaca buku ini, khususnya bagi orang Batak dan orang Minang. Karena buku ini, terus terang saja, bisa memancing emosi. Untungnya, saya orang Melayu, jadi saya tak terpancing,” katanya, yang mengundang tawa yang hadir.  

Lucunya, kata dia, buku yang mengambil judul Tuanku Rao itu, justru hanya 20 persen membahas tentang Tuanku Rao. Selebihnya, lebih  fokus menceritakan masuknya agama Islam ke Indonesia. “Karena itu, perlu dicermati, apakah penulis buku ini ingin membesarkan nama Tuanku Rao?” tanyanya.  Ichwan juga menjelaskan, bahwa fakta-fakta sejarah dalam buku Tuanku Rao, banyak yang tidak bisa ditelusuri dengan metode sejarah dengan cara verifikasi dokumen. “Karena itu, Buya Hamka sempat menyebut buku ini 80 persen bohong, 20 persen lagi meragukan,” katanya. Apalagi, MO Parlindungan sendiri dalam bukunya menulis, bahwa dirinya menulis buku itu dengan sedikit akal busuk, dan sengaja memasukkan 7 kesalahan. Maksudnya, agar kedua anaknya ‘Sonny Boy’ tak mudah mempercayai apa yang tertulis, di luar kitab suci.  “Jadi menurut saya, buku lebih cocok disebut Sastra Sejarah, yang datanya tak perlu dilacak sesuai metodologi sejarah,” katanya. Ichwan juga mengungkapkan berbagai temuannya tentang tidak validnya beberapa data dalam buku itu. 

Pernyataan Ichwan ini kontan didukung seorang peserta diskusi, Marisi Hutabarat (70-an), berprofesi wartawan. Dalam sesi tanya jawab, dengan berapi-api ia mengatakan, buku Tuanku Rao menimbulkan sinis pada dirinya. “Menurut saya, penulis pintar menjual bukunya. Isi buku ini tak lebih dari cerita 1001 malam. Karena dalam budaya Batak, kejadian besar selalu dibukukan, atau paling tidak diceritakan kembali lewat turi-turian. Sementara kisah kekerasan Perang Paderi tidak ada diceritakan. Dan mengenai pasukan kolosal 6.000 pasukan berkuda di Tanah Batak, itu impossible.Menurut saya juga, Perang Padri itu bukan perang, tetapi serangan. Dan Perang Paderi tidak pernah sampai ke Silindung, apalagi ke Toba. Itu impossible,” katanya dengan nada berapi-api dan dengan wajah ketat.  

Marisi Hutabarat juga mengatakan impossible untuk kisah mengenai dendam berkepanjangan antara Klan Siregar terhadap Dinasti Singamangaraja (keturunan Raja Oloan Sorba Dibanua yang mengusir mereka dari Muara dengan tidak mematuhi hukum Batak).  “Bagi orang Batak, tak pernah ada dendam berkepanjangan, apalagi sampai  26 generasi. Dendam sampai 4 generasi saja tak ada, konon pula sampai 26 generasi. Impossible!” tegasnya dengan nada semakin tinggi.  Ia mengatakan, penerbitan buku Tuanku Rao bisa memancing emosi pembaca. “Sanggupkah kita membaca buku ini tanpa emosi?” tanyanya, dengan eskpresi wajah yang menunjukkan intensitas emosi yang makin meningkat, walau dia sempat juga tertawa saat buku jatuh dari pangkuannya, di tengah semangat dirinya mengkritik isi buku Tuanku Rao.  Tanggapan Pak Marisi ini menuai tepuk tangan dari peserta yang hadir, termasuk dari pembicara sendiri. (Apa tanggapan para pembicara tentang  ‘emosi’ Pak Marisi, ikuti kelanjutannya) (*)

Kategori: Tuanku Rao
Tagged:

Horassss!!!

06 Januari 2008 · & Komentar

Horasss….!!!

Aku gadis berdarah suku Batak, lahir dan besar di Pulau Samosir yang berudara sejuk, dikelilingi Danau Toba yang biru jernih (dulu saat aku masih kecil, sekarang sih danaunya udah mulai bercampur sampah, hehehe).

Samosir dan Danau Toba-ku, paling sering menjadi lokasi berbagai kisah dalam mimpi-mimpi yang mengganggu tidurku di malam hari. Lucunya, cerita-cerita mimpi itu kerap berkaitan dengan sesuatu yang menakutkan, kenapa ya? Padahal swear… aku itu paling cinta sama Samosir dan Danau Toba, loh! Tapi kok malah dalam mimpiku, ada hantu-hantu di kedalaman Danau Toba atau di pebukitan Samosir, yang kerap membuatku ketakutan (dalam mimpi nih). Kali, itu gara-gara cerita horor para tua-tua, yang suka menakut-nakuti anak-anak saat aku kecil yah…! Hehehehe…!

Masa kecil, kata orang, memang selalu melekat kuat di benak seseorang. Dan kampung halaman (bagi yang punya kampung), juga akan selalu menjadi tempat yang dirindukan dan membangkitkan kenangan indah. Jadi, aku bisa memastikan, aku suka dan cinta sama Samosir dan Danau Toba itu, bukan karena itu tempat paling indah di dunia (bagimu, mungkin kampungmu yang paling kau suka), tetapi karena aku memiliki banyak kenangan manis lucu di sana. Hmmm…..

Oh iya, aku membuat blog ini bukan karena mau gaya-gayaan ya.,.. cuma mau belajar menuangkan apa yang ada dalam benakku saja. Sekaligus, jadi tempat mengumpulkan beberapa catatan yang pernah kutulis.

Segitu aja dulu ya Blog…. nanti kita sambung lagi kapan sempat!

Kategori: Celoteh